new post

zzz

Sabtu, 03 Maret 2012

Kelas C, Ayu Kusuma Dewi, 4. EPISTIMOLOGI (INTUISI HATI)


MAKALAH
EPISTIMOLOGI
(INTUISI HATI)

Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I
Kelas : C
Disusun oleh :
AYU KUSUMA DEWI
(2021110104)

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
A.    Pendahuluan

Dalam makalah ini saya memaparkan keagungan hadits 22 akan nampak jelas ketika kita mengetahui kandungan hadits ini. Cobalah kita renungkan sejenak. Sebagai hamba Allah, kita dituntut untuk berlaku, berbuat dan beraktivitas sesuai dengan aturan-aturan Allah. Ini adalah sesuatu hal yang wajar dan maklum. Nah, ternyata hadits yang mulia ini telah menjelaskan secara lengkap hukum dari segala sesuatu yang kita hadapi. Yang mana dengan mengetahui hukum-hukum itu kita bisa bertindak sesuai dengan aturan Allah. Tanpa mengetahuinya, kita akan bingung dan tentu saja tidak akan bisa bertindak sesuai dengan aturan Allah.
Dalam makalah ini pula akan dibahas tentang hadits 23 tentang anjuran untuk beramal dengan ilmu yang dimilikinya, sebab hal itu sangat di sukai Nabi Muhammad SAW. beramal disini maksudnya tidak hanya menyampaikan ilmunya kepada orang lain tapi juga memperkaya diri dengan ilmu-ilmu baru yang mampu membentuk diri agar menjadi lebih baik.













B.    Hadits 22
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ و الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَاٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَيعلمها كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ في أر ضه مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
[رواه البخاري ومسلم]
C.Terjemah
Nu’man bin Basyir bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Perkara yang halal telah jelas dan yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh  kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah, semua raja mempunyai larangan dan ketahuilah pula larangan Allah swt adalah segala yang di haharamkan-Nya. Ketahuilah dalam tubuh itu semuanya. Apabila daging itu rusak, maka binasalah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, daging tersebut ialah hati.[1]
C.     Mufrodat

الْحَلاَلَ بَيِّنٌ  : yang halal jelas        
Dan yang haram jelas : الْحَرَامَ بَيِّنٌ و
 Dan diantara keduannya: وَبَيْنَهُمَاٌ
 Tidak banyak yang mengetahui : لاَيعلمها كَثِيْرٌ
menghindarkan diri dari hal-hal syubhat : اتَّقَى الشُّبُهَاتِ:
terjatuh : وَقَعَ
   hati  :  الْقَلْبُ

D.    Biografi Rowi
Nu’man bin Basyir bin sa’id bin tsa’labah al-anshori al khuzraji. Dia dan ayahnya adalah seorang sahabat Rasulullah saw. Kemudian dia menetap di Syarh. Kemudian diutus ke Kufah, ia meninggal di Khoms Pada tahun 65 th. Ketika umurnya 64 th.
E.     Keterangan Hadits
Hadits diatas menerangkan tentang keutamaan meninggalkan syubhat (sesuatu yang meragukan) untuk kepentingan agama. Salah satu rahmat Allah swt terhadap manusia yaitu ia tidak membiarkan manusia dalam kegelapan terhadap masalah halal dan haram. Bahkan yang halal dijelaskan sedangkan yang haram di perinci.
Firman Allah swt :                          
“dan sesungguhnya Allah swt telah menerangkan kepadamu apa-apa yang ia haramkan atas kamu”.
Para ulama berselisih tentang hukum Syubhat, ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan makruh. Ada 4 ringkasan penafsiran tentang Syubhat :
Pertama : terjadinya pertentangan dalil-dalil yang ada, seperti disebutkan diatas.
Kedua : perbedaan ulama yang bermula dari adanya dalil-dalil yang saling bertentangan.
Ketiga : yang di maksud dengan kata Syubhat adalah yang disebut dengan makruh, karena kata tersebut mengandung unsur “melakukan” dan “meninggalkan”
Keempat : yang dimaksud dengan Syubhat adalah yang mubah (diperbolehkan). Telah dinukil dari Ibnu Munir dalam Manaqih Syaikh Al Qabari, Beliau berkata, “Makruh merupakan pembatas antara hamba dan hal-hal yang haram. Barangsiapa banyak melaksanakan perbuatan makruh, maka dia berjalan menuju yang haram. Sedangkan mubah adalah pembatas antara hamba dengan yang makruh. Barangsiapa yang banyak melakukan hal yang mubah, maka dia telah menuju kepada hal yang dimakruhkan.”[2]
Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Hibban dengan jalur yang disebabkan oleh Imam Muslim tanpa menyebutkan lafadznya, dan dalam hadits tersebut terdapat tambahan, “buatlah pemisah antara yang halal dengan yang yang haram. Yang melakukan hal tersebut, maka perilaku dan agamanya akan selamat. Orang yang menikmati hal tersebut seolah-olah menikmati yang dilarang, ditakutkan akan jatuh ke dalam yang dilarang.”  
Artinya bahwa hal mubah yang dikhawatirkan akan menjadi makruh atau haram, maka harus dijauhi. Misalnya berlebihan dalam hal-hal yang baik, karena hal itu akan menuntut seseorang untuk banyak bekerja yang terkadang dapat menyebabkannya mengambil sesuatu yang bukan haknya atau melalaikan ibadahnya.
Tidak diraguka lagi bahwa orang yang banyak melakukan sesuatu yang makruh, akan berani melakukan sesuatu yang haram atau kebiasaannya melakukan sesuatu yang tidak diharamkan. Atau dikarenakan ada syubhat didalamnya sehingga orang yang mengerjakan sesuatu yang dilarang, hatinya akan gelap karena kehilangan sifat wara’ (kehati-hatian) dalam dirinya, dimana hal itu akan menyebabkannya jatuh kedalam hal yang haram.[3]
Terhadap persoalan ini islam memberikan suatu garis yang di sebut wara’ (kehati-hatian) dimana dengan sifat itu seorang manusia diharuskan untuk menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat sehingga dengan demikian dia tidak akan terlibat kepada yang haram.     
F.       Aspek  Tarbawi

Dari uraian diatas maka dapat kita ambil nilai-nilai pendidikannya antara lain :
§  Bahwa sesuatu yang halal dan yang haram itu sudah jelas.
§  Janganlah kita memasuki ke dalam wilayah yang Syubhat.
§   Orang yang sudah masuk ke dalam wilayah Syubhat dikemungkinkan akan mudah pula masuk wilayah haram.
§  Bagi seorang pemimpin yang bijaksana harus didasari dengan hati yang bersih



PENUTUP
Dari pemaparan diatas dapat kita simpulkan bahwa, Hadits ini mengandung peringatan akan pentingnya hati, dorongan untuk memperbaikinya dan isyarat bahwa nafkah yang baik memiliki efek terhadap hati, yaitu pemahaman yang diberikan oleh Allah swt. Para ahli tafsir mengartikan hati dengan “akal”. Adapun disebutkan hati, karena  hati adalah tempat bersemayamnya akal.




















A.    Hadits 23
ألله عليه وسلم قال صلى النبي ن أ مالك  بن  انس عن
: ( من عمل بما يعلم ورثه الله علم ما لم يعلم)

B.      Terjemah
Diriwayatkan dari Abas bin Malik, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah SWT akan memberikan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui”.

C.      Mufrodat
Barang siapa من عمل :
Dengan sesuatu yang telah di ketahui بما يعلم :
Akan diberikan kepadanya ورثه الله :
ilmu علم :
ما لم يعلم :sesuatu yang belum diketahui

D.     Biografi Rawi
Anas bin Malik, memiliki nama lengkap Anas bin Malik Nadhar bin Dhamdham Al Khazraji. Ia biasa dipanggil Abu Hamzah dan diberi gelar Khadim Rasulullah (pembantu / pelayan Rasulullah saw). Anas bin Malik lahir dikota Yatsrib. (madinah tahun 8 sebelum hijrah).[4]
            Ibunya menitipkannya kepada Rasulullah saw untuk menjadi pembantu beliau. Saat itu Anas baru berusia 10 tahun. Ibunya memohon kepada Rasulullah saw agar anaknya dijadikan pembantu beliau dan memohon untuk didoakan beliau. Rasulullah saw lalu berdoa untuk Anas, “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya, dan berkahilah apa-apa yang Engkau anugerahkan kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi).
            Anas berkata, “Doa itu telah aku buktikan, dan ternyata doa yang pertama dan kedua (banyak harta dan anak) itu telah terwujud. Demi Allah sesungguhnya harta kekayaanku benar-benar menjadi sangat banyak, demikkian pula dengan anak cucuku yang sampai hari ini telah aku capai jumlah kurang lebih 100.”[5]   
            Setelah Rasulullah saw wafat, Anas merantau ke Damaskus kemudian ke Bushrah. Ia meriwayatkan 2286 hadits dari Rasul.
            Ia adalah sahabat Rasul yang paling akhir meninggal. Ia meninggal di Bashrah tahun 91 H, dalam usia 99 tahun. Jenazahnya dimandikan oleh Tabi’in besar, Muhammad bin Sirin.
E.      Keterangan Hadits
Hadits ini menjelaskan sedemikian mulia ilmu dan penuntut ilmu. Ini disebabkan karena seorang yang berilmu kemudian mengajarkan ilmunya termasuk dari amal jariyah baginya. Dan selama ada yang mengamalkan ilmu itu maka dia akan terus mendapat pahala dari Allah SWT walaupun dia sudah meninggal. Berbeda dengan orang yang mengerjakan shalat sunnah atau ibadah lainnya, tidak ada yang merasakan manfaatnya kecuali hanya dirinya sendiri. 
Rasulullah SAW pun menegaskan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah kita miliki dengan sabdanya yang terkenal : "Barang siapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, dan Allah akan menolong dia dalam amalannya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barang siapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ia tersesat oleh ilmunya itu. Dan Allah tidak menolong dia dalam amalannya sehingga ia akan mendapatkan neraka".
F.       Aspek tarbawi
Nilai-nilai pendidikan yang bisa kita ambil dalam hadits diatas  bahwa adab yang harus dimiliki oleh orang yang mempunyai ilmu adalah yang mengamalkan ilmunya, akan tetapi bukan berarti memberikan ilmu kepada orang lain terlepas dari kita melakukan amalan tersebut, jangan sampai seperti lilin yang meleleh habis dimakan apinya. Beramal dengan ilmunya yang dimiliki disertai dengan mengamalkan ilmunya pada diri sendiri untuk mencoba mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hadits diatas memberikan informasi bahwa seorang muslim harus selalu beramal dengan ilmu yang dimilikinya. Karena ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Dalam hadits tersebut di jelaskan bahwa seseorang yang mempunyai sesuatu pengetahuan yang terkait suatu amalan (ilmu agama) yang wajib dikerjakan, maka itulah yang harus diamalkan
Penutup
Kesimpulan pada hadits ini ialah bahwa seorang yang mengamalkan ilmunya tidak akan berkurang ilmunya tetapi akan semakin ditambah ilmunya oleh Allah swt. Mengamalkan ilmunya dengan Hati yang ikhlas dan semata-mata karna Allah swt.





















Daftar Pustaka
Sa’id Mursi Syaih Muhammad, “Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah”, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2004).
Al Asqalani Ibnu Hajar & Al Imam Al Hafizh, “Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari”, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002).
Al Maliki Muhammad Alawi, “Ilmu Ushul Hadits”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).
http://www.pustakaazzam.com


[1] Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Imam Al Hafizh “Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari ” (jakarta: pustaka azzam, 2002) hlm. 232
[2] Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Imam Al Hafizh “Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari ” (jakarta: pustaka azzam, 2002) hlm. 233

[3] http://www.pustakaazzam.com
[4] Syaih Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007), hlm 125 
[5] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al Maliki,”Ilmu Ushul Hadits,”(Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm 204

9 komentar:

  1. sudahkah panda bisa menjaga kemunian hati anda????//
    bagaimana solusinya?

    BalasHapus
  2. nama: nurul islakhah
    nim: 2021110139
    kelas: C
    setelah saya baca didalam hadits 22 yang anda bahas disitu yaitu tentang hukum dari segla ssuatu yang kita hadapi,nah pertanyaan saya..sberapa pentingkah peranan hukum2 itu sendiri didalam agama islam?

    BalasHapus
  3. Nama: Khurotul Aini
    Nim: 2021110131

    Bagaimana pendapat pemakalah jika seseorang menuntut ilmu namun tidak mau mengamalkan ilmunya,dia hanya mengejar nilai saja dan mendapatkan sebuah gelar?????

    BalasHapus
  4. nama: ABDUL CHAMID
    NIM: 202109113
    kls: c
    numpang tanyak mbak:di dalam mufrodat tertulis "menghindarkan diri dari hal-hal subhat" itu maksudnya apa, apabila diterapkan dalam dunia pendidikan...?

    BalasHapus
  5. riqoh ahmidtsani rosyada
    2021110121
    klas c
    apa garis besar menurut pemalah antara intuisi hati dengan aspek tarbawinya, kenapa dalam pembahasannya hanya mengenai hal" syubhat?

    terima kasih

    BalasHapus
  6. nama: avita rohmah
    nim: 202109191

    di makalah di atas trtulis bhwa org yg tdk mngamalkan ilmunya maka ia akan masuk neraka. itu kn brarty blsn yg kelak akan di trima di akhirat. kmudian mnrut pemakalah, apakah blsn yg akan di trima di dunia ktika ia hidup jka tdk mngamalkn ilmunya?

    BalasHapus
  7. Nama :Romadlon
    Nim :2021110114
    kelas :C
    bagaimana agar antara pikiran dan hati kita bisa berjalan dengan seimban,,,antara pikiran dan hati sama,,,????

    BalasHapus
  8. istighfaroh : blom. karena hati saya terkadang masih goyah ketika memikirkan sesuatu. solusinya, belajar untuk melakukan hal" yg baik dari hati dgn ikhlas

    aini : yaaa menurut saya, itu hal yg sgt buruk, krna dia termasuk salah satu penghuni neraka dimana org yg berilmu disarankan untuk selalu berbagi ilmu dgn org lain dgn hati yang ikhlas tanpa mengharapkan imbalan..

    nurul.i : penting sekali, karena syubhat bisa menengahi hukum" yg blom jelas

    abdul chamid : kita meninggalkan hal" dlm pndidikan yg masih diragukan kebenarannya misalnya tdk mengambil pndapat org yg kurang bisa dipercaya, tdk menggunakan dan menyebarkan informasi yg blom kita ketahui kbenarannya.

    romadhon : menurut saya, pikiran dan hati itu memang sulit agar berjalan secara seimbang tetapi sedikit yg mungkin bisa menjadikan hati dan pikiran berjalan seimbang antara lain, selalu positip thinkkink dan husnudzon,, sering" mmmbersihkan hati dan pikiran dgn bnyak beribadah dan berdzikir mengingat Allah swt, selain berfikir, kita juga mencoba untuk merasakan dgn hati mengenai hal" disekitar kita. insyaAllah hati dan pikiran kita akan berjalan dengan seimbang .

    avita : Menurut saya yaaa orang yg tdk mau mengamalkan ilmunya balasannya sudah jelas akan masuk neraka ketika diakhirat nanti, akan tetapi balasan didunia nya adalah ilmunya akan kurang dimakalah juga sudah dijelaskan bahwa org yg mengamalkan ilmunya maka Allah akan memberikan kpdanya ilmu yg belum ia ketahui, dan ketika dia tdk mau mengamalkan ilmunya , maka ilmunya juga tdk akan bermanfaat bagi org lain,, dia juga tdk dpat menyempurnakan/mengembangkan ilmunya, dia juga tdk bisa menjadi ahli ilmu yang baik..

    BalasHapus
  9. riqoh : secara garis besarnya hati sering kali merasakan keragu raguan trhadap sesuatu sehingga dperlukan sesuatu pengetahuan dlm hati agar bisa selaluuu membedakan yg baik dan yg buruk. semua ini dilakukan semata-mata agar bisa menjauhkan diri dari dosa.

    BalasHapus