Laman

Minggu, 16 Oktober 2016

tt1 A 7b (Malaikat Sebagai Pendidik) QS.An-Najm 5-6



 “SUBJEK PENDIDIKAN HAKIKI”
(Malaikat Sebagai Pendidik)
QS.An-Najm 5-6 

 
Dewi Masyithoh (2021115181)

Kelas A
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM / TARBIYAH
 Institut Agama Islam Negeri IAIN Pekalongan
2016



PRAKATA

            Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sholawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini membahas tentang Malaikat sebagai Pendidik.
   Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam pada semester 3 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan tahun akademik 2016.
Kami menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terwujud. Oleh sebab itu pada kesempatan ini kami  bermaksud mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Orang tua kami tercinta yang telah banyak berdoa untuk kami,dan dukungan moril maupun materil
2.      Muhammad Ghufron, M.S.I sebagai dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I
3.      Bapak dan  Ibu dosen IAIN Pekalongan yang telah memberikan dukungan dan motivasi.
4.      Teman-teman khususnya kelas PAI - A yang kami hormati.
5.      Dan semua pihak yang telah memberikan dukungan moral dan material.
            Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Amin.

Pekalongan, 15 Oktober 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Secara filosofis, pendidikan merupakan sebuah sistem yang memiliki aspek – aspek yang saling berhubungan. Menurut A.D. Marimba (1989: 19 - 65), pendidikan adalah proses membimbing atau memimpin yang dilakukan secara sadar oleh pendidik untuk mengembangkan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam proses membimbing atau memimpin, tersirat dua pihak yang saling berhubungan, yaitu pendidik dan peserta didik. Selain itu, agar usaha dalam proses tersebut dapat mencapai tujuan pendidikan, maka diperlukan landasan atau dasar yang jelas serta alat dan badan atau lembaga penyelenggara pendidikan. Dengan demikian, pendidikan terdiri dari beberapa aspek, yaitu: peserta didik, pendidik, dasar, tujuan, alat, dan badan atau lembaga pendidikan.
Pendidik atau subjek pendidikan adalah orang yang terlibat secara langsung dan kontinyu dalam proses pendidikan. Dalam dunia pendidikan, yang lazim disebut pendidik adalah orang tua, guru, dan para pemimpin masyarakat atau orang-orang yang telah dewasa. Orang tua berperan sebagai pendidik di lingkungan rumah tangga, guru berperan sebagai pendidik di sekolah, sedangkan yang lainnya dapat memainkan peran sebagai pendidik di lingkungan sosial. Walaupun peranan para pendidik ini berbeda tempatnya, tidak berarti mereka bekerja sendiri-sendiri. Semuanya harus dapat memainkan perannya masing-masing secara bertanggung jawab dalam kerangka kerjasama yang harmonis dan saling mendukung agar peserta didik memiliki kepribadian yang utama.
Di dalam Al – Qur’an banyak sekali ayat – ayat yang membahas tentang subjek pendidikan. Antara lain adalah (Q.S Ali Imran: 18; Q.S An Nahl: 43, 44, 78; Q.S Al Kahfi: 66; Q.S Fathir: 28; dan Q.S An Najm: 5-6). Dalam kesempatan kali ini pemakalah akan menguraikan tentang subjek pendidikan yang terkandung dalam Q.S An najm: 5 – 6

B.  Judul
Judul yang akan saya bahas disini adalah tentang Malaikat sebagai Pendidik

C.  Nash
عَلَّمَهُ شَدِيْدُالْقُوَى (5) ذُوْمِرَّةٍ فَاسْتَوَى (6)
Artinya: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai kecerdasan;dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli”. (QS. An-Najm 5-6)














BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman bagi kehidupan manusia (way of life). Al-Qur’an mengandung beberapa aspek yang terkait dengan pandangan hidup yang dapat membawa manusia ke jalan yang benar dan menuju kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dari beberapa aspek tersebut, secara global terkandung materi tentang kegiatan belajar-mengajar atau pendidikan yang tentunya membutuhkan komponen-komponen pendidikan, diantaranya yaitu pendidik dan peserta didik.
Pendidik dalam proses pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai seorang pendidik harus memiliki kemampuan yang sangat mendalam untuk mengajarkan suatu keilmuan kepada peserta didiknya, sehingga apa yang diajarkan akan benar-benar sampai kepada yang diajarkan serta terjaga ilmunya dari hal-hal dari keburukan yang mempengaruhi ilmu itu sendiri.
Dalam hal ini, Allah SWT menyampaikan kalam wahyu-Nya yang berupa Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW melewati perantara Malaikat Jibiril, yang tentunya sebagai pendidik secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW sebagai guru untuk mengajarkan keilmuan-keilmuan yang diturunkan oleh Allah SWT. Mengingat  malaikat adalah makhluk yang suci dari sifat kedhaifan sebagaimana manusia pada umumnya maka alangkah lebih baiknya jika kita mendalami dan mengkaji lebih lanjut dalam memahami hikmah dari Al-Quran menjadikan Malaikat Jibril sebagai guru terhadap Nabiyullah Muhammad SAW.

B.       Tafsir
1.        Tafsir Al-Azhar
عَلَّمَهُ شَدِيْدُالْقُوَى
“Yang memberinya ajaran ialah yang sangat kuat.” (ayat 5)
Inilah jaminan selanjutnya tentang wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW itu, bahwasanya yang mengajarkan wahyu itu kepada beliau ialah makhluk yang sangat kuat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengannyang sangat kuat itu ialah Malaikat Jibril.
ذُوْمِرَّةٍ فَاسْتَوَى
“Yang mempunyai keteguhan.” (ayat 6)
Mujahid, Al-Hasan dan Ibnu Zaid memberi arti: “Yang mempunyai  keteguhan.” Ibnu Abbas memberi arti: “Yang mempunyai rupa yang elok.” Qatadah member arti: “Yang mempunyai bentuk badan yang tinggi bagus.” Ibnu Katsir ketika memberi arti berkata: “Tidak ada perbedaan dalam arti yang dikemukakan itu. Karena Malaikat Jibril itu memang bagus dipandang mata dan mempunyai kekuatan luar biasa. Lanjutan ayat ialah فَاسْتَوَى artinya : “Yang menampakkan diri yang asli”.[1]

2.        Tafsir Al-Maraghi

عَلَّمَهُ شَدِيْدُالْقُوَى
Kawanmu itu diajari oleh Jibril As. Sedang ia adalah seorang makhluk yang berkekuasaan hebat, baik ilmu maupun perbuatannya. Dia mengetahui dan juga beramal. Dan tidak diragukan, bahwa pujian kepada guru merupakan pujian pula bagi muridnya.
Hal ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik mengenai perkataan mereka. Bahkan apa yang dikatakan oleh Muhammad, tak lain adalah dongeng-dongeng orang dahulu yang dia dengar ketika melakukan perjalanan ke Syam.
Kesimpulannya bahwa Nabi SAW, tak pernah diajari oleh seorang manusiapun. Akan tetapi ia diajari oleh Jibril yang berkekuatan hebat. Sedang manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang dhaif. Ia tidak mendapatkan ilmu kecuali sedikit saja. Disamping itu, Jibril adalah terpercaya perkataannya. Sebab, kecerdasan yang kuat merupakan syarat kepercayaan orang terhadap perkataan orang lain. Begitu pula ia terpercaya hafalan maupun amanatny, artinya dia tidak lupa dan tak mungkin merubah.

ذُوْمِرَّةٍ
Yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril yang pertama menggambarkan tentang betapa kuat pekerjaannya. Sedang kali ini menggambarkan tentang berupa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya yang mengagumkan.
Kesimpulannya bahwa Jibril memiliki kekuatan kekuatan pikiran dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ia pernah mencukil negeri kaum Luth dari Laut Hitam yang waktu itu berada dibawah tanah. Lalu memanggulnya pada kedua sayapnya dan diangkatnya negeri itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak terhadap kaum samud sehingga mereka mati semua.
Kalau kita percaya akan hal ini, maka tak lain karena ia termasuk alam gaib. Dalam hal ini kita cukup percaya dengan keterangan yang terdapat dalam kitab Allah Ta’ala tanpa menambah-nambahi.
Dalam pada itu, para ahli ilmu jiwa di Eropa saat ini percaya tentang adanya kekuatan-kekuatan alam ruh dengan segala hal yang luar biasa ditinjau dari alam kita ini. Oliver Lodewige berkata, “Sekarang saya benar-benar yakin bahwa kita diliputi oleh alam yang jika kita bandingkan dengan alam tersebut, maka seperti semut dibanding dengan kita. Mereka membantu kita dan menjaga kita.” Kemudian katanya pula. “Hal ini saya ketahui secara ilmiah,” (Maksudnya dengan menghadirkan ruh-ruh), kemudian ia mengatakan pula, “Maka apabila orang-orang suci berkata bahwa mereka melihat malaikat, atau bahwa mereka melihat Allah maka itu semua adalah benar tanpa diragukan lagi.”[2]
3.        Tafsir Jalalain

عَلَّمَهُ (Yang diajarkan kepadanya) oleh malaikat – شَدِيْدُالْقُوَى ( yang sangat kuat).
ذُوْمِرَّةٍ (Yang mempunyai kecerdasan) yang mempunyai kekuatan dankeperkasaan, atau ynag mempunyai pandangan yang baik, yang dimaksud adalah Malaikat Jibril Alaihis Salam – فَاسْتَوَى (maka menetaplah ia) maksudnya menampakkan diri dengan rupa aslinya.[3]

C.       Aplikasi Dalam Kehidupan
Bahwa ilmu yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sangatlah kuat, begitupun kekuatannya tidak diragukan lagi karena malaikat Jibril terpercaya perkataannya, hafalan maupun amanatnya (tidak lupa dan tidak mungkin merubah).
Jadi, ketika kita memiliki guru yang ilmunya tinggi dan kecerdasan yang kuat, patutlah kita meniru beliau, karena pujian kepada guru merupakan pujian pula bagi muridnya, dan kecerdasan yang kuat merupakan syarat kepercayaan orang terhadap perkataan orang lain.

D.       Aspek Tarbawi
1.    Tidak ada keraguan mengenai keajaiban-keajaiban yang diceritakan oleh Al-Quran
2.    Hendaknyaa kita memiliki kekuatan-kekuatan pikiran dan kekuatan-kekuatan tubuh
3.    Hendaknya kita memiliki sifat amanah

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Bahwa  didalam penyampaian wahyu Al-Quran Nabi Muhammad SAW tidak pernah diajari oleh seorang manusiapun, akan tetapi beliau diajari oleh malaikat Jibril yang berkekuatan hebat. Sedangu manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang dhaif. Ia tidak mendapatkan ilmu kecuali sedikit saja. Disamping itu, malaikat Jibril adalah terpercaya perkataan, hafalan maupun amanatnya.













DAFTAR PUSTAKA

Musthafa Ahmad Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Semarang: Toga Putra,1989)
Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)
Jalaluddin Al Mahalli, Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2015)
















PROFIL
Nama               : Dewi Masyithoh
TTL                 : Pekalongan, 29 Mei 1997
Alamat                        : Pringlangu Gg.6 No.45, Pringrejo
  Kota Pekalongan
Hobby             : Membaca
Pendidikan      : - MII Pringlangu 02 Kota Pekalongan
  - MTS Hidayatul Athfal Banyurip
  - MA Hidayatul Athfal Banyurip
- IAIN Pekalongan


  


[1] Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hlm 93
[2] Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Semarang: Toga Putra,1989), hlm 79-80
[3] Jalaluddin Al Mahalli, Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2015), hlm 951

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar