Laman

Minggu, 14 Oktober 2012

pengkur TB1 : tujuan kurikulum

pengkur TB1 : tujuan kurikulum - word

pengkur TB1 : tujuan kurikulum - ppt






Tujuan Kurikulum
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas:
   Mata Kuliah             : Strategi Pembelajaran
Dosen Pengampu        : M. HUFRON, M.S.I


Disusun Oleh :
·         Zamrudah                  ( 3421010110 )
·         Milatina                      ( 3421010112 )
·         Maela Alfafarah         ( 3421010111 )
·         Ahmad Mufid Thohir ( 3421010108 )

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM KI AGENG PEKALONGAN
(STIKAP) YMI WONOPRINGGO
TAHUN 2012


KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,,,,,
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah, atas segala limpahan kasih sayang-Nya, serta nikmat yang telah diberikan kepada kita, makalah “TUJUAN KURIKULUM” akhirnya bisa terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, serta semua pengikut setinya. Amiin
Semoga Allah SWT memberikan kita ilmu yang bermanfaat, mengajarkan kita sesuatu yang berguna dan menambahkan ilmu pengetahuan kita. Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan dan kita memohon perlindungan-Nya dari penghuni neraka.
Makalah ini dibuat sebagai tugas yang harus diselesaikan guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pengembangan Kurikulum, Sekolah Tinggi Agama Islam Ki Ageng Pekalongan.
Dalam penulisan makalah ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu mendoakan dalam menyelesaikan tugas ini, khususnya kepada:
1.      Bapak Moh. Hufron Dimyati, M.S.I selaku dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum, yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, motivasi, serta ilmu pengetahuan.
2.      Temen-temen seperjuangan, mahasiswa STIKAP khususnya kelas T1B TA 2012
3.      Tidak ketinggalan, penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan segalanya, demi tercapainya cita-cita penulis.
4.      Serta semua pihak-pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan semuanya penulis ucapkan Jazakumullah Ahsanal Jaza.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat buat kita semua, serat penulis mohon maaf atas semua kekurangan dalam penulisan makalah ini, saran-saran kalian bisa dikirim lewat sms ke no:085869017526 atau kirim ke e-mail anaalthafulnissa@rocketmail.com




Pekalongan, Oktober  2012


Penulis

i


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR  ............................................................................................................  i
DAFTAR ISI  ..........................................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang  ...........................................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah  .....................................................................................................   1
BAB II PEMBAHASAN
A.     Sumber-sumber Kurikulum   ................................................................................................  .. 2
B.     Tingkatan Tujuan Kurikulum .................................................................................................  3
C.     Perumusan Tujuan   ................................................................................................................  4
D.     Cara Merumuskan Tujuan  .....................................................................................................  5
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan  ...........................................................................................................................  6
DAFTAR PUSTAKA  ........................................................................................................................  7












ii

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pada dasarnya pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dan anak didik dalam upaya membantu anak didik mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi tersebut dapat berlangsung di lingkungan pendidikan seperti keluarga, sekolah dan masyarakat.
Sebelumnya pertemuan yang lalu, sudah kita bahas bersama tentang Komponen-komponen Kurikulum, dimana komponen-komponen yang terlibat dalam kuikulum adalah tujuan, materi, media, dan evaluasi, komponen-komponen tersebut saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya[1].
Tiap rencana harus mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapai. Tujuan juga memberi pegangan apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannnya. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui hingga mana tujuan itu telah dicapai.
Apalagi dalam pengembangan kurikulum yang mengenai nasib jutaan anak manusia, tujuan itu sangat penting yang harus ditanggapi secara serius. Dalam perencanaan kurikulum dewasa ini perhatian terhadap perumusan tujuan merupakan ciri yang paling menonjol. Kita ketahui bahwa kurikulum 1975 dinyatakan berorientasi pada tujuan, ini tidak berarti bahwa sebelumnya tujuan itu tidak dipertimbangkan dalam pendidikan dan pengajaran. Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap persiapan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu, sehingga jelas. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tayler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) mempunyai pengaruh yang besar sekali[2].
Dengan diundangkannya Undang-undang Republik Indonesia  Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah Otonom, pada hakikatnya memberi kewenangan dan keleluasan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan serta kebutuhan masyarakatnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai denga peraturan perundangan yang berlaku. Namun dilapangan sering menjadi bias, sehingga dampak otonomi ini telah membuat birokrasi di daerah sarat dengan penguasa otoriter.
Perubahan sistem yang dimaksud adalah dari yang sebelumnya bersifat sentralistik menjadi desentralistik[3]. Pergeseran pola dalam pengelolaan pendidikan ini merupakn upaya pemberdayaan daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Salah satunya upaya peningkatan mutu pendidikan adalah menyempurnakan kurikulum, diantaranya tentang Tujuan Kurikulum itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami merumuskan beberapa masalah pokok, yaitu:
1.      Dari mana sumber-sumber tujuan kurikulum?
2.      Tingkatan-tingkatan tujuan kurikulum?
3.      Bagaimana cara merumuskan tujuan kurikulum?
4.      Bagaimana cara menentukan Perumusan tujuan?

1

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Sumber-sumber Tujuan
Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional  dengan
Dari manakah diperoleh tujuan kurikulum?
Menurut Taba, tujuan kurikulum itu bisa diperoleh di beberapa sumber, diantaranya:
1.      Kebudayaan Masyarakat
2.      Individu
3.      Mata Pelajaran, disiplin ilmu
Fungsi pendidikan dapat dipandang sebagai pengawet dan penerus kebudayaan agar anak menjadi anggota masyarakat sesuai dengan pandangan hidup atau falsafah bangsa dan negara. Ada kalanya diharapkan agar sekolah turut serta memberantas kekurangan-kekuranagan dalam masyarakat misalnya, polusi, pengrusakan alam, narkotika, dan berusaha secara aktif untuk memperbaiki dan membangun masyarakat yang lebih bahagia. Seperti kita ketahui penganut konsep rekontruksi sosial sangat mengutamakan tujuan serupa itu. Kurikulum yang dihasilkan lebih bersifat “society centered” atau berorientasi pada masyarakat. Oleh sebab kurikulum ini ditentukan oleh orang dewasa, maka kurikulum itu juga bersifat “adult-centered”. Kurikulum ini banyak ditentukan oleh golongan yang ingin mengutamakan anak sebagai sumber utama bagi tujuan kurikulum dalam bentuk kurikulumyang ”child-centered”.
Pertentangan antara kurikulum yang society-centered dan child-centered dalam praktek tidak setajam apa yang digambarkan dalam teori. Antara anak dan masyarakat senantiasa terdapat interaksi. Anak hidup dalam masyarakat, memperoleh tujuan hidupnya dari masyarakat. Kebutuhannya ditentukan oleh masyarakat tempat ia hidup. Tujuan pendidikan tidak dapat dipahami semata-mata berdasarkan kepentingan individu. Adanya perbedaan individu yang juga harus diperhatikan dalam pendidikan justru dapat memperkaya kehidupan masyarakat. Maka sebenarnya individualisasi dan sosialisasi bukan dua hal yang bertentangan melainkan yang bersifat komplementer dan saling melenngkapi.
Sumber tujuan ketiga ialah pengetahuan yang dituangkan dalam berbagai disiplin ilmu. Anak dikirim ke sekolah oleh orang tua agar anak itu belajar ilmu, mengumpulkan sebanyak-banyaknya pengetahuan. Di samping berbagai tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan sekolah, aspek pengetahuan masih tetap merupakan tujuan utama, yang diperoleh melalui berbagai mata pelajaran. Aspek inilah yang dapat membawa anak kepada tingkat pendidikan yang setinggi-tingginya.
Apa yang diutamakan dalam pengembangan kurikulum banyak bergantung pada konsep para pengembang tentang kurikulum,apakah sebagai rekontruksi sosial, aktualisasi diri, atau kognitif-akademik. Seperti yang telah kami kemukakan semua konsep itu biasanya diterapkan dalam setiap kurikulum dewasa ini sekalipun dalam proporsi penekanan yang berbeda-beda. Pendirian itu juga bertalian dengan konsep pengembangan kurikulum tentang fungsi sekolah, apakah konservasi (pengawetan) dan transmisi (penerus) kebudayaan, ataukah sebagai transformasi kebudayaan atau rekontruksi sosial, ataukah sebagai aktualisasi diri atau pengembangan individu.



2
Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memerhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.[4] Pencapaian idealisme tujuan pendidikan nasional itu secara sistematis dapat dilakukan dengan melakukan perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum atau lebih tepatnya pengembangan kurikulum menjadi penting karena dinamika ilmu pengetahuan berkembang dengan begitu cepat sehingga menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru.
Pada dasarnya pengembangan kurikulum sejenis KBK masih tetap melakukan rujukan pada kurikulum-kurikulum sebelumnya dengan perubahan pada pendekatan, orientasi, maupun sistem pengelolaannya. Hal ini terjadi karena adanya perubahan trend zaman, sehingga harus dipikirkan mana yang harus tunduk pada perubahan yang terjadi.
  
B.     Tingkat tujuan Kurikulum
 Merumuskan tujuan kurikulum ternyata banyak seluk-beluknya. Tujuan itu berbeda-beda tingkatannya. Ada tujuan pada tingkat nasional yang bertakian erat dengan falsafah bangsa dan negara dan dengan politik negara pada suatu saat. Tujuan pendidikan nasional tak dapat tiada bersifat sangat umum seperti membentuk manusia Pancasila, manusia demokrasi, manusia yang taqwa kepada Tuhan, manusia pembangunan, dan sebagainya.
Segala tujuan kurikulum lainnya harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional itu dan harus merupakan langkah dan sumbangan ke arah perwujudannya. Ini dilakukan melalui berbagai tingkatan pendidikan dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Tiap lembaga pendidikan mempunyai apa yang disebut tujuan institusional. Tujuan ini pun masih sangat umum dan tak akan tercapai oleh satu tingkatan pendidikan saja. Maka karena itu kita lihat bahwa tujuan institusional dalam kurikulum 1975 bagi SD, SMP, dan SMA bunyinya sama. Jadi sukar dibedakan tujuan apakah sebenarnya yang harus dicapai di SD, SMP, dan SMA.
Tujuan institusional pendidikan suatu sekolah, selalu dijabarkan dari tujuan pendidikan yang lebih luas, yaitu tujuan pendidikan nasional. Sesuai dengan kurikulum 1975, pembakuan tujuan institusional itu dituangkan dalam buku I tentang “Ketentuan-ketentuan pokok” dalam bentuk tujuan umum dan tujuan pendidikan khusus[5].
Tujuan umum pendidikan akan berupa pernyataan-pernyataan tujuan yang lebih umum akan dicapai oleh proses pendidikan di sekolah. Sedangkan tujuan khususnya sudah merupakan pernyataan-pernyataan khusus yang memuat tujuan pendidikan ditinjau dari bidang pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap.
Tujuan tiap lembaga pendidikan dicapai melalui berbagai pelajaran yang lazim disebut tujuan kurikuler. Tujuan yang tercantum dalam tujuan institusional ternyata tidak dapat dicapai melalui salah satu matapelajaran, misalnya berpikir kritis objektif. Tujuan ini terdapat dalam berbagai matapelajaran atau bidang studi.
Agar dapat berpikir kritis ini dapat dicapai seharusnya tiap guru menyadari tujuan itu dan dengan sengaja berusaha untuk mengembangkannya dalam pelajaran yang diberikan masing-masing. Prinsip ini lebih penting lagi bila mengenai tujuan nasional, yaitu membentuk manusia Pancasila.

3
Selain itu tiap matapelajaran mempunyai bukan hanya satu melainkan beberapa tujuan. Kesusastraan misalnya antara lain bertujuan untuk memperkenalkan pengarang, ahli sastera serta karyanya, dapat pula membangkitkan kepekaan keindahan bahasa, atau mendidik siswa menghasilkan karya sastera, dan sebagainya.
Walaupun setiap matapelajaran mempunyai tujuan, sering tujuan itu kurang disadari oleh guru maupun para siswa. Mereka misalnya tidak menyadari dan tidak dapat merumuskan tujuan kimia, sejarah, fisika, IPS, bahkan agama PMP selain penguasaan sejumlah pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapi penilaian dan ujian. Dengan demikian hakikat suatu matapelajaran serta nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya tidak dimanfaatkan sepenuhnya untuk membentuk pribadi siswa sebagai individu dan sebagai warganegara.

C.     Perumusan Tujuan
Agar suatu tujuan dapat diwujudkan diingikan agar perumusannya spesifik. Tiap matapelajaran mempunyai sejumlah tujuan, seperti menghargai keindahan karya sastera. Namun tujuan serupa itu masih dianggap umum dan harus dirinci lagi, dispesifikan, sehingga berupa bentuk kelakuan yang dapat diamati dan dengan demikian dapat pula diukur taraf ketercapainnya.
Hilda Taba memberikan beberapa petunjuk tentang cara merumuskan tujuan, antara lain:
a.       Tujuan itu hendaknya berdimensi dua, yakni mengandung unsur proses dan produk. Yang termasuk proses antara lain menganalisis, menginterpretasi, mengingat, dan sebagainya. Produk adalah bahan yang terdapat dalam tiap matapelajaran. Jadi tujuan dapat berbunyi seperti: menganalisis sebab-sebab terjadinya revolusi, menafsirkan makna peraturan pajak, memahami dan menghafal rumus-rumus tentang gravitasi, dan sebaginya.
b.      Menganalisis tujuan yang bersifat umum dan kompleks menjadi spesifik sehingga diperoleh bentuk kelakuan yang diharpkan dan diamati.
c.       Memberi petunjuk tentang pengalaman apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Misalnya menghasilkan karya sastera tidak diperoleh dengan membaca karya sastera akan tetapi dengan membuat suatu karangan yang mengandung corak seni.
d.      Menunjukkan bahwa suatu tujuan tidak selalu dapat dicapai segera akan tetapi ada kalanya memakan waktu yang lama, seperti berfikir kritis, menghargai seni sastera, dan sebagainya. Sering dalam perumusan tujuan timbul kesan bahwa suatu ketrampilan berfikir atau sikap dapat diwujudkan dalam satu-satuan pelajaran tertentu.
e.       Tujuan harus realistis dan dapat diterjemahkan dalam bentuk kegiatan atau pengalaman belajar tertentu. Tujuan yang terlampau umum dan muluk sering mirip dengan slogan-slogan yang indah, merupakan harapan-harapan yang hampa. Itu sebabnya sering terdapat jurang yang lebar antara apa yang dicantumkan dalam buku kurikulum dengan apa yang nyata dilakukan di dalam kelas. Yang satu disebut ”ideal curriculum”, yang merupakan cita-cita, yang kedua ”real curriculum” kurikulum yang nyata. Sekalipun setiap kurikulum selalu menggambarkan “das sollen”, apa yang dicita-citakan namun janganlah hendaknya terlampau jauh jaraknya dengan “das sein”, yang nyata. Rencana apapun yang terlampau menjauhi apa yang dapat direalisasikan akan menimbulkan kekecewaan, atau akan menghilangkan makna rencana, atau makna dalam hal ini kurikulum, yang akhirnya tidak dipedulikan dan hanya disimpan dalam lemari di kantor kepala sekolah saja.
4
f.       Tujuan itu harus komprehensif , artinya meliputi segala tujuan yang ingin dicapai di sekolah, bukan hanya penyampaian informasi, akan tetapi juga ketrampilan berfikir, hubungan sosial, sikap terhadap bangsa dan negara, dan sebagainya.

D.     Cara Merumuskan Tujuan
Tentang cara merumuskan tujuan, Robert F. Mager memberi petunjuk, sebagai berikut:
1.         Tujuan itu harus spesifik dan dinyatakan dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan dapat diukur, hingga manakah tujuan itu dicapai.
2.         Harus dinyakan dalam kondisi apa tujuan itu dicapai, misalnya apakah menghitung dengan menggunakan kalkulator.
3.         Harus pula ditentukan kriteria tentang tingkat keberhasilan yang harus dicapai oleg siswa, misalnya membaca rata-rata sekian kata dalam satu menit.
4.         Dalam perumusan tujuan hendaknya digunakan kata-kerja yang menunjukan apa yang dapat dilakukan siswa setelah belajar. Misalnya kata kerha memahami, tidak serasi karena tidak dapat diobservasi, sebaliknya kata kerja “dapat menjelaskan”, “menyebutkan” menunjukkan bentuk kelakuan yang nyata yang dapat diamati bahkan diukur kebenarannya.
Davies, cs., memberikan petunjuk yang dapat melengkapi cara perumusan tujuan spesifik menurutMager. Langkah-langkah yang mereka anjurkan ialah:
·           Cari atau tentukan suatu tujuan yang ada maknanya bagi siswa.
·           Tentukan suatu “referent situation” yaitu suatu situasi dimana tujuan itu dapat diterapkan secara nyata, misalnya berbahas inggris dalam toko inggris.
·           Tulis suatu teks berkenaan dengan situasi refernsi itu yang dengan cermat menggambarkan kondisi, kelakuan, dan standar kelakukan dalam situasi itu. Tujuannya ialah agar siswa dapat menerapkan apa yang dipelajarinya dalam situasi nyata.
·           Tulis tujuan instruksional dalam bentuk kelakuan yang nyata yang berhubungan dengan situasi referensi itu[6].
Baik pada Magermaupun Davies, cs., diinginkan agar apa yang dipelajari itu menjadi milik siswa, benar-benar dikuasainya dan dapat diterapkannya.












5
BAB III
PENUTUP
A.     Simpulan
Dari isi makalah diatas bisa di simpulkan:
o   Tujuan kurikulum menentukan apa yang harus dicapai, apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukan, dan merupakan petunjuk hingga manakah tujuan itu telah tercapai.
o   Kurikulum 1975 berorientasi pada tujuan untuk mengarahkan segala aspek kurikulum yang lainnya.
o   Tujuan harus dikhususkan agar lebih jelas diketahui dalam perencanaan komponen-komponen lainnya dalam kurikulum.
o   Sumber-sumber bagi tujuan kurikulum adalah: kebudayaan dan masyarakat, individu dan kebutuhannya, disiplin ilmu dan matapelajaran.
o   Tujuan pendidikan mempunyai berbagai tingkatan: nasional, institusional, kurikuluer. Tujuan pada tingkatan yang lebih rendah harus memberi sumbangan untuk merealisasikan tujuan yang lebih tinggi.
o   Tujuan harus secara lebih spesifik. Untuk itu sejumlah tokoh memberikan petunjuk antara lain, Hilda Taba, Robert Mager, Davies, cs. Semua petunjuk saling melengkapi.
o   Keputusan tentang tujuan kurikulum diambil pada berbagai tingkatan. Pada tingkat yang paling tinggi keputusan itu bersifat politis yang berkenaan dengan falsafah dan politik negara, pada tingkat paling rendah bersifat teknis.
























6
DAFTAR PUSTAKA
           t          Baharuddin. 2011. Pendidikan Humanistik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
           t          S. Nasution. 1993. Pengambangan Kurikulum. Bandung: Citra Aditya Bakti
           t          Nurhadi. Muljani A. 1983. Administrasi Pendidikan di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset
           t          Zaini, Muhammad, MA. 2009. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: Teras






















7


[1] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, h. 81
[2] S. Nasution, pengembangan Kurikulum, h. 40
[3] Baharuddin, Pendidikan Humanistik, h. 218
[4] Ibid. hal, 219
[5] Muljani A. Nurhadi, Administrasi Pendidikan di Sekolah. Hal, 208
[6] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, hal. 46

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar