Laman

Kamis, 17 November 2016

tt1 A 11b Metode Dakwah Q.S An-Nahl ayat 125



METODE PENDIDIKAN  “UMUM”
Metode Dakwah
Q.S An-Nahl ayat 125


Retno Putri Mentari (2021115312)
Kelas A

TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016



Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah atas segala kemudahan yang diberikan kepada penulis , sehingga dapat menyelesaikan makaalah ini dengan waktu yang tepat. Tak lupa shalawat serta salam senantiasa tercurahkaan untuk baginda Nabi Muhammad SAW,yang kita nantikan syafaatnya di Yaumul Kiyamah.
Ucapan terimakasih pula penyusun sampaikan kepada :
1.      Ayah dan Ibu yang senantiasa memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis.
2.      Bapak Muhammad Ghufron, M.S.I, selaku dosen matakuliah Tafsir Tarbawi I, yang telah memberikan amanah untuk menyelesaikan tugas ini
3.      Teman-teman yang senantiasa memberikan masukan dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari , bahwa  makalah  ini masih jauh dari kata sempurna dan masih memiliki banyak kekurangan. Baik dari segi penyusunan dan pemilihan kata . Oleh karena itu, penulis mengharap saran dan kritik dari pembaca yang membangun ,sebagai bahan evaluasi agar dalam tahap penyusunan lebih baik lagi.
Semoga makalah tafsir tarbawi ini bermanfaat bagi masyarakat luas pada umumnya, dan bagi para mahasiswa khususnya.


                                                                    Pekalongan, 16 November 2016

                                                                              Retno Putri Mentari

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG

Al-Qur’an adalah mukjizaat yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi penyempurna dari kitab sebelumnya, yakni Zabur, Taurat dan Injil. Al-Qur’an sebagai kalamullah berfungsi sebagai salah satu sumber hukum dalam Islam. Karena Al-qur’an berisi seperangkat aturan yang berasal dari Allah SWT.
Al-qur’an juga merupakan buku pedoman hidup bagi orang Islam.Yang tak hanya mengatur urusan Ibadah kepada Allah tapi juga mengatur hubungan sesama manusia (a’mar ma’ruf nahi munkar).
     Dalam hal ini termasuk urusan dakwah. Dakwah adalah salah satu cara yang Rasulullah lakukan untuk menyebarkan Agama Islam. Pelajaran pertama yang beliau sampaikan adalah Tauhid. Yakni pengakuan bahwa Allah itu satu, dan tiada yang pantas di sembah selainNYA.Itu disampaikan apa adanya kepada seluruh masyarakat. Lalu satu demi satu, masyarakat menerima dakwah Rasulullah SAW. Orang-orang yang menerima itu kemudian diorganisir dalam organisasi yang sangat rapi. Dengan dakwah pula Rasulullah dan para sahabat berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah, pun dengan pertolongan Allah SWT.
Dalam era sekarang dakwah bisa dijadikan metode dalam pengajaran. Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Karena dakwah merupakan tanda cinta dan kasih sayang sesama muslim, yakni saling mengingatkan dalam kebaikan dan bersama- sama menempuh jalan menggapai RidhoNya.
                                           

B.   Judul makalah ini adalah “metode pendidikan Umum”. Dan dengan sub judul “metode Dakwah”.


C.   Nash
 





Artinya :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
D.  Arti Penting

Bahwasannya dakwah adalah salah satu kewajiban bagi kaum muslimin. Yakni menyampaikan ajaran agama Islam, seperti yang telah Rasulullah contohkan. Berdakwahlah dengan cara yang ma’ruf lagi santun, ajak berdiskusi baik-baik, sampaikan Islam dengan tegas, yang batil katakan batil yang haq katakan haq. Jika orang lain tidak sepaham dengan kita bantahlah dengan cara yang baik , serta hindari perdebatan kusir.









Bab II
Pembahasan

A.    Teori
Dakwah menurut bahasa adalah seruan. Adapun menurut makna syariah dakwah adalah seruankepada manusia untuk memeluk dan mengamalkan Islam,sertamelakukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Dakwah juga dapat di deinisikan sebagai upaya untuk mengubah masyarakat-baik pemikiiran,perasaan maupun sistem aturannya- dari masyarakat jahiliyah ke masyarakat Islam.[1]
Dalam proses lalulintas manusia antarbudaya, dakwah merupakan nilai. Nilai dakwah dimaksud adalah Islam. Islam, baik dimaknai sebagai sikap maupun dipahami sebagai sistem nilai dan pesan yang menyertai transfer suatu dakwah, seperti dalam tablig, menjadi sangat penting ketika bersentuhan dengan nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat.[2]
Dakwah mengajak memeluk Islam ditunjukkan untuk memperbaiki setiap akidah/kepercayaan , menguatkan hubungan dengan Allah , dan menjelaskan kepada masyarakat berbagai problematika pokok kehidupannya. Dengan cara ini , dakwah akan dinamis dan mencangkup seluruh aspek kehidupan.[3]
Pelaku dakwah atau subjek dakwah adalah siapa saja yang terkena taklif syar’i, yaitu: Islam , balig dan berakal. Adapun orang yang menerima dakwah atau objek dakwah adalah orang kafir (ssebagai individu maupun negara) dan orang Islam.[4]
Para pengemban dakwah tentu tidak akan sanggup memikul beban tanggung jawab (dakwah) dan kewajiban-kewajibannya kecuali jika mereka menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah pada jalan kesempurnaan : selalu mengkaji dan mencari kebenaran ;serta senantiasa meneliti kembali secara berulang-ulang setiap sesuatu yang sudah mereka ketahui agar dapat dibersihkan dari segala pemikiran asing yang mungkin mempengaruhinya.
Disamping itu para pengembanng dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang dibebankan Allah di pundak mereka. Mereka melakukannya dengan gembira dan mengharap keridhaan Allah. Mereka tidak berharap dari amal perjuangannya itu imbalan (dari manusia), tidak menunggu ucapan terimakasih dan tidak mencari sesuatu apapun , kecuali keridhaan Allah semata.[5]

B. Tafsir
1.      Tafsir Al-Misbah
Nabi Muhammad ,yang diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim as. Sebagaimana terbaca pada ayat yang lalu, kini diperintahkan lagi untuk mengajak siapapun agar mengikuti pula prinsip-prinsip ajaran Bapak para nabi dan Pengumandang Tauhid itu. Ayat ini menyatakan : Wahai Nabi Muhammad, serulah yakni lanjutkan usahamu untuk menyeru semua yang engkau sanggup seru kepada jalan yang ditunjukkan Tuhanmu,yakni ajaran Islam dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka yakni siapaapun yang menolak atau meragukan ajaran Islam dengan cara yang terbaik. Itulah tiga cara berdakwah yang hendaknya engkau tempuh mengahadapi manusi yang beraneka ragam peringkat dan kecenderugannya: jangan hhiraukan cemoohan atau tuduhan-tuduhan tidak berdasar kaum musyrikin dan serahkan urusanmu dan urusan mereka kepada Allah, karena sesungguhnya Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu. Dialah sendiri yang lebih mengetahui dari siapa pun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalan-Nya dan Dialah saja juga yang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk. [6]

2.      Tafsir Al-Qurtubi
Dalam ayat ini dibahas satu masalah:
Ayat ini turun di Makkah saat diperintahkan agar berdamai dengan Quraisy. Allah juga memerintahkan beliau agar berdakwah menyeru kepada agama Allah dan syari’at-Nya dengan lembut , tidak kasar atau keras. Demikianlah seharusnya kaum muslim memberikan nasehat tentang hari Kiamat yang merupakan hikmah bagi para pelaku kemaksiatan dari kalangan ahli tauhd, dan menghapus perintah  perang terhadap orang-orang kafir.
Telah dikatakan pula “Siapa saja dari kalangan orang-orang kafir yang basa di harapkan keimanannya dengan cara hikmah maka dia harus melakukan tanpa ada pertemuan.[7]

3.      Tafsir Al-Maraghi
Allah berfirman menyuruh Rasul-Nya berseru  kepada manusia, mengajak mereka kejalan Allah dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat serta ajnuran yang baik. Dan jika orang-orang itu mengajak berdebat , maka bantahlah mereka dengan cara yang baik. Allah lebih mengetahui siapa yang durhaka terseeat dari jalan-Nya dan siapa yang bahagia berada di dalam  jalan yang yang lurus yang di tunjukkan oleh Allah. Maka janganlah menjadi kecil hatimu , hai Muhammad , bila ada orang-orang yang tidak mau mengikutimu dan tetap berada dalam jalan yang sesat. Tugasmu hanyalah menyampaikan apa yanng diwahyukan oleh Allah kepadamu dan memberi peringatan kepada mereka , sedang Allah-lah yang akan menentukan akan memberi petunjuk , serta Dialah yang akan meminta pertanggungjawaban hamba-hambaNya kelak di hari kiamat.[8]
4.    Tafsir Al-Ahzar
Serulah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”(pangkal ayat 125). Ayat ini adalah mengandung ajaran kepada Rasulullah SAW tentang cara melancarkan dakwah , atau seruan terhadap manusia agar mereka berjalan di atas jalan Allah (Sabilillah). Sabilillah , atau Shirathal Mustaqim , atau Ad-Dinul Haqqu, agam yang benar , Nabi Saw memegang tapuk pimpinan dalam  melakukan dakwah itu. Kepadanya dituntunkan oleh Tuhan bahwa dalam melakukan Dakwah hendaklah memakai tiga macam cara atau tiga tingkatan cara. Pertama Hikmah (Kebijaksanaan). Yaitu dengan cara bijaksana , akal budi yang mulia , dada yang lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang kepada agama , atau kepada kepercayaan Tuhan.
Yang kedua ialah Al-Mau’izzatul hasanah , yang kita artikan pengajaran yang baik ,atau pesan-pesan yang baik, yang disampaikan sebagai nasihat. Sebagai pendidikan dan tuntunan anaka kecil. Sebab itu termasuklah dalam bidang “al-mau’izatul ahasanah”, pendidikan ayah-bunda dalam rumah tangga kepada anak-anaknya, yanng menunjukkan contoh beragama di hadapan anak-anakanya, sehingga menjadi kehidupan mereka pula. Termasuk juga pendidikan dan pengajaran dalam perguruan-perguruan.
Yang ketiga ialah “Jadilhum billati hiya ahsan” ,bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau terpaksa timbul oerbantaan dan pertukaran fikiran, ayat ini menyuruh , agar dalam hal yang demikian , kalau sudah tidak dapat dielakkan lagi, pilihlah jalan yang sebaik-baiknya. Diantaranya ialah memperbedakan pokok masalah soal yang tengah dibicarakan dengan perasaan benci atau sayang kepada pribadi orang yanng tengah diajak berbantah.
Ketiga pokok cara mrlakukan Dakwah ini , hikmah, muizah hasanah dan mujadalah billati ahsan,amatlah diperlukan disegala zaman. Sebab dakwah ini ajakan dan seruan membawa ummat manusia kepada jalan yang benar itu, sekali-kali bikanlah propaganda , meskipun propaganda itu sendiri kadang-kadang menjadi bagian dari alat dakwah. Dakwah meyakinkan, sedang propaganda atau di’ayah adalah memksakan.[9]

C.   Aplikasi dalam kehidupan
Dalam ayat 125 surah an nahl, Allah menyerukan kepada Nabi Muhammad untuk berdakwah, yakni menyampaikan ajaran Islam. Mengajak orang-orang jahiliyah yang pada saat itu menyembah berhala, untuk menyembah hanya kepada  Allah SWT.
Sejatinya, berdakwah juga bukan hanya kewajiban Rasulullah SAW,namun juga kita, sebagai kaum muslimin, yang beriman kepada Allah dan Rasulullah. Karena mengajak orang lain kepada yang ma’ruf dan mencegahnya dari yang munkar dengan hikmah atau nasihat adalah bagian dari dakwah. Rasulullah sendiri pernah berpesan akan hal itu, yakni “sampaikanlah , walau hanya satu ayat”.
Ketika seseorang telah paham kewajiban akan dakwah, dia akan terus belajar , meng upgrade diri , muhasaabah dan bermurajaah agar apa yang ia sampaikan bisa di cerna dan diaplikasikan dalam kehidupan orang yang ia ajak (yang ia dakwahi). Pun berlandaskan pada Al-qur;an dan Assunah.
Dakwah adalalah bagian dari tanda cinta dan sayang kaum muslimin. Sebab cinta itu tidak akan membiarkan orang yang disayangi mencicipi panasnya api neraka, dan merasakan pedihnya siksaan Allah SWT. Sebaliknya,bagi merekayang mengerti pentingnya berdakwah,senantiasa akan mengingatkan orang-orang terdekatnya kepada kebaikan yang mengantarkannya menggapai Surga Allah SWT.
Dalam menyampaikannya pun bermacam-macam, bisa lewat tulisan maupun lisan. Dan dengan cara yang ma’ruf, artinya, jangan memaksa orang lain meneerima pendapat kita, apabila ia memiliki pandangan yang berbeda, bantahlah dengan cara yang halus. Boleh berdebat ,selagi masih dalam jalur syar’i , namun hindarilah debat kusir yang ujunganya hanya mencari siapa yang menang.

D.Aspek tarbawi
1.    Berdakwahlah dengan cara yang ma’ruf. Baik dalam tulisan maupun lisan
2.    Jangan memaksa orang lain menerima pendapat kita. Apabila ia memiliki pendapat yang berbeda dengan kita.
3.    Bantahlah lawan bicara kita dengan cara yang halus, sesuai dengan jalur syar’i , Hindari debat kusir.
4.    Jangan kompromi dalam berdakwah, artinya yang haq katakan haq, yang batil katakan batil. Sebab haq dan batil tidak boleh dicampur adukkan.
5.    Jangan berhenti belajar dan bermuhasabah diri,agar Allah memudahkan lisan dalam menyampaikan Islam.











Bab III
Penutup
Kesimpulan
Serulah manusia dengan hikmah, yakni lewat dakwah. Sampaikan Islam degan cara yang ma’ruf lagi santun. Jangan berkecil hati apabila orang lain masih enggan menerima pendapat yang kita sampaikan, walaupun itu benar. Jangan juga terlalu memaksa jika orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Bantahlah dengan cara yang halus pula, apabila mengajak berdebat, debatlah dengan tujuan untuk menyamakan presepsi.




















Daftar Pustaka
Hamka.  Tafsir Al-Azhar.(Jakarta: Pustaka Panjimas,1984).
Syaikh Imam Al-Qurtubi ,Al-jami’ il Ahkam Al Qur’an, terj (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008) hlm 498
Ahmad musthafa al-maraghi.Tafsir Al-Maragi.(Semarang:PT Karya Toha, 1989).

M.quraish Shihab ,Tafsir al-misbah(jakarta:Penerbit Lentera Hati,2005)
Arief B. Iskandar,MateriDasar Islam cet XI,(Bogor:Al-Ahzar Press,2015), hlm 180
Acep Aripudin & h. Sukriyadi Sambas.Dakwah Damai (Bandung:Pt Remaja Rosdakarya,2007),hlm 3
Taqiyudin an-Nabhani, Nizam Al-Islam, (Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia,2013) hlm 105



Profil





Nama: Retno Putri Mentari
Nim :2021115312              
Alamat : Ds.mayangan , kec. wiradesa ,kab. Pekalongan
Tanggal lahir: Magelang, 5 Mei 1996
Riwayat pendidikan :
-          SD N Trasan 2 ,Kec. Bandongan kab.Magelang
-          SMP N 12 Kota Magelang
-          SMK N 2 Kota Magelang
-          IAIN Pekalongan (masih semester 3)



[1] Arief B. Iskandar,MateriDasar Islam cet XI,(Bogor:Al-Ahzar Press,2015), hlm 180
[2] Acep Aripudin & h. Sukriyadi Sambas.Dakwah Damai (Bandung:Pt Remaja Rosdakarya,2007),hlm 3
[3]Taqiyudin an-Nabhani, Nizam Al-Islam, (Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia,2013) hlm 105
[4] Arief B. Iskandar, Op.Cit,hlm 182
[5] Taqiyudin an-Nabhani, Op.Cit.108            
[6] M.quraish Shihab ,Tafsir al-misbah(jakarta:Penerbit Lentera Hati,2005) hlm385-386
[7]Syaikh Imam Al-Qurtubi ,Al-jami’ il Ahkam Al Qur’an, terj (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008) hlm 498
[8]Ahmad musthafa al-maraghi.Tafsir Al-Maragi.(Semarang:PT Karya Toha, 1989).hlm.610
[9]Hamka.  Tafsir Al-Azhar.(Jakarta: Pustaka Panjimas,1984).hlm 321-322

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar