Laman

Minggu, 04 Desember 2011

Psikologi Agama (11) Kelas B

MAKALAH
PENGARUH PSIKOLOGI AGAMA DALAM USAHA MENGONTROL PERILAKU PSIKIS PESERTA DIDIK
      Di Susun  untuk memenuhi tugas :
`                       Mata Kuliah                : Psikologi Agama
Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati, M.S.I
Disusun oleh :
1.      Mutta Anifah Amalia                (2022110067)
2.      M. Syahirul Alim                      (2022110068)
3.       Saidani                          (2022110069)
4.    M. Riza Maulana                     (2022110070)
 
JURUSAN TARBIYAH PBA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
STAIN PEKALONGAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya
Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan. [1]
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Psikologi Agama
1.      Pengertian psikologi agama
Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya. [2]
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban.Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau). [3]
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi. [4]
2.      Ruang lingkup psikologi agama
Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan. [5]
B.     Perilaku psikis peserta didik
1.      Unsur psikis peserta didik
a)      Dalam diri setiap manusia, pasti melakukan berbagai aktivitas psikis baik, kognisi, konasi, emosi, maupun campuran. Aktivitas psikis manusia dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan manusia yang diwujudkan melalui gerak gerik/ perilaku  Berpikir untuk memahami / mencari tahu kebenaran dari suatu hal yang ingin di ketahuinya.  Aktivitas psikis seperti ini disebut gejala kognisi  (  kognisi = pikiran )
b)      Sedangkan, ketika seorang manusia melihat sesuatu, manusia akan merasakan sesuatu lalu diwujudkan dengan perubahan pada fisik manusia, misalnya raut wajah.  wujud simpati. Inilah yang disebut gejala emosi.
c)      Gejala konasi disebut juga kemauan, hasrat manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai contoh, seorang pelajar yang ingin menduduki peringkat 1 di dalam kelas, dengan dasar kemauan, maka pelajar tersebut akan belajar dengan tekun untuk menduduki peringkat 1 dalam kelas. Konasi diwujudkan dengan perilaku- perilaku untuk mencapai tujuan manusia tersebut. Gejala konasi ada yang berlangsung di luar kesadaran, seperti refleks, automatisme, instink,dorongan. (Refleks, automatisme, instink, dorongan) dapat berlangsung karena ada dorongan dari dalam diri manusia yang tidak dapat dikontrol sehingga manusia dapat langsung melakukan perilaku tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
d)     Gejala campuran, terdiri dari ( perhatian, kelelahan, sugesti.) Ketika kita, memusatkan penglihatan maupun pendengaran pada suatu objek inilah yang disebut perhatian. Ketika daya tahan tubuh kita menurun karena melakukan sesuatu hal, ini disebut kelelahan. Ketika perbuatan kita mampu menguatkan atau  menggerakan pikiran , maka inilah yang disebut dengan sugesti.[6]
Semua gejala- gejala psikis yang telah diuraikan diatas, saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
2.      Hal-hal yang mempengaruhi psikis peserta didik
Perkembangan karakteristik individu dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Hereditas atau keturunan merupakan aspek individu yang diwariskan orang tua, bersifat bawaan, dan memiliki potensi untuk berkembang. Lingkungan merupakan faktor penting di samping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan ini meliputi fisik, psikis, sosial, dan religius.         [7]
 1) Faktor Keluarga 
          Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tetang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
2) Faktor Hereditas (keturunan)
Sebagian besar karakteristik pada peserta didik diturunkan dari Ayahnya. Misalnya, sikap peserta didik  yang tenang, pemalu dan tidak mudah marah.
3) Lingkungan Sekolah          
             peserta didik  bersekolah  di MAN I Kedungwuni. Di mana sekolahnya, agama sangat diutamakan, baik dalam pelajaran maupun dalam membentuk siswanya. Les-les tambahan pelajaran di sekolah juga diadakan, yaitu untuk membantu mengembangkan intelektual siswa. Selain itu, tingkat kedisiplinan di sekolahnya juga sangat tinggi.maka peserta didik bisa   menjadi seorang yang berwawasan agama luas dan berintelegensi  tinggi.       
4) Teman Sebaya    
               Dalam bergaul baik di rumah maupun di sekolah peserta didik  memiliki teman-teman yang baik.  Misalnya ,Di sekolah peserta didik memiliki kelompok teman yang agamanya baik, inteligensi maupun moralnya juga baik. Sehingga  peserta didik  tidak salah pergaulanya. 
6) Lingkungan Masyarakat  
               Lingkungan masyarakat merupakan kumpulan masyarakat yang mengenal nilai-nilai moral dengan baik. Selain itu sangat memahami norma-norma agama sehingga dalam perkembangannya, peserta didik  dapat menjadi remaja yang bermoral dan sesuai dengan perkembangan karakteristik pada fasenya.
       
3.      Perilaku-perilaku intelek dan  aktifitas  psikis  peserta didik (  remaja )
Intelegensi pada remaja tidak mudah diukur karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Pada umumnya tiga sampai empat tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Pada masa awal remaja, kira-kira pada usia 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut " Masa oerasi formal" (berfikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berfikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin; disamping hal yang nyata (riil) (Gliedmen, 1986 : 475-475) Pada usia remaja ini anak sudah dapat berfikir abstrak dan hipotik. Dalam berfikir operasional formal, setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang penting, yaitu: [8]              
1.  Deduktif Hipotesis            ( menganalisis dengan dugaan   )            
Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Yang menganalisis masalah dan mengajukan cara- cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir induktif disamping deduktif. Oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan, ia dapat membuat strategi penyelesaian. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secara verbal. Anak lalu mengajukan pendapat-pendapat atau prediksi tertentu, yang juga disebut proporsi-proporsi. Kemudian mencari hubungan antra proporsi Yang berbeda- beda tadi. Berhubungan itu maka berpikir operasional juga disebut proposisional.        
2. Berpikir  Operasional juga Berpikir Kombinatoris               
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara melakukan analis. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. Suatu kombinasi ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.  Anak yang berpikir operasional formal lebih dulu secara teoritik membuat  matriknya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin terjadi, kemudian secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empirik. Bila ia mencapai penyelesaian yang betul, maka ia juga akan segera dapat mereproduksinya.  
Seorang remaja dengan kemampuan berpikir normal tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara  berpikir, misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan, pergi ke sekolah tetapi tidak adanya pasilitas yang  dibutuhkan, maka remaja itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak.
C.     Pengaruh psikologi agama terhadap psikis  peserta didik
1.      Pengaruh secara intelektual
Terlihat pada masa remaja, lebih memerlukan intelek dan adanya proses kreatif yang lebih kmpleks dari pada respons bersyarat saja, pikirna dan logika berperan dalam setiap proses keimanan, jiwa mula-mula percaya, timbul kebimbangan, kemudian proses berfikir timbul kepercayaan yang baru atau insight baru sebagai sintesa dari kepercayaan yang ada dan kebimbangan
 
2.      Pengaruh secara emosional
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman [9] emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).  Daniel Goleman mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
1)      Amarah           : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
2)      Kesedihan       : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi   diri,
putus asa
3)      Rasa takut       : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali,
waspada, tidak tenang, ngeri
4)      Kenikmatan     : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
5)      Cinta               : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa
dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
6)      Terkejut           : terkesiap, terkejut
7)      Jengkel            : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
8)      Malu                : malu hati, kesal
Dari beberapa pengertian tentang emosi diatas dapat disipulkan emosi adalah keadaan atau dorongan untuk bertindak sehingga mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.
3.      Pengaruh secara spiritual
Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas. Melihat asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.[10]
Spiritual merupakan ekspresi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi, lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang,dan lebih dari pada hal yang bersifat indrawi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adlah memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra , perasaan, dan pikiran. Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses , pertama proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan , kedua proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri, [11]
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
 
Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang , yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani.
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Drs. H. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, Mertiana Bandung
 
Jeanne Anne Craig. Bukan seberapa cerdas diri anda tetapi bagaiman anda cerdas/alih bahsa Arvin saputra. (Batam: Interaksara,2004).
Suharsono. Melejitkan IQ, EQ, SQ. (Depok: Inisiasi Press,2005).
 
Daniel Golman. Emitional Intelligence (terjemahan). (Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama, 2002).
 
Toto Tasmara. Kecerdasan Ruhaniyah (Transendental Inteligence). (Jakarta: Gema Insani, 2001).
edukasi.kompasiana.com/2010/12/07 di akses  2/12/2011 jam 4.25  wib
 
daengmatterru.blogspot.com/.../tugas- makalah-perkembangan-peserta.html di akses  2/12/2011 jam 4.25  wib
Daniel Golman. Emitional Intelligence (terjemahan). (Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama, 2002).
Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Rahmat, jalaluddin, psikologi agama,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar