Laman

Selasa, 27 September 2016

TT1 D 4c KEKUATAN ILMU PENGETAHUAN QS. AR-RAHMAN AYAT 33

KEKUATAN ILMU PENGETAHUAN
QS. AR-RAHMAN AYAT 33

Azzahrotul Safira  (2021115100)
Kelas D

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua mendapatkan syafa’atnya di Yaumul Akhir nanti.
Makalah tentang “Kekuatan Ilmu Pengetahuan”, di buat guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan Terima Kasih kepada Bapak Muhammad Hufron selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah memberikan waktu untuk mengizinkan penulis menyelesaikan makalah ini dengan semampu penulis. Serta teman-teman yang telah mendukung sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Dengan menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi bahasa, analisis materi, kajian ataupun cara penulisannya. Maka dari itu penulis sangat mengharap kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya bagi para pembaca pada umumnya.










Pekalongan, 26 September 2016
Azzahrotul Safira





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Allah SWT sebagai sang khaliq Yang maha Sempurna, menciptakan alam dan seisinya. Manusia tercipta dengan kelebihan yakni akal pikiran. Dimana dengan akal pikiran tersebut manusia mampu membuat inovasi-inovasi baru dalam kehidupannya.
 Namun didalam proses tersebut, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan. Didalam memperoleh Ilmu pengetahuan tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan belajar, mengamati alam sekitar, dan mengetahui yang ada di bumi dan di luar bumi (luar angkasa)
Untuk mengetahui apa yang ada di bumi dan untuk mengetahui apa yang ada di luar bumi (luar angkasa), harus dengan kekuatan seperti dalam firman Allah dalam surat Ar-Rahman ayat 33. Pada makalah inilah kekuatan ilmu pengetahuan dan dan tafsir surat Ar-Rahman ayat 33 akan dibahas.
B.     Judul Makalah
Judul yang di bahas dalam makalah ini adalah “Kekuatan Ilmu Pendidikan”
1.      Nash Beserta artinya
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
Artinya: “Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah! Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah SWT)”. (Surat ar-Rahman: 33 )



Arti penting untuk dikaji
Didalam QS. Ar-Rahman ini dijelaskan bahwa ilmu penngetahuan itu penting bagi umat manusia, karena dengan ilmu pengetahuan kita bisa mendapat ilmu dan dapat mengetahui apa yang ada di bumi dan di luar bumi (luar angkasa). Dan dengan ilmu pula kita mendapat wawasan yang luas.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori
            Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ilm adalah bentuk masdar dari ‘alima, ya’lamu, ‘ilman. Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). [1]
            Pengetahuan dalam bahasa Inggris kita sebut “knowledge” yang secara umum dapat di artikan sebagai suatu pemahaman atau sesuatu hal yang diketahui atau dipahami oleh seseorang. Ilmu pengetahuan [2]
            Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari 2 kata, yaitu ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan merupakan hubungan objek dan subyek. Subjek disini maksudnya adalah manusia sebagai kesatuan berbagai macam kesanggupan (akal, pancaindra) yang digunakan dalam rangka untuk mengetahuai sesuatu. Sebaliknya objek adalah benda atau hal yang diselidiki yang merupakan realitas bagi manusia yang menyelidiki. Adapun ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993:80).[3]
            Manusia berusaha mencari pengetahuan dan kebenaran, yang dapat diperolehnya melalui beberapa sumber antara lain sebagai berikut : (Uyoh Sadulloh, 2003 : 30-33)
1.      Pengetahuan wahyu (revealed knowledge)
Manusia memperoleh pengetahuan dan kebenaran berdasarkan kepada wahyu yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tuhan telah memberikan pengetahuan dan kebenaran kepada manusia yang telah dipilih-Nya, yang dapat dijadikan petunjuk bagi manusia dalam hidupnya. Kebenaran wahyu bersifat mutlak dan abadi. Pengetahuan wahyu bersifat eksternal, artinya pengetahuan tersebut berasal dari luar manusia.
2.      Pengetahuan intuitive (intuitive knowledge)
Pengetahuan ini diperoleh manusia dari dalam dirinya sendiri tatkala ia menghayati sesuatu. Pengetahuan ini sebagai hasil dari penghayatan pribadi, sebagai hasil keunikan dan ekspresi individu, sehingga validitas pengetahuannya bersifat pribadi, dan memiliki watak yang tidak komunikatif, khusus untuk diri sendiri, subyektif, tidak terlukiskan, sehingga sulit untuk melukiskan seseorang memilikinya atau tidak.
3.      Pengetahuan rasional (rational knowledge)
Pengetahauan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan latihan rasio atau akal semata, tidak disertai dengan obsevasi terhadap peristiwa-peristiwa faktual.
4.      Pengetahuan empiris (empirical knowledge)
Pengetahuan ini diperoleh melalui pengindraan dengan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan indra-indra lainnya, sehingga kita memiliki konsep dunia di sekitar kita.
5.      Pengetahuan otoritas (authoritative knowledge)
Kita menerima pengetahuan itu benar bukan karena telah mengkroscekkan dengan keadaan yang ada diluar diri kita, melainkan telah dijamin otoritasnya (sumber yang berwibawa, memiliki wewenang dan hak) di lapangan.[4]
B. Tafsir dari QS. Ar-Rahman ayat 33
1. Tafsir Al-Mishbah
Ayat di atas menegaskan bahwa mereka tidak dapat menghindar dari pertanggungjawaban serta akibat-akibatnya. Allah menantang mereka dengan menyatakan : Hai kelompok jin dan manusia yang durhaka, jika kamu sanggup menembus keluar menuju penjuru-penjuru langit dan bumi guna menghindar dari pertanggungjawaban atau siksa yang menimpa kamu itu, maka tembuslah keluar. Tetapi, sekali-kali kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan, sedangkan kamu tidak memiliki kekuatan! Maka, nikmat Tuhan kamu berdua yang manakah yang kamu berdua ingkari?
            Peringatan di atas merupakan salah satu bentuk nikmat Allah SWT. Dan karena itu pertanyaan yang menggugah atau mengandung kecaman tersebut diulangi lagi.
            Kata ( معشر ( berarti jamaah atau kelompok yang banyak. Agaknya ia terambil dari kata ((عشرة yang juga berarti sepuluh karena mereka tidak terhitung satu per satu, tetapi sepuluh demi sepuluh.
            Didahulukannya penyebutan jin atas manusia karena jin memiliki kemampuan lebih besar daripada manusia dalam mengarungi angkasa. Bahkan, suatu ketika dalam kehidupan duniawi, mereka pernah memiliki pengalaman, walau dalam bentuk terbatas.
            Thahir Ibn ‘Asyur menegaskan bahwa ayat di atas bukanlah merupakan ucapan yang diucapkan kepada mereka dalam kehidupan dunia ini. Maksudnya ia akan diucapkan kelak di hari kemudian sebagaimana dipahami dari konteks ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat ini dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti isyarat ilmiah Al-Qur’an tentang kemampuan manusia ke luar angkasa. Di sisi lain, kalau seandainya yang dimaksud ayat ini adalah sekadar keluar beberapa jauh menembus angkasa, maka hal itu sebenarnya telah berhasil dilakukan oleh salah satu dari dua jenis makhluk yang ditantang ini, yakni jin.
            Tim penulis Tafsir al-Muntakkab akhirnya menyatakan bahwa pendapat yang memahami ayat di atas berkaitan dengan kemampuan manusia menjelajah ruang angkasa tidak sejalan dengan konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Pada ayat 33 di atas merupakan peringatan dan tantangan bagi mereka yang bermaksud menghindar dari tanggung jawabnya di hari kemudian itu. Ayat ini tidak berbicara dalam konteks kehidupan duniawi, apalagi menyangkut kemampuan manusia menembus angkasa luar, tetapi semata-mata sebagai ancaman bagi yang hendak menghindar. Karena itu, perintah di atas tembuslah bukan perintah untuk dilaksanakan, tetapi perintah yang menunjukkan ketidakmampuan memenuhinya. Tidak ubahnya seperti seorang tokoh kuat pemberani yang berkata lawannya yang penakut lagi lemah : “Tembaklah aku”, yakni “Engkau tidak mungkin dapat melakukannya”.[5]
2. Tafsir Al-Lubab
            Pada ayat 33 ini menantang manusia dan jin, guna membuktikan kepada masing-masing, ketidak berdayaan mereka bahwa : Hai kelompok jin dan manusia, lebih-lebih yang durhaka, jika kamu sanggup menembus keluar penjuru-penjuru langit dan bumi guna menghindar dari pertanggungjawaban atau siksa yang menimpa kamu itu, maka tembuslah keluar! Tetapi sekali-kali kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan, sedangkan kamu tidak mempunyai kekuatan![6]
3. Tafsir Al-Azhar
            Wahai sekalian jin dan manusia! Jika kamu sanggup melintasi semua penjuru langit dan bumi, lintasilah!” (pangkal ayat 33). Artinya bahwa di antara Rahman-Nya Allah itu kepada kita manusia dan jin ialah kebebasan yang diberikan kepada kita untuk melintasi alam ini dengan sepenuh tenaga yang ada pada kita, dengan segenap akal dan budi kita, karena mendalamnya pengetahuan. Namun di akhir ayat Tuhan memberi ingat bahwa kekuatanmu itu tetap terbatas; Namun kamu tidaklah akan dapat melintasinya, kalau tidak dengan kekuasaan.
            Dalam suku kata pertama diberi kebebasan bagi manusia melintasi segala penjuru bumi, baik untuk mengetahui rahasia yang terpendam di muka bumi ini, ataupun hendak menuntut berbagai macam ilmu. Karena banyaklah rahasia dalam alam ini yang tersembunyi, yang sudah thabi’at daripada manusia itu sendiri ingin tahu. Namun di suku kata yang kedua diberi ingat bahwa semuanya pekerjaan itu sangat bergantung kepada kekuasaan, yang dalam ayat di sebut Sulthan. Diberi ingat bahwasanya kalau kekuasaan tidak ada, pekerjaan akan terlintas ditengah.[7]  
C. Aplikasi dalam kehidupan
            Dari penjelasan teori dan tafsir-tafsir di atas, dapat diambil pelajaran untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa ilmu pengetahuan itu penting bagi umat manusia. Supaya kita mendapatkan ilmu dengan cara membaca. Dengan ilmu pengetahuan manusia mengetahui yang ada di bumi ataupun di luar bumi (luar angkasa). Menyakini bahwa alam semesta itu di ciptakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu manusia harus terus menggali ilmu pengetahuan.
D. Aspek Tarbawi
a.       Kekuatan Allah yang diberikan oleh manusia itu berupa akal, yang harus dikembang dengan cara menuntut ilmu.
b.      Allah memerintahkan kepada jin dan manusia untuk menembus (melintasi bumi dan langit), tetapi mereka tidak mampu kecuali dengan kekuatan Allah.
c.       Manusia harus terus menggali ilmu pengetahuan
















BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari 2 kata, yaitu ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan merupakan hubungan objek dan subyek. Subjek disini maksudnya adalah manusia sebagai kesatuan berbagai macam kesanggupan (akal, pancaindra) yang digunakan dalam rangka untuk mengetahuai sesuatu. Sebaliknya objek adalah benda atau hal yang diselidiki yang merupakan realitas bagi manusia yang menyelidiki. Adapun ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993:80).
Manusia berusaha mencari pengetahuan dan kebenaran, yang dapat diperolehnya melalui beberapa sumber antara lain sebagai berikut : (Uyoh Sadulloh, 2003 : 30-33)
a.       Pengetahuan wahyu (revealed knowledge)
b.      Pengetahuan intuitive (intuitive knowledge)
c.       Pengetahuan rasional (rational knowledge)
d.      Pengetahuan empiris (empirical knowledge)
e.       Pengetahuan otoritas (authoritative knowledge)





[1] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan,(Jakarta:Rajawali Pres2009), hlm 155
[2] Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan Dan Pengembangan Cet III, (Jakarta:Kencana2013), hlm 2
[3] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam,(Yogyakarta:Gama Media Offset2007), hlm 26
[4] Ibid, hlm 26-28
[5] M Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah,(Jakarta:Lentera Hati2002), hlm 306-309
[6] M Quraish Shihab, Al-Lubab Cet I,(Tangerang:Lentara Hati2012), hlm 138
[7] Hamka, Tafsir Al-Azhar,(Surabaya:Yayasan Latimojong), hlm 226-227







BIODATA DIRI
B612-2016-08-07-15-31-38.jpg
Nama                        : Azzahrotul Safira                
TTL                          : Pekalongan, 19 Juni 1997
Alamat                                 : Kayugeritan Karanganyar
Riwayat Pendidikan :
a.       SDN 02 Kayugeritan Karanganyar
b.      MTs YMI Wonopringgo
c.       MAS Simbang Kulon Buaran Pekalongan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar