Laman

new post

zzz

Senin, 09 Juli 2012

M. Ghufron Dimyati: "Pendidikan Indonesia: Melahirkan Koruptor?"

Bangsa Indonesia mengklaim sebagai bangsa "religius". Religius berarti selalu bernuansa dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan. Sensus Penduduk tahun 2010 tercatat dari jumlah penduduk 237.641.326 jiwa ada sejumlah 207.176.162 jiwa atau sekitar 89 % dari total penduduk (Mei 2012 diperkirakan 244.775.796 jiwa). Artinya sah saja klaim sebagai mayoritas berpenduduk muslim. Hal ini berimplikasi pada tatanan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang bernafaskan nilai-nilai keislaman.
Konteks pendidikan di Indonesia sangat intens, baik yang berbasis keagamaan maupun umum. Pertanyaannya: Mengapa praktek korupsi justru merajalela di bumi yang berpenduduk mayoritas muslim? mengapa koruptor kebanyakan seorang muslim? Mengapa di kementrian Agama malah sarang koruptor? Mengapa Al-Qur'an pun dikorupsi? mengapa ...? mengapa ...?
Bapak Musthofa Ya'kub, Imam Besar Masjid Istiqlal dalam acara JLC TVOne tanggal 8 Juli 2012 menyebut bahwa banyak praktek korupsi di negeri ini karena beragama sekedar formalitas, belum menerapkan nilai-nilai agama sebagai nafas kehidupan sehari-hari. Hal ini menimpa justru di kalangan terpelajar, cendekia ataupun para sarjana muslim. Menurut beliau pendidikan Indonesia sejak merdeka hanya mengejar kecerdasan intelektual, namun mengesampingkan kecerdasan moral, pendidikan di Indonesia tidak mempraktekkan bagaimana Nabi Muhammad SAW dulu mengajarkan kepada para Shahabat. Metode yang dipakai adalah aplikatif-praktik, artinya Nabi mengajarkan Al-Qur'an ataupun Hadits langsung dipraktekkan dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, tidak sekedar teori yang akhirnya hanya sebatas pengalaman.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa maraknya praktik korupsi di Indonesia karena ada yang salah dalam memprogram metode pendidikan, dari mengejar ijazah, nilai, kecerdasan intelektual ataupun menumpuk segudang pengalaman dan teori belaka tanpa diimbangi dengan pengintegrasian dan pengamalan nilai dan ilmu yang telah dipelajari. Di sini nampak jelas urgensi membangun karakter dan mental serta kecerdasan moral menjadi manusia yang beriman, bertakwa dan beramal sholeh.
Semoga kita terhindar dari praktik "korupsi" dan segala derivasinya agar menjadi insan yang diridloi oleh Allah SWT, amiiin ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar