Laman

new post

zzz

Sabtu, 19 November 2011

Psikologi Agama (9) Kelas B


MAKALAH
HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ) DENGAN PSIKOLOGI AGAMA
Disusun guna untuk memenuhi tugas :
Mata Kuliah                : Psikologi Agama
Dosen Pengampu        : M. Ghufron Dimyati, M.S.I



Disusun Oleh :

Zahrotun Nafi`ah                   : (2022110058)
Nila husniyah                         : (2022110059)
Indah Iftikhani                       : (2022110061)

Kelas PBA: B


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAIN) PEKALONGAN 2011




BAB I
PENDAHULUAN


Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan.

Dalam makalah ini akan membahas tentang kecerdasan spiritual dalam aspek psikologi agama.Adapun rumusan makalah kami adalah sebagai berikut.

a.       Pengertian kecerdasan spiritual (SQ)
b.      Aspek-aspek dari kecerdasan spiritual
c.       Kecerdasan spiritual dalam al qur’an dan hadits
d.      Peran kecerdasan spiritual dalam penerapan psikologi agama.



















BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Kecerdasan Spiritual (SQ)
                 
Secara etimologi menurut Tony Buztan spiritual  berasal dari bahasa latin spiritus yang berarti napas. Dalam dunia modern kata itu merujuk ke energi hidup dan sesuaatu dalam diri kita yang bukan fisik,termasuk emosi dan karakter.[1]
                Secara terminologi SQ menurut berbagai pakar psikologi adalah sebagai berikut:
  1. Tony Buztan, menurutnya SQ adalahhati nurani kita, yang mampu membuat kita menjadi lebih cerdas  dalm beragama. “Apabila anda memiliki kecerdasan spiritual, anda menjadi lebbih sadar tentang gambaran besar atau menyeluruh tentang diri kita sendiri, jagat raya, dan kedudukan serta panggilan terhadap anda di dalamnya.[2]
  2. Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
3.              David G Mayer menurutnya kecerdasan spiritual (SQ) adalah suatu pemahaman yang mendalam dan intuitif akan suatu makna dan nilai.[3]

B. Aspek-aspek dari Kecerdasan Spiritual (SQ)
           
Aspek-aspek dari kecerdasan spiritual (SQ) menurut David G Mayer adalah sebagai berikut:

  1. “Kemampuan untuk mentransendesi”. orang-orang yang sangat spiritual menyerap sebuah realitas yang melampaui materi dan fisik.
  2. “Kemampuan untuk menyucikan pengalaman sehari-hari”. orang yang cerdas secara spiritual memiliki kemampuan untuk memberi makna sakral atau Illahi pada berbagei aktifitas, peristiwa, dan hubungan sehari-hari.
  3. “Kemampuan untuk mengalami kondisi-kondisi kesadaran puncak”. orang-orang yang cerdas secara spiritual mengalami ekstase spiritual. Mereka sangat perseptif terhadap pengalaman mistis.
  4. “Kemampuan untuk menggunakan potensi-potensi spiritual untuk memecahkan berbagai masalah”. Transformasi spiritual seringkali mengarahkan orang-orang untuk memprioritaskan ulang berbagai tujuan.
  5. “Kemampuan untuk terlihat dalam berbagai kebajikan”. Orang-orang yang cerdas spiritual memiliki kemampuan lebih untuk menunjukkan pengampunan, mengungkapkan rasa terimakasih, merasakan kerendahan hati, dan menunjukkan rasa kasih.[4]
Adapun aspek-aspek SQ dalam perspektif agama islam,untuk membentuk kpribadian manusia adalah sebagai berikut:
  1. Qolb
  2. Bashiroh
  3. Akal
  4. Nafs
  5. Sahwat
  6. Hawa
  7. Ruh
Cara untuk mencapai kecerdasan spiritual tertinggi, seseorang telah mampu memiliki kepribadian yang utuh, yakni mampu mengoptimalkan fungsi setiap komponen secara sinkron untuk menunaikan fungsinya sebagai hamba Allah  dan kholifahdi bumi ini. Sseorang mencapai SQ melalui latian dan pengembangan yang berkesinambungan dalam upaya membentuk kepribadian sempurna. Seseorang harus mengendalikan semua potensi kepribadian yang ia miliki dengan cara mengembankan potensi positif dan menahan potensi negatif.

Ada bentuk-bentuk kecerdasan spiritual dalam perspektif psikologi agama yaitu:
  • Zuhud
  • Wara’
  • Raja’
  • Murraqabah
  • Ikhlas
  • Istiqomah
  • Tawakal
  • Sabar
  • Ridho
  • Syukur
  • Haya’
  • Sidiq
  • Tawadhu
  • Qona’ah
  • Takwa

C. Kecerdasan Spiritual dalam Al-qur’an dan Hadits

            SQ adalah salah satu komponen dari fungsi otak dan akal, hal ini tercermin dalam Al-qur’an sebagai berikut:

  1. Qs Muhammad ayat 24
Artinya: “maka apakah mereka tidak memperhatikan al qur’an ataukah hati mereka terkunci”.
  1. Qs al Anfaal ayat 2
Artinya: “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila di bacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.

  1. Qs Al a’rof ayat 179
Artinya: “sungguh untuk neraka jahanam Kami ciptakan kebanyakan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati yang tiada di pergunakannya untuk mengerti. Mereka mempunyai mata yang tiada di pergunakannya untuk melihat. Dan mereka mempunyai telingga, yang tiada di pergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi. Merekalah orang yang lalai”.

 Dan dalam hadits disebutkan tentang kecerdasan spritual yaitu : “sekiranya setan-setan itu tidak menguasa ihati  bani adam,niscaya mereka akan niscaya mereka akan mampu menyaksikan realita langit. ”

Hadis Rasulullah SAW menyatakan bahwa:” bila manusia berbuat dosa  tumbuhlah bintik-bintik hitam di hatinya. Bila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah bintik-bintik hitam tersebut, yang kadang kala sampai menutup seluruh hatinya”.


D. Peran kecerdasan spiritual dalam penerapan psikologi agama
Peran kecerdasan spiritual dalam penerapa psikologi agama adalah sebagai berikut:
  1. Membantu manusia menentukan jati dirinya dan memahami hakikat penciptaan alam semesta.
  2. Mendukung manusia menemuka Tuhan atau agamanya.
  3. Membantu manusia untuk menemukan ketenangan jiwa, karenaketengan jiwa akan ada jika tranformasi kesadaran terjadi.
  4. memahami makna cinta.[5]











PENUTUP

Kita ketahui bahwa Spiritual Quotient merupakan kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif

Bahwa SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Namun Cara untuk mencapai kecerdasan spiritual tertinggi, seseorang harus mampu memiliki kepribadian yang utuh, yakni mampu mengoptimalkan fungsi setiap komponen secara sinkron untuk menunaikan fungsinya sebagai hamba Allah (abdi) dan kholifahdi bumi ini.
Seorang mencapai SQ melalui latian dan pengembangan yang berkesinambungan dalam upaya membentuk kepribadian sempurna. Seseorang harus mengendalikan semua potensi kepribadian yang ia miliki dengan cara mengembankan potensi positif dan menahan potensi negatif. Demikian lah makalah kami buat semoga dapat memberikan manfaat dengan bertambahnya wawasan baru, dan kiranya masih banyak kekurangan dari makalah yang kami buat sehingga membutuhkan kritik dan sarannya agar untuk selanjutnya lebih baik.















DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Agus.2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21.Bandung : Alfabeta (Anggota IKAPI)
Agustian, Ary Ginanjar.2001. , Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Esq Emotional Spiritual Quotient .Jakarta : Arga Wijaya Persada.
Pasiak, Taufiq.2002.Revolusi IQ/EQ/SQ .Bandung : Nizam Pustaka



[1] Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, 2005, (Bandung : Pt. Alfa Beta), Hal 206
[2] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Esq Emotional Spiritual Quotient, 2001 (Jakarta : Arga Wijaya Persada), Hal : 57
[3] Agus Efendi, Ibid, Hal : 209
[4] Agus Efendi, Ibid, Hal :244
[5] Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, 2002, (Bandung : Pt. Nizam Pustaka), Hal : 273

Rabu, 16 November 2011

curhat moral


Lailalis Fitriani
2021 111 289

SETITIK NILA DI KAMPUS TERCINTA

Sepintas jika kita mendengar tentang Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan pastilah yang tersirat adalah segala sesuatu yang kental akan syarat agama islam, mulai dari mata kuliah yang diajarkan, sikap, tutur kata, etika dan sopan santun, sampai peraturan tentang cara berpakaian pastilah dituntut harus sesuai dengan syariat islam. Karena memang itu yang menjadi misi utama adanya STAIN Pekalongan yang ingin mengembangkan kualitas keilmuan dan kepribadian yang bernafaskan nilai-nilai islami serta mempunyai kepedulian tuntutan kebutuhan lokal dan tantangan global. Meski begitu ternyata tidak semua mahasiswa STAIN bersedia mematuhi aturan yang dibuat, bahkan mayoritas cenderung sengaja melanggar.
            Optimisme penegakan moral di lingkungan kampus STAIN sering tidak disertai adanya kesadaran dari mahasiswa untuk merubah akhlaknya menjadi lebih baik. Hal ini menimbulkan kegelisahan dari berbagai pihak, seperti: Keresahan masyarakat sekitar kampus akibat ulah mahasiswa  tak beretika yang naik motor ugal-ugalan di kawasan ramai penduduk. Hal itu menimbulkan ekses negatif dimata masyarakat, yang seharusnya mahasiswa STAIN itu bisa menjaga kelakuan baik, tapi ini malah bertingkah brutal dan tak pantas ditiru.
            Selain itu, kegelisahan juga dirasakan oleh dosen, karyawan, serta mahasiswa STAIN termasuk saya, dimana mayoritas mahasiswa tidak memanfaatkan sarana dan prasarana kampus sesuai dengan fungsinya, seperti MUSKAM (Musholla Kampus). Mayoritas mahasiswa menggunakan musholla kampus bukan untuk melaksanakan sholat berjamaah melainkan untuk ajang temuan lawan jenis atau sekedar grumung-grumung dengan teman.
            Banyak juga  mahasiswa lawan jenis yang bukan muhrim saling berboncengan baik didalam maupun diluar area kampus, padahal semua itu sangat jelas dilarang dalam agama islam tetapi hal tersebut seolah sudah menjadi kebiasaan yang tak lagi dihiraukan madharatnya. Semuanya sudah terbiasa dengan  peristiwa tersebut sehingga banyak mahasiswa melakukannya secara bebas.
            Tidak jauh berbeda, kegelisahan juga sangat saya rasakan kala masih banyak mahasiswa STAIN Pekalongan terutama yang putri memakai pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan, seperti memakai pakaian ketat (press body) yang bisa menimbulkan syahwat bagi lawan jenis. Padahal kita semua mengetahui bahwa dalam peraturan kampus STAIN sudah disebutkan ketentuan berpakaian bagi putri untuk memakai pakaian yang sopan (muslimah), berkerudung, serta menutup aurat, sedang untuk laki-laki memakai pakaian yang sopan dan dilarang memakai pakaian dengan bahan jins. Hal tersebut sudah termaktub secara jelas, tetapi masih banyak mahasiswa yang melanggar. Semua ini tidak mutlak kesalahan mahasiswa melainkan aparatur keamanan kampus dan dosen juga sangat berperan dalam terlaksananya peraturan tersebut. Benarkah demikian? Ya, karena seorang dosen sah saja bila mengeluarkan mahasiswanya dari kelas akibat tidak mematuhi peraturan berbusana. Selain itu aparatur keamanan kampus juga berwenang untuk memberikan sanksi tegas seperti melarang mahasiswa berkeliaran di lingkungan kampus dengan busana yang tidak sesuai peraturan atau menyuruhnya pulang dan mengganti busana mereka agar sesuai dengan peraturan, karena memang sudah menjadi tugas aparatur keamanan kampus untuk menertibkan mahasiswa dari segi perilaku, busana, dan berbagai hal demi terciptanya keamanan serta ketertiban agar visi dan misi STAIN bisa berjalan dengan sukses.
            Begitulah huforia dalam kampus tercinta. Usaha yang dibangun dengan susah payah oleh pendiri STAIN dan mahasiswa terdahulu untuk menciptakan image positif bernafaskan islami bagi kampus STAIN terancam pupus oleh perilaku mahasiswa yang sudah terpengaruh oleh trend westernisasi baik dari segi busana maupun perilaku. Sungguh miris jika kita tengok kebelakang dimana dahulu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri sangat disanjung dan dibanggakan oleh masyarakat luas karena berhasil menciptakan generasi muslim muslimah yang berwawasan luas serta mempunyai kecerdasan intelektual, tetapi sekarang telah mengalami perubahan yang fundamental, dimana saat ini nilai-nilai keislaman sudah jarang terlihat pada diri mahasiswa STAIN Pekalongan, sehingga orang tidak bisa lagi menciri khaskan siapa yang menjadi mahasiswa STAIN Pekalongan karena sudah tidak ada pembeda antara mahasiswa dari STAIN dengan mahasiswa dari Universitas lain. Semuanya terasa sama karena busana dan perilaku diantara mereka sama, seperti pepatah mengatakan “akibat nila setitik rusaklah susu sebelanga”, akibat perilaku mahasiswa yang masih menjalani tahap pencarian jati diri yang tidak mencerminkan nilai-nilai islami akhirnya jeleklah sudah nama STAIN Pekalongan sehinggga usaha pembentukan image baik oleh pendahulu-pendahulu kita pun sia-sia.
            Alangkah sangat dinantikan supaya mahasiswa STAIN Pekalongan bisa menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik dari segi tutur kata, sikap, dan tingkah laku walaupun hal tersebut terjadi secara bertahap, karena dari situlah perubahan total akan terwujud. Sehingga nama baik STAIN Pekalongan yang mengusung nilai keislaman pun akan kembali pulih seperti sediakala dan masyarakat juga kembali percaya terhadap kualitas serta kuantitas dari mahasiswa lulusan kampus STAIN Pekalongan.
Terlepas dari potret negatif  sebagai mahasiswa islam, saya dan sebagian mahasiswa lain juga belum bisa mempraktikkan secara keseluruhan dari ajaran-ajaran islam dalam keseharian dengan baik dan benar, kami juga belum bisa menjadi sosok yang pantas menjadi panutan bagi masyarakat, tetapi kami masih terus berusaha untuk bisa mencapai pada tahap itu dengan senantiasa memperbaiki tutur kata dan perilaku dalam segi apapun serta dalam keadaan bagaimanapun agar bisa menjadi pribadi yang mempunyai akhlakul karimah serta bisa mendayagunakan kearifan lokal di lingkungan masyarakat.