new post

zzz

Sabtu, 03 Maret 2012

Kelas D, (4), Oktavi Karunia, HADITS DORONGAN UNTUK MEMANFAATKAN PANCA INDRA SEMAKSIMAL MUNGKIN


MAKALAH
HADITS DORONGAN UNTUK MEMANFAATKAN PANCA INDRA SEMAKSIMAL MUNGKIN


Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah                     : Hadits Tarbawi 2
Dosen Pengampu             : Muhammad Ghufron, M. S.I



Copy of STAIN2.tif



Disusun Oleh
Nama          : OKTAVI KARUNIA  
NIM                        : 2021110159
Kelas           : D



JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012

PENDAHULUAN

Panca indra adalah salah satu anugerah manusiawi yang menyatu dalam fungsi manusia yang utuh. Panca indera pada dasarnya bekerja sebagai pengumpul informasis, data dan fakta guna mengetahui apa yang sedang terjadi.
Untuk mengoptimalkan fungsi panca indera, sensifitas dan ketajaman indera dan perlu terus ditingkatkan, dengan dukungan pengetahuan, hasrat dan latihan anda akan sangat mudah mengoptimalkan fungsi panca indera agar sesuai dengan kebutuhan.
Salah satu firman Allah adalah “Pergunakanlah fungsi panca indera ini sesuai dengan kebutuhan dan manfaat anda, dengan tidak melanggar prinsip-prinsip dan nilai-nilai”. (QS. Al-A’raf: 179)


PEMBAHASAN

A.      Hadits dorongan memanfaatkan panca indera semaksimal mungkin
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: وَكَانَ النَّبِيَّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَا هُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التّشَهُّرَ: اَللهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَ وَاَصْلِحْ ذَاتِ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنْ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَجِنَّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَاظَهرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِيْ اَسْمَأعِنَا وَاَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَاَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَاَجْعَلْنَا شاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا قَابِلِيْهَا وَتِمَّمَا عَلَيْنَا
(رواه ابو داود فى السنن, كتاب الصلاة, باب التشهد)[1]

B.       Terjemah Hadits 
Dari Abdullah dia berkata: “Nabi biasa mengajarkan kami beberapa kalimat dan beliau tidak mengajarkannya kepada kami sebagaimana beliau mengajarkan tasyahud yaitu “Ya Allah, rukunkanlah hati kami, damaikanlah diantara kami, tunjukilah kami kepada jalan kesejahteraan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kebenaran, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji yang terlihat dan yang tidak nampak, limpahkanlah berkah kepada kami pada pendengaran, penglihatan, hati, istri dan cucu kami. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang dan jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur terhadap nikmatmu, berterima kasih lagi menerimanya dan sempurnakanlah nikmat atas kami.[2]




C.      Mufrodat
Dari Abdullah dia berkata                                                    عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ  
وَكَانَ النَّبِيَّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ
Nabi biasa mengajarkan kami beberapa kalimat
dan beliau tidak mengajarkannya kepada kami              وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَا هُنَّ
sebagaimana beliau mengajarkan tasyahud                     كَمَا يُعَلِّمُنَا التّشَهُّرَ
Ya Allah, rukunkanlah hati kami                                اَللّهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَ
damaikanlah diantara kami                                                 وَاَصْلِحْ ذَاتِ بَيْنِنَا
tunjukilah kami                                                                                      وَاهْدِنَا
jalan kesejahteraan                                                                       سُبُلَ السَّلاَمِ
selamatkanlah kami dari kegelapan                                   وَنَجِّنَا مِنْ الظُّلُمَاتِ
menuju kebenaran                                                                              اِلَى النُّوْرِ
jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji                    وَجِنَّبْنَا الْفَوَاحِشَ
yang terlihat dan yang tidak nampak                        مَاظَهرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
limpahkanlah berkah kepada kami                                                   وَبَارِكْ لَنَا
pada pendengaran                                                                           فِيْ اَسْمَأعِنَا
penglihatan                                                                                         وَاَبْصَارِنَا
hati kami                                                                                              وَقُلُوْبِنَا
istri                                                                                                     وَاَزْوَاجِنَا
cucu (keturunan) kami                                                                       وَذُرِّيَّاتِنَا
dan terimalah taubat kami                                                            . وَتُبْ عَلَيْنَا
Sesungguhnya engkaulah Maha Penerima Taubat              اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ
lagi Maha Penyayang                                                                            الرَّحِيْمُ
dan jadikanlah kami                                                                            وَاَجْعَلْنَا
orang-orang yang bersyukur terhadap nikmatmu,               شَاكرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ
berterima kasih                                                                                  مُثْنِيْنَ بِهَا
menerimanya                                                                                        قَابِلِيْهَا
dan sempurnakanlah nikmat atas kami                                           وَتِمَّمَا عَلَيْنَ

D.      Biografi
Abdullah Ibn Mas’ud adalah Abdullah Ibnu Mas’ud Ibn Ghafil Ibn Habib Al-Mudzaly, seorang sahabat Nabi yang dahulu pernah bersumpah setia kepada Bani Zuhra.
Ibu beliau bernama Ummu Abdillah bin Abu Daud Ibn Sau-ah yang juga memeluk Islam dipermulaan Islam.
Beliau meriwayatkan sejumlah 848 hadits. Bukhari dan Muslim menyepakati sejumlah 64 hadits 21 diantaranya diriwaatkan oleh Bukhary sendiri dan 35 diantaranya oleh Muslim.
Beliau wafat di Madinah pada tahun 32 H dan dikembumikan di Baqi’. Jenazah beliau disemyamkan oleh Utsman. [3]

E.       Keterangan  Hadits
Dalam hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan beberapa kalimat selain tasyahud yaitu:
¢  Agar  mendamaikan hati kami,ada suatu pendapat bahwa  mendamaikan orang yang bertikai adalah memperbaiki keadaan diantara kamu sekalian  sehingga menjadi rukun.
¢  Agar dijauhkan dari perbuatan-perbuatan keji seperti zina
¢  Agar dilimpahkan berkah pada panca indera yang dimiliki
¢  Dan hal-hal tersebut dilakukan untuk mencapai kesempurnaan


F.       Aspek Tarbawi
 Agar kita mensyukuri pentingnya panca indera yang kita miliki terkadang kita perlu membuat perbandingan dengan saudara-saudara kita yang panca inderanya tidak berfungsi normal seperti kita, misalnya membandingkan penglihatan kita yang normal dibandingkan dengan mereka yang ditakdirkan tidak dapat melihat. Kita akan bersyukur karena bisa melihat dunia dengan segala warna-warnanya, begitupun halnya dengan pendengaran, lisan, penciuman dan sebagainya.[4]
Manusia harus memanfaatkan segala apa yang telah diberikan Allah kepada manusia baik berupa pendengaran, hati dan akal pikiran.
1.      Pendengaran, penglihatan dan hati dipakai untuk memahami dan mempelajari petunjuk-petunjuk Allah baik yang ada di al-Qur’an maupun di alam.
2.      Akal dan pikiran dipakai untuk memikirkan segala apa yang terjadi di alam semesta bahwa semuanya itu tidak ada yang sia-sia.
3.      Mulut dipakai untuk berkata-kata yang baik dan mengajak manusia kepada jalan yang diridhoi Allah.[5]



PENUTUP


Agar bisa mensyukuri pentingnya panca indera yang kita miliki terkadang kita perlu membuat perbandingan dengan saudara-saudara kita yang panca inderanya tidak berfungsi normal seperti kita. Manusia harus memanfaatkan segala apa yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia baik berupa pendengaran, penciuman, peraba, penglihatan dan perasa.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, H. Bey dan A. Syinqithy Djamaluddin. 1992. Tarjamah Sunan Abi Daud Jilid I. Semarang: CV. Asy-Syifa.

Ash-Shidieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Prof. Dr. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.

Sunan Abu Daud, Juz 3





[1] Sunan Abu Daud, Juz 3, hlm. 155
[2]  H. Bey Arifin dan A. Syinqithy Djamaluddin, Tarjamah Sunan Abi Daud Jilid I (Semarang: CV. Asy-Syifa, 1992), hlm. 660-661
[3]  Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shidieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 263-264

10 komentar:

  1. Nama : Taufiq Kurniawan
    NIM : 2021110181
    Pertanyaan:
    apakah boleh jika seseorang sebelum meninggal dia berwasiat untuk mendonorkan salah satu panca inderanya (misalnya mata), untuk seseorang tuna netra yang sedang mencari ilmu???
    apakah itu termasuk memanfaatkan panca indera semaksimal mungkin???

    BalasHapus
  2. Nama:Siti afifah
    Nim:2021110186
    Pertanyaan:
    bagaimana menurut anda cara yang tepat untuk memanfaatkan panca indra agar panca indra kita dapat bermanfaat secara maksimal?

    BalasHapus
  3. Nama :SUMANTTRI
    kelas : D
    NIM : 2021110168
    mencoba menjawab pertanyaan dari siti afifah, menurut pemahaman saya diantara caranya yaitu 1.dimana dan kapanpuun kita selalu ingat dan merasa diawasi oleh Allah swt.
    2.bersyukur dgn melihat org-org tg kurang sempurna dlm indranya misal org bisu.
    3.mempertambah ilmu kita khususnya agama shg tahu bahwa perbuatan itu buruk tdk diridhoi Allah dan dibenci nabi Muhammad saw.

    BalasHapus
  4. Nama:M.Saiful Amri
    NIM:2021110155
    kelas:D
    Ni'mat smpurna yg Spt apkh yg dmksud dlm hdis ni?
    Tl0ng dJlaskn

    BalasHapus
  5. nama: dewi shofiana
    nim: 2021110164
    kelas: d

    apakah ada batasan dalam memanfaatkan panca indra itu dengan sebaik mungkin ??????????????????jelaskan!!!!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  6. Nama: Li'ila Rokhmawati
    NIM: 2021110153
    Kelas: D (E)
    berikan contoh tentang keberkahan panca indra?????

    BalasHapus
  7. Nama : Himatul hidayah
    Nim : 2021110174
    Kelas : D
    Berbicara yang tidak jujur meruopakan bentuk dari kebiasaan. Nah bagaimana cara mengubah kebiasaan tersebut hilang?

    BalasHapus
  8. nama : zulfa nurfitriana
    nim : 2021110148
    kelas : D
    dimakalhdijelaskan bahwa agar bisa mensyukuri panca indra kita perlu membuat perbandingan dengan orang yang panca indranya tidak normal,lalu bagaimana jika tetap belum bisa mensyukurinya???

    BalasHapus
  9. 1.taufik kuniawan:
    boleh saja seseorang sebelum meninggalkan mewasiatkan salah satu panca inderanya,apalagi untuk mencari ilmu,
    menurut saya itu termasuk memanfaatkan panca indera semaksimal mungkin karena memberikan kesempatan seseorang untuk memanfaatkan panca inderanya yang didoborkan.
    2.siti afifah:
    seperti yang dijelaskan oleh sumantri di atas,saya akan menambahkan nenurut saya memanfaatkan panca indera dengan cara menggunakan panca indera sesuai dengan kebutuhan,dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi,misalnya dalam kegiatan belajar mengajar saat guru menjelaskan,tugas kita adalah mendengarkan dan mencatat penjelasan tersebut bukan malah menggunakan mulut kita untuk ngobrol sendiri.
    3.Saiful amri :
    maksud nikmat yang sempurna dalam hadits tersebut adalah nikmat keberkahan panca indera yang diberikan Allah.
    4.Dewi shofiana:
    dalam memanfaatkan panca indera meurut saya tidak ada batasannya,hanya saja untuk anak kecil yang belun bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dosanya ditanggung oleh orang tuanya.
    5.Himmatul hidayah :
    Menurut saya untuk mengubah kebiasaan tidak jujur dengan cara,mulailah untuk terbuka dan jujur diri kita sendiri,selain itu nulailah berpikir kita mau ga orang lain tidak jujur pada kita,,?kalau tidak kita marasa tidak mau dibohongi maka jangan bohong pada orang lain.dan mulailah belajar jujr sedikit demi sedikit.

    BalasHapus
  10. 6.li'ila rahmawati :
    contoh tentang keberkahan panca indera adalah panca indera selalu dijaga oleh Allah dari penyakit.panca indera diarahkan oleh Allah agar terhindar dari dosa.
    7. zulfa nurfitriana:
    mungkin cara diatas belum mengena dan akan mengena jika kita mengalami gangguan pada panca indear kita seperti saat kita terkena flu sehingga sulit untuk bernafas.jika masih belum bersyukur kita bisa menggunakan panca indera kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat seperti mencari ilmu.

    BalasHapus