Laman

Selasa, 08 November 2016

tt1 D 9e “Kerabat Sebagai Objek Pendidikan” (QS. Asy-Syu’aara’ 214)

OBJEK PENDIDIKAN LANGSUNG
“Kerabat Sebagai Objek Pendidikan”
(QS. Asy-Syu’aara’ 214)

Asti Setiyasih 2021115249
 Kelas: D

JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Objek Pendidikan Langsung: “Kerabat Sebagai Objek Pendidikan” dengan baik, meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak M. Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan mengenai Kesempurnaan Akal. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.

Pekalongan, 04 November 2016


Asti Setiyasih
(2021115249)





BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Al-Qur’an diyakini oleh umat Islam sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak benar, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti. Ajaran dan petunjuk al-Qur’an tersebut berkaitan dengan berbagai konsep yang amat dibutuhkan oleh umat manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini dan di akhirat kelak.
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia memberikan peringatkan kepada keluarga dan sanak kerabat kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorang pun yang berprasangka jelek kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya. Jika dia memulai dengan memberikan peringatan kepada kelurga dan sanak kerabatnya, maka hal itu akan lebih bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh agar bersikap tawadhu kepada pengikut-pengikut yang beriman, bersikap baik keapad mereka, dan ikut menggung kesusahan yang mereka mau menerima nasehat.
B.    JUDUL
Objek Pendidikan Langsung : “Kerabat Sebagai Objek Pendidikan”
C.    NASH
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)
 “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. Asy-Syu’aara’ 214)
D.    ARTI PENTING
1.     Kata عَشِيرَتَ atau 'asyirata berarti anggota suku yang terdekat. Ia terambil dari kata 'asyara yang berarti saling bergaul, karena anggota suku yang terdekat tau keluarga adalah orang yang sehari-hari saling bergaul.
2.     Kata الأقْرَبِينَ atau al-aqrabin yang menyifati kata 'asyirah, merupakan penekanan sekaligus guna mengambil hati mereka sebagai orang-orang dekat dari mereka yang terdekat.
Dalam surat Asy-Syu’aara’ mengandung arti penting bahwa Kewajiban mendidik kepada keluarga terdekat harus dilakukan dengan sebijaksana mungkin, tanpa harus dipaksa dan diintimidasi, karena hidayah iman adalah urusan Allah SWT.  Di dalam surat tersebut juga tidak mengenal adanya pilih kasih kasih terhadap kerabat terdekat dalam memberikan peringatan maupun perhatian.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori
1.     Objek Pendidikan
Menurut KBBI “Pendidikan adalah proses pengubahan sikap atau tingkah laku seseorang atau kelompok orang-orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.
Objek menurut bahasa yaitu orang yang menjadi pokok sasaran. Pendidikan adalah proses pencerdasan secara utuh dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat atau keseimbangan materi dan religius spiritual.
Objek pendidikan adalah seseorang yang menerima dan menjalani proses pendidikan yang dilangsungkan oleh subjek pendidikan ataupun yang dialami langsung oleh objek melalui pengalaman sehari-hari dan relasi objek dengan subjek serta relasi dengan alam (Lingkungan).
jadi objek pendidikan adalah orang yang mendapat pencerdasan secara utuh dalam rangka mencapai kebahagian dunia dan akhirat atau keseimbangan materi dan religious spritual. Dapat disimpulkan bahwa objek pendidikan adalah manusia dalam kaitannya dengan fenomena situasi pendidikan. Fenomena tersebut terdapat dimana-mana, didalam masyarakat, didalam keluarga dan disekolah.[1]
2.     Kerabat
Kerabat adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Struktur-struktur kekerabatan mencakup kekeluargaan dan bentuk kelompok yang merupakan perluasan keluarga seperti suku atau klen.
Ikatan diantara orang yang bukan kerabat melahirkan banyak macam bentuk pengelompokan mulai dari “persaudaraan sedarah” sampai persahabatan semacam “perkumpulan”. Umur dan ikatan yang terbentuk karena keinginan sendiri termasuk kedalam kategori bukan kerabat.
Kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara manusia yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis sosial maupun budaya. Dalam bahasa Indonesia ada istilah sanak saudara, kaum kerabat, ipar-bisan, yang dapat diartikan dengan kata family. Kata family berasal dari bahasa Belanda dan Inggris yang sudah umum dipakai dalam bahasa Indoneisa sehingga dapatlah dikatakan ia telah di Indonesianisasi.
Dalam antropologi sistem kekerabatan termasuk keturunan dan pernikahan (melalui hubungan darah atau dengan melalui hubungan status perkawinan). Pengertian bahwa seseorang dinyatakan sebagai kerabat bila ia memiliki pertalian atau ikatan darah dengan seseorang lainnya, contoh kongkrit dari hubungan darah ialah kakak-adik sekandung.[2]
3.     Kerabat sebagai objek pendidikan
Umat Islam adalah saudara bagi yang lain, maka harus saling mendidik dan menasehati. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “ Dari Jarir Ibn Abdillah ra. Berkata: Saya bersumpah setia kepada Rosululloh SAW untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menasehati kepada setiap muslim”. (HR. Bukhory-Muslim). Maka kerabat-kerabat kita terdekat merupakan juga objek dakwah dan tarbiyah.[3]
Kerabat merupakan sebuah institusi terkecil di dalam masyarakat yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang tentram, aman, damai, dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih sayang diantara anggotanya. Untuk itu sesama umat dianjurkan untuk saling mendidik atau memberi peringatan diantara anggotanya. Sebagai subjek pendidik hendaknya memiliki peran yang baik yang dapat dijadikan sebagai objek pendidikan kerabatnya yaitu dengan memiliki akhlak mulia karena kedekatannya terhadap Allah dan dapat dijadikan sebagai contoh yang baik terhadap kerabat terdekatnya. Dalam melakukan peringatan terhadap kerabatnya dianjurkan untuk tidak berpandang bulu atau pilih kasih, sesama kerabat harus saling memperingati dan memberi perlakuan baik demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
B.    Tafsir dari Surat Asy-Asyu’aara’ Ayat 214

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)

dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”(Asy-Syu’ara’:214)
a.      Tafsir Al-Mishbah
Ayat di atas berpesan kepada Nabi Muhammad saw bahwa: Hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka Allah, dan berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang yang terdekat tanpa pilih kasih.
            Bagi Ibn Asyur ayat ini tertuju pada Nabi Muhammad saw. Ia adalah uraian khusus setelah ayat sebelumnya merupakan uraian umum menyangkut siapa saja. Demikian tulisnya.
            Kata (عشيرة) asyirah berarti anggota suku yang terdekat. Ia terambil dari kata (عاشر) asyara yang berarti saling bergaul, karena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah orang-orang yang sehari-hari saling bergaul.
            Kata (úüÎ/tø%F{$#)            al-aqrabin yang menyifati kata asyrah, merupakan penekanan sekaligus guna mengambil hati mereka sebagai orang-orang dekat dari mereka yang dekat.
            Demikian ayat ini mengajarkan kepada Rasul saw. Dan umatnya agar tidak mengenal pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti Nabi saw dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada Rasul saw. Karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang mulia.[4]
b.     Tafsir Al-Lubab
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)
214. dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Ayat ini berpesan bahwa: hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka Allah swt. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih. Nabi Muhammad dan keluarga tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada Rasul saw, karena semua adalah hamba Allah swt. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah swt. Dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang mulia.[5]
c.      Tafsir Al-Qurthubi

 Firman Allah


                    . “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat

                    Mengenai potongan ayat ini dibahas dua masalah:
1.     Kerabat-kerabat dekat Rasulullah SAW mendapat perhatian pertama dan utama untuk mendapat peringatan, untuk mencegah sikap mereka dan orang-orang diluar mereka dalam memusuhi Rasulullah SAW karena perbuatan syirik mereka. Adapun yang dimaksud dengan kerabat-kerabat dekat tersebut adalah kaum Quraisy. Ada yang berpendapat, Suku Abdi manaf.
    Disebut di dalam Shahih Muslim,
öÉRr&ur y7s?uŽÏ±tã šúüÎ/tø%F{$ ÇËÊÍÈ   ورهطكمنهم المخلصى
 “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan sahabat-sahabatmu yang ikhlas          
                Zhahirnya teks ini adalah ayat al-Qur’an, kemudian dihapus hukum bacaannya (mansukh), sebab tidak tertulis didalam al-Qur’an dan riwayatnya tidak mutawatir, dan jika dinyatakan bahwa itu bagian dari al-Qur’an maka akan menimbulkan pertanyaan, hadits ini berisi perintah untuk memberi peringatan kepada kerabat dekat yang percaya kepada Rasulullah SAW, sebab hanya orang-orang yang ikhlas yang bisa menerima islam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan bukan orang-orang musyrik. Sebab, yidak ada bagian ikhlas bagi orang-orang musyrik. Akan tetapi, Rasulullah SAW, menyeru semua kerabatnya yang percaya kepadanya dan tidak, memberi peringatan kepada semuanya dan orang-orang beserta mereka yang datang kemudian. Tidak ada dalil periwayatan baik maknawi sekalipun Rasulullah SAW hanya menyeru dan memberi peringatan kepada orang-orang yang percaya kepadanya saja.
2.         Kekerabatan dan keturunan tidak berkaitan dengan sebab-sebab menjadi seorang hamba, dan terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menjalin hubungan dengan non muslim serta memberinya pengajaran dan nasehat. Dasarnya adalah Sabda Nabi: “Rasa kasih sayangku kepada kalian yang akan aku limpahkan kepada kalian semua” dan firman-Nya, انماىنةكم الله عن الذىن قتلوكم ؤالذىن       “sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama”. [6]
C.    Aplikasi dalam Kehidupan
1.     Saling memperingati dalam kebaikan  terhadap sesama kerabat demi kebahagiaan kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.     Dilarang pilih kasih terhadap sesama manusia.
3.     Memberikan contoh yang baik terhadap kerabat terdekat maupun sesamanya.
4.     Mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik.
5.     menghindari kemusyrikan.
D.    Aspek Tarbawi
ayat ini menyuruh supaya dipertakuti dengan siksa dan hukuman karib kerabatmu sendiri dan tidak akan terlepas dari hukuman dan siksaan itu, meskipun anakmu, bapakmu, ibumu, saudaramu, dan sebagainya. Semuanya itu dihukum bila bersalah dan berdosa. Maka tidak ada familisme dan kawanisme dalam islam. Melainkan semuanya itu tunduk kepada hukum yang satu dengan tiada memandang bulu. Inilah keadilan yang mutlak dalam islam. Dengan keadilan semacam inilah kaum muslimin dahulu kala memerintahi dunia. Begitu juga allah menyeru nabi supaya jangan berlaku sombong terhadap orang-orang mukmin yang menjadi pengikutnya.




BAB III
PENUTUP
Simpulan
Ayat diatas berpesan hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka allah dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih dan Takut takutilah kerabatmu yang terdekat dengan azab dan siksa allah yang keras bagi orang yang kafir kepadanya dan yang menyekutukan-Nya dengan yang lain.
Ayat ini selain menyuruh untuk menghindari kemusyrikan juga mengajarkan kepada rasul SAW dan ummatnya agar tidak mengenal pilih kasih/ memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti nabi dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW. karena semua adalah hamba allah, tidak ada perbedaan antara keluarga / orang lain. bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak mulia.









DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Saleh,  Abdullah. 2007. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ajmad, Nurwadjah. 2007. Tafsir ayat-ayat pendidkan. Bandung; Penerbit Marja
Imam Al Qurthubi, Syaikh. 2009. Tafsir Al Qurthubi (13). Jakarta: Pustaka Azzam
Shihab , M. Quraish. 2005. Tafsir Al-Misbah. Tanggerang: Lentera Hati
Shihab, M.Quraish. 2012. Al-Lubab. Tanggerang: Lentera Hati

















BIOGRAFI PENULIS
Ø  Nama:                         Asti Setiyasih
Ø  Anak ke 2 dari 3 bersaudara
Ø  TTL: Batang: 19 Mei 1997
Ø  Pendidikan:     -     SDN Gondang 02 (2003-2009)
-        SMPN 01 Blado (2009-2012)
-        SMAN 01 Bandar (2012-2015)
-        Mahasiswa S.1 Tarbiyah PAI (2015-sekarang)
Ø  Alamat:           Ds.Gondang RT/RW : 04/02, kec.Blado-kab.Batang




[1] Abdurrahman Mas’ud dkk. Paradigma Pendidikan Islam. (Pustaka Pelajar: Semarang.2001),hlm.64
[2] Abdullah, Abdurrahman Saleh. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007).hlm.91-93
[3] Nurwadjah Ajmad, Tafsir ayat-ayat pendidkan, (Bandung; Penerbit Marja, 2007),hlm.110
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).,hlm.150
[5] M.Quraish Shihab, Al-Lubab,(Tanggerang: Lentera Hati,2012).,hlm.716-717
[6] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi (13), (Jakarta: Pustaka Azzam,2009).,hlm.358-361

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar