Laman

Selasa, 12 April 2016

TT H 7 E “Ilmu, Pena, dan Tulisan Mengangkat Budi Mulia”



TAFSIR TARBAWI H 7 E
“Ilmu, Pena, dan Tulisan Mengangkat Budi Mulia”


Disusun Oleh:
Kholifah          : 2021114325
Kelas               : H                 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam semoga rahmat dan kesejahteraan senantiasa di limpahkan oleh Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para keluarga dan sahabatnya. Dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya ke hadirat Allah SWT atas karunia dan nikmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Adab Mencari Ilmu“ “Ilmu, Pena, dan Tulisan Mengangkat Budi Mulia “ ini yang sekarang ada di hadapan para pembaca yang budiman.
Penulis telah berupaya menyajikan laporan ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Di samping itu, apabila terdapat kesalahan dan kekurangan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya.
Semoga makalah yang sederhana ini menambah khasanah keilmuan dan dengan ini saya mempersembahkan dengan penuh rasa terima kasih,  semoga allah SWT memberkahi sehingga dapat memberikan manfaat. Amin ya robbal ‘alamin.






Pekalongan, 05 April 2016



    Penulis                                





BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Surah ini populer dengan nama Surah al-Qalam atau Surah Nun ada juga yang menggabung kedua kata itu yaitu Surah Nun Wal Qalam. Mayoritas ulama menyatakan bahwa keseluruhan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi saw. berhijrah ke Madinah. Sebagian ulama dengan mengutip Riwayat Ibn ‘Abbas r.a menyatakan bahwa awal surah ini sampai ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai ayat 33 adalah Madaniyyah, selanjutnya ayat 34 sampai 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya ayat 48 sampai 50 adalah Madaniyyah lagi.
Isu sentral surah ini sebagai hiburan terhadap Nabi saw. setelah beliau dihina oleh kaum musyrikin sebagai orang gila. Dengan surah ini Allah swt. Menenangkan hati beliau melalui janji serta pujian atas akhlak mulia beliau sambil mengingatkan agar tidak mengikuti keinginan kaum musyrikin  atau melunakkan sikap dalam menghadapi mereka.
Sahabat Nabi saw., Jabir Ibn Abdillah ra. menyatakan bahwa surah al-Qalam adalah surah kedua yang diterima Nabi saw., setelahnya surah al-Muzzammmil baru al-Muddatstsir.
Sayyid Quthub berpendapat lain. Menurutnya, tidak dapat ditentukan kapan persisnya surah ini turun. Menurutnya, banyak riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa surah ini adalah surah kedua turun setelah surah Iqra’, tetapi tema surah dan  uslub (gaya) bahasa yang digunakan dalam surah tersebut membuat beliau berpandangan lain, bahkan menurutnya, hampir dapat dikatakan bahwa surah ini turun setelah  kurang lebih 3 tahun dakwah Nabi saw. yang diarahkan kepada perorangan. Ia turun pada saat kaum musyrikin Mekkah menolak dan memerangi dakwah Nabi itu, sehingga menuduh Nabi dengan tuduhan orang gila, maka al-Qur’an membantah dan menafikan serta mengancam mereka yang menghalangi dakwah sebagaimana diungkap pada awal surah.
Sayyid Quthub juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa sebagian surah ini Makkiyah dan sebagiannya lagi Madaniyyah. Beliau menegaskan bahwa semua ayat-ayatnya adalah Makkiyyah, dengan alasan bahwa ciri uraian ayat-ayatnya adalah ciri Makkiyyah yang sangat menonjol.
Apapun perbedaan pendapat itu, kesemuanya memiliki alasan masing-masing. Yang pertama berdasarkan riwayat-riwayat yang banyak dan kedua berdasarkan analisis surah.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Apa definisi judul tentang Ilmu, pena dan tulisan mengangkat budi mulia?
2.      Apa ayat pendukung ?
3.      Apa Teori pengembangan QS Al-Qalam ayat 1-4?
4.      Apa nilai-nilai Aspek Tarbawi?

C.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang di bahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.    Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi : BAB I, Bagian pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah ; BAB II adalah pembahasan, ; BAB III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    QS Al-Qalam ayat 1-4
1.      Definisi judul
Q.S. Al-‘Alaq ini kata ( القلم) menurut Al-Asfahani berarti potongan dari suatu yang agak keras seperti kuku dan kayu, serta secara khusus digunakan untuk menulis (pena). Sedangkan menurut tafsir Al-Maraghi ayat tersebut menjelaskan bahwa Dia-lah Allah yang menjadikan kalam sebagai media yang digunakan manusia untuk memahami sesuatu, sebagaimana mereka memahaminya melalui ucapan.
Lebih jelas, beliau menjelaskan bahwa al-qalam itu adalah alat yang keras dan tidak mengandung unsur kehidupan alias benda mati, dan tidak pula mengandung unsur pemahaman. Namun digunakannya al-qalam untuk memahami sesuatu bagi Allah bukanlah masalah yang sulit. Dan dengan bantuan al-qalam ini pula manusia dapat memahami masalah yang sulit. Allah memiliki kekuasaan untuk menjadikan seseorang sebagai pembaca yang baik. Penghubung yang memiliki pengetahuan sehingga ia menjadi manusia yang sempurna. Pada perkembangan selanjutnya, pengertian al-qalam ini tidak terbatas hanya pada alat tulis yang hanya bisa digunakan oleh masyarakat tradisional di pesantren-pesantren. Namun secara subtansial al-qalam ini dapat menampung seluruh pengertian yang berkaitan dengan segala sesuatu sebagai alat pentimpan, merekam, syuting film dan sebagainya. Dalam kaitan ini maka al-qalam dapat mencakup alat pemotret berupa kamera, alat perekam berupa recording, alat penyimpan data berupa komputer, video campact disc (VCD). Berbagai peralatan ini selanjutnya terkait dengan bidang teknologi pendidikan. [1]
Ilmu adalah sesuatu yang bisa membuka/menemukan perkara yang dicari dengan sempurna. [2]

2.      Teori pengembangan QS Al-Qolam ayat 1-4
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
بسم الله الرحمن الرحيم

Surat Al-Qalam Ayat 1
 
Surat Al-Qalam Ayat 2

 
Surat Al-Qalam Ayat 3
Surat Al-Qalam Ayat 4
            artinya:
” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Allah berfirman: Nun, demi qolam yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapapun dan juga demi apa yang mereka tulis. Bukanlah engkau wahai Nabi Muhammad-disebabkan nikmat Tuhan Pemalihara dan Pembimbing-mu semata. Seorang gila sebagaimana dituduhkan oleh para pendurhaka. Dan sesun gguhnya untukmu secara khusus atas jerih payah dan kesungguhan mu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi- benar-benar telah tersedia pahala ynag besar dan yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada diatas budi pekerti yang agung.
Kata Qolam/pena ada yang memahaminya dalam arti sempit yakni pena tertentu, ada juga yang memahaminya secara umum yakni alat tulis apapun – termasuk computer tercanggih sekalipun. Yang memahaminya dalam arti sempit ada yang memahaminya pena yang digunakan malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk serta segala kejadian dan makhluk yang kesemuanya tercatat dalam Lauh Mahfuzh, atau pena yang digunakan malaikat menulis amal-amal baik dan buruk setiap manusia, atau pena sahabat Nabi menulis ayat-ayat al-Qur’an.[3]
Ayat pertama, sangatlah relevan dengan kemajuan peradaban umat manusia, bahwa perintah membaca yang diwahyukan pada surat al-‘Alaq yang mendahului surat ini, disambut dengan pena serta apa yang dituliskan. Aktivitas baca tulis telah membawa peradaban manusia ke tingkat yang lebih tinggi sampai saat ini. Dengan aktivitas membaca dan menulis, gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terus meningkat, yang pada waktu bersamaan peradaban umat manusia terus berkembang.
Maka seperti dijelaskan ketika menafsirkan surat al-‘Alaq bahwa tidak secara kebetulan, wahyu pertama turun kepada nabi Muhammad saw. Dimulai dengan ayat perintah untuk membaca. Lebih tidak secara kebetulan lagi bahwa surat kedua yang turun sesudah surat al-‘Alaq itu adalah surat ini dengan pembicaraan tentang dan apa yang dituliskannya. Jadi sempurnalah diletakkan akar peradaban umat manusia melalui pengembangan tradisi baca dan tulis.
Dengan mempergunakan pena dan apa yang mereka tulis, terpahamkan para penulis yang mempergunakan pena tersebut, apakah itu malaikat, ataukah para penulis wahyu Allah, ataupun siapa saja yang mempergunakan pena untuk menulis. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seluruh produk yang dihasilkan dari kegiatan menulis pasti memberikan nilai tambah bagi kehidupan. Tulisan yang ada dilauh mahfuzh menjadi sebab dari seluruh peristiwa yang terjadi dialam semesta.
Ayat kedua, setelah bersumpah dengan nun dan Qalam, Allah kemudian menyampaikan sebuah bujukan penyejuk hati bagi Muhammad bin Abdullah, lelaki pilihan yang telah ditetapkan sebagai utusan-Nya. Bujukan itu sangat diperlukan karena lelaki pilihan itu, yang tadinya dipuja dan disanjung oleh masyarakat Quraisy sebagai seorang yang dipercaya sehingga beliau diberi gelar al-amin, sekarang dituduh sebagai seorang yang sudah kena sihir, tenung, dan pellet, sudah dirasuki oleh setan, bahkan suda gila. Sebagaimana riwayat yang menjadi asbabun nuzul ayat ini.
Allah membujuk Nabi saw, dengan menepis segala tuduhan. Berkat nikamat Tuhanmu, Allah yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Curahan nikmat telah dikucurkan kepada Muhammad bin Abdullah. Semenjak beliau masih dalam kandungan, hujan nikmat selalu menyertai kehidupan beliau. Walaupun masih dalam kandungan, ayah beliau sudah tiada, beliau tumbuh sebagai janin yang sehat sampai beliau dilahirkan oleh aminah. Lalu beliau diasuh oleh ibu pengasuh Halimatussa’diyah.
Ayat ketiga, kata mamnun manurut Quraish Shihab diambil dari kata manna yang mengandung yang mengandung dua arti, yakni putus dan menyebut-nyebut pemberian. Jika diambil kata putus, demikian Shihab, maka paha yang diberikan oleh Allah tidak akan putus berkesinambungan terus menerus. Siapa yang mengajar satu kebaikan, maka ia akan memperoleh ganjarannya dan ganjaran orang yang dia ajar itu ganjarannya akan mengalir secara terus menerus , selama orang yang diajarkan itu mengajarkan lagi dan mengamalkan apa yang diajarkan itu.
Jika diambil arti menyebut-nyebut pemberian, maka ini hanya hanya tertuju kepada Nabi saw. Sendiri ini berarti ganjaran yang Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw. Kendati sangat banyak, tetapi ia tidak disebut-sebut dalam bentuk yang merendahkan atau menyakitkan hati beliau. Memang ada orang yang membantu, tetapi tidak lama kemudian menyebut-nyebut bantuannya, maka bantuan tersebut akan kehilangan pahala dan berkah dari Allah swt.
Ayat keempat, setelah membujuk yang membesarkan hati, member pahala yang terus-menerus, Allah kemudian memuji Nabi saw dengan pujian yang sangat tinggi. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Pujian dari Eksistensi Yang Maha Agung, pujian dari siapapun pastilah membanggakan diri. Pujian dari orang yang mempunyai fungsi dan kedudukan tinggi pasti lebih membanggakan lagi. Apalagi pujian datang dari presiden atau raja pastilah lebih membanggakan. Tetapi pujian dari Allah dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi adalah sesuatu yang sangat luar biasa yang tidak bisa digambarkan dengan semua kata dan bahasa untuk berbangga.
Pujian memang bisa membangkitkan semangat, tetapi tidak sedikit pula pujian yang membunuh dan menghancurkan. Berapa banyak orang yang hancur luluh karena pujian sehingga tidak kreatif lagi. Tidak sedikit orang yang mengalami keguncangan kepribadian sehingga timbul kesombongannya. Sangat sering ditemui akibat pujian timbul keangkuhan sehingga tidak mau menerima nasihat yang diperlukan. Apalagi pujian dari dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Rasulullah adalah Pribadi yang agung, yang dipilih oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Keagungan budi pekerti Rasulullah ini menjadi sumber inspirasi kaum muslimin dalam membangun masyarakat islam. Malalui uswah hasanah Rasulullah saw sebagai Nabi terakhir dengan agama yang terakhir, dituntut dari setiap Muslim untuk berjihad dijalan Allah membangun masyrakat yang ditegakkan diatas fondasi akhlak dan moral.[4]
3.      Hadits atau ayat pendukung
QS Al-‘Alaq ayat 4:
ا لّذْ ي عَلَّم بِا لْقَلَم
Artinya:
                        Yang mengajar (manusia) dengan perantara qalam

Allah menyatakan bahwa dia menjadikan manusia dari alaq lalu di ajarinya komunikasi dengan prantara kalam bahwa manusia di ciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu
Tafsiran Ayat ke 4 :
 Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda pada yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi Nya sebagai manusia pilihan Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatkan bahwa Dia menjadikan manusia dari ‘Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, “Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Nya.[5]

4.      Aspek tarbawi

1.      Belajar adalah proses eksplorasi potensi diri menjadi aktual. Selain itu, belajar juga merupakan proses untuk mengetahui.
2.      Pembelajaran adalah proses bimbingan dan penyerapan mikro anak didik dari gurunya untuk mencapai tujuan belajar yaitu teraktualisasikannya pengetahuan. Mengajar adalah aktivitas eksplorasi untuk mengeluarkan pengetahua dari daya menjadi aktual.
3.      bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor.
4.      Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk mengantarkan kegiatan pendidikannya ke arah tujuan yang dicita-citakan.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Q.S. Al-‘Alaq ini kata ( القلم) menurut Al-Asfahani berarti potongan dari suatu yang agak keras seperti kuku dan kayu, serta secara khusus digunakan untuk menulis (pena). Ilmu adalah sesuatu yang bisa membuka/menemukan perkara yang dicari dengan sempurna.
Ayat pertama, sangatlah relevan dengan kemajuan peradaban umat manusia, bahwa perintah membaca yang diwahyukan pada surat al-‘Alaq yang mendahului surat ini, disambut dengan pena serta apa yang dituliskan.
Ayat kedua, setelah bersumpah dengan nun dan Qalam, Allah kemudian menyampaikan sebuah bujukan penyejuk hati bagi Muhammad bin Abdullah, lelaki pilihan yang telah ditetapkan sebagai utusan-Nya.
Ayat ketiga, kata mamnun manurut Quraish Shihab diambil dari kata manna yang mengandung yang mengandung dua arti, yakni putus dan menyebut-nyebut pemberian.
Ayat keempat, setelah membujuk yang membesarkan hati, member pahala yang terus-menerus, Allah kemudian memuji Nabi saw dengan pujian yang sangat tinggi.

B.     Kritik dan saran
Mahasiswa akan senantiasa berhubungan dengan tugas makalah. Oleh karena itu anda harus rajin belajar, lebih-lebih anda sering membaca. Karena membaca adalah sebagai modal dasar bagi seorang penulis. Untuk menggelorakan semangat berkarya anda, renungkan kalimat bijak ini: “Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”.Penulis berharap dengan ditulisnya materi Ilmu Hadits ini dapat memberikan efek positif kepada kita yang tengah menjalani mata kuliah Metodologi Study Islam.

MY PROFIL
Nama saya kholifah, biasa dipanggil oliv, saya sekarang kuliah di Universitas STAIN Pekalongan angkatan 2014. Rumah saya terletak didaerah pantura dekat laut, tepatnya di Desa Kaliprau Kec. Ulujami Kab. Pemalang. saya tinggal bersama keluarga saya yang terdiri atas ayah, ibu, kakak perempuan dan adik laki-laki, umur saya sekarang menginjak 21 tahun, saya lahir pada hari rabu 17 september 1995. sejak kecil kami selalu hidup saling menyayangi meskipun kami sering berantem satu sama lain,,,,,,
Setelah kami sama-sama dewasa kami menjadi anak yang bisa dikatakan sering bermusuhan, mengejek, bahkan berantem. maka awal dari sinilah kami dipisahkan oleh orang tua kami di sebuah pesantren HADIRUL ULUM Kedungpedati Desa Tasikrejo Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang.
Dari pertama saya ditempatkan di pesantren saya selalu menangis karena ini keputusan orang tua saya, tapi lama kelamaan saya merasakan nikmatnya hidup di pesanteren dan dari sinilah saya menemukan jati diri saya mengenal Allah.
Bagi teman-teman yang pernah merasakan kehidupan di pesantren tentunya terkadang merasakan indahnya hidup di pesantren. Ada suka dan ada duka, hidup berjama’ah dengan teman-teman. Merasakan indahnya kebersamaan, makan bersama, tidur bersama, sholat berjamaah, belajar bersama dan mandi bersama.



[1] http://google,tafsirtarbawi.com
[2] Abdul Hamid Hakim, terjemah Mabadi Awwaliyah, (CV Mega Jaya: 2009) hlm 2
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm. 378-379
[4] Dr. Yunan Yusuf, Tafsir Khuluqun Adzim, (Tanggerang, Lentera Hati: 2013) hlm 117-120
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar