Laman

new post

zzz

Minggu, 09 Oktober 2011

ilmu akhlak (3) Kelas F


MAKALAH

ASPEK-ASPEK PEMBENTUKAN PERILAKU DAN KEBEBASAN
SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah                        : ILMU AKHLAK
Dosen Pengampu            : Muhammad Hufron, M.Si




Disusun Oleh :

Kelompok 3

1.       SUNARTI                                      (2021 111 243)
2.       MIFTAKHUL JANAH                 (2021 111 244)
3.       NAFROTUL IZZA                        (2021 111 245)
4.       MAGHFIROH                             (2021 111 246)
                                                                     
                                                                      Kelas F

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011

KEBEBASAN DALAM ARTI POSITIF DAN NEGATIF
PROSPEKTIF DAN RETROSPEKTIF KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

PENDAHULUAN

“KEBEBASAN” dan “TANGGUNG JAWAB” seolah-olah merupakan pengertian kembar. Terdapat hubungan timbal balik antara dua pengertian ini, sehingga orang yang mengatakan “manusia itu bebas” dengan sendirinya menerima juga “manusia itu bertanggung jawab”.
Sebaliknya, jika kita bertolak dari pengertian ‘tanggung jawab” kita selalu turut memaksudkan juga “kebebasan”.
Tidak mungkin kebebasan (setidak-tidaknya kebebasan dalam arti yang sesungguhnya) tanpa tanggung jawab dan tidak mungkin tanggung jawab tanpa kebebasan.
            Memang benar, tidak jarang kita mendengar orang berbicara tentang “kebebasan yang bertanggung jawab” tetapi sebenarnya ungkapan itu merupakan suatu tautology, karena pengertian yang satu sudah terkandung dalam pengertian yang lain. Kebersangkutan antara dua pengertian ini akan menjadi lebih jelas dalam analisa yang akan diadakan tentangnya. Dalam hal ini kita membahas tentang kebebasan dahulu, lalu disusul dengan uraian tentang tanggung jawab, namun dengan tetap menyadari bahwa kedua pengertian tersebut tidak dapat terpisah-pisahkan.






PEMBAHASAN

A.      KEBEBASAN
Sebenarnya tidak ada munusia yang tidak tahu apa itu kebebasan, karena kebebasan merupakan kenyataan yang akrab dngan kita semua. Dalam hidup setiap orang kebebasan adalah suatu unsur hakiki. Kita semua mengalami kebebasan, justru karena kita manusia.[1]
            Ada orang yang menyalah artikan kebebasan, sehingga mereka bisa berbuat sekehendak hati tanpa mengindahkan norma-norma yang ada. Bahkan tidak jarang tingkah laku mereka itu mengganggu ketertiban umum dan merampas hak orang lain. Lebih jauh lagi kebebasan yang tidak disertai rasa tanggung jawab itu bisa mencelakakan diri sendiri.[2]
Disebut bebas apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tdak dibatasi oleh suatu paksaan atau keterkaitan kepada orang lain.[3]
Kebebasan bisa dimengerti sebagai “kebebasan dari …..”  dan “kebebasan untuk ….” secara spontan kebebasan dimengerti sebagai “terlepas dari tekanan atau paksaan”[4]

1.      Bebas Dalam Faham Negatif
Disebut sebagai kebebasan negetif karena hanya dikatakan bebas dari apa tetapi tidak ditentukan bebas untuk apa. Orang itu benar  kalau kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi orang lain dengan bentuk paksaan atau tekanan.[5]
Rupanya kebebasan yang paling mudah dimengerti dengan cara negatif. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari “bebas” dipahami sebagai “terlepas”, “tidak ada”, “tanpa”. Misalnya tentang : kebebasan tugas, jalan bebas hambatan, wilayah-wilayah bebas becak, makan bebas bakteri, daerah bebas buta huruf dll.

2.      Bebas Dalam Faham Positif
Yaitu kebebasan yang timbul pengertian positif “bebas tidak hanya dari sesuatu melainkan juga untuk sesuatu” atau “kebebasan untuk ….”harus diisi oleh menusia sendiri. Kemungkinan-kemungkinan ini sama luasnya dengan kreatif manusia.[6]
3.      Tiga Macam Kebebasan
a). Kebebasan Jasmaniah
            tidak adanya paksaan terhadap kemungkinan-kemungkinan untuk menggerakan badan kita. Jangkauan kebebasan jasmaniah ini ditentukan oleh badan kita sendiri dan tentu saja tidak terbatas.
b). Kebebasan Kehendak
            Kebebasan untuk menghendaki sesuatu. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemngkinan untuk berfikir, karena manusia dapat memikirkan apa saja ia dapat juga menghendakinya.
            Lain dengan kebebasan Jasmaniah, kebebasan kehendak tidak dapat secara langsung dibatasi dari luar.
c).  Kebebasan Moral
1. Arti Luas
Tidak adanya macam-macam ancaman, tekanan larangan dan lain desakan yang tidak sampai berupa paksaan fisik.
2. Arti Sempit
Tidak adanya kewajiban. Saya bebas apabila kemungkinan-kemungkinan saya untuk bertindak itu tidak ada yang diwajibkan (sehingga dengan memilih kemungkinan yang lain saya langgar kewajiban) dan tidak ada yang dilanggar.[7]

Seorang dikatakan bebas, apabila :
1.      Dapat menentukan sendiri tujuan-tujuan dan apa yang dilakukannya.
2.      Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya.
3.      Tidak dipaksa / terikat untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya sendiri ataupun dicegah dari berbuat apa yang dipilihnya sendiri, oleh kehendak orang lain, Negara atau kekuasaan apapun.

B.      TANGGUNG JAWAB
Bertanggungung jawab berarti : dapat menjawab, bila ditanyai tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan.                     
Orang yang bertanggung jawab dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakukanya dan bukan saja ia menjawab kalau ia mau melainkan juga ia harus menjawab. Tanggung jawab berarti bahwa orang tidak boleh mengelak, bila diminta tentang penjelasan perbuatannya.
                        Tanggung jawab dapat juga berarti mencerminkan kesediaan menanggung semua resiko akibat dari perbuatan. Tanggung jawab yaitu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, boleh dipersalahkan, diperkirakan) tanggung jawab merupakan sifat-sifat yang amat baik bagi manusia.[8]

Tanggung jawab dibedakan antara :
a.      Tanggung jawab Restropektif
Adalah tanggung jawab atas perbuatan yang telah berlangsung dan segala konsekuensinya.
b.      Tanggung jawab Prospektif
Adalah tanggung jawab atas perbuatan yang akan datang.
Dalam hidup sehari hari kita lebih sering banyak mengalami tanggung jawab restropektif, karena biasanya tanggung jawab baru dirasakan betul-betul, bila kita berhadapan dengan konsekuensinya. Disinipun kiasan “harus memberi jawaban” tampak dengan paling jelas. Sebelum perbuatan dilakukan pelaku bersangkutan tentu sudah bertanggung jawab (dalam arti prospektif), tapi saat itu tanggung jawabnya masih terpendam dalam hatinya dan belum berhadapan dengan orang lain. Baik untuk tanggung jawab retrospektif maupun untuk tanggung jawab prospektif berlaku bahwa tidak ada tanggung jawab tidak ada kebebasan.[9]
            Dengan kebenaran keputusan Tuhan yang tak dapat diubah, maka orang-orang berdosa tidak akan ditanya pada hari akhir. Seluruh kehidupan mereka hingga saat yang menentukan. Manusia telah diperintahkan oleh Al-Qur’an agar bertanggung jawab atas keyakinan dan pelanggaran mereka : apakah perintah untuk bertanggung jawab dapat digeneralisasikan kepada malaikat dan Tuhan sendiri tidak begitu jelas. Dijelaskan bahwa : Ia (Tuhan) tidak akan ditanya tentang apa yang ia perbuat, tetapi mereka (manusia) akan ditanya.[10]




C.      KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB
Dalam tanggung jawab terkandung pengertian “penyebab” orang bertanggung jawab atas sesuatu yang disebabkan olehnya. Orang yang tidak menjadi penyebab dari sesuatu akibat tidak bertanggung jawab juga. Bila teman saya mengakibatkan kecalakaan lalu lintas, saya tidak bertanggung jawab, sekalipun ia menggunakan sepeda motor saya. Dalam hal ini saya tidak bertanggung jawab, justru karena tidak menjadi penyebabnya. Kalau seorang bapak melakukan tindakan kriminal dan karena itu dihukum penjara seumur hidup, maka hanya dialah yang bertanggung jawab, bukan istri atau anak-anaknya (dengan pengandaian tentu bahwa ia memang bertindak sendirian). Adalah sama sekali tidak adil, bila istri dan anak-anaknya dipersalahkan atau didiskriminasi akibat kejahatan si bapak itu, justru bukan merekalah yang melakukan tindak kejahatan itu. Tetapi untuk bertanggung jawab, tidak cukuplah orang menjadi penyebab, perlu juga orang menjadi penyebab bebas. Kebebasan adalah syarat mutlak untuk bertanggung jawab. [11]
      Kebebasan ditantang kalau berhadapan dengan kewajiban moral. Sikap moral yang dewasa adalah sikap yang bertanggung jawab. Tak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan.
Jadi kebebasan mengandung pengetian :
1.      Kemampuan untuk menentukan diri sendiri.
2.      Kemampuan untuk bertanggung jawab.
3.      Kedewasaan manusia.
4.      Keseluruhan kondisi yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan tujuan hidupnya.
Tingkah laku yang didasarkan pada sikap, sistem nilai dan pola fikir berarti tingkah laku berdasarkan kesadaran, berarti bukan instinktif, terdapat makna kebebasan manusia yang merupakan objek material etika. [12]

Kesimpulan :

Kami menyimpulkan bahwa kebebasan itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tanggung jawab. Karena kebebasan tanpa didasari tanggung jawab juga tidak akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, begitu juga tanggung jawab. Jika tidak diiringi dengan kebebasan juga tak akan berjalan semestinya. Karena dalam kehidupan ini tidak ada kebebasan yang sepenuh-penuhnya pasti ada aturan-aturan yang mengikat karena ada aturan itu kita diharuskan mempunyai rasa tanggung jawab. Agar berjalan selaras kehidupan ini, dengan demikian berarti kebebasan dan tanggung jawab mempengaruhi perilaku seseorang.











DAFTAR PUSTAKA

·         Abdullah. Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Prespektif Islam. Jakarta : Sinar grafika Offset.
·         Charris,zubair Achmad. 1995. Kuliah Etika. Jakarta : PT. Erafindo Pustaka.
·         Fakhry. Majid.1996 Etika Dalam Islam. Yokyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
·         K.Bertens.1999.Etika. Jakarta : gramedia pustaka utama.
·         Rasjidi.1975.Filsafat Agama. Jakarta : Bulan Bintang.


[1] K.Bertens,Etika,Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,1999.hlm.92
[2] M.Yatimin Abdullah,Studi Etika dalam Prespektif Islam,Jakarta:Sinar Grafika Offset,2007.hlm.265
[3] Drs.Achmad Charris Zubair,Kuliah Etika,Jakarta:Pt.Grafindo Pustaka.1995.hlm.39
[4] K.Bertens,Op.Cit,hlm.116
[5] Drs.Achmad Charris Zubair,Op.Cit,hlm.40
[6] K.Bertens,Op.Cit,hlm.117
[7] Drs.Achmad Charris Zubair,Op.Cit.hlm 41
[8] M.Rasjidi,Filsafat Agama,Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,1975,hlm.226
[9] K.Bertens,Op.Cit,hlm.10
[10] Majid Fakhry.Etika dalam Islam.Yogyakarta:pustaka Pelajar Offset,1996,hlm.10
[11] K.Bertens,Op.Cit,hlm.126
[12] Drs.Achmad Charris Zubair,Op.Cit,hlm.44

Tidak ada komentar:

Posting Komentar