Laman

new post

zzz

Rabu, 22 Maret 2017

tt2 b6b “IMAN DAN AMAL SHOLEH KUNCI KEJAYAAN” (QS. An-Nur 24:55)

INVESTASI AMAL SHOLEH
“IMAN DAN AMAL SHOLEH KUNCI KEJAYAAN”
(QS. An-Nur 24:55)

Aidha Isyatul Hikmah    (2021115134)
KELAS B

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)  PEKALONGAN
2017




KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah Tafsit Tarbawi II tentang “Iman dan Amal Sholeh kunci Kejayaan” dalam surat An-Nur ayat 55 ini dengan baik, meskipun  masih ada banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi II yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan saya dan kita semua tentang Iman dan Amal Sholeh kunci Kejayaan yangg terdapat dalam surat An-Nur ayat 55
Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Dengan demikian saya mengharapkan semoga dari makalah Tafsir Tarbawi II tentang tentang “Iman dan Amal Sholeh kunci Kejayaan” dalam surat An-Nur ayat 55 ini dapat diambil dan diaplikasikan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi kepada pembaca.





                                                                        Pekalongan,  29 Maret 2017
                                                                                    Penulis


                                                                       
                                                                        Aidha Isyatul Hikmah
                                                                               2021115134



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam surat An-Nur ayat 5 ini menerangkan bahwa kekuasaan yang dijanjikan oleh Allah SWT  kepada orang yang beriman dan beramal sholeh ketika mereka mengikuti ajaran Islam.
Pada ayat ini juga membahas mengenai tujuan perjuangan hidup setiap mu’min yang dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keyakinan di muka bumi ini. Kemudian pokok pendirian tersebut haruslah dipegang erat-erat dan jangan sekali-kali untuk dilepaskan, baik keduanya maupun salah satu diantara keduanya. Pokok pendirian tersebut yaitu iman dan amal sholeh. Iman sebagai petunjuk arah kemanakah langkah perbuatan kita, sehingga dengan iman dapat tercapainya tujuan hidup yang nyata. Oleh karena itu, iman dengan sendirinya dapat menimbulkan amal yang sholeh. Jika amalan yang telah dilakukan tidak timbul dengan iman, maka bercampurlah antara yang hak dengan yang batil.
Namun jika keduanya telah bersatu padu maka akan tumbuh kekuatan pribadi yang baik bagi seorang ataupun masyarakat mu’min untuk menjadikan bahwa mereka diberi kekuasaan di muka bumi. Seperti yang terkandung dalam surat an-nur ayat 55 ini. Karena bumi ini akan diberikan kepada mereka sebagaimana dahulu warisan yang telah diberikan kepada ummat terdahulu sebelum mereka.
B.    Judul
Investasi Amal Sholeh “Iman Dan Amal Sholeh Kunci Kejayaan” (Qs. An-Nur 24:55)
C.    Nash dan Artinya
ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9 Îû ÇÚöF{$# $yJŸ2 y#n=÷tGó$# šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% £`uZÅj3uKãs9ur öNçlm; ãNåks]ƒÏŠ Ï%©!$# 4Ó|Ós?ö$# öNçlm; Nåk¨]s9Ïdt7ãŠs9ur .`ÏiB Ï÷èt öNÎgÏùöqyz $YZøBr& 4 ÓÍ_tRrßç6÷ètƒ Ÿw šcqä.ÎŽô³ç Î1 $\«øx© 4 `tBur txÿŸ2 y÷èt y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÎÎÈ  

55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.
D.    Arti Penting Untuk Dikaji
            Arti penting mengapa ayat ini perlu dikaji karena umat islam yang memiliki pokok pendirian yang teguh dan kuat akan menjadikan masyarakat yang kokoh dalam pendiriannya. Dalam memperjuangkan kebenaran.  Dua hal pokok yaitu iman dan amal yang sholeh yang harus terus diegang teguh oleh umat mu’min dalam memperjuangkan kehidupannya. Agar selalu percaya kepada Allah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Allah swt melalui firman-firmanNya dalam Al-qur’an.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori
            Kata iman terambil dari kata amn yang berarti keamanan atau ketentraman. Dalam kamus-kamus bahasa kata tersebut sering diartikan sebagai lawan dari khawatir atau takut. Dari akar kata tersebut terbentuk sekian banyak kata yang walaupun mempunyai arti yang berbeda-beda, pada akhirnya semuanya bermuara kepada makna tidak mengkhawatirkan, aman dan tenteram.
            Dari segi bahasa, iman kemudian diartikan sebagai “pembenaran dalam hati”, maka ini kemudian meluas dan dianggap sebagai hakikat iman yaitu :
تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ وَاِقْرَا رٌ بِا لِسَا نِ وَاَعْمألٌ بِالْاَرْكَانِ (pembenaran dengan hati, ucapan dengan lidah serta pengamalan dengan anggota badan) terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.[1]
            Kaitannya dengan ciri masyarakat yang diidealkan Al-qur’an adalah bahwa iman yang dimaksud adalah keimanan yang diajarkan oleh Al-qur’an. dalam Al-qur’an dan hadis Nabi saw diperkenalkan objek keimanan yang harus diimani oleh seorang mukmin.
            Al-qur’an seringkali menyebut objek keimanan hanya dua macam yaitu Allah SWT dan hari akhir, antara lain dalam Q.S Al-Baqarah 2:26, Q.S Al-Maidah 5:69. Adakalanya objek keimanan disebut sebanyak empat macam yaitu Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab Allah dan para Rasul-Nya, hal ini antara lain disebutkan dalam  Q.S Al-Baqarah 2:285. Ada juga ayat yang menyebutkan secara lebih lengkap yaitu sebanyak lima objek keimanan, yaitu keempat yang telah disebutkan diatas ditambah dengan hari akhir. Hal ini antara lain dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah 2:177. Sementara itu dalam hadis Rasulullah SAW objek keimanan itu tidak hanya lima namun sebanyak enam objek. Inilah yang kemudian populer disebut sebagai rukun iman yang enam.
            Urgensi iman dalam kehidupan bermasyarakat ini juga diperkuat dalam Q.S. Al-Asr/103, yang secara umum menyatakan bahwa semua manusia tanpa kecuali akan mengalami kerugian kecuali orang-orang yang mempunyai empat sifat yaitu: iman, amal shaleh, berwasiat kepada kebenaran dan berwasiat kepada kesabaran.[2]

            Kata shaleh yang kadang juga dengan “baik’ terambil dari akar kata shaluha yang dalam beberapa kamus bahasa Al-qur’an dijelaskan maknanya sebagai antonim dari kata fasid, yang berarti “rusak”. Sehingga shaleh juga diartikan sebagai “ bermanfaat dan sesuai”.           Dari sinilah amal shaleh dapat diartikan sebagai aktivitas yang apabila dilakukan, maka suatu kerusakan akan terhenti atau menjadi tiada; atau dapat juga diartikan sebagai suatu aktivitas yang dengan melakukannya diperoleh manfaat dan kesesuaian. Seorang yang sholeh adalah yang segala aktivitasnya mengakibatkan terhindarnya mudharat, atau yang pekerjaannya memberi manfaat kepada pihak-pihak lain.[3]
B.    Tafsir dari Buku
1.     Tafsir Al-Lubab
            Menurut ayat 55, tidak ada yang menghalangi mereka menolak untuk beriman, kendati ajakan telah datang kepada mereka, dan tidak ada juga yang menghalangi mereka memohon ampun kepada Tuhan, kecuali keinginan menanti datangnya kebiasaan terhadap generasi yang dahulu, yakni mukjizat-mukjizat indrawi yang mereka usulkan. Tetapi jika Allah kabulkan dan mereka tetap enggan percaya, maka Allah akan binasakan mereka, padahal Allah telah mengetahui bahwa mereka tidak akan percaya. Penutup ayat ini mencemoohkan mereka dengan menyatakan: Bisa jadi juga yang mereka nantikan adalah datangnya siksa atas mereka dengan nyata sehingga ketika itu mereka beriman dengan terpaksa, padahal Allah tidak menghendaki iman seperti ini, karena iman haruslah tulus, penuh kesadaran, dan tanpa paksaan.
ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9 Îû ÇÚöF{$# $yJŸ2 y#n=÷tGó$# šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% £`uZÅj3uKãs9ur öNçlm; ãNåks]ƒÏŠ Ï%©!$# 4Ó|Ós?ö$# öNçlm; Nåk¨]s9Ïdt7ãŠs9ur .`ÏiB Ï÷èt öNÎgÏùöqyz $YZøBr& 4 ÓÍ_tRrßç6÷ètƒ Ÿw šcqä.ÎŽô³ç Î1 $\«øx© 4 `tBur txÿŸ2 y÷èt y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÎÎÈ  
55. dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[4]
2.     Tafsir Ibnu Katsir
ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9 Îû ÇÚöF{$# $yJŸ2 y#n=÷tGó$# šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% £`uZÅj3uKãs9ur öNçlm; ãNåks]ƒÏŠ Ï%©!$# 4Ó|Ós?ö$# öNçlm; Nåk¨]s9Ïdt7ãŠs9ur .`ÏiB Ï÷èt öNÎgÏùöqyz $YZøBr& 4 ÓÍ_tRrßç6÷ètƒ Ÿw šcqä.ÎŽô³ç Î1 $\«øx© 4 `tBur txÿŸ2 y÷èt y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÎÎÈ  
            55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.
            Inilah janji dari Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai pemimpin manusia sehingga negara menjadi damai melalui mereka dan hamba-hamba pun tunduk kepada mereka. Dia berjanji akan menukar rasa takut dengan keamanan dan kekuatan. Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi telah memenuhi janji itu. Kepunyaan Allah-lah segala puja dan karunia. Maka Rasulullah saw. Dapat menaklukan Mekah, Khaibar, Bahrain, Jazirah Arab lainnya, dan seluruh tanah Yaman. Beliau juga memungut pajak kaum Majusi dan dari beberapa penduduk Syria. Allah menundukkan Heraclius, Muqaukis, raja Amman, dan Najasyi, yaitu raja yang menguasai negara Persia setelah Najasyi yang masuk Islam, yaitu Ashhimah rahimahullah.
            Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq berkuasa. Setelah hilang kedudukan karena kematian Nabi saw., Abu Bakar menata jazirah Arab, menaklukan sebagian wilayah Persia di bawah Panglima Khalid bin Walid, menaklukan Basrah, Damaskus, dan Hauran di bawah panglima Abu Ubaidah, dan menaklukan negara Mesir di bawah panglima Amr bin Ash. Semoga Allah meridhoi mereka.
            Allah mengilhamkan kepada Abu Bakar agar dia mengangkat Umar mnjadi pengganti dirinya dalam mengatur segala urusan. Pada masa Umar, Syiria, Mesir sebagian besar wilayah Persia dapat ditaklukan, dan menyebabkan mundurnya Kisra ke wilayah kerajaan yang paling jauh, serta tunggang langgang nya Kaisar Konstantinopel. Umar menggunakan harta kedua raja itu pada jalan Allah.[5]
3.     Tafsir Al- Mishbah
            Al-Biqa’i berpendapat bahwa ayat yang lalu mengisyaratkan larangan membunuh orang-orang munafik, agar musuh-musuh islam tidak berkata bahwa Nabi Muhammad saw.- setelah memperoleh kemenangan membunuh orang-orang yang selama ini telah membantunya. Jika ini menjadi tentu hal tersebut berdampak buruk bagi dakwah islam, apalagi ketika itu kekuatan Islam belum lagi mantap. Dari sini timbul pertanyaan dalam benak sementara kaum muslimin yaitu: apakah keadaan itu akan berlanjut terus? Ayat ini menjawab bahwa hal itu tidak akan berlanjut dan bahwa kemantapan kekuasaan Islam akan tiba pada waktunya, tanpa orang-orang munafik itu, baik mereka menyambut agama ini, maupun menolaknya. Demikian al-Biqa’i menghubungkan ayat ini dengan ayat yang lalu.
            Kata ((مِنْكُمْ dipahami oleh sementara ulama dalam arti sebagian dari kamu. ada juga yang memahaminya hanya tertuju kepada masyarakat Nabi dan sahabat-sahabat beliau, yang hidup pada abad pertama hijrah, sehingga kata (الارض) mereka pahami dalam arti kota Mekkah atau paling tinggi wilayah kekuasaan Khulafa’ ar-Rasyidin.
            Kata (عمل) dipahami dalam arti penggunaan daya.  Manusia memiliki empat daya pokok. Daya fisik, daya pikir, daya kalbu, dan daya hidup.
            Kata (صا لحا ت) terambil dari kata (صلح) yang biasa dipahami dalam arti baik atau bermanfaat. Sesuatu yang shaleh adalah yang terpelihara nilai-nilainya sehingga dapat tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat.
            Yang dimaksud dengan (عملوا الصا لحات) pada ayat ini tentu bukan semua amal shaleh, tetapi sebagian besar dari amal-amal shaleh itu yang kadarnya cukup untuk menjadikan seseorang digelari sebagai orang shaleh dan kuumpulan dari mereka dinamai masyarakat shaleh.[6]

4.     Tafsir Al-Qurthubi
            Ayat ini diturunkan tentang Abu Bakar dan Umar. Inilah pendapat yang dikatakan oleh Malik. Menurut satu pendapat, sebab turunnya ayat ini adalah sebagian sahabat Nabi SAW yang mengeluhkan beratnya memerangi musuh dan adanya perasaan khawatir atas diri mereka yang menghinggapi mereka pada saat itu, sehingga mereka tidak dapat meletakkan senjata. Pada saat itulah turun ayat ini.
            Abu Al Aliyah berkata. “Setelah mendapatkan wahyu, Rasulullah SAW bersama para sahabatnya menetap di Makkah selama 10 tahun dalam keadaan takut dan terintimidasi. Selama itu mereka menyeru kejalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Setelah itu, beliau diperintahkan untuk hijarh ke Madinah. Namun di Madinah pun mereka masih merasakan ketakutan. Mereka terus-menerus menenteng senjata, baik pagi maupun sore hari. Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasullah, akan datangkah kepada kita suatu hari dimana kita merasa aman dan dapat meletakkan senjata kita?’ Beliau menjawab, ‘Kalian tidak akan diam kecuali hanya sementara, sampai seorang lelaki dari kalian duduk di singgasana yang agung, seraya berihtiba’ tanpa memegang selembar besi tajam pun (senjata)’. Lalu turunlah ayat ini.”[7]











C.    Aplikasi Dalam Kehidupan
            Dalam kandungan surat an-nur ayat 55 ini dapat kita jadikan contoh perilaku yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya yaitu:
1.   Bersikap dan sabar dan selalu optimis dalam menjalani kehidupan ini
2.   Beribadah hanya untuk Allah swt dan ikhlas dalam menjalankannya
3.   Menjauhi syirik dengan segala ragamnya, termasuk beramal dengan maksud selain Allah
4.   Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini haruslah selalu beriman dan beramal sholeh
5.   Berbuat amal sholeh haruslah ikhlas semata-mata hanya karena Allah swt

D.    Aspek Tarbawi
1.     Beriman kepada Allah dengan melakukan berbagai amal sholeh
2.     Janganlah kufur nikmat terhadap anugerah berupa kejayaan yang telah diraih
3.     Termasuk orang yang fasik mereka yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah dan telah berbuat kerusakan
4.     Dua pokok pendirian yang harus dipegang teguh, yakni iman atau kepercayaan  dan amal sholeh atau perbuatan baik
5.     Agama menjadi kokoh dan teguh apabila telah berpadunya iman dan amal sholeh yang nyata dalam bermasyarakat









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari penjelasan sebelumnya yaitu tentang iman dan amal sholeh dalam surat An-Nur ayat 55, dapat disimpulkan bahwa ada dua pondasi yang harus ditegakkan agar selalu kuat dan kokoh dalam menjalani kehidupan ini. Yaitu iman dan amal sholeh. Keduanya harus berjalan beriringan dan saling berkaitan satu sama lain. Karena iman atau percaya bahwa Allah akan memberikan kekuasaan bagi orang-orang yang beriman dan yang beramal sholeh di bumi ini. Dan akan diberikan keteguhan dan keamanan bagi orang-orang yang mempercayaiNya. Seperti yang dulu pernah diwariskan oleh orang-orang sebelum mereka.
            Dan tetaplah menyembah hanya kepada Allah swt, dengan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun selain Dia. Dan barang siapa yang kafir setelah janjinya maka di termasuk kedalam golongan orang-orang fasik.












DAFTAR PUSTAKA
Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al-Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam
Ar-Rifa’, Muhammad Nasib. 2006. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3. Jakarta: Gema Insani

Nurdin, Ali. 2006. Quranic Society Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal Dalam Al-Qur’an. Jakarta: Penerbit Erlangga
Shihab, M.Quraish. 2012. Al-Lubab. Tangerang: Penerbit Lentera Hati
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati

















PROFIL PENULIS
Nama : Aidha Isyatul Hikmah (2021115134)
Tempat Tanggal Lahir : Pekalongan, 12 April 1997
Alamat : Jalan Sumatra No.18  Podosugih Pekalongan
Riwayat Pendidikan :
SDI KERGON 2 PEKALONGAN (tahun 2008)
SMP SALAFIYAH PEKALONGAN (tahun 2011)
SMK NEGERI 2 PEKALONGAN ( tahun 2014)
IAIN PEKALONGAN (sedang proses)







[1] Ali Nurdin, Quranic Society Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), Hlm. 159
[2] Ibid., hlm 163-165
[3] Ibid., hlm. 197
[4]M.Quraish Shihab, Al-Lubab, (Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2012), hlm. 303-304
[5] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 516-517
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 387-389
[7] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), hlm. 744-745

Tidak ada komentar:

Posting Komentar