Laman

Selasa, 27 September 2016

TT1 D 4d DO’A MENAMBAH ILMU (QS. At Thaha ayat 114)

KEWAJIBAN BELAJAR “SPESIFIK”
DO’A MENAMBAH ILMU
(QS. At Thaha ayat 114)
Nurhayati  (2021115105) 
Kelas D

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN

2016



KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi I dengan tema “Kewajiban Belajar Spesifik” yang berjudul Doa Tambahkan Ilmu Qur’an Surat At Thaha ayat 114.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Tafsir Tarbawi I dengan tema “Kewajiban Belajar Spesifik” yang berjudul Doa Tambahkan Ilmu Qur’an Surat At Thaha ayat 114 dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   


Pekalongan, 26 September 2016

Nurhayati
(2021115105)
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam, sebagai ajaran Ilahi, kaya dengan ide dan gagasan. Paradigmanya dalam mengkaji dan menjelaskan suatu permasalahan selalu menunjukkan perbedaan dengan paradigm lainnya, termasuk diantanya konsep ilmu. Islam melihat alam, manusia, dan kehidupan sebagai suatu system yang telah diatur Tuhan. Maka, berdasarkan ini, pandangan Al-Quran mengenai ilmu, sumber ilmu, subjek dan objek yang dipelajari, cara menddapatkan ilmu serta tujuan mempelajari ilmu itu sangat jelas, yaitu suatu system tauhid Ilahi. Al-Quran merupakan mukjizat dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Quran merupakan petunjuk bagi umat Islam untuk membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya Ilahi. Dengan arti penting Al-Qur’an itu,kita berkewajiban untuk mempelajarinya dan mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.
                                                   Mencari ilmu juga harus disertai dengan doa. Doa merupakan sesuatu yang ada pada kehidupan sehari-hari kita sebagai seorang muslim. Tidak hanya dalam hal mencari ilmu, tetapi dalam ssemua hal kita memohon kepada Tuhan melalui doa. Memanjatkan doa kepada Allah SWT pertaanda beriman kepada-Nya. Kaitannya dengan ilmu, Allah telah  menjelaskan pada Al-Quran surat At Thaha ayat 114 yang berisi doa untuk meminta ditambahkan ilmu yang  akan kita bahas di makalah ini.


B.    Do’a Tambahkan Ilmu
Nash
فَتَعَلَى اللّهُ اَلْمَلِكُ الْحَقُّ  وَلاَتَعْجَلْ بِا لْقُرْ انِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضَى اِلَيْكَ وَحْيُهُ, وَقُلْ رَّبِّ زِدْ نِيْ عِلْمًا

“Maka Maha Tinggilah Allah, Raja Yang Benar! Dan janganlah engkau tergesa-gesa dengan Al-Quran itu sebelum selesai kepada engkau wahyunya, dan katakanlah: Ya Tuhanku! Tambahkanlah bagiku ilmu”.

C.    Arti Penting Dikaji
Pada hakikatnya, ilmu adalah salah satu sifat Allah, karena sifat itulah Dia disebut ‘Alim (Yang Maha Tahu). Dia adalah sumber utama ilmu. Ilmu Allah tiada terbatas, manusia hanya memperoleh sedikit daripadanya. Dengan mempelajari Al-Quran dan alam niscaya manusia akan mendapatkan ilmu, ketenangan serta kebahagiaan duni dan akhirat.
Usaha dalam hal ini mencari ilmu juga harus disertai dengan doa, agar sselalu ditambahkan ilmu yang bermanfaat. Maka dari itu, doa agar ditambahkan ilmu sangatlah penting kita kaji disini.





BAB II
PEMBAHASAN
A.     Teori
1.     Doa
Pengertian doa menurut syariat adalah seruan seorang hamba kepada Tuhan-Nya untuk meminta pertolongan atau bantuan kepada-Nya. Secara hakikat, doa harus menunjukkan rasa fakir dan rasa membutuhkan seorang hamba kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa, menunjukkan kelemahan daya dan upayanya, kehinaan dan kerendahan dirinya sebagai manusia,sekaligus memuji kebesaran dan  kemahakuasaan Allah Yang Maha Memberi, Maha Dermawan, dan Maha Menyayangi hamba-hamba-Nya.[1]
Adapun tatacara berdo’a ialah jangan sekali-kali berkalimat atau bernada perintah seperti kebanyakan orang berdo’a umpama: “Ya Allah, luluskanlah saya dalam ujian ini”, dan sebagainya. Ini artinya seolah-olah kita memerintah Dia. Walaupun dengan kalimat-kalimat yang manis, akan tetapi nilainya tetap nilai perintah. Tanda bahwa doa itu keluar dari hati yang ikhlas, yang bersih, ialah kalau kebetulan tidak disampaikanNya maka hati kita pun tidaklah merana, sebab kita yakin pula pasti Allah akan memberikan yang lebih baik lagi dari yang kita sangka. Serahkanlah keputusan akhir kepada Dia sepenuhnya, janganlah kita yang menentukan.[2]
2.     Ilmu
“Ilmu” merupakan suatu istilah yang berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘alima yang terdiri dari huruf ‘ayn, lam dan mim. Secara harfiah “ilmu” dapat diartikan kepada tahu atau mengetahui. Secara istilah ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu. Al-ilm (ilmu) adalah tergambarnya hakikat sesuatu pada akal, di mana gambaran tersebut merupakan abstraksi dari sesuatu, baik kuantitas,kualitas, maupun substansi (jawhar)-nya.
Dalam pandangan Al-Qur’an, ilmu tersebut dapat membentuk sikap atau sifat-sifat manusia. Atau dengan kata lain, sikap atau karakter sesseorang merupakan gambaran pengetahuan yang dimilikinya. Penguasaan ilmu bukanlah tujuan utama suatu pembelajaran, penguasaan ilmu hanya sebagai jembatan atau alat yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran, keyakinan, dan perasaan atau sikap positif terhadap fenomena alam dan kehidupan sebagai suatu system ilahiyah.[3]
B.     Tafsir
1.     Tafsir Al-Maraghi
Diriwayatkan bahwa Nabi saw.sangat ingin mengambil Al-Qur’an dari Jibril as., maka dia tergesa-gesa membacanya karena takut lupa sebelum Jibril menyempurnakannya. Maka, beliau dilarang berbuat demikian, dan dikatakan padanya, “janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya, agar kamu mengambilnya dengan mantap dan tenang dan berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menambahkan pemahaman dan pengetahuan.”
(وَلاَ تَعْجَلْ بِا لْقُرْانِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضىَ~ اِلَيْكَ وَحْيُه,)
Janganlah kamu tergesa-gesaebelum Jibril selesai menyampaikannya kepadamu”
Diriwayatkan, apabila Jibril menyampaikan Al-Qur’an, Nabi saw. Mengikutinya dengan mengucapkan setiap huruf dan kalimat, karena beliau khawatir tidak dapat menghafalkannya. Maka beliau dilalarang berbuat demikian, karena barangkali mengucapkan kalimat akan membuatnya lemah untuk mendengarkan kalimat berikutnya.
(وَ قُلْ رَّبِّ زِدْ نِيْ عِلْمًا)
mohonlah tambahan ilmu kepada Allah tanpa kamu tergesa-gesa membaca wahyu, karena apa yang diwahyukan kepadamu itu akan kekal.[4]
2.     Tafsir Al Azhar
“Maka Maha Tinggilah Allah, Raja Yng Benar.”(pangkal ayat 114).
Setelah merenungkan nikmat dan Rahmat Ilahi yang tiada tepermanai banyaknya, insaflah kita akan kelemahan kita sebagai insane dan sebagai makhluk, maka sampailah kita kepada pengakuan memang Maha Tinggilah Allah itu. Dan Dia adalah:”Raja Yang Benar.” Raja yang sebenar-benar Raja. Raja yang selalu berdaulat siang dan malam, petang dan pagi,. Raja disegala waktu dan Raja disegala ruang. Adil hokum-Nya, Teguh disiplin-Nya, kuat Kuasa-Nya. Agung wibawanya. Dan berdiri Dia sendirinya.
Raja Yang Benar itulah Allah, dan dari Dia turunlah Al-Qur’an. Oleh karena hati Nabi Muhammad saw. Bertambah sehari, bertambah jugs merasatidak dapat terpisahkan lagi dari Al-Qur’an itu, sampailah selalu dia ingin segera dating wwahyu. Sedih hatinya jika Jibril terlambat dating, dan gembira dia jika ayat turun, dan bila Jibril telah membacakan satu ayat, segera disambutnya dan diulangnya, walaupun kadang-kadang belum selesai turun. Maka datanglah teguran Allah: “Dan janganlah engkau tergesa-gesa dengan Al-Qur’an itu sebelum selesai kepada engkau wahyunya.”
“Dan katakanlah:”Ya Tuhanku, tambahkanlah bagiku ilmu.”(ujung ayat 114).
Doa Nabi ini penting sekali artinya.yaitu bahwasannya disamping wahyu yang dibawa oleh Jibril itu, Nabi saw. Pun disuruh selalu berdoa kepada Tuhan agar untiknya selalu diberi tambahan ilmu. Yaitu ilmu-ilmu yang timbul dari karena pengalaman, dari karena pergaulan dengan manusia, dari karena memegang pemerintahan, dari karena memimpin peperangan. Sehingga disamping wahyu datang juga petunjuk yang lain, seumpama mimpi atau ilham.[5]
3.     Tafsir Ibnu Katsier
Allah berfirman, “Janganlah  engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, hai Muhammad.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. Jika menerima wahyu mengalami kesukaran, menggerakkan lidahnya untuk mengikuti Jibril membacakan ayat-ayat yang dibawanya, maka oleh Allah diberi petunjuk agar jangan tergesa-gesa membacanya sebelum Jibril selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad saw. Menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan. Allah berfirman selanjutnya mengajari Muhammad, “ucapkanlah, hai Muhammad, ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.[6]
4.     Tafsir Jalalain
فَتَعَلَى اللّهُ اَلْمَلِكُ الْحَق (Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sesungguhnya) daripada apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik -وَلاَتَعْجَلْ بِا لْقُرْ انِ(dan janganlah kamu tergesa-gesaterhadap Al-Quran) sewaktu kamu membacanya - مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضَى اِلَيْكَ وَحْيُهُ,  (sebelum disempurnakan meewahyukannya kepadamu) sebelum Malaikat Jibril selesai menyampaikannya وَقُلْ رَّبِّ زِدْ نِيْ عِلْمًا (dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahklanlah kepadaku ilmu pengetahuan”) tentang Al-Quran, sehingga setiap kali diturunkan kepada-Nya Al-Quran, makin bertambahkah ilmu pengetahuannya.[7]
5.     Tafsir Al- Misbah
Penempatan firman-Nya: (فَتَعَلَى اللّهُ اَلْمَلِكُ الْحَقُّ  ) maka Maha Tinggi Allah, Maharaja Yang Haq antara uraian tentang Al-Quran yang diturunkan dengan Bahasa Arab(ayat 113) dengan larangan tergesa-gesa membacanya (penggalan terakhir ayat 114), mengisyaratkan bahwa kandungannya adalah sesuatu yang sangat luhur dan tinggi serta haq lagi sempurna, serta harus diagungkan dengan mengikuti tuntunannya karena Al-Quran bersumber dari Yang Maha Tinggi, dan dari Maharajayang tunduk kepada-Nya semua makhluk.
Firman-Nya: (مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضَى اِلَيْكَ وَحْيُهُ,) sebelum disempurnakan untukmu pewahyuanmu, dapat dipahami dalam arti sebelum malaikat selesai membacakannya kepadamu. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah tergesa-gesa membaca ayat-ayat Al-Quran sebelumJibril as., menyelesaikan bacaannya
Dapat juga ayat 114 ini merupakan tuntunan kepada Nabi Muhammad saw. Untuk tidak membacakan, yakni menjelaskan makna pesan-pesan al-Quran kepada sahabat-ssahabat beliau ssetelah jelas buat beliau maknanya, baik setelah merenungkannya sungguh-sungguh maupun sebelum datangnya malaikat Jibril as. Mengajarkan beliau tentang maknanya. Pendapat ini sangat sejalan dengan lanjutan ayat tersebut Yng memerintahkan beliau berdoa agar ditambah ilmunya.[8]
C.     Aplikasi dalam Kehidupan
Proses belajar memerlukan usaha yang keras untuk memahami suatu ilmu melalui pendengaran, penglihatan, pengamatan, penulisan, perenungan, dan bacaan. Semua proses tersebut harus diulang-ulang agar ilmu juga cinta terhadap kita.
Doa meminta ditambahkan ilmu perlu senantiasa diucapkan, dimohonkan kepada Allah agar ilmu itu ditambah-Nya, sebab dialah sumber segala ilmu. Dalam mencari ilmu dianjurkan untuk sabar dan tidak tergesa-gesa agar kita bisa belajar secara maksimal.
D.     Aspek Tarbawi
1.     Dalam proses menyerap atau menerima ilmu sebaiknya yang kita utamakan adalah pemahaman terhadap ilmu yang diterima, jangan tergesa-gesa pindah dari satu bab ke bab lain sebelum kita memahaminya.
2.     Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia merupakan ilmu dan pengetahuan yang telah diajarkan-Nya.
3.     Allah memerintahkan kepada kita agar memohon kepada Allah SWT tambahan ilmu pengetahuan.
4.     Dengan mempelajari al-Quran dan alam niscaya manusia akan mendapatkan ilmu, ketenangan serta kebahagiaan dunia dan akhirat.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ilmu adalah tergambarnya hakikat sesuatu pada akal, dimana gambaran tersebut merupakan abstraksi dari sesuatu, baik kuantitas, kualitas, maupun substansinya. Dalam pandangan al-Quran ilmu tersebut dapat membentuk sikap atau sifat-sifat pada manusia. Allah mengingatkan kepada manusia agar mempelajari al-Quran dan alam bermula dari Tuhan, supaya ilmu yang diperoleh tidak melahirkan kesombongan dan arogansi. Dengan berdoa, kita meminta pertolongan atau bantuan kepada Allah SWT dan menunjukkan rasa fakir serta rasa membutuhkan seorang hamba kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa, menunjukkan kelemahan daya dan upayanya, kehinaan dan kerendahan dirinya sebagai manusia,sekaligus memuji kebesaran dan  kemahakuasaan Allah Yang Maha Memberi.













DAFTAR PUSTAKA
Elzaki, Jamal. 2011. Buku Induk  Mukjizat Kesehatan Ibadah. Jakarta: Zaman.
Abdulrahim, M. Imamuddin. 1982. Kuliah Tuhid. Bandung: Perpustakaan Salman ITB.
Yusuf, Kadar M. 2013. Tafsir Tarbawi. Jakarta: Amzah.
Al-Maraghi, Ahmad Mustofa. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: Karya Toha Putra Semarang.
Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz XVI. Jakarta: Pustaka Panji Mas.
Bahreisy, H. Salim dan H. Said Bahreisy. 1990. Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset.
Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. 2010. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.




PROFIL PENULIS


Nama               : Nurhayati
TTL                 : Wonogiri, 27 Januari 1996
Alamat             : Dsn. Posongan, Kel. Purwoharjo Kec. Comal Kab. Pemalang
Cita-Cita          : Guru
Riwayat Pendidikan:
SD N 01 Purwoharjo Comal
SMP N 01 Comal
SMA N 01 Comal




[1] Jamal Elzaki, Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah (Jakarta: Zaman, 2011) hlm. 509
[2] M. Imamuddin Abdulrahim, Kuliah Tauhid, (Bandung: Perpustakaan Salman ITB,1982) hlm. 101-102
[3] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi, (Jakarta: Amzah, 2013) hlm. 16-19
[4] Ahamad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1993) hlm. 282-284
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XVI, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1982) hlm. 225-228
[6] H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Tafsir Ibnu Katsier Jilid 5, (Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, 1990) hlm 279
[7] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain… (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010) hlm. 109
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 377-378.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar