Laman

Kamis, 03 November 2016

tt1 B 9a Keluarga Sebagai Objek Pendidikan (QS. AL-TAHRIM.66:6)

OBJEK PENDIDIKAN LANGSUNG
Keluarga Sebagai Objek Pendidikan
(QS. AL-TAHRIM, 66: 6)

Siti Baroyah    (2021115287)
Kelas B

JURUSAN TARBIYAH PRODI PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
PEKALONGAN
2016


KATA PENGANTAR

            Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan Rahmat, Karunia, serta Taufik dan Hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang “OBJEK PENDIDIKAN LANGSUNG“ Keluarga Sebagai Objek Pendidikan(QS. AL-TAHRIM.66:6)”.Kami sangat berterima kasih kepada bapak Muhammad Ghufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah tafsir tarbawi I di IAIN Pekalongan yang telah membimbing saya untuk menyelesaikan tugas ini.
            Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai karakter Allah sebagai pendidik, saya menyadari sepenuhnya bahwa di makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa adanya saran yang membangun.
            Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya, sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari bapak dosen dan para pembaca yang budiman demi perbaikan makalah inidividu waktu yang akan datang.

Pekalongan, 06 Oktober 2016
                                                                                   
                                                                        Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang.
            Keluarga adalah belahan jiwa masyarakat dan tulang punggungnya.Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, adalah cerminan dari keadaan keluarga-keluarga yang hidup pada masyarakat tersebut.
            Hakikat di atas adalah kesimpulan pandangan seluruh pakar dari berbagai disiplin ilmu, termasuk pakar-pakar agama islam. Itulah antara lain yang menjadi sebab sehingga agama islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan keluarga, perhatian yang sepadan dengan perhatian terhadap pembinaan keluarga, perhatian yang sepadan dengan perhatian terhadap kehidupan individu serta kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dari puluhan ayat Al-Qur’an dan ratusan hadis Nabi Muhammad saw kita dapat menemukan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas menyangkut hakikat tersebut.

B.    Landasan Materi.
1.     Keluarga Sebagai Objek Pendidikan Langsung (Q.s. At Tahrim ayat 6)
           Secara kebahasaan, kata “qu anfusakum terdiri dari dua suku kata, yaitu kataa qu yang bentuk amr lil jama’ (kata perintah bentuk plural) dari waqa’ yang berarti jagalah oleh kalian, dan kata anfusakum yang berarti diri kalian. Dengan demikian, kata qu anfusakum dalam konteks ayat ini bermakna perintah untuk senantiasa menjaga diri dan keluarga dari sengatan api neraka. Secara kebahasaan, kata gilaz syidad terdiri dari dua suku kata, yitu kata gilaz yang merupakan bentuk plural dari (banyak) dari kata galiz yang berarti keras, dan kata syidad yang merupakan bentuk plural dari kata syidad dalam konteks ayat ini merupakan pendiskripsian sifat para malikat yang sangat keras dan kasar dalam menyiksa penghuni neraka.

Nash(Qs. Al-Tahrim:6)
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَايَعْصُوْنَ اللهَ مَاأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُعْمَرُوْنَ
Artinya:
             “ Hai orang-orang yang beriman, Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahka-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. “ (QS. At-Tahrim:6)

C.    Arti Penting.
            Dalam Q.s Al-Tahrim ayat 6 ini, kita dapat pahami bahwa pada sejatinya, pendidikan dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada orang yang tidak dilahirkan dalam keluarga.Jauh  sebelum ada lembaga pendidikan yang disebut sekolah, keluarga telah ada sebagai lembaga  yang memainkan peran penting dalam pendidikan yakni sebagai peletak dasar. Dalam dan dari keluarga orang mempelajari  banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bertutur kata, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana menganut nilai-nilai tertentu sebagai prinsip dalam hidup. Yang pada intinya, keluarga merupakan basis pendidikan bagi setiap orang.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori
1.     Pengertian Pendidikan
     Dalam kamus besar bahasa Indonesa diterangkan  bahwa pendidik adalah orang yang mendidik. Dari arti leksikal, kata pendidik secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, pendidikan dan sebagainya.Orang yang melakukan kegiatan seperti ini biasa dijumpai dimana dan kapan saja.Dirumah, yang melakukan kegiatan dan tugas ini adalah kedua orang tua.Di sekolah, tugas tersebut dilakukan oleh guru, dan di masyarakat dialkukan oleh oragnisasi-organisasi pendidikan. Atas dasar ini, pendidikan itu bias kedua orang tua, guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan sebagainya.[1]
     Bisa juga di artikan pendidikan keluarga adalah bimbingan atau pembelajaran yang di berikan terhadap anggota kumpulan suatu keturunan atau suatu tempat tinggal, yang terdiri dari suami atau ayah, istri atau ibu, anak-anak dan lain sebagainya.Dengan demikian keluarga tidak hanya istri dan anak-anak tetapi juga mencangkup kaum krabat lainya yang satu nasab, terutama yang tinggal dalam satu rumah.[2]
a.      Keluarga Sebagai Objek Pendidikan.
      Kedua orang tua sebagai guru dijelaskan dalam Al-Qur’an:


1)     Al-Qur’an Surat At-tahrim ayat 6
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَايَعْصُوْنَ اللهَ مَاأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُعْمَرُوْنَ

Artinya:
            “ Hai orang-orang yang beriman, Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahka-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. “ (QS. At-Tahrim:6)
            Ayat diatas memberikan gambaran bahwa dakwah dan pendidikan diawali dari lembaga yang paling kecil, yaitu dari diri sendiri dan keluarga menuju yang besar dan luas.Ayat ini atas awalnya berbicara masalah tanggung jawab pendidikan keluarga, kemudian diikuti dengan akibat dari kelalaian tanggung jawab yaitu siksaan.Dalam membicarakan siksaan, Al-Qur’an menyebutkan bahan bakar mereka, bukan model dan jenis siksaanya Sementara bahan bakar ayat diatas digambaran berasal dari manusia.Hal ini mengisyaratkan bahwa kegagalan dalam mendidik masa kecilnya, dalam lembaga terkecil yaitu keluarga. Kegagalan pendidikan dalam usia dini akan menyebabkan manusia terbakar emosinya oleh dirinya sendiri yang tidak terarah pada usia dininya.[3]
            Secara tegas (Qs. At-Tahrim:6)  diatas mengingatkan kepada semua orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya ke jalan yang benar agar terhindar dari neraka. Ayat tersebut mengandung perintah menjaga, yaitu “qu” (jagalah).Perintah menjaga diri dan keluarga dari neraka berkonotasi terhadap perintah mendidik atau membmbing.Sebab didikan dan bimbingan yang dapat membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran, dimana berkonsisten dalam kebenaran itu membuat orang terhindar dari siksa neraka.Oleh karena itu, para orang tua berkewajiban mengajarkan kebaikan dan menjauhkan kemungkaran dengan membiasakan mereka dalam kebenaran atau kebaikan tersebut serta memberikan contoh teladan.
            Ayat tesebut juga menggambarkan keadaan api neraka. Ada dua kondisi neraka yang digambarkan pada ayat diatas yaitu:
a)      Bahan bakarnya yang terdiri dari manusia dan batu. Manusia yang akan menjadi bahan bakar neraka itu adalah orang-orang kafir. Adapun menurut sebagian mufassir, batu yang dijadikan sebagai bahan bakar neraka itu adalah berhala yang mereka sembah.
b)     Neraka tersebut dijaga oleh malaikat-malaikat yang amat kasar dan keras terhadap penghuni neraka, tetapi mereka makhluk yang sangat patuh kepada allah serta tidak pernah melanggar perintah-Nya.[4]
Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya hendaklah sebaian dari kamu memberitahukan kepada sebagian yang lain, apa yang dapat menjaga dirimu dari api neraka dan menjauhkan kam dari pada-Nya. Dan hendaklah kamu mengajarkan kepada keluargamu perbuatan yang denganya mereka data menjaga diri mereka dari api neraka. Dan bawalah mereka kepada yang demikian ini melalui nasehat dan pengajaran.[5]



B.    TAFSIR (QS. At-Tahrim:6)
1.     Tafsir Al- Misbah
     “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu; Diatasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, yang keras-keras, yang tidak mendurhakai  Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.”
     Dalam suasana peristiwa yang terjadi dirumah tangga Nabi SAW seperti diuraikan oleh ayat-ayat yang lalu, ayat di atas memberituntunan kepada kaum beriman bahwa “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu”antara lain dengan meneladani Nabi  dan pelihara juga keluarga kamu yakni istri, anak-anak dan seluruh yang berada dibawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu terhindar dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu antara lain yang dijadikan berhala-berhala. Diatasnya yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuninya adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya, yang keras-keras dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yangtidakmendurhakaiAllahmenyangkutapayangDiaperintahkankepada mereka Sehingga siksa yang mereka jatuhkan – kendati  mereka kasar – tidak kurang dan   juga tidak berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka dan mereka juga dan senantiasa dari saat ke saat mengerjakan dengan mudah apayang diperintahkan Allah kepada mereka.
     Ayat tersebut menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula dari rumah.Ayat diatas walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi buakan berarti hanya tertuju kepada mereka.Ayat ini tertuju kepada perempuan dan lelaki (ibu dan ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang memerintahkan berpuasa) yang juga tertuju  kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggung jawab atas kelakuanya. Ayah atau ibu sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga yang diliputi oleh nilai-nilai agam serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis.
     Bahwa manusia menjadi bahan bakar neraka, dipahami oleh Thaba’athaba’I dalam arti manusia terbakar dengan sendirinya. Menurutnya ini sejalan dengan Qs. Al_mu’min [40]: 72.[6]
    
2.     Tafsir Al-Maraghi
     Sesudah Allah memerintahkan kepada sebagian dari istri-istri Nabi saw. Untuk bertaubat dari kesalahan yang terlanjur dilakukan, dan menjelaskan  kepada mereka bahwa allah akan menjaga dan menolong rasul_Nya hingga kerja sama untuk menyakitinya tidak akan membahayakannya, kemudian memperingatkan mereka agar berkepanjangan dalam menentangnya karena khawatir akan ditalak dan dijatuhkan dari kedudukanya yang mulia sebagai ibu-ibu kaum muslimin, karena digantikan dengan istri-istri yang lain dari wanita-wanita mukmin yang shaleh, Dia memerintahkan kaum mukmin pada umumnya untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan berhala-berhala pada hari kiamat.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
    Wahai orang-orang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya hendaklah sebagian dari kamu memberitahukan kepada sebagian yang lain, apa yang dapat menjaga dirimu dari api neraka dan dan menjauhkan dari padanya, yaitu ketaatan kepada Allah dan menuruti segala perintah_Nya. Dan hendaklah kamu mengajarkan kepada keluargamu perbuatan yang dengannya mereka dapat menjaga diri mereka dari api neraka. Dan bawalah mereka kepada yang demikian ini melalui nasehat dan pengajaran.
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ
     Malaikat-malaikat itu diserahi neraka untuk mengurusnya dan menyiksa para penghuninya.Mereka ada 19 orang malaikat penjaga yang akan disebutkan dalam surat Al-Mudassir di dalam firman_Nya :
Artinya:
 Aku akan memasukkanya kedalam (neraka ) saqar. Tahukah kamu Apakah (neraka) saqar itu?Saqar tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (neraka saqar) adalah pembakar kulit manusia. Diatasnya ada Sembilan belas (malaikat penjaga).”(Al-Mudassir,74: 26-30).
غِلَاظٌ شِدَادٌ
     Mereka keras terhadap penghuni neraka itu,
Kemudian Allah menjelskan besarnya ketaatan mereka kepada tuhan mereka, Firman_Nya:
لَايَعْصُوْنَ اللهَ مَاأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُعْمَرُوْنَ
   “Mereka tidak menyalahi peritah_Nya, tetapi mereka menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka pada waktu itu juga tanpa selang, mereka tidak mendahului dan tidak menunda perintah_Nya”.[7]

3.     Tafsir Ibnu Katsir.
     Allah swt berfirman:“ Hai orang-orang yang beriman, Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ,” yaitu kamu perintahkan dirimu dan keluarga-Nya yang terdiri dari istri, anak,  saudara, kerabat, sahaya wanita dan sahaya laki-laki untuk taat kepada Allah dan kamu larang dirimu beserta semua orang yang dibawah tanggung jawabmu untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah. Kemudian kamu ajari dan didik mereka serta pimpin mereka  dengan perintah Allah kamu perintahkan mereka untuuk melaksanakanyadan kamu bantu merekadalam merealisasikannya. Bila kamu melihat ada yang berbuat maksiat kepada Allah maka cegah dan larang mereka. Ini merupakan kewajiban setiap muslim yaitu mengajarkan kepada orang yang berada dibawah tanggung jawabnya segala sesuatu yang telah diwajibkan dan dilarang oleh Allah Ta’ala kepada mereka.[8]

C.    Aplikasi Dalam Kehdupan Sehari-hari.
            Secara tegas (Qs. At-Tahrim:6)  diatas mengingatkan kepada semua orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya ke jalan yang benar agar terhindar dari neraka. Sebab didikan dan bimbingan yang dapat membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran, dimana berkonsisten dalam kebenaran itu membuat orang terhindar dari siksa neraka. Oleh karena itu, dapat  diterapkan bagi para orang tua yang berkewajiban mengajarkan kepada anak-anak mereka kebaikan dan menjauhkan kemungkaran dengan membiasakan mereka dalam kebenaran atau kebaikan tersebut serta memberikan contoh teladan .
D.    Aspek Tarbawi.
1.     Perintah taqwa kepada Allah Swt dan berdakwah.
2.     Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka.
3.     Pentingnya pendidikan islam sejak dini.
4.     Keimanan kepada para malaikat.

















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam Qs. At-Tahrim ayat Allah jelas memerintahkan kepada orang yang beriman untuk memelihara diri sendiri dan keluarga dari api neraka. Diantara caranya adalah dengan memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Dengan pendidikan orang  akan memperoleh ilmu, dan ilmu dapat menjadi cahaya bagi pemiliknya. Ilmu yang bermanfaat akan dapat menjadi  bekal ketika ia telah meninggal kelak.

B.    Saran.
      Dalam penyusunan makalah yang sangat sederhana ini tentunya banyak kekurangan dan kekeliruan, yang menjadi sorotan adalah bagimana makalah ini dapat disusun setidaknya mendekati kata sempurna dan dapat  mencangkup subtansi materi yang ingin disampaikan sehingga tujuan pembelajaranpun dapat terpenuhi. Dalam kesempatan ini kami selaku penyusun tentunya sangat mengharapkan segala saran, kritik dan pengayaan yang bersifat membangun dan dapat diberikan landasan pijakan dari teori yang akan kami tambahkan demi kesempurnaan penyusunan yang akan datang.
           
           





DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1986. Tafsir Al-Maraghi Juz XXVII. Semarang: PT. Karya Thoha Putra
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi Juz XXVIII. Semarang: PT. Karya Thoha Putra.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 2006. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press.
Gojali, Nanang. 2013. Tafsir dan Hadis Tentang Pendidikan.  Bandung: CV Pustaka Setia.
Munir, Ahmad. 2008. Tafsir Tarbawi. Yogyakarta: Teras.
Shihab, M Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
Yusuf,  Kadar M. 2013. Tafsir Tarbawi, Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Peandidikan. Jakarta: Amzah.
.










BIODATA

Nama              : Siti Baroyah
Nim                  : (2021115287)
TTL                 : BATANG, 6 APRIL 1998
Ayah/ibu          : Sarbani / Gembil Damari
Alamat                        : Ds. Ujungsari , Kec. Wonounggal, Kab. Batang.
Riwayat Pendidikan  :
1.     TK  ( ASSYAFI’IYAH Gringgingsari02)
2.     MI  ( ASSYAFI’IYAH Gringgingsari02)
3.     MTS (MUHAMMADIYAH PKJ)
4.     MA (MUHAMMADIYAH PKJ)
5.     IAIN(PEKALONGAN)






[1] Nanang Ghojali, Tafsir dan hadis tentang pendidikan, (Bandung: CV.Pustaka setia, 2013), hlm.246.
[2] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi, pesen-pesen Al-Qur’an tentang pendidikan, (Jakarta: AMZAH, 2013), hlm.150.
[3] Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm.100.
[4] Kadar M. Yusuf., Op.Cit, hlm153.
[5] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi Juz XXVII, (Semarang: PT. Karya toha Putra, 1986), hlm.261.
[6]  M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 326-327
[7]  Ahmad Mustafa Al-Maraghi, tafsir Al-Maraghi Juz XXVIII,( Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1993), hlm. 256-263.
[8] Muhammad Nasib AR Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,( Jakarta: Gema Insani Press,2006), hlm. 751-752.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar