Laman

Kamis, 05 Maret 2015

F-4-b : WULANDARI

“MENYEBARKAN ILMU KE KALANGAN INTERNAL”
Mata Kuliah: Hadits Tarbawi II


Disusun oleh:
Wulandari
2021113102
 KELAS F
 
JURUSAN TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR


Assalamua’laikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan karunia-Nya, dengan ini penulis mampu menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Hadits Tarbawi II yang bertemakan “MENYEBARKAN ILMU KE KALANGAN INTERNAL” dengan penuh semangat.
Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. beserta keluarga serta para pengikutnya yang selalu berjuang di jalan Allah.
Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1.      Orang tua tersayang yang senantiasa memberikan dorongan materi dan spiritualnya,
2.      Bapak Muhammad Ghufron, M.S.I selaku dosen pengampu mata kuliah hadits tarbawi II,
3.      Sahabat-sahabat tercinta yang telah menjadi fasilitator,
4.      Perpustakaan STAIN Pekalongan sebagai sarana sumber inspirasi dan referensi,
5.      Serta semua pihak yang telah membantu dan  tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis mohon maaf apabila  dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Guna penulisan yang lebih baik lagi, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Wassalamua’laikum Wr. Wb.
              


           
                                                                                                Penulis,


PENDAHULUAN
Pada masa sekarang ini pemanfaatan media publik dalam menyebarkan ilmu atau pengetahuannya ke semua kalangan ataupun pengetahuan ini sangatlah penting. Mengingat dahulu ketika zaman Nabi pun media telah digunakan dalam menyebarkan kebenaran-kebenaran mengenai islam.
Dalam menyebarkan ilmu ke berbagai kalangan itu mudah dan praktis, karena media publik merupakan media yang digunakan oleh kebanyakan orang dan digunakan sehari-hari. Ketika zaman nabi, para sahabat telah mempraktikkan bagaimana menggunakan media publik ini segabai alat untuk menyebarkan ajaran islam.
Penggunaan media publik pada sekarang ini telah mengalami perubahan yang pesat sehingga dapat diterima dan dicontoh oleh banyak kalangan masyarakat. Dengan demikian kita sebagai generasi muda melestarikan dan menyampaikan pentingnya media publik.

















PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Media, bentuk jamak dari perantara (medium), merupakan sarana komunikasi.[1] Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Derdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi.[2]
Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association and Communication Technology) di Amerika, membatasi media sebgai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara menurut Bringgs (1970) berpendapat bahwa media adalaah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Seperti buku, film, kaset, dan film bingkai.
Asosiasi Pendidikan Nasional (Nation Education Association/ NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya.
Apapun batasan yang diberikan, ada persamaan di antara batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa hingga proses belajar terjadi. Dengan demikian kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media yang akan digunakan merupakan sebagai alat dan bahan kegiatan dalam pembelajaran.[3]
B.     Terori Pendukung
Kalau kita lihat perkembangannya, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat  bantu yang akan dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Sejak saat itu, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat penyalur pesan atau media.
Baru pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah-laku (behaviorism theory) ajaran B. F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori tingkah-laku ini mendorong orang untuk lebih memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah-laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media instruksional yang terkenal yang dihasilkan oleh teri ini adalah teaching machine dan programmed instruction.
Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian intregal dalam program pembelajaran. Pada dasarnya para guru dan ahli audio visual menyambut baik perubahan ini. guru-guru mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah-laku siswa. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, mulai dipakai berbagai format media. Dan dari sini lahirlah konsep penggunaan multi media dalam kegiatan pembelajaran.
Dapat dilihat dari uraian tersebut bahwa sudah selayaknya kalau media tidak hanya kita pandang sebagai alat bantu belaka bagi guru untuk mengajar, tetapi lebih sebagai alat penyalur pesan dari pemberi pesan (guru, penulis buku, produser dan sebagainya) ke penerima pesan (siswa/pelajar). Sebagai pembawa pesan, media tidsk hsnys digunakan oleh guru akan tetapi yang lebih penting lagi dapat pula digunakan oleh siswa.[4]
Secara umum dapat dikatakan media mempunyai kegunaan, antara lain:
1.      Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra.
3.      Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
4.      Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan karakteristik.
5.      Memberi rangsangan yang sama,
6.      Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa).  Pada kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media sapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran.[5]
Selain itu peran media sangat banyak untuk pembelajaran. jika pengajarannya berpusat pada guru, teknologi dan media digunakan untuk mendukung penyajian pengajaran.[6]
C.    Menyebarkan Ilmu ke Kalangan Internal
Berikut Hadits Menyebarkan Ilmu ke kalangan Internal:
 عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : { عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُوالْقَعْدَةِ وَذُوالْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ . ثُمَّ قَالَ:اَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ قَالَ:فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا اَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بِغَيْرِ اِسْمِهِ ,قَالَ:اَلَيْسَ ذَاالْحِجَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى, قَالَ:فَاَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قُلْنَا : اللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ, قَالَ:فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا اَنَّهُ سَيُسَمَّيْهِ بِغَيْرِ اِسْمِهِ ,قَالَ : اَلَيْسَ الْبَلْدَةَ؟ قُلْنَا :بَلَى, قَالَ : فَاَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ, قَالَ : فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا اَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بِغَيْرِ اِسْمِهِ ,قاَلَ :اَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْر؟ ِقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ : فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ اَمْوَالَكُمْ, (قَالَ:مُحَمدٌ وَ اَحْسِبُهُ قَالَ) وَاَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا وَ سَتَلْقَوْنَ ربكُمْ فَيَسْاَلُكَمْ عَنْ اَعْمَالِكُمْ فَلآتَرْجِعُنَ بَعْدِيْ كفارا أو ضُلَالاً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ. اَلَا لِيُبَلِغَ الشَاهِدُ اْلغَائِبَ,فَلَعَلَ بَعْضُ مَنْ يُبَلِغُهُ يَكُوْنُ اَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ,ثُمَّ قَالَ:اَلآ هَلْ بَلَّغْتُ؟  }   (رواه مسلم فى الصحيح, كتاب القسامة و المحاربين و القصاص و الديات, باب تغليظ تحريم الدماء و الأعراض و الأموال)
Terjemah:
“Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya beliau telah bersabda: Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu dua belas bulan, dan sekarang ini (saat Nabi bersabda) telah kembali kepada keadaan semula yang Allah tetapkan di kala menciptakan langit dan bumi. Empat bulan diantara bulan-bulan itu adalah bulan haram. Tiga diantaranya berurutan, yaitu Dzulqa’dah, bulan berhenti dari berperang, Dzulhijjah, bulan mengerjakan haji dan bulan Al Muharram, bulan tidak diperkenankan berperang di dalamnya. Dan yang satu lagi berdiri sendiri yaitu Rajab Mudlar. Dikatakan Rajab Mudlar karena merekalah yang sangat menghormati bulan ini. Tak ada seorang arab yang berani merusakkan kehormatanya. Dia terletak antara Jumada dan Sya’ban. Lalu beliau bersabda, “Bulan apakah ini?” Kami menjawab, “Kami tidak tahu, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.” Lalu beliau diam sehingga kami mengira beliau akan memberinya nama lain. Beliau bersabda, “Bukankah bulan ini adalah bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab, “Ya, benar.” Lalu beliau bersabda, “Negeri apakah ini?” Kami menjawab, “Kami tidak tahu, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.” Lalu beliau diam sehingga kami mengira beliau akan memberinya nama lain. Beliau bersabda, “Bukankah negeri ini adalah negeri Makkah?” Ka­­­mi menjawab, “Ya, benar.” Lalu beliau bersabda, “Hari apakah ini?” Kami menjawab, “Kami tidak tahu, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.” Lalu beliau diam sehingga kami mengira beliau akan memberinya nama lain. Beliau bersabda, “Bukankah hari  ini adalah hari Nahr (sepuluh Dzulhijjah)?” Kami menjawab, “Ya, benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sungguh, darahmu, hartamu, dan kehormatanmu itu haram atasmu seperti haramnya hari kamu di negeri ini dan pada bulan kamu ini. Di hari-hari dan di bulan-bulan haram tidak boleh dikerjakan sesuatu yang diharamkan. Mereka menyamakan hukum merusak kehormatan hari dan bulan haram di Makkah, dengan hukum merusakan jiwa dan kehormatan manusia. Maka dengan sabda Nabi menegaskan, bahwa mereka diharamkan menumpahkan darah darah dan merusakkan harta orang. Dan hal itu disamakan dengan merusakkan kehormatan hari nahar di negeri Makkah di bulan Dzulhijjah pula. Dan kamu akan menemui Tuhanmu. Lalu Dia akan menanyai kamu tentang segala amal perbuatan kamu . Oleh karena itu, janganlah kamu kembali tersesat sesudahku, yaitu sebagian kamu memenggal leher sebagian lainnya . Hendaklah yang hadir ini menyampaikan berita ini kepada yang tidak hadir karena bisa jadi orang yang disampaikan berita kepadanya lebih memahami dari pada orang yang mendengarkannya.” Kemudian beliau bersabda, “Bukankah aku telah menyampaikan (pesan ini)?”. (HR. Imam Muslim).
Keterangan Hadits:
Pada hadits ini Rasulullah sesungguhnya mengajarkan atau menyampaikan informasi mengenai empat bulan yang diantara bulan-bulan tersebut adalah bulan haram. Bulan yang pertama yaitu Dzulqa’dah, bulan berhenti dari berperang. Dzulhijjah, bulan mengerjakan haji. Al Muharram, bulan tidak diperkenankan berperang di dalamnya dan yang satu lagi berdiri sendiri yaitu Rajab Mudlar. Dikatakan Rajab Mudlar karena merekalah yang sangat menghormati bulan ini. Tak ada seorang arab yang berani merusakkan kehormatanya. Dia terletak antara Jumada dan Sya’ban.
Dalam hadits tersebut secara tidak langsung Rasulullah telah mengajarkan kita untuk menyampaikan informasi. Penyampaian informasi yang dilakukan oleh Rasulullah ini merupakan salah satu bentuk media publik. Bagaimana yang cara menyampaikannya itu secara langsung. Media publik bukan hanya menyangkut teknologi saja, melainkan juga seperti diskusi, obrolan pagi (morning talk), dan diskusi berpasangan merupakan bentuk media publik yang telah berkembang pada masa sekarang ini.[7]


D.    Refleksi Hadits dalam Kehidupan
Media publik merupakan komunikasi yang akan menciptakan hubungan baik dengan berbagai pihak guna terjalinnya tali silaturahim antara individu maupun kelompok dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Melihat perkembangan yang sangat pesat dalam kehidupan, media publik berperan penting dalam aktifitas sehari-hari.
Pada rana pendidikan, guru dapat menerapkan media publik ini untuk menyampaikan suatu informasi. Baik menggunakan media teknologi atau menggunakan media klasik. Pada masa terdahulu dalam islam para ulama menyebarkan agama menggunakan media tradisional, sedangkan masa sekarang menggunakan media modern meliputi radio, televisi, internet, handphone, twitter, blogger, dan lain sebagainya. Sehingga siswa tidak merasa bosan, dan dapat di aplikasikan dengan orang-orang yang di temuinya sehari-hari.
E.     Aspek Tarbawi
Dari pembahasan hadits diatas dapat dipetik pelajaran bahwa:
Ø  Dapat memberikan informasi kepada semua kalangan.
Ø  Tujuan dalam penggunaannya bukan hanya komersil semata, akan tetapi dengan tujuan dakwah dan menyebarkan ilmu kalangan internal.
Ø  Memberikan wawasan yang lebih luas.
Ø  Dapat mengaplikasikan media publik dalam menyampaikan informasi ke seluruh kalangan.
Ø  Tidak membosankan dalam proses pembelajaran.
Ø  Banyak fariasi dalam metode pembelajaran.







PENUTUP

Media publik merupakan salah satu jenis atau bentuk komunikasi. Media publik memerlukan keterampilan komunikasi lisan dan tulisan agar pesan dapat disampaikan secara efektif dan efisien.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa).  Pada kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media sapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran.
Penyampaian media dapat dilakukan secara langsung. Media publik bukan hanya menyangkut teknologi saja, melainkan juga seperti diskusi, obrolan pagi (morning talk), dan diskusi berpasangan merupakan bentuk media publik yang telah berkembang pada masa sekarang ini.

















Daftar Pustaka

E. Smaldino Sharon.  2011. Intructional Technology and Media for Learning=Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Jakarta: Kencana
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media
S. Sadiman Arief. 2007. Media Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Dananjaya Utomo. 2012. Media Pembelajaran Aktif. Bandung: Penerbit Nuansa























 


[1] Sharon E. Smaldino,  Intructional Technology and Media for Learning=Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 6
[2] Daryanto, media pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2010), hlm. 4-5
[3] Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hlm. 6-7
[4] Arief S. Sadiman.., Ibid., hlm. 7-10
[5] Daryanto.., Op.Cit., hlm. 5-8
[6] Sharon E. Smaldino, Deborah L. Lowther, dan James D. Russell.., Op.Cit., hlm. 14
[7] Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2012), hlm. 41, 43,46

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar