Laman

Kamis, 03 November 2016

tt1 A 9a (Keluarga Sebagai Objek Pendidikan) Q.S At Tahrim ayat 6

OBJEK PENDIDIKAN LANGSUNG
(Keluarga Sebagai Objek Pendidikan)
Q.S At Tahrim ayat 6
Wita  Widiyaningsih (2021115209)
 Kelas A

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang keluarga sebagai objek pendidik dengan baik, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak  Muhammad Hufron, M.SI selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai kedudukan orang yang berilmu dan nilai orang berilmu. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.





Pekalongan,  Oktober  2016
                                                                                                        Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Al-Qur’an diyakini oleh umat Islam sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak benar, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti. Ajaran dan petunjuk al-Qur’an tersebut berkaitan dengan berbagai konsep yang amat dibutuhkan oleh umat manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini dan di akhirat kelak.
Al-Qur’an berbicara tentang berbagai hal, seperti aqidah, ibadah, mu’amalah berbicara pula tentang pendidikan. Namun demikian, al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai, dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah tersebut. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general. Untuk dapat memahami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut mau tidak mau seseorang harus melewati jalur tafsir sebagaimana telah di lakukan para ulama
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia memberikan peringatkan kepada keluarga dan sanak kerabat dulu kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorang pun yang berprasangka jelek kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya. Jika dia memulai dengan memberikan peringatan kepada kelurga dan sanak kerabatnya, maka hal itu akan lebih bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh agar bersikap tawadhu kepada pengikut-pengikut yang beriman, bersikap baik keapad mereka, dan ikut menggung kesusahan yang mereka mau menerima nasehat.

B.              Judul
Judul yang akan kita bahas pada kali ini,  menyangkut tentang “keluarga sebagai objek pendidik”.


C.              Nash
Surat At-tahrim ayat 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : “hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia manusia dan batu-batu; di atasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, yang keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang di perintahkan”. Q.S At tahrim : 6
            Dalam surat di atas  menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula di rumah. Ayat di atas walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan dan lelaki (ibu dan ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang memerintahkan puasa)   juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua orangtua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas kelakuannya. Ayah atau ibu sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga yang diliputi oleh nilai-nilai agama serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis.
            Maksud dari lafazh : “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, maksudnya yaitu, kerjakanlah sesuatu dengan ketaatan kepada Allah SWT dan jauhilah maksiat kepada Allah, serta ajarkan keluargamu dzikir, maka Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka.[1]


D.              Arti penting
-        Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka.
-        Pentingnya pendidikan Islam sejak dini
-        Perintah taqwa kepada Allah SWT dan berdakwah



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori
            Pada prinsipnya keluarga dalam berbagai referensi hampir sama, perbedaannya terletak dalam pengungkapannya saja.Silviciond dan Arocelis, misalnya, mengemukakan keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan dan pengangkatan, yang mereka hidupnya dalam suatu rumah, berinteraksi satu sama laindan perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan satu budayanya.
            Pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori.misalnya Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori.
            Pendidikan keluarga pada hakikatnya  di mulai sejak pemilihan atau penentuan jodoh. Nabi Muhammad menitik beratkan agar memilih jodoh yang kuat iman dan kesalehanya. Sebab suami dan istri atau ayah dan ib mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik keluarga. Nabi bersabda “ stiap anak itu terlahir dengan keadaan fitrah, maka ibu dan ayahnua lah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.[2]
            Ada tiga tahap yang sangat penting yang harus di lakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya . pertama, ketika seorang ibu sedang mengandung. Pada saat kehamilan itu , orang tua terutama ibu mesti meningkatkan intensitas dan kualitas komunikasiya dengan Allah karena bagaimanapun  juga kondisi orang tua dapat mempengaruhi janin dalam kandunganya. Kedua, setelah lahir ia jga mesti di komunikasikan kepada Allah. Nabi mengajarkan, agar orang tua mengadzankan dan mengiqamahkan anak yang baru lahir. Dan tahap ketiga, ketika anak sudah mulai dibesarkan dari hari kehari dan seterusnya, ia mesti tumbuh dan berkembang dalam kesalehan lingkungan keluarga.
            Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak di isyaratkan dengan kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagai balas jasa atas jari payah dalam mendidiknya semenjak masih dalam kandungan.[3]


B.      Tafsir
1.       Tafsir Al-Misbah
            Ayat di atas telah memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu Antara lain dengan meneladani Nabi, dan pelihara juga keluarga kamu, yakni istri, anak-anak, dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu, dengan membimbing dan mendidik merekaagar kamu semua terhindar dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia manusia yang kafir dan juga batu-batu antara lain yang di jadikan berhala-berhala. Di atasnya, yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuninya, adalah maikat-malaikat yang kasar hati dan perlakuanya, yang keras-keras perlakuanya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka sehingga siksa yang mereka jatuhkan-kendati mereka kasar- tidak kurang dan tidak pula berlebih dari apa yang di perintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka,dan mereka juga senantiasa dari saat kesaat mengerjakan dengan mudah apa yang di perintahkan Allah kepada mereka.[4]
2.       Tafsir al maraghi
            Maksudnya Allah memerintahkan kepada sebagian dari istri-istri Nabi SAW. Untuk bertaubat dari kesalahan yang terlanjur di lakukan, dan menjelaskan kepada mereka bahwa Allah akan menolong dan menjaga rasul-Nya hingga kerjasama mereka untuk menyakitinya tidak akan membahayakannya, kemudian mempringatkan mereka agar tidak berkepanjangan dalam menentangnya karena khawatir akan di talak dan di jatuhkan dari kedudukannya yang mulia sebagai ibu-ibu kaum mukminin yang shaleh. Dia memerintahkan kaum mukminin pada umumnya untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan berhala berhala pada hari kiamat.[5]
3.       Tafsir ibnu katsir
            Allah SWT berfirman, “yang  bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” yaitu yang kayu bakrnya terdiri atas manusia dan jin. “Al-Hijrah” dalam ayat ini ada yang mengatakan sebagai patug-patung yang mereka sembah. Ibnu Masud dan yang lain mengatakan, “Batu blerang.” Dan di tambah oleh Mujahid, “bau yang baunya lebih busuk dari pada bangkai.” Demikian di riwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
            Firman Allah SWT, “penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,”  yaitu yang tabiatnya kasar. Allah telah mencabut dari hati-hati mereka rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir. “yang keras” yaitu susunan tubuh mereka sangat keras, tebal dan penampilanya yang mengerikan. Wajah-wajah mereka hitam dan taringtaring mereka menakutkan. Tidak tersimpan dalam hati masing-masing mereka rasa kasi sayang terhadap orang-orang kafir, walaupun sebesar biji dzarrah.
            Allah berfirman, “ yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan.” Yaitu, mereka tidak pernah menangguhkan bila datang peritah dari Allah walaupun sekejap mata, padahal mereka bisa saja melakukan hal itu dan mereka tidak mengenal lelah. Mereka itulah para malaikat zabaniah—kita berlindung kepada Allah dari mereka.[6]
4.       Tafsir Al-Qurthubi
            Pada firman Allah ini terdapat satu masalah, yaitu perintah agar manusia memelihara dirinya dan keluarganya dari api neraka.
            Adh-Dhahhak berkata, “makna firman Allah itu adalah : peliharalah (oleh kalian) diri kalian. Adapun keluarga kalian, hendaklah mereka memelihara diri mereka dari neraka.
            Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari ibnu abbas : “peliharalah diri kalian dan perintahkanlah keluarga kalian berdzikir dan berdoa agar Allah memelihara mereka karena kalian 9dari api neraka).
            Ali, Qatadah dan Mujahid berkata, : “peliharalah diri kalian dan perbuatan kalian, dan peliharalah diri kalian dengan wasiat kalian,”
            Dengan demikian, seseorang harus memperbaiki dirinya sendiri dengan melakukan ketaatan, dan juga memperbaiki keluarganya layaknya seorang pemimpin memperbaiki orang yang di pimpininya. [7]
C.      Aplikasi dalam kehidupan
            Banyak sekali amalan shalih yang menjadikan seseorang masuk surga dan dijauhkan dari api neraka, misalnya bersedekah, berdakwah, berakhlaq baik, saling tolong menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan shalat dan bersabar.
            Anak adalah aset bagi orang tua. Dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jati dirinya. Banyak orang tua “salah asuh” kepada anak sehingga perkembangan fisik yang cepat diera globalisasi ini tidak diiringi dengan perkembangan mental dan spiritual yang benar kepada anak, sehingga banyak prilaku kenakalan-kenalakan oleh para remaja.
            Sebagai orang tua yang proaktif harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan anak. Rasulullah juga memberitahukan betapa pentingnyamendidik anak sejak dini
D.      Aspek tarbawi
1.       menambah pengetahuan peran keluarga dalam pendidikan Islam.
2.       mengetahui tugas-tugas yang harus dilakukan keluarga dalam membentuk jiwa yang beragama.
3.       mengetahui nasihat-nasihat Al-Qur’an dalam pendidikan keluarga.



BAB III
PENUTUP
Ø  Kesimpulan
Keluarga merupakan suatu lembaga atau unit sosial terkecil di masyarakat yang terbentuk melalui perkawinan yang sah biasanya terdiri atas ayah, ibu dan anak yang hidup di suatu tempat. Pendidikan yang paling banyak di terima oleh anak adalah keluarga, karena keluarga merupakan pendidikan yang pertama bagi anak, dalam keluarga anak pertama-tama akan mendapatkan bimbingan, perkembangan, pertumbuhan mental maupun fisik dalam kehidupannya. Selain itu, keluarga bagi anak merupakan suatu tempat yang paling strategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan oleh anak yang tengah mencari makna kehidupan. Di dalam keluarga orang tua harus memberikan suasana yang aman dan tenteram yang meliputi rasa cinta dan simpati yang sewajarnya pada anak. Kebutuhan akan kasih sayang harus di penuhi dan berkembang dengan baik. Orang tua pun harus memberikan dasar-dasar moral bagi anak, yang biasanya tercermin dalam sikap dan perilaku orang tua sebagai teladan yang dapat di contoh anak. Biasanya tingkah laku, cara berbuat dan berbicara akan di tiru oleh anak, teladan ini melahirkan gejala identifikasi positif, yakni menyamakan diri dengan orang yang di tiru, dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian.






DAFTAR PUSTAKA
Abu Thalhah,  bin Ali. 2009.  tarsir ibnu abbas. Jakarta: Pustaka Azzam
Al Hifnawi, Muhammad Ibrahim. 2009. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al Maraghi, Mustodfa. 1993.  tafsir al maraghi.  semarang: PT Karya Toha.
Ar Arifai, Muhammad Nasib. 2000. Tafsir Ibnu Katsir. jakarta: gema insanipress.
Munir,  Ahmad. 2008.Tafsir Tarbawi. yogyakarta: Sukses Offset.
Shihab, Quraish. 2002. tafsir Al-misbah. jakarta: Lentera Hati.
Yusuf,  Kadar. 2003. Tafsir Tarbawi, jakarta : Amzah.

                                                                 
Ali bin Abu thalhah, tarsir ibnu abbas, (jakarta : PUSTAKA AZZAM,2009), hal.571
Kadar yusuf Tafsir Tarbawi, (jakarta : Amzah, 2003), hal.157-161
Dr.Ahmad munir, MA, Tafsir Tarbawi,(yogyakarta: SUKSES Offset, 2008)hal.115
M. Quraish shihab, tafsir Al-misbah, (jakarta: Lentera hati , 2002)hal.177
 Ahmad mustodfa al maraghi, tafsir al maraghi, ( semarang : pt.karya toha, 1933), hal.333
Muhammad nasib ar-rifai, Tafsir Ibnu Katsir,(jakarta : gema insanipress,2000), Hal. 752







PROFIL

Nama                                      :  Wita Widiyangingsih
Tempat, tanggal lahir             : Batang, 2 mei 1997
Alamat                                    :  wonobodro, kec blado. Batang
Riwayat pendidikan                :
-        SDN wonobodro 1
-        Smp islam an-nur blado
-        Madrasah Aliyah sunan kalijaga bawang, Batang.








[1] Ali bin Abu thalhah, tarsir ibnu abbas, (jakarta : PUSTAKA AZZAM,2009), hal.571
[2] Dr. Kadar M.Yusuf, M.AG, Tafsir Tarbawi, (jakarta : Amzah, 2003), hal.157-161
[3] Dr.Ahmad munir, MA, Tafsir Tarbawi,(yogyakarta: SUKSES Offset, 2008)hal.115
[4] M. Quraish shihab, tafsir Al-misbah, (jakarta: Lentera hati , 2002)hal.177
[5]  Ahmad mustodfa al maraghi, tafsir al maraghi, ( semarang : pt.karya toha, 1933), hal.333
[6] Muhammad nasib ar-rifai, Tafsir Ibnu Katsir,(jakarta : gema insanipress,2000), Hal. 752
[7] Muhammad Ibrahim Al Hifnawi, Tafsir Al Qurthubi, (jakarta : pustaka azzam, 2009), hal.744-745

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar