Laman

Senin, 03 Oktober 2016

TT1 A 5d (Cari Ridho Allah) Q.S Al-Bayyinah:8



TUJUAN PENDIDIKAN "UMUM"
(Cari Ridho Allah)
Q.S Al-Bayyinah: 8 

Atika Riskiadin     (2021115083)
 Kelas : A

FAKULTAS TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016


Kata Pengantar
Alhamdulillahhoribbil’alamin, Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Rosuluallah SAW. Penulis bersyukur kepada Illahi Robbi yang telah memberi Hidayah serta Taufiq-Nya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul TUJUAN PENDIDIKAN UMUM (Cari Ridho Allah) Q.S Al-Bayyinah:8 telah terselesaikan guna memenuhi mata kuliah Tafsir Tarbawi I.
Dengan ucapan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tugas mencari Tafsir Tarbawi I, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
  1. Bapak Dr. Ade Dedi Rohayana,M.Ag selaku ketua IAIN Pekalongan
  2. Bapak Drs.H.M.Muslih Husein,M.Ag selaku wakil ketua III IAIN Pekalongan
  3. Bapak M. Ghufron Dimyati,M.S.I selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I;
  1. Bapak dan ibu selaku kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan moral, materiil serta motivasinya;
  2. Segenap Staf Perpustakaan IAIN Pekalongan yang telah memberikan bantuan referensi-referensi buku rujukan;
  3. Mahasiswa Prodi PAI kelas A yang telah memberikan bantuan, dukungan dan motivasinya;
  4. Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moral dan materiilnya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini. Harapan penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya.       
Hanya kepada Allah jugalah kami memohon keridho’an dan taufikNya, semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Pekalongan, 16 September 2016


Penulis










BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Sebagai makhluk yang paling sempurna (manusia) kita diwajibkan untuk selalu mencari ilmu, dari buaian sampai keliang lahat, karena manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang memiliki, akal, pikiran, dan hawa nafsu, yang semuanya harus digunakan dengan baik, karena akan dipertanggungjawabkan dihadapan illahi robbi. Tujuan diciptakannya manusia dimuka bumi ini salah satunya untuk menjadi khalifah(pemimpin). Maka dari itu, kita harus mencari ilmu agar kita mendapatkan ilmu tesebut. Tujuan pendidikan adalah untuk mencari ridha Allah. Bukan untuk mencari kekayaan dunia, dan juga bukan untuk kesombongan. Apapun yang kita kerjakan hanyalah untuk mendapatkan ridha Allah. Maka kita harus mengerjakan apa perintahnya, dan menjauhi segala larangannya. Karena semua yang kita kerjakan ada balasannya dari Allah.
Allah berfirman dalam Q.S. Al-Bayyinah: 8
hhh
Artinya: Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Arti Penting
Kita sebagai seorang hamba seharusnya kita ridha terhadap apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Kita harus menerima dengan senang hati dan lapang dada,dan meyakini bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Tidak meanentang hukum dan ketentuan Allah. Dan setiap kejadian pasti ada khikmahnya, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita sudah berpikir posif kepada Allah, kita pasti akan mengambil kesimpulan yang baik. Jika sikap itu sudah tertanam pada jiwa manusia, dan diamalkannya insya Allah kita juga akan mendapat ridha dari Allah. Dan Allah akan memberi balasan kepada hambanya berupa surga and, yaitu bagi orang-orang yang takut kepada Allah.










BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ridha
Ada 3 pendapat tentang ridha ini:
1.    Ridha termasuk satu kedudukan yang mulia, yaitu puncak dari tawakal. Berarti hamba bisa mencapai ridha ini dengan usahanya, ini merupakan pendapat para ulama Khurasan.
2.    Ridha termasuk keadaan dan tidak bisa diupayakan hamba, tapi ridha ini turun ke hati hamba. Ini merupakan pendapat ulama Irak. Perbedaan antara kedudukan dan keadaan, kedudukan diperoleh karena usaha, sedangkan keadaan semata karena pemberian dan anugrah.
3.    Golongan ketiga ada diantara golongan pertama dan kedua. Menurut mereka, dua pendapat ini dapat disatukan, bahwa permulaan ridha bisa diusahakan hamba, yang berarti termasuk kedudukan, sedangkan kesudahannya termasuk keadaan dan tidak bisa diupayakan hamba. Permulaannya merupakan kedudukan dan kesudahannya merupakan keadaan.[1]
Ridha kepada Allah merupakan dasar ridha kepada Allah. Ridha terhadap Allah merupakan buah ridha kepada allah. Artinya, ridha kepada Allah berkaitan dengan asma dan sifat-sifatnya, sedangkan ridha terhadap Allah berkaitan dengan pahala dan balasannya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengaitkan rasa manisnya iman dengan orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb dan tidak mengaitkannyadengan orang yang ridha terhadap Allah. Sebagaimana abda beliau, “yang merasakan manisnya iman ialah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai Agama, dan kepada Muhammad sebagai Rosul.”  Beliau menjadikan ridha kepada Allah sebagai pasangan ridha kepada Agama dan nabi-Nya. Tiga perkara ini merupakan dasar-dasar agama.[2]
B. TAFSIR
1.    Tafsir Jalalain
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ (Balasan mereka disisi Tuhan mereka ialah Surga’and) sebagai tempat tinggal mereka تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Ridha terhadap mereka) karena ketaatan mereka kepada-Nya وَرَضُوا عَنْهُ  (dan mereka pun Ridha kepada-Nya)yakni merasa puas akan pahala- ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (Yang demikian itu adalah-balasan- bagi orang yang takut kepada Tuhannya) maksudnya takut kepada siksaan-Nya, yang karena itu lalu ia berhenti dari mendurhakai-Nya.[3]


2.                  AL-MARAGHI
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ
Mereka akan Allah beri pahala berupa surga yang akan menjadi tempat mereka untuk selamanya. Di dalam surga itu terdapat berbagai kenikmatan dan kelezatan yang jauh lebih sempurna dibanding kenikmatan dan kelezatan dunia.
Kita wajib beriman akan adanya surga, dan kita tidak diperbolehkan memikirkan hakekat surga, letak surga, dan bagaimana cara kita bersenang-senang di dalam surga. Sebab, yang mengetahui hakikat surga hanyalah Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Surga termasuk sesuatu yang ghaib, hanya Allah sendirilah yang mengetahui.
Kemudian, Allah menjelaskan sebab-sebab mereka menerima pahala. Karenanya, Allah berfirman dalam ayat berikut.
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ
Mereka mendapat ridha dari Allah karena mereka telah berpegang pada batasan-batasan syariat-Nya. Sebagai hasil dariperbuatan itu, mereka menjadi terpuji, dan akhirnya mendapat keridhaan Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Pahala yang baik itu hanya diperuntukkan bagi orang yang hatinya penuh dengan taat dan rasa takut kepada Allah SWT.
Ayat ini mengandung ancaman kepada orang-orang yang takut kepada selain Allah, dan peringatan keras kepada  orang-orang yang menyekutukan Allah di dalam amal perbuatannya. Ayat ini juga merupakan perintah atau anjuranuntuk ber-dzikir dan takut kepada Allah disetiap mengerjakan perbuatan yang baik. Sehingga, perbuatan-perbuatanyang dilakukan itu benar-benar bersih dan ikhlas karena Allah.
Di dalam ayat ini juga terkandung isyarat yang pengertiannya adalah, bahwa yang mengerjakan sebagian ibadah, seperti shalat dan puasa yang hanya melakukan berbagai gerakan saja- tanpa adanya perasaan takut kepada Allah, maka perbuatan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sebab orang meraih pahala yang telah Allah sediakan kepada hamba-hambaNya yang saleh dan beriman. Sebagai sebabnya ialah, karena perasaan takut kepada Allah itu sama sekali tidak ada di dalam hati mereka, dan hatinya tidak menjadi bersih.[4]
3.        TAFSIR AL-AZHAR
“ Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga-syurga tempat menetap.”itulah pemberhentian dan penempatan terakhir, tempat istirahat menerima hasil ganjaran dari kepayahan berjuang pada hidup yang pertama di dunia; “yang mengalir dibawahnya sungai-sungai,” sebagai lambang kiasan dari kesuburan dan kesejukan, tepung tawar untuk ketentraman (muthmainnah), kesuburan yang tiada pernah kering; “ kekal mereka padanya selama-lamanya,” nikmat yang tiada pernah kering rahmat yang tiada pernah terhenti, tidak akan keluar lagi dari dalam nikmat itu ialah; “Allah bridha kepada mereka,”Allah senang, Allah menerima mereka dengan tangan terbuka dan penuh rahman, sebab tatkala di dunia mereka taat dan setia; “Dan mereka pun ridha kepadaNya,”ridha yang seimbang balas membalas, kontak mengontak, bukan laksana bertepuk sebelah tangan. Karena Iman dan keyakinan jualah yang mendorong mereka memikul beban perintah Allah seketika mereka hidup dahulu, tidak ada yang dirasa berat dan tidak pernah merasa bosan. “Yang demikian itulah untuk orang yang takut kepada Tuhannya.”(ujung ayat 8).
Dengan ujung ayat ini diperkuatlah kembali tujuan hidup seorang muslim. Tuhan meridhai mereka, dan mereka pun meridhai Tuhan. Tetapi betapapun akrab hubungannya dengan Tuhan, namun rasa takutnya kepada Tuhan tetap ada. Oleh sebab itu maka rasa sayang dan rasa cinta kepada Tuhan, ridha meridhai dan kasih mengasihi tidaklah sampai menghilangkan wibawa, kekuasaan, bahkan keangkuhan Tuhan di dalam sifat keagungan dan ketinggianNya. Sebab itulah maka si muslim mengerjakan suruh dan menghentikan tegah. Dia sangat mengharapkan dimasukkan kedalam syurga, namun disamping itu dia pun takut akan diazab Tuhan dan dimasukkan ke dalam neraka.[5]
4.        Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT berfirman, ‘’balasan mereka di sisi tuhan mereka,’’ yaitu pada hari kiamat nanti, ‘’ialah surga And yang mengalir dibawahnya sungai – sungai;mereka kekal didalamnya selama-lamanya, ‘’yaitu tidak pernah terhenti, terputus, dan kosong dari kenikmatan. ‘’Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. ‘’Dan maqam ridha-Nya kepada mereka  lebih tinggi daripada semua kenikmatan besar yang telah diberikan kepada mereka. ‘’Dan mereka pun ridha  kepada-Nya, ‘’terhadap apa yang telah dia berikan kepada mereka, berupa karunia yang maha luas. Firman Allah Ta’ala, ‘yang demikian itu adalah [balasan] bagi orang yang takut kepada tuhannya,’’ yaitu balasan ini hanyalah akan diterima oleh orang yang  takut dan takwa kepada Allah, serta mengabadi kepada- nya seolah-olah dia melihat-Nya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasullulah saw. Bersabda yang artinya:
‘’maukah aku beritahukankepadamu tentang makhluk yang paling baik?” mereka menjawab,  “Tentu saja, ya Rasulullah” Rasiuiiah kemudian berkata, “adalah seorang yang memegang talikekang kudanya untuk di pacu di jalan Allah; setiap kali terdengar suara teriakan mungsuh, dia segera duduk di atasnya. Maukah aku beri tabukan lagi siapakah makhluk yang bersabdah,”seseorang yang berada di tengah-tengah kambing gembala nya, namun dia mengerjakan salat dan menunaikan zakat. Dan maukah aku beritahukan kepada kalian makhluk yang paling buruk?” mereka menjawab, “tentu saja , ya Rasulullah” kata rasulullah saw., ‘yaitu, seseorang yang diminta untuk kepentingan agama allah, namun dia tidak mau memberikannya.”[6]
C. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, apapun yang kita lakukan tujuan utamanya haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Dan harus mempunyai rasa takut kepada Allah. Karena Allahlah pemilik alam semesta ini, manusia hanyalah seorang makhluk, maka apapun yang dilakukan manusia akan diminta pertanggung jawabannya. Oleh sebab itu, kita harus selalu berhati-hati dalam beraktifitas, kita harus berjalan pada jalan yang sudah ditentukan oleh Allah, karena jika kita melanggar perintah Allah, kita tidak akan mendapat ridha-Nya. Misalkan, kita mencari ilmu, berarti niat kita yang pertama adalah mencari ilmu karena Allah. Mau jadi apa kita nantinya terserah Allah, karena hanya allahlah yang menentukan nasib kita.
D. Aspek Tarbawi
a.         Mempunyai rasa takut yang tinggi kepada Allah, takut karena apa yang kita lakukan tidak mendapat ridha dari Allah.
b.        Harus menerima apapun yang terjadi pada kita dengan lapang dada (ikhlas).
c.         Tidak boleh mencela pemberian Allah.
d.        Harus mensyukuri apapun yang kita miliki. Karena jika kita bersyukur, berarti Allah meridhoi kita, dan akan menambah nikmah kepada kita.
e.         Bersikap rendah hati, tidak boleh sombong, karena pada hakikatnya semua yang kita miliki milik Allah.
f.         Selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu, (melaksanakan perintah Allah). Jika kita melakukan hal yang dilarang Allah, kita tidak akan mendapatkan ridha Allah.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam Q.S Al-Bayyinah:8 Allah menjelaskan tentang balasan orang-orang  yang ridha kepada Allah. Jika orang sudah ridha kepada Allah, dan melakukan sesuatunya hanya karna ingin mendapatkan ridha Allah. Maka Allah akan meridhoi kita, dan akan memberikan balasan berlipat di akhirat nanti. Seperti surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Hanyalah untuk orang-orang yang melaksanakan perintah Allah, dan mempunyai rasa takut kepada Allah. Kita tidak boleh mengharapkan sesuatu kepada selain Allah. Hanya Allahlah yang wajib kita takuti, dan melaksanakan segala perintahnya, serta menjauhi apa yang dilarangnya.








Daftar pustaka
Al-Jauziyah, 1998. MADARIJUS SALIKIN PENDAKIAN MENUJU ALLAH.
Jakarta:Pustaka Al-Kautsar.
Al-Maraghi Ahmad Musthofa, 1993. Tafsir Al-Maraghi 30. Semarang: PT. Karya
Toha Putra.
Hamka, 1982. Tafsir Al-Azhar Juz XXX. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Al-mahadi, imam jalaluddin dan A-Suyuti Imam jalaludin, 2010.  Terjemahan Tafsir
Jalalain berikut asbabun nuzul jilid 2. Bandung:  percetakan sinar baru
Algensindo.
Nasib Ar-Rifai’I Muhammad, 2000 Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu  Katsir jilid 4. Jakarta: Gema Insani.






PROFIL

Nama                           : Atika Riskiadin
Tempat, Tanggal Lahir: Pekalongan, 06 AGUSTUS 1997
Ayah dan Ibu              : Nuridin dan Suparti
Alamat                        : Dk.Doro Mantek Ds.Dororejo kec Doro Kab.Pekalongan.
Riwayat pendidikan    :- SDN 03 DOROREJO
                                    - SMP N 01 DORO
                                    -SMK BB DARUL AMANAH SUKOREJO KENDAL
Motto                          :  MAN JADDA WAJADA
Cita-cita                      : Menjadi pendidik dimana dan kapanpun berada.


[1] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah MADARIJUS SALIKIN PENDAKIAN MENUJU ALLAH (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), hlm.211.
[2] Ibid., hlm. 215
[3] IMAM JALALUDIN AL-MAHALI IMAM JALALUDIN AS-SUYUTI, Tafsir Jalalain (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010). Hlm 1365
[4] AHMAD MUSTHOFA AL-MARAGHI, Terjemah Tafsir Al-Maraghi 30, Cet II. (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), hlm. 376-377.
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXX (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1982), 236-237.
[6] Muhammmad Nasib Ar-Rifa’I, kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 (Jakarta:Gema Insani, 2000), hlm.1024-1025.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar