Laman

1111

Minggu, 08 April 2012

H8-45 Dewi Ana


M A K A L A H
Penyelewengan Tugas Penyebab Rusaknya Tatanan
Disusun guna memenuhi salah satu tugas:
Mata Kuliah               :  Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu    : Ghufron Dimyati
stain-Pekalongan









Disusun Oleh:
Dewi Ana (2021110370)
Kelas H

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN

            Pemimpin dalam perspektif islam adalah imam. Kedudukannya sangat tinggi dan terhormat. Model kepemimpinan islam memang sering diilustrasikan dalam sholat berjama’ah. Maka bila tukang kebun atau tukang sampah telah disepakati menjadi imam. Siapapun ma’mumnya wajib mengikuti.
            Pemimpin dalam konsep islam menjadi mutlak dan wajib dihormati dan ditaati, karena tugas pemimpin tiada lain kecuali mensejahterakan rakyatnya. “Tasharraf al-iman manuthun bi al-maslahah al-ammah (tindakan dan kebijakan seorang pemimpin harus terkait langsung dengan kesejahteraan rakyatnya).”
            Kriteria pemimpin yang baik menurut al-qur’an adalah yang kredibel dan juga kapabel. Keduanya harus ada pada diri seorang pemimpin. Pemimpin harus jujur dan tidak boleh menipu rakyatnya karena aka nada balasan tersendiri bagi seorang pemimpin yang menipu rakyatnya.
Dalam makalah ini akan dibahas balsan bagi seorang pemimpin yang menipu rakyatnya.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadits

عاَدَعُبَيْدِاللِه بْنُ زِياَدٍمَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍالمُزَنِيَّ فِى مَرَضِهِ الَّذِىْ مَاتَ فِيْهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّى مُحَدِّثُكَ حَدِيْثًاسَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْعَلِمْتُ أَنَّ لِيْ حَيَاةًمَاحَدَّثَتُكَ إِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَامِنْ عَبْدٍيَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةُ يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَغَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّحَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ                                                 
B.     Terjemah Hadits
Ubaidillah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar Al-Muzani yang sedang sakit dan menyebabkan kematian, Ma’qil lalu berkata: Sungguh aku ingin menceritakan kepadamu sebuah hadits yang aku pernah mendengarnya dari Rasulullah SAW. Sekiranya aku mengetahui bahwa aku (masih) memiliki kehidupan, niscaya aku tidak akan menceritakannya. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa diberi amanat oleh Allah SWT untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaaan menipu rakyatm niscaya Allah mengharamkan surge atasnya.[1]








C.    Mufrodat
-            عاَدَ                : mengunjungi            
-            مَرَض             : sakit                          
-            مَات                 : mati                          
-            عَبْد                  : hamba (manusia)
-            يَسْتَرْعِيْه           : diamati
-            غَاشٌّ                : menipu
-            الْجَنَّةَ                : surga

D.    Biografi Perawi
Nama lengkap beliau adalah Al-hasan bin yasar, yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-basri.ulama’ generasi salaf terkemuka yang hidup dibawah asuhan dan didikan salah seorang istri rosulullah SAW yakni Hindun binti Suhail yang lebih dikenal dengan Ummu Salamah. Ibu kandung beliau bernama Khairoh, beliau adalah mantan “maula” (pembantu wanita) dari Ummu Salamah.
Waktu terus berjalan seiring dengan semakin akrabnya hubungan antara al-hasan dengan keluarga Nabi SAW, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk beruswah (berteladan) pada keluarga Rasulullah SAW. Al-Hasan merengguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada dimasjid Nabawi.
Ditempa orang-orang sholeh, dalam waktu singkat beliau mampu meriwayatkan hadits dari Usman bin Affan, Ali bin Abi tholib, dan sahabat lainya.
Pada usia 14 tahun beliau pindah bersama orang tuanya kekota Basrah, dan menetap disana. Dari sinilah beliau mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Dibasrah, beliau lebih banyak tinggal dimasjid mengikuti halaqohnya Ibnu Abbas, dari sinilah beliau banyak belajar ilmu tafsir, hadits dan qiro’at.
Pada malam jum’at , diawal tahun 110 H, beliau memenuhi panggilan Allah SWT. Beliau wafat dalam usia 80 tahun. Beliau wafat di Naisabur. [2]

E.     Keterangan Hadits
Hadits diatas menjelaskan, bahwa kejujuran adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepimimpinan. Sebuah kepemimpinan bila tidak didasarkan atas kejujuran orang-orang yang terlibat didalamnya, maka kepemimpinan tersebut tidak akan berjalan dengan baik.
Seorang pemimpin harus memberi suri tauladan yang baik kepada pihak-pihak yang dipimpinnya. Suri tauladan ini diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan pemimpin yang tidak menipu dan melikai rakyatnya. Namun, kejujuran disini tidak bisa hanya mengandalkan kepada pemimpinnya saja. Akan tetapi semua komponen yang terlibat didalamnya, baik itu pemimpinnya, pembantunya, staf-stafnya, hingga struktur yang paling bawah.
Dalam hadits diatas telah dijelaskan. Pemimpin yang tidak jujur atau menipu dan melukai hati rakyatnya. Niscaya Allah SWT mengharamkan baginya surga.[3]

F.     Aspek Tarbawi
1.      Kejujuran adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepemimpinan.
2.      Kita harus menjalankan amanat sesuai dengan apa yang ditugaskan.
3.      Pemimpin harus memberi suri tauladan yag baik kepada anggotanya.
4.      Seorang pemimpin harus memberikan keputusan yang bijak dan tidak menipu anggota atau rakyatnya.


BAB III
KESIMPULAN

            Pemimpin yang baik harus memberikan suri tauladan bagi anggota yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus memiliki beberapa sifat baik sebagai berikut : shiddiq, benar dalam berkata, sikap dan perbuatan serta adil.
            Seorang pemimpin harus jujur dan tidak boleh menipu anggota atau rakyatnya karena aka nada balasan tersendiri bagi pemimpin yang menipu rakyatnya.
            Balasan bagi pemimpin yang menipu rakyat atau anggotanya adalah Allah SWT mengharamkan baginya surge seperti yang dijelaskan pada hadits diatas.




















DAFTAR PUSTAKA
Shohih Muslim. Kitab al-Iman bab istihqoqu walilghosyi liro’iyatinnar, jilid 2

Kitab Tahdibu Tahdib, jilid 8

 http://nasehatideologis.wordpress.com/40-hasits-tentang-pemimpin/






[1] Shohih Muslim. Kitab al-Iman bab istihqoqu walilghosyi liro’iyatinnar, jilid 2, hlm.165-167
[2] Kitab Tahdibu Tahdib, jilid 8, hlm.273
[3] http://nasehatideologis.wordpress.com/40-hasits-tentang-pemimpin/

8 komentar:

  1. Krisna Ayu Diana (2021110348)

    Bagaimana cara seorang pemimpin dalam memberikan keputusan secara bijak yang menyangkut rakyatnya? Apa saja pertimbangan-pertimbangannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. cara seorang pemimpin dalam memberikan keputusan secara bijak yang menyangkut rakyatnya dan pertimbangannya yaitu :
      1. adil
      ketika seorang pemimpin memberikan keputusan harus dengan keadilan, adil bukan berarti sama rata tapi menempatkan sesuatu sesuai tempatnya.
      2. mengutamakan kepentingan umum
      seorang pemimpin ketika memberikan keputusan harus mempertimbangkan segalanya dan mengutamakan kepentingan umum (masyarakat)dibanding kepentingan pribadi.

      Hapus
  2. sokhiyah 2021110379
    bagaimana cara mengatasi apabila di suatu pemerintahan terjadi penyelewengan, seperti korupsi di Indonesia.?

    BalasHapus
    Balasan
    1. cara mengatasi penyelewengan dalam pemerintaha seperti korupsi adalah dengan menghukumnya, menurunkan jabatanya dan membuat undang-undang yang lebih kuat untuk mencegah terjadinya penyelewengan lagi.

      Hapus
  3. Suswati (2021110358)

    Pada masa Rasullah dan Sohabat dulu apakah saja upaya yang dilakukan Rasulullah dalam menyikapi penyelewengan tugas yang dilakukan seorang pemimpin?

    BalasHapus
  4. assalamualaikum mb dhe- u'..
    mw tanya niiih...he
    * jelaskan lebih lanjut tentang kriteria pemimpin yang kredibel dan juga kapabel..?
    * seperti apa ciri pokok yang paling menonjol pada seorang pemimpin yang sudah bisa dikatakan menjadi pemimpin yang sebenarnya ?

    wasslkum, :D
    NIM Q : 2021110365

    BalasHapus
  5. ROUDLOTUL JANNAH 2021110381
    bagaimana sikap yang harus kita ambil apabila seorang pemimpin telah terbukti berbuat salah???apakah pemimpin tersebut harus turun jabatan atau bagaimana??

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya sikap yang harus kita ambil apabila seorang pemimpin telah terbukti berbuat salah ada 2 tahapan yaitu :
      1. teguran
      ketika pelanggaran tersebut tanpa sengaja atau ringan.
      2. hukuman dan turun jabatan
      ketika penyelewenganya atau kesalahanya ermasuk kategori berat seperti korupsi,dll.

      Hapus