Laman

Minggu, 22 Februari 2015

H-2-07: Siti Aisyah



Masjid Pusat Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
 Mata kuliah   : Hadist Tarbawi II


Disusun oleh :
 Siti Aisyah      2021113172
 Kelas H

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
 

Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat, dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah, yaitu mata kuliah Hadis Tarbawi II yang berjudul “Masjid Sebagai Pusat Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan”, dengan lancar dan baik tanpa suatu  halangan apapun. Dalam menyelesaikan tugas makalah tersebut, penulis mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, terutama orang tua penulis dan dosen pengampu mata kuliah Hadis Tarbawi II yang telah memberikan bimbingan dan arahannya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
Penulis juga mengucapkan terimakasih atas bantuan dan dukungannya kepada pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Kemudian penulis berharap, semoga dengan adanya makalah ini, dapat menambah wawasan kita mengenai fungsi Masjid dan meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap Masjid.















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu yang menjadi tujuan pendidikan Islam adalah untuk membimbing dan mengarahkan anak didik supaya menjadi muslim yang beriman teguh sebagai refleksi dari keimanan yang telah dibina oleh penanaman pengetahuan agama yang harus dicerminkan dengan akhlak yang mulia.
Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut, peran pendidik dan lembaga-lembaga pendidikan yang merupakan pusat pendidikan sangatlah diperlukan sehingga proses transformasi ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai Islam pada peserta didik dapat mencapai keseimbangan dan kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan.
Oleh karena itu, dalam pembahasan ini akan dipaparkan salah satu tempat yang menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan yang berlangsung dalam kehidupan kita yaitu masjid karena kita ketahui masjid merupakan tempat yang juga berperan dalam pendidikan dan pengetahuan.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Masjid
Secara etimologis, kata masjid berasal dari bahasa Arab, kata pokoknya sujudan, fi’il madhinya sajada (ia sudah sujud) lalu menjadi isim makan masjidu, yang berarti tempat sujud.
Secara terminologis masjid adalah suatu bangunan yang mempunyai nilai kudus bagi umat Islam sebagai tempat ibadah, terutama dalam jamaah. Namun pada sisi lain masjid juga sebagai tempat untuk menaburkan benih pengembangan dan pembinaan umat Islam, baik menyangkut segi peribadatan, pendidikan maupun segi sosial dan pendidikan. Masjid sebagai lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh umat Islam juga berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat terutama berkaitan dengan kegiatan pendidikan keagamaan.
Masjid, dalam perspektif pendidikan nasional di Indonesia adalah merupakan wadah atau lembaga pendidikan Islam yang akomodatif terhadap aspirasi umat Islam dan berorientasi kepada misi Islam melalui tiga dimensi pengembangan kehidupan manusia, yaitu:
a.       Dimensi kehidupan ukhrawi yang mendorong menusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhannya.
b.      Dimensi duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Tuhan untuk mengembangkan dirinya dengan ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai Islam.
c.       Dimensi kausalitas hubungan dunia dan akhirat yang mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba yang utuh dan paripurna dalam ilmu dan amal, serta sekaligus menjadi pendukung dan pelaksana nilai-nilai Islam (M. Arifin,1991:31).[1]

B.     Teori Pendukung
Berdasarkan sejarah masjid Nabawi di Madinah yang didirikan oleh Rasulullah saw, dapat dijabarkan fungsi dan peranan masjid pada masa itu, yaitu tercatat tidak kurang dari sepuluh peranan dan fungsi masjid Nabawi di antaranya sebagai tempat ibadah (shalat, zikir), konsultasi dan komunikasi berbagai masalah termasuk ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, santunan sosial, latihan militer dan persiapan peralatannya, pengobatan korban perang, perdamaian dan pengadilan sengketa, menerima tamu (di aula), menawan tahanan dan pusat penerangan dan pembela agama (Sumalyo,2000: 2).
Bahkan lebih jauh lagi al Quran menyebutkan fungsi masjid dalam firman-Nya sebagai berikut :

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ⌂ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ⌂

Artinya: “Bertasbihlah kepada Allah di dalam masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut-sebut nama-Nya didalamnya diwaktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaandan tidak (pula) oleh jual beli, atau aktifitas apapun dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat, membayar zakat, mereka takut pada suatu hari yang dihari itu hati dan penglihatan menjadi guncang”. (Q.S an Nur:36-37)
Masjid dibangun untuk memenuhi keperluan ibadah Islam, fungsi dan peranya ditentukan oleh lingkungan, tempat dan jamaah dimana masjid didirikan. Secara prinsip masjid adalah tempat membina umat.[2]
Fungsi Masjid di Zaman Sekarang
Masjid  menjadi simbol kebesaran  Islam, namun jauh dari kegiatan memakmurkannya.  Masjid  sejak zaman Rasulullah SAW telah dijadikan pusat kegiatan  Islam. Dari  Masjid  Rasulullah SAW membangun umat  Islam, dan mengendalikan pemerintahannya,  namun saat ini,  Masjid  masih belum diberdayakan secara proposional bagi pembangunan umat  Islam. Memang tidak mudah untuk mengajak umat kembali ke  Masjid  seperti pada zaman Rasulullah SAW, tetapi semua umat Islam berkewajiban untuk menerapkannya kembali sesuai dengan syariat Islam. Memakmurkan  Masjid  memiliki arti yang sangat luas, yakni menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah.  Di antara kegiatan yang tergolong memakmurkan  Masjid  saat ini  adalah (Supardi dkk: 2001:26)
1.  Pengelolaan Masjid yang professional
2.  Menyemarakkan Majelis taklim
3.  Taman pendidikan Al-Qur’an
4.  Memberdayakan remaja Masjid
5.  Mengelola perpustakaan
6.  Mengelola keuangan Masjid sesuai prinsip-prinsip Islam
7.  Unit pelayanan zakat
8.  Baitul Maal
9.  Bimbingan penyelenggaraan haji dan umrah, dll.
Selain kegiatan-kegiatan di atas, pengurus  Masjid  harus tanggap terhadap kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. Kendala-kendala maupaun masalah-masalah sosial yang dialami warga sekitarnya, misalnya kelaparan, musibah, kesusahan, kefakiran, deviasi sosial, kenakalan remaja, musafir.
Oleh karena  Masjid  merupakan instrumen pemberdayaan umat, yang memiliki peranan sangat strategis dalam upaya peningkatan kualitas masyrakat dan kesejahteraan umat, maka pengelolaan manajemen Masjid harus professional. Seorang pengelola  Masjid  yang mendapat amanah Allah SWT untuk mengurus  Masjid, haruslah seorang yang ikhlas, jujur, amanah, adil, disiplin, bertanggung jawab, peduli, bisa bekerja sama, bahkan dia seharusnya seorang visioner, berfikir maju bagaimana  Masjid  bisa memberi manfaat yang banyak kepada umat.[3]

C.    Hadist tentang Masjid Pusat Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

أَبو بُرَيْدَةَ يَقُولُ: {كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُنَا إِذْ جَاءَ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا قَمِيْصَانِ أَحْمَرَانِ يَمْشِيَانِ وَيَعْشُرَانِ فَنَزَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمِنْبَرِ فَحَمَلَهُمَا وَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ صَدَقَ اللهُ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ فَنَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ فَلَمْ اَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيثِى وَرَفَعْتُهُمَا} قَالَ أَبو عِيسَى هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ غَرِيْبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيْثِ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ. (رواه الترمذي فى الجامع, كتاب المناقب عن رسول الله, باب مناقب الحسن والحسين(
Terjemahan :
“Aku mendengar Abu Buraidah berkata “Rasulullah berkhotbah kepada kami tiba-tiba Al Hasan dan Al Husain datang, mereka memakai pakaian pakaian merah, berjalan kaki dan jatuh kebumi lalu Rasulullah saw turun dari mimbar kemudian membawa mereka dan meletakkan mereka dihadapan beliau,kemudian beliau bersabda: Maha besar Allah sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah. Aku melihat kepada kedua anak ini berjalan kaki dan jatuh kebumi lalu tidak sabar sehingga aku putus pembicaraanku dan mengangkat mereka”.(HR.Tirmidzi)

D.    Refleksi Hadist dalam kehidupan
Al-Abdi dalam bukunya Al-Madkhai (Muhaimin,1993:246) menyatakan bahwa masjid merupakan tempat terbaik untuk melakukan kegiatan pendidikan. dengan menjadikan lembaga pendidikan dalam Masjid, akan terlihat hidupnya sunah-sunah Islam, menghilangnya bid’ah-bid’ah, mengembangnya hukum-hukum Tuhan, serta menghilangkan stratifikasi rasa dan status ekonomi dalam pendidikan. menjadikan Masjid sebagai lembaga alternatif pengembangan pendidikan Islam, karena Masjid secara tegas dapat berimplikasi sebagai tempat pendidikan sebagaimana kata Abdurrahman an-Nawawi (1983: 3) yaitu:
a.       Mendidik anak untuk tetap beribadah kepada Allah SWT
b.      Menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan, dan menanamkan solidaritas sosial, serta menyadarkan hak-hak dan kewajibannya sebagai insan pribadi, sosial, dan warganegara.
c.       Memberikan rasa ketentraman, kekuatan dan kemakmuran potensi-potensi rohani manusia melalui pendidikan kesabaran, keberanian, kesadaran, perenungan, optimisme, dan mengadakan penelitian.[4]
Di masjid Rasulullah saw memberikan motivasi perjuangan menegakkan kalimat Allah swt dengan motivasi “mencari ridha Allah” dengan bekerja atau beramal dengan segala keterbatasan umur. Kehidupan yang sebentar inilah harus dimanfaatkan dengan efektif dan efisien untuk menghadapi kehidupan yang tidak ada haluannya yaitu hari akhirat. Dalam praktek kehidupan Rasulullah saw sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan mendorong umat Islam untuk menguasai ilmu, jangan kerena jauh dan kesulitan digunakan sebagai alasan keterbatasan untuk tidak mencari ilmu.
Banyak sekali petunjuk-petunjuk Rasulullah saw tentang perlunya umat Islam mengetahui ilmu pengetahuan. Kalau ditinjau dengan teliti awalnya pendidikan Islam termasuk sebagai kegiatan memakmurkan masjid dan ini sesuai dengan prinsip yang dianut oleh umat Islam bahwa ilmu itu datangnya dari Allah karena itu masjid lebih utama digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan.[5]

E.     Aspek Tarbawi
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa masjid memiliki peranan penting bagi umat Islam diantaranya yaitu sebagai berikut :
1.      Sebagai tempat baitul mal.
2.      Tempat berdoa dan beri’tikaf.
3.      Tempat untuk membicarakan, memutuskan segala prinsip dan semua pokok kehidupan Islam yang meliputi sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, kesenian dan filsafat.[6]
4.      Sebagai tempat ibadah khususnya umat Islam.
5.      Sebagai sarana penyebar dakwah dan khutbah.
6.      Tempat mengumumkan hal-hal penting bagi kepentingan umat muslim.






BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa secara etimologis, kata masjid berasal dari bahasa Arab, kata pokoknya sujudan, fi’il madhinya sajada (ia sudah sujud) lalu menjadi isim makan masjidu, yang berarti tempat sujud. Secara terminologis masjid adalah suatu bangunan yang mempunyai nilai kudus bagi umat Islam sebagai tempat ibadah, terutama dalam jamaah.
Berdasarkan sejarah masjid Nabawi di Madinah yang didirikan oleh Rasulullah saw, dapat dijabarkan fungsi dan peranan masjid pada masa itu, yaitu tercatat tidak kurang dari sepuluh peranan dan fungsi masjid Nabawi di antaranya sebagai tempat ibadah (shalat, zikir), konsultasi dan komunikasi berbagai masalah termasuk ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, santunan sosial, latihan militer dan persiapan peralatannya, pengobatan korban perang, perdamaian dan pengadilan sengketa, menerima tamu (di aula), menawan tahanan dan pusat penerangan dan pembela agama (Sumalyo,2000: 2).













Daftar Pustaka

Gabalza  Sidi. 1975. Mesjid Tempat Ibadat dan Kebudayaan Islam. Jakarta:
            Pustaka Antara.
Handryant Aisyah N. 2010. Masjid sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat.
Malang: UIN Maliki Press.
Supardi dan Teuku Amiruddin. 2001. Konsep Manajemen Masjid. Yogyakarta:
UII Press.
Yasin Fatah. 2008. Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang
Press.

















Tentang Penulis

Photo-015.jpg
Nama lengkap                         : Siti Aisyah
Jenis kelamin                           : Perempuan
Tempat, tanggal lahir              : Pekalongan,04 Juli 1994
Alamat                                                : Desa Getas Rt/Rw 01, Wonopringgo, Pekalongan
Hobi                                        : Membaca
Motto hidup                            : Keberhasilan bukan akhir dari sebuah impian
Riwayat pendidikan
            TK                               : RA Muslimat NU Getas
            SD                               : SD Islam 02 Kwagean
            SMP                            : SMP Islam Wonopringgo
            SMA                           : MAN 1 Pekalongan
            Perguruan Tinggi         : STAIN Pekalongan


[1] Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, ( Malang: UIN Malang Press, 2008),hlm. 257-274

[2] Aisyah N. Handryant, Masjid sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010). Hlm. 51-53.
[4] Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan.....hlm. 274
[5]Supardi dan Teuku Amiruddin, Konsep Manajemen Masjid, (Yogyakarta: UII Press, 2001). Hlm. 129-133
[6] Sidi Gabalza, Mesjid Tempat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Antara, 1975. Hlm 125.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar