Laman

Selasa, 01 November 2016

tt1 C 8c NABI SURI TAULADAN Qs. Al-Ahzab ayat 21

SUBYEK PENDIDIKAN “MAJAZI”
NABI SURI TAULADAN
Qs. Al-Ahzab ayat 21

Najihatul Istiqomah  (2021115130) 
Kelas C

JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016


 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga makalah ini dapat terseleslaikan dengan lancar. Shalawat serta  salam senantiasa kita curahkan kepada nabi kita, baginda nabi agung Muhammad saw. semoga kita semua termasuk umat beliau yang akan mendapat syafa’atnya di yaumul akhir.
Tidak lupa, pemakalah juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang telah sepenuhnya memfasilitasi pembuatan makalah ini, kemudian bapak dosen yang telah memberikan bimbingan, serta tema-teman semua yang telah berpartisipasi memberi arahan dan masukan.
Disusunnya makalah ini guna memenuhi tugas Tafsir Tarbawi. Yang mana dalam penyusunan makalah ini tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ataupun kata yang kurang sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik senantiasa kita harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
                                                                                      
Pekalongan, Oktober 2016

       Penulis






 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Suatu pendidikan tidak akan sukses melainkan harus disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Dalam pendidikan, sebuah keteladanan sangat berpengaruh besar dalam penanaman pendidikan karakter peserta didik yang berjangka panjang.  Cara yang demikian telah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Rasulullah SAW adalah orang yang pertama kali menerapkan Islam secara total. Ia mendapat bimbingan dan pengarahan langsung dari Allah melalui wahyu-Nya. Makà, tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui dan memahami Islam selain Rasulullah Muhammad SAW. Karena itulah tidak ada suri tauladan yang baik dan menjamin seseorang mendapat rahmat Allah SWT baik didunia maupun di akhirat, kecuali suri tauladan yang datang dari Rasulallah Muhammad Saw.
Namun fenomena yang terjadi saat ini sangatlah bertolak belakang dengan firman Allah SWT. Banyak generasi muda yang melupakan keteladanan Rosul dan justru meneladani budaya Barat. Dimana kelabilan dan kelemahan iman semakin memperkuat mereka untuk condong pada budaya yang disuguhkan oleh era globalisasi dari pada keteladanan dari Rosulullah saw.
Untuk itu, sebagai mahasiswa khususnya, harus mampu memberikan solusi yang dimaksudkan supaya generasi muda mampu menumbuhkan kembali atau memutar arah kembali dalam meneladani Rosul dalam segala urusan, agar mendapat rahmat dari Allah baik di dunia maupun di akhirat.


B.     Judul Makalah
Untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Tafsir Tarbawi, dalam hal ini pemakalah membahas tentang “Subyek Pendidikan “Majazi” (Nabi Suri Tauladan) Qs. Al-Ahzab ayat 21”, sesuai dengan tugas yang telah diamanahkan.

C.    Nash dan Arti QS Al-Ahzab ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةُ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللّهَ وَالْيَوْمَ الْأَخِرَ وَذَكَرَاللّهَ كَثِيْرًا
Artinya: “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

D.    Urgensi
Adanya pembahasan mengenai subyek pendidikan “Majazi” yang lebih khususnya “Nabi Suri Teladan”, dalam Qs. Al-Ahzab ayat 21 ini karena didalamnya mengandung banyak nilai penting yang patut kita teladani, diantaranya:
1.     Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tafsir dari Qs. Al-Ahzab ayat 21
2.     Bagi mahasiswa, Nabi sebagai Suri Teladan mampu mendorong pembentukan kepribadian baik ketika suatu saat menjadi guru, sehingga dapat diteladani pula oleh peserta didiknya
3.     Menguatkan mahasiswa bahwa manusia yang utama patut diidolakan adalah Nabi Muhammad saw.
4.     Mahasiswa dapat mumpuni dalam hal duniawi dan ukhrowi.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
Risalah Islam datang untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan mengajak manusia untuk berlomba-lomba menuju kebajikan serta mewujudkan “yang terbaik” (al-lati hiya ahsan).[1]
Dalam agama Islam, keteladanan akhlak berpusat pada Rasuluallah SAW.  dalam setiap perkataan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak mulia diikuti pula oleh perbuatan dan kepribadiannya. Beliau dikenal sebagai orang yang shidik (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan dakwah) , dan fatanah (cerdas).
Kaitannya dengan keteladanan Rasulullah, dalam hal akhlak Beliau menjadi cerminan yang sangat patut untuk ditiru. Dimana orang yang paling berat timbangan amal baiknya di akhirat adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Dan orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.[2] Orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi Muhammad saw. dua syarat mutlak bagi yang meneladani Rasul saw. Adalah:
1.     Keyakinan tentang keniscayaan kiamat sambil mengharap ganjaran-Nya yang tidak dapat diperoleh kecuali menyesuaikan diri dengan tuntunan Nabi-Nya
2.     Banyak berdzikir dengan mengaitkan setiap aktivitas dengan Allah swt. [3]
Sosok Nabi Muhammad saw. Dan kepribadian beliau merupakan teladan bagi umat Islam. Dalam soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu khusus buat beliau atau tidak wajib. Sedang dalam soal-soal keduaniaan, maka ia merupakan anjuran yang pelaksanaannya terpulang kepada para pakar dibidang masing-masing. Nabi saw. Bersabda: “apa yang kusampaikan menyangkut ajaran agama. Maka terimalah, sedang kamu lebih tahu persoalan keduniaan kamu”.[4]
Nabi Muhammad saw. Tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pembawa perubahan dunia yang paling spektakuler, sebagai suri tauladan umat manusia. hanya dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad telah berhasil mendekonstruksi seluruh kehidupan umat manusia yang sarat kezaliman dan kebiadaban, kemudian merekonstruksikanya menjadi sebuah kehidupan yang sarat nilai luhur. Semua kesuksesan Rasul banak ditopang oleh kearifan, keberanian, kesadaran dan keadilan yang didorong oleh semangat menegakkan akhlakul karimah. Sampai Nabi diberi gelar Al-Amin, yangberarti orang yang terpercaya. Gelar ini diberikan setelah melampaui ujian panjang dalam kehidupannya yang tidak pernah ada cacat kebohongan sama sekali, bahkan selau diwarnai kejujuran dan kesantunan.[5]
Allah memberikan penjelasan seara transparan bahwa akhlak Rasulullah sangat layak untuk dijadikan standar modal bagi umatnya, sehingga layak untuk dijadikan idola yang diteladani sebagai uswatun hasanah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada satu “sisi-gelap” pun yang ada pada diri Rasulullah, karena semua isi kehidupannya dapat ditiru dan diteladani. Selain itu juga mengisyaratkan bahwa Rasulullah sengaja diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi “lokomotif” akhlak umat manusia secara universal.

Akhlak Rasulullah tercermin lewat semua tindakan, ketentuan,atau perkataannya senantiasa selaras dengan al-Qur’an dan benar-benar merupakan praktek riil dari kandungan al-Qur’an. Semua perintah dilaksanakan, semua larangan dijauhi, dan semua isi al-Qur’an didalamnya untuk dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-sehari.[6]

B.    Tarsir Ayat
1.     Tafsir Al-Misbah
Surat Al-Ahzab ayat 21 satu ini mengarah kepada orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi saw. Ayat diatas menyatakan: Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah yakni Nabi Muhammad saw. suri tauladan yang baik bagi kamu yakni bagi orang yang senantiasa mengaharap rahmat kasih sayang Allah dan kebahagiaan hari kiamat, serta teladan bagi mereka yang berzikir mengingat kepada Allah dan menyebut-nyebut nama-Nya dengan banyak baik dalam suasana susah maupun senang.
Bisa juga ayat ini masih merupakan kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi tidak  mencerminkan ajaran Islam. Kecaman itu dikesankan oleh kata laqad. Seakan-akan ayat itu menyatakan: “Kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal sesungguhnya ditengah kamu semua ada Nabi Muhammad yang mestinya kamu teladani”.
Kata ((أسوة uswah atau iswah berarti teladan. Pakar tafsir az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat diatas, mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rasulullah. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut  diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama’.
‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad dalam bukunya ‘Abqariyat Muhammad menjelaskan: Ada empat tipe manusia, yaitu Pemikir,  Pekerja, Seniman, dan yang jiwanya larut dalam ibadah. Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi  dua dari keempat tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul pada diri sesorang. Namun yang mempelajari pribadi Rasul akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau. Berkumpulnya  keempat tipe dalam kepribadian Rasul ini, dimaksudkan agar seluruh manusia dapat meneladani sifat-sifat terpuji Rasul.[7]

2.     Tafsir Al-Qurthubi
Dalam ayat ini dibahas tiga masalah, yaitu:
Pertama, Firman Allah SWT, لَقَدْ كاَنَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rassulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Ayat ini juga termasuk sindiran terhadap orang-orang yang absen dari peperangan. Maksudnya adalah, mengapa kalian tidak ikut berperang padahal kalian telah diberiakn contuh yang baik dari Nabi saw, dimana beliau telah berusaha dengan keras untuk memperjuangkan agama Allah dengan cara ikut berperang dalam perang khandak. Sedang menurut Aqabah bin Hassan Al Hijri teladan yang dimaksud pada ayat ini adalah kelaparan yang dirasakan oleh Nabi saw.
Kedua, Firman Allah أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ  “Suri teladan yang baik” adalah perbuatan Nabi saw dan teladan yang baik yang harus diikuti oleh seorang muslim pada setaip perbuatannya dan pada setiap keadaannya. Para ulama berlainan pendapat mengenai hukum meneladani Nabi Muhammad saw yang tertera pada ayat ini, apakah diwajibkan ataukan hanya disunnahkan saja ? Ada dua pendapat yang berkembang mengenai permasalahan ini, yaitu:
a.      Perintah ini bersifat wajib, kecuali jika ada dalil lain yang mengatakan bahwa perintah inihanya sunah.
b.     Perintah ini hanya bersifat sunah saja, kecuali ada dalil lain yang menyebutkan bahwa perintah ini wajib.
Namun besar kemungkinan bahwa perintah pada ayat ini diwajibkan pada permasalahan keagamaan, sedangkan untuk masalah keduniaan perintah ini bersifat sunah saja.
Ketiga, firman Allah لِمَنْ كاَنَ يَرْجُوْا اللّهَ وَالْيَوْمَ الْأَخِرَ وَذَكَرَاللّهَ كَثِيْرَا  “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Sa’id bin Jubair berkata, “Makna firman ini adalah, bagi siapa saja yang mengharapkan bertemu dengan membawa keimanan, meyakini hari kebangkitan dimana seluruh amal perbuatan manusia akan diberi ganjarannya.
Lalu para ulama berbeda pendapat mengenai orang0orang yang dimaksud dari firman ini. ada dua pendapat yang berkembang dikalangan mereka, yaitu:
a.      Mereka yang dimaksud adalah orang-orang munafik, karena ayat ini terhubung dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang mereka.
b.     Orang-orang yang dimaksud untuk mengambil teladan dari Nabi saw adalah orang-orang yang beriman, karena pada firman selanjutnya disebutkan, لِمَنْ كاَنَ يَرْجُوْا اللّهَ وَالْيَوْمَ الْأَخِرَ “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat.”[8]
3.     Tafsir Al-Maraghi
Sesudah Allah menrinci keadaan orang-orang munafik dan membeberkan kerendahan sifat pengecut mereka yang besar itu, lalu Dia mencela mereka dengan sangat. Celaan itu diungkapkan oleh Allah dengan cara memberikan penjelasan kepada mereka, bahwa telah ada di dalam diri Rasulullah pelajaran yang baik, senadainya mereka mau mengambil pelajaran, dan teladan yang baik seandainya mereka mau mencontohnya.
Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21 ini menunjukkan bahwa sesungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan yang baik itu telah dihadapan kalian, seandainya kalian menghendakinya. Yaitu hendaknya kalian mencontoh Rasulullah saw. Didalam amal perbuatannya, dan hendaknya kalian berjalan sesuai dengan petunjuknya, sendainya kalian benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan azab-Nya di hari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan, kecuali amal shaleh yang telah dilakukan seseorang (pada hari kiamat). Dan adalah kalian orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dengan ingatan yang banyak, maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu seharusnya membimbing kamu untuk taat kepadanya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Rasul-Nya.[9]

C.    Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
1.     Jadikan Nabi Muhammad sebagai idola yang pertama.
2.     Ingat keteladanan akhlak Rasul dalam setiap bertindak.
3.     Berakhlak baik secara perkataan maupun perbuatan.
4.     Tarapkan akhlak mahmudah dan tinggalkan akhlak madhmumah.
5.     Memperbanyak dzikir kepada Allah.

D.    Aspek Tarbawi
1.     Jadikan Nabi Muhammad sebagi sentral suri tauladan dalam segala hal terutama dalam soal agama dan berakhlak.
2.     Seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya dan bagi masyarakat sekitarnya.
3.     Seorang guru harus memiliki karakter pemikir,  pekerja, multitelent, dan taat beribadah.
4.     Orang yang mengaharap rahmat dan kebaikan di hari kiamat sudah sepatutnya mengikuti suri tauladan Rasulullah dan banyak berdzikir kepada Allah.














BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Dalam agama Islam, keteladanan akhlak berpusat pada Rasuluallah SAW.  dalam setiap perkataan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak mulia diikuti pula oleh perbuatan dan kepribadiannya. Nabi Muhammad saw. Tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pembawa perubahan dunia yang paling spektakuler, sebagai suri tauladan umat manusia.
Orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi Muhammad saw. dua syarat mutlak bagi yang meneladani Rasul saw. yaitu: Pertama, Keyakinan tentang keniscayaan kiamat sambil mengharap ganjaran-Nya yang tidak dapat diperoleh kecuali menyesuaikan diri dengan tuntunan Nabi-Nya. Kedua,  Banyak berdzikir dengan mengaitkan setiap aktivitas dengan Allah swt.
Dari tiga tafsir (Al-Misbah, Al-Qurthubi, dan Al-Maraghi) berintikan mengenai perintah untuk menjadikan Nabi saw sebagai pusat rujukan utama dalam ke-suri-tauladan-an. Baik itu dari segi agama, akhlak, cara hidup, semangat, maupun kearifan Beliau. Selain itu juga agar kita banyak berdzikir kepada Allah SWT.









DAFTAR PUSTAKA

Al-Harrani, Ibn Taimiiyyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah. 2002. Cantik Luar Dalam. Jakarta: Serambi.
Nata, Abuddin. 2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers.
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an). Tangerang: Lentera Hati.
Hidayat, Nur. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an). Jakarta: Lentera Hati.
Al Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1992. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 21.  Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.












PROFIL PEMAKALAH

Nama                          :  Najihatul Istiqomah
Nim                             : 2021115130
TTL                             : Batang, 24 Agustus 1997
Alamat                        : Dk. Gamblok Ds. Wonosegoro RT03/RW03, Kec. Bandar, Kab. Batang
Riwayat Pendidikan   : 1. SDN Wonosegoro 02
2. Mts. Daarul Ishlah
3. MA. Ribatul Muta’allimin
4. IAIN Pekalongan Tahun 2015 sampai sekarang





[1] Ibn Taimiiyyah al-Harrani dan Ibn Qayyim al-Jauziyah, Cantik Luar Dalam, (Jakarta: Serambi, 2002), hlm. 19
[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011) hlm. 76-77
[3] M. Quraish Shihab, Al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an), (Tangerang: Lentera Hati, 2012), hlm. 215-216
[4] M. Quraish Shihab, Ibid, hlm. 218-219
[5] Nur Hidayat, Akhlak Tasawuf, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), hlm. 32-34
[6] Nur Hidayat, ibid, hlm.  25-26
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an), (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 242-244
[8] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), hlm.  387-390
[9] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi 21, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1992), hlm. 277



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar