Laman

Kamis, 17 November 2016

tt1 A 11d Metode Argumentatif Q.S Al-Baqarah ayat 258



METODE  PENDIDIKAN SECARA UMUM
Metode Argumentatif
Q.S Al-Baqarah ayat 258
                                                                                 
 
Mifrotun (2021115333)

 Kelas A

TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semest alam, karena atas limpahan rahmat, hidayah serta inayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi ini, yang bertemakan “Metode Pendidikan Secara Umum” dengan sub tema “Metode Argumentatif (QS. Al-Baqarah ayat 258).
Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi yang mulia Muhammad saw beserta keluarga, seluruh sahabat, dan kita selaku umatnya.
Dalam menyusun makalah ini tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis alami, oleh karenanya penulis menyadari, tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak maka makalah ini mustahil akan terwujud. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:
1.      Bapak dan ibu atas semua doa dan bantuan financial untuk menyelesaikan makalah ini.
2.       Bapak Muhammad Ghufron, M.S.I selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I.
3.       Teman-teman kelas Tafsir Tarbawi I A yang selalu mensuport dan menghibur penulis selama penyelesaian makalah ini.
4.      Serta semua pihak yang telah berkonstribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu penulis menyadari sepenuhnya masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tatanan bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ilmiah tentang “Metode Pendidikan Secara Umum” dengan sub tema “Metode Argumentatif (QS. Al-Baqarah ayat 258)”, ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi pembaca.
Pekalongan, 13November 2016

Mifrotun
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Al-Qur’an sebagai wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. membawa umat manusia keluar dari zaman kegelapan (kebodohan) menuju zaman cahaya yang terang benderang yakni dengan agama Islam. Al-Qur’an juga menjelaskan yang haq dan yang bathil.
            Dalam dunia pendidikan, metode argumentasi merupakan suatu cara yang sangat berguna, dan efektif dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat melatih siswa maupu  mahasiswa agar dapat berbicara di depan umum dan berani untuk mengeluarkan pendapat. Serta sebagai alat pertukaran informasi yang tidak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan yang subyektif. Dengan menyodorkan fakta-fakta sebagai bahan pembicaraan, maka mereka yang menerima informasi merasa yakin bahwa apa yang disampaikan patut diterima sebagai kebenaran.
Ketika seseorang mengeluarkan argumennya, maka dia harus mempunyai dasaryang kuat dan benar serta dapat di terima oleh akal. Sebagai seorang muslim, ketika kita berbicara mengenai apapun, maka harus berorientasi pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kita harus menggunakan standar yang telah Allah berikan di dalam dua pedoman hidup ummat Islam tersebut.
            Apabila kita menggunakan metode argumen dan sesuai dengan kebenaran (Al-Qur’an dan Hadits), maka apapun yang kita sampaikan pasti dapat di terima oleh akal manusia dan tidak menimbulkan perdebatan yang tidak bermanfaat.
                                                                                                           
B.     Judul
Judul garis besar makalah ini adalah “Metode Pendidikan Secara Umum” dengan sub tema “Metode Argumentatif (QS. Al-Baqarah ayat 258)”.
C.    Nash
اَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين(258)
                                     
Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. “

D.    Arti penting
Dalam kehidupan sehari-hari metode argumentif sering di gunakan. Terutama dalam dunia pendidikan. Sebagai seorang mahasisiwa kita harus mencari dasar-dasar yang menjadi sumber ketika kita menggunakan metode argumentatif dalam pembelajaran.
Berkaca dari tafsir surat Al-Baqarah ayat 258 ini, maka dalam berargumentasi kita harus menggunakan dasar-dasar yang benar dan dapat di terima olah akal. Kita tidak boleh menjadikan kekuatan dan kekuasaan kita sebagai alat untuk membodohi orang lain dengan dasar argumen yang tidak jelas dan tidak berdasarkan landasan yang Allah ridhoi seperti halnya Raja Namrud.
Oleh karena itu kita harus berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadits Rasul. Agar segala sesuatu yang kita sampaikan adalah kebenaran semata. Karena tidak ada keraguan dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul. Maka, kita harus mempelajari apa yang terkandung dalam Al-Qur’an dan mengamalkannya.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    TEORI
Metode berasal dari Bahasa Yunanimethodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmuah maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.
Metode  Argumentasi adalah Metode yang mempunyai kegemaran menyakinkan orang lain tentang pandangan atau anutan.[1]
Argumentasi dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran suatu gagasan atau pendapat. Oleh karena itu, penulis harus menyajikan gagasan secara logis, kritis dan sistematis dengan alasan atau bukti yang kuat sehingga gagasan atau pendapat tersebut tidak dapat disangkal kebenarannya. Untuk mendukung atau membuktikan kebenaran gagasan atau pendapat tidak jarang penulis menggunakan data atau fakta, gambar, grafik dan sebagainya [2]

B.     TAFSIR
1.      Tafsir Al-Azhar
Dalam ayat ini Allah mneganjurkan kepada Nabi Muhammad saw. dan kepada kita semua supaya  memperhatikan suatu kejadian yang terjadi dari seorang raja besar di masa Nabi Ibrahim, ia tidak percaya adanya Tuhan, maka Nabi Ibrahim menujukkan kekuasaan Tuhan yang menghdupkan semua makhluk dan mematikan mereka, sebagai bukti yang sangat nyata, tetapi raja yang sombong dengan kerajaan dan kekuasaannya itu tidak dapat menerima keterangan Ibrahim, bahkan iaa berkata: “Aku juga dapat menghidupkan dan memtaikan, yaitu jika di hadapkan kepadaku dua pesakitan (narapidana)  yang harus di hukum mati, lalu saya perintahkan supaya di bnuh an yang lain saya lepaskan.” Sebenarnya jawaban raja itu lain dengan tujuan Ibrahim dalam arti menghidupkan dan mematikan, tetapi dasar raja degil, maka langsung oleh Ibrahim di jelaskan lain dalil (bukti) kekuasaan Allah, yaitu: “Allah menerbitkan matahari dari sebelah timur, mka terbitkanlah oleh anda itu dari arah sebelah barat, jika anda merasa berkuasa, maka cobalah.” Di sini raja itu menjadi bingung terdiam tidak dapat berkata apa-apa, benar-benar merasakan tidak dapat membantah bukti dan alasan yang di bawa oleh Nabi Ibrahim as. Demikianlah Allah takkan memberi petunjuk bagi orang yang dzalim. [3]
2.      Tafsir Al-Maraghi
a.      “Tidaklah engkau mengetahui orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhannya”.
Tidaklah engkau mengetahui, atau sudahkah sampai keterangan kepadamu kisah seseorang yang berhasil mencapai tingkat keyakinan dalam kasus seorang raja dzalim yang mengaku sebagai Tuhan,tetapi Ibrahim justru mengingkari pengakuannya itu. Raja ini adalah Namrud bin Kan’an bin Sam bin Nuh as.

b.      “Bahwa Allah telah memberimu kekuasaan”
Orang yang mewarisi kebesaran dan keagungan yang memperdaya dirinya serta sombong karena kekuasaannya sehingga berani memebantah Ibrahim, orang yang mendapatkan kekuasaan oleh Allah.
c.       “ketika Ibrahim berkata: Tuhanku adalah Tuhan yang menghidupkan dan mematikan”.
Ketika Ibrahim menghancurkan patung-patung yang di sembah oleh kaumnya dengan mencela kebodohan mereka dengan menjawab seperti kata-kata di atas. Lalu Namrud bertanya kepadanya “siapakah Tuhan yang ia sembah?”.. jawabnya:”Tuhanku adalah Tuhan yang menghidupkan dan mematikan”. Lalu Raja  yang ingkar itu menolak jawaban tersebu. Ia berkata:

d.      “akulah yang menghidupkan dan mematikan”.
Artinya, akupun bisa menghidupkan dan memetikan manusia, karena orang yang dihukum mati saya beri ampun, maka tetaplah dia hidup. Dan akupun dapat emetikan siapa saja, dengan perintahku untuk di bunuh. Pengigkaran raja yang dzalim ini menunjukkan bahwa dia tidak mengerti jawaban Ibrahim as. Karena kata-kata “yuhyi” berarti menciptakan kehidupan seluruh alam, baik tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lain-lainya, serta meniadakan kehidupannya dengan kematian. Sedangkan jawaban Namrud menggunakan “hayat” hanya berarti ebab-sebab yang sesuatu jadi hidup atau mati. Karena itu, selanjutnya Ibrahim menjelasan dengan jawaban seperti yang Allah ceritakan:
e.       Ibrahim berkata “Allah menerbitkan matahari dari timur, sebab itu terbitkanlah dia dari barat”
Tuhanku adalah Tuhan yang benar-benar memberi dan mengadakan hidup dengan kekuasaan dan kehendak-Nya sendiri. Dialah Tuhan yang menerbitkan matahari dari timur, Tuhan pencipta seluruh alam ini dengan susunanya yang indah, hukum-hukumnya yang tepat, seperti yang kita saksikan.
f.        Lalu bingungla orang kafir itu.
Namrud menjadi bingung, tidak bis menjawab apa-apa, seolah-olah mulutnya tersunbat batu.
g.      Dan Allah tidak memberi hidayah kepada kaum yang ingkar
Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang menolak hidayah, tidak mau berfikir sungguh-sungguh atas segala bukti yang sampai kepadanya. Bahkan justru mengikuti jalan sesat dan tidak mau menggunakan kesanggupan yang Allah berikan kepadanya untuk memahami kebenaran, karena rayuan haw nafsu yang terlihat indah olehnya. Jadi pada saat-saat ini berarti dia berbuat dzalim kepada dirinya sendiri dan menjadi sesat sejauh-jauhnya.[4]
3.      Tafsir Al-Azhar
“Tidaklah engkau fikirkan dari hal orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhannya” (pangkal ayat 258). Pangkal ayat ini mengajak kepada Rasul khususnya  dan ummat beriman pada umumna untuk memeikirkan kisah ini. Orang itu ialah taja Namrud sendiri. Lantaran Allah telah memberikan kerajaan kepadanya. Suatu pengajaran ilmu jiwa yang mendalam dalam Al-Qur’an. Yaitu seorang manusia, oleh karena di beri Allah kekuasaan dan kerajaan. Maka ia menjadi sombong, lupa diri, lupa segala, merasa dirinya sngat berkuasa, sebab itu perkataan yang keluar pun tidak tidak ada batasnya lagi, sebab mereka merasa tidak ada juga orang yang berani membantah: Tatkala Ibrahim berkata: “Tuhankulah  yag menghidupkan dan mematikan”. Di hadapan raja itu iIbrahim telah menerangkan siapa Tuhan, bahwa Tuhan Allah-lah yang mematikan dan menghidupkan. Tetapi karena memng dasar jiwa orang yang merasa berkuaasa tidak berbatas itu sombong dengn kekuasaannya, boleh di fikirkannya dengan panjang apa maksud Ibrahim mengatakan demikian. Langsung saja beliau sambut: Dia berkata: “akulah yang menghidupkan dan mematikan”. Nyawa dari seluruh negeriku ini ada dalam tanganku, kalau mereka bersalah, lalu di hadapkan kepadaku, aku berkuasa memerintahkan supaya dia di biarkan hidup terus, dan akupun berkuasa pula menjatuhkan keputusan bahwa dia mesti di hukum mati.
Rupanya raja tidak mau tahu apa yang di maksud Ibrahim dengan menghidupkan dan mematikan. Dia tidak mau tahu bahwa rakyatnya itupun sendiri seketika lahir ke dunia bukanlah atas kehendanya, dan kalau mereka mati sewajarnya, tidaklah dia berkuasa menghalangi kematian itu. Padahal yang dapat di berinya ampun atau di biarkan hidup atau di suruh mati ialah rakyat yang di hadapkan kepadanya, atau budak-budak yang ada dalam istana. Oleh sebab itu, Ibrahim meneruskan perkataannya: “berkata Ibrahim: Maka sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari timur, maka cobalah datangkan itu dari barat”. Dengan sambungan kata yang demikian Ibrahim telah membawa raja berfikir yang lebih luas. Sekarang baru dia mengerti apa maksud Ibrahim: “Maka terdiamlah orang yang kafir itu”. Dia tidak dapat menjawab lagi. Dasar berfikirnya salah, sebab itu dia terdiam. “Dan Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada orang yang dzalim”. (pangkal ayat 258). [5]

C.    APLIKASI DALAM KEHIDUPAN
Dalam menjalani kehidupan ini, kita pasti pernah mengalami perbedaan pendapat dalam segala hal. Oleh karena itu kita pasti akan mengeluarkan argumen kita masing-masing. Maka apabila kita berdebat dengan orang lain, harus menggunakn argumen yang dapat di terima oleh akal dan fikiran kita. Dalam berargumentasi harus di perhatikan betul dasar yang kita pakai yang sudah di jamin akan kebenarannya. Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Yang lebih di fokuskan di sini adalah dalam dunia pendidikan, terutama dalam perkuliahan.Ketika berdiskusi dengan dosen dan teman-teman sering kita menggunakan metode argumentatif yaitu sebuah cara yang di pakai dalam pembelajaran dengan mengeluarkan pendapat yang benar. Tidak hanya benar tetapi argumen tersebut juga harus bisa di terima oleh akal manusia. Maka kita harus menggunakan standarnya Allah SWT, yaitu berlandaska Al-Qur’an dan Sunnah Rasul  agar kita memperolah hidayah dari-Nya. Maka dengan begitu kita tidak akan tersesat dan pasti kita akan menang ketika berargumentasi dengan orang lain.

D.    ASPEK TARBAWI
1.      Sebagai seorang muslim kita harus menggunakan standar yang telah Allah berikan, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dalam menjalani kehidupan.
2.      Menggunakan metode argumentasi dalam hal kebaikan untuk meraih ridho Allah, bukan dalam hal-hal maksiat karena akan menyebabkan murka Allah.
3.      Kita tidak boleh menjadi orang yang merasa paling benar sendiri, dan tidak mau menerima pendapat orang lain.
4.      Dalam berargumentasi kita harus menggunakan dasar yang benar dan sesuai dengan akal manusia, yaitu dengan dasar Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
5.      Jadilah pencari hidayah Allah. Dengan mempelajari dan mangamalkan Al-Qur’an, karena itulah petunjuk dari Allah.
6.      Tidak menjadikan kekuasaan dan kekuatan untuk mendhalimi orang lain.








BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Surat Al-Baqarah ayat 258 ini berisi tentang perdebatan yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan raja Namrud yang bertindak semena-mena terhadap rakyatnya. Di mana raja ini, mengaku bisa mematikan dan menghidupkan manusia ketika Nabi Ibrahim mengatakan bahwa Tuhannya adalah yang bisa menghidupkan dan mematikan. Tapi ketika nabi Ibrahim menyuruh untuk menerbitkan matahari dari timur, raja Namrud terdiam tak bisa berkata-kata.
Hal ini menunjukkan bahwa Raja namrud berargumen dengan landasan yang salah dan dholim, sedangkan Nabi Ibrahim berargumen berdasarkan Al-Qur’an dan petunjuk dari Allah yang sudah di jamin kebenarannya.
Maka dalam penenrapannya, ketika kita berargumentasi maka kita harus mengacu pada ayat ini yakni ketika kita menggunakan metode argumentatif dalam pembelajaran maka kita harus berpacu pada dasar yang benar dan dapat di terima oleh akal, yaitu Al-Qur’an dan Sunah Roasul. Maka kita akan memperoleh petunjuk dari Allah, dan sekali-kali Allah tidak akan membari petunjuk bgi oran-orang yang dholim seperti raja Nsmrud.
                                                                            
B.     SARAN
Penulis menyadari terdapat banak sekali kekurangn dalam penulisan makalah ini, namun penulis telah berupaya dan berusaha atas terselsainya tugas ini. Maka penulis mengarap kritik dan saran yang membangun guna tercapainya kesempurnaan dalam menyusun makalah di wakt yang akan datang.





DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi,Ahmad Mustafa,cet 3,1986,Tarjamah Tafsir Al-
Maraghi,Yogyakarta:Sumber Ilmu
Amrullah, Abdulmalik Abdulkarim 1983, Tafsir Al-Azhar juzu’ III cet 3,Jakarta:Panji Masyarakat
Katsir,Ibnu,1987,Terjemah  singkat tafsir Ibnu Katsier,cet 2,surabaya:PT.Bina Ilmu
https://id.wikipedia.org/wiki/Metode.               
http://top-studies.blogspot.co.id/2015/06/pengertian-metode-argumentasi.html.
















BIODATA PENULIS






Nama                            : Mifrotun
NIM                              :2021115333
TTL                               : Pekalongan, 01 Mei 1994
Alamat                          : Desa Kadipaten RT.12/RW.03 No. 33, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan
Riwayat pendidikan    :
1.     TK Bustanul Athfal ‘Aisyiyah delegtukang
2.    MI Muhammadiyah Delegtukang
3.    SMP N 2 Wiradesa
4.    SMK N 1 Pekalongan
5.    IAIN Pekalongan (masih)








[1]https://id.wikipedia.org/wiki/Metode.diakses pada tanggal 14 november 2016 pada pukul 09.00
[3]Ibnu katsir,Terjemahsingkat tafsir Ibnu Katsier,cet 2,(surabaya:PT.Bina Ilmu,1987),hlm.467-468
[4]Ahmad Mustafa Al-Maraghi,Tarjamah Tafsir Al-Maraghi,cet 1,(Yogyakarta:Sumber Ilmu,1986),hlm.22-23
[5] H. AbdulmalikAbdulkarim Amrullah, Tafsir Al-Azhar juzu’ III cet 3,(Jakarta:Panji Masyarakat,1983),hlm.42-44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar