Laman

Kamis, 20 Oktober 2011

ilmu akhlak (4) Kelas G


HUBUNGAN HATI NURANI DENGAN KESADARAN MORAL,
 MORALITAS, DAN PERILAKU
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Akhlak
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati,M.S.I
Kelas : G

Disusun Oleh :

1.       Dewi Nur Afni                                                             2021 111 295
2.       Ni’matul Chikmah                                                       2021 111 296
3.       Mahsus                                                                       2021 111 297
4.       Rahardyani Tyas Subekti                                             2021 111 298



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN

            Setiap manusia mempunyai pengalaman hati nurani dan mungkin pengalaman itu merupakan penjumpaan paling jelas dengan moralitas sebagai kenyataaan . Karena itu, pengalaman tentang hati nurani itu merupakan jalan masuk yang tepat untuk suatu studi tentang etika.
            Mengikuti hati nurani merupakan suatu hak dasar bagi setiap manusia. Tidak ada orang lain yang berwenang untuk campur tangan dalam putusan hati nurani seseorang. Dari hati nurani akan timbul sebuah kesadaran moral untuk melakukan perilaku yang bermoral.
            Dari itulah, penulis akan sedikit menguraikan tentang “Hubungan Hati Nurani dengan Kesadaran moral, Perilaku, dan Moralitas”.







BAB II
A.    KESADARAN MORAL
1.      Pengertian
Kesadaran moral merupakan faktor terpenting untuk memungkinkan tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila yang sesuai dengan norma. Perilaku manusia yang berdasarkan kesadaran moral akan selalu direalisasikan sebagaimana yang seharusnya, kapan saja dan dimana saja.[1]
2.      Unsur Kesadaran Moral
Unsur kesadaran moral ada 3:
1.      Perasaan Wajib atau Keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral itu ada, dan terjadi didalam setiap hati sanubari manusia siapapun, dimanapun, dan kapanpun.
2.      Rasional, Dikatakan Rasional karena berlaku umum (terbuka) .Terbuka, bagi pembenaran atau penyangkalan .
3.      Kebebasan, atas kesadaran moralnya seseorang bebas untuk mentaatinya. Bebas dalam menentukan perilakunya yang sekaligus terpampang nilai manusia itu sendiri.

B.     HATI NURANI
Hati Nurani dalam bahasa barat dikenal dengan istilah Conscientia yang merupakan terjemahan dari bahasa yunani (suneidesis) yanag artinya sama-sama mengetahui perbuatan orang lain . Jadi, Suneidesis di tujukan kepada diri sendiri atau dapat diartikan dengan sadar akan perbuatannya sendiri.
Hati nurani di bagi menjadi 2 bentuk :
a.       Hati nurani Retrospektif
Hati nurani ini memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung dimasa lampau. Hati nurani ini seakan-akan menoleh kebelakang dan menilai perbuatan-perbuatan yang sudah lewat.
b.      Hati nurani prospektif
Hati nurani ini melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita yang akan datang. Hati nurani ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu dan melarang untuk melakukan sesuatu.[2]

C.    PERILAKU
Perilaku merupan aktifitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku akan terejadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi atau rangsangan.

D.    MORALITAS
Istilah moral berasal dari bahasa latin. Bentuk tunggal kata “moral” yaitu mos sedangkan jamaknya yaitu mores yang berarti kebiasaan, adat.
Moralitas (dari kata sifat latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan “moral”.Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. [3]

E.     KESADARAN DAN HATI NURANI
Hati Nurani ini memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu kini ,dan disini.Tidak mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita.
Hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Untuk mengerti hal ini perlu kita bedakan antara pengenalan dan kesadaran. Kita mengenal bila kita melihat, mendengar atau merasa sesuatu.Sedangkan dengan kesadaran ,  kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan karena itu berefkeksi tentang dirinya. Dalam hati nurani berlangsung juga peggandaan yang sejenis. Bukan saja manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang besifat moral (baik dan buruk), tapi ada juga yang “turut mengetahui” tentang perbuatan-perbuatan moral kita. Dalam diri kita, seolah-olah ada instansi yang menilai dari segi moral perbuatan-perbutan yang kita lakukan.
Hati nurani merupakan semacam “saksi” tentang perbuatan-perbuatan moral  kita. Kenyataan itu di ungkapkan melalui kata latin conscientia. [4]
F.     Hubungan Hati Nurani dengan Kesadaran Moral, Moralitas dan Perilaku
Nurani dalam diri manusia berfungsi sebagai kotak hitam (black box) untuk merekam segala cerita dan kejadian hidup. Dimensi waktunya mencakup waktu dulu dan yang sedang terjadi sekarang.
Dari hati nurani itulah akan timbul kesadaran moral dari dalam diri kita. Kita akan dapat merasakan apakah perilaku itu baik jika kita lakukan ataukah sebaliknya.
Dengan adanya kesadaran (turut mengetahui) tentang perbuatan dan tentang pelaku (diri sendiri) menjadi semacam instansi dalam batin kita, yang menilai dari segi moral perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.
Perbuatan yang dilakukan atas desakan hati nurani belum tentu secara obyektif juga baik. Yang sebenarnya akan diungkapkan bukanlah baik buruknya perbuatan itu sendiri, melainkan bersalah tidak nya si pelaku.
Hubungan antara satu dan lainnya sangatlah erat, karena merupakan rangkaian sebab akibat. Dari Hati Nurani akan timbul kesadaran moral, kemudian berkat kesadaran moral tersebut timbul perilaku yang bermoral.
Maka kita tidak boleh bertindak bertentangan dengan hati nurani kita. [5]Akan tetapi manusia wajib juga mengembangkan hati nuraninya dan seluruh kepribadian etisnya sampai menjadi matang dan seimbang (baik subjektif maupun objektif menjadi sama).







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap keputusan memang harus sesuai dengan hati nurani. Hati nurani harus terus menerus disesuikan dengan apa yang objektif betul. Maka, wajib memperhatikan semua unsur , argumen, pertimbangan, dan lain-lain.
            Apabila kita mau mendengar suara dan bisikan nurani, maka hidup kita akan penuh hidayah, rahmah, maghfirah, dan makrifat. Oleh karena itu, marilah kita pelihara hati nurani kita dengan baik sesuai dengan sunnatullah dan fitrahnya sebagai wujud rasa syukur atas karunia terindah yang Allah anugerahkan tersebut, dan memohon perlindungan dari Yang Maha Kuat, Allah Swt.








DAFTAR PUSTAKA

Zubair, Ahmad Charis. 1995. Kuliah Etika . Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Bertens,K .1999. Etika . Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Schwartz,D.J. 1978. Berpikir dan Berjiwa Besar. Jakarta : Gunung Jati
Layanangananet.blogspot.com/2010/01/pengertian-moral.html (14-10-11)






[1] Drs. Achmad Charris Zubair, Kuliyah Etika , hal 51
[2] K.Bertens, ETIKA, (Jakarta :PT Gramedia Pustaka Utama)hal 54
[3] Layanangananet.blogspot.com/2011/01/pengertian-moral.html (14-10-11)
[4] K.Bertens, ETIKA, (Jakarta :PT Gramedia Pustaka Utama)hal 53
[5] Dr.D.J.Schwatz, Berpikir dan Berjiwa Besar ( Jakarta : Gunung Jati )hal 75

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar