Laman

Selasa, 13 November 2012

PA B10 : Hubungan SQ vs Psikologi Agama

PA B10 : Hubungan SQ vs Psikologi Agama - word

PA B10 : Hubungan SQ vs Psikologi Agama - ppt






MAKALAH
HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)
DENGAN PSIKOLOGI AGAMA
Makalah  Ini Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah    : Psikologi Agama
Dosen Pengampu     : M.Ghufron Dimyati M.Si.





Di susun oleh :
M.Jamaludin al Afghoni      : 2022111060
Khoirun Nisa                         : 2022111061
Fitri Rosifiyati                       : 2022111063
Nailatul Mustaqimah            : 2022111064



JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN


Ada puncak tertinggi dari setiap proses kehidupan umat manusia. Bagi umat beragama, puncak itu adalah Tuhan yang transenden. Untuk mencapai puncak itu tidak harus melibatkan kita dalam dunia transenden. Bahkan realitas transenden yang sulit ditangkap oleh pancaindra harus diwujudkan dalam bentuk aktifitas nyata dalam kehidupan sosial.
Dalam perkembangannya kecerdasan emosional tidak cukup, khususnya bagi pengembangan kejiwaan yang berdimensi ketuhanan. Kecerdasan emosional lebih berpusat pada rekonstruksi hubungan yang bersifat horizontal (sosial), sementara itu ada dimensi yang lain yang tidak kalah pentingnya bagi kehiduppan umat manusia, yaitu hubungan vertikal. Kemampuan dalam membangun hubungan yang bersifat vertikal ni sering disebut dengan istilah Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient).













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian SQ (Spiritual Quotient)
Penelitian tentang dimensi spiritual manusia dimulai sejak tahun 1969, penelitian tersebut menurut Rahmat dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal, pengalaman spiritual dan akhirnya kesadaran spiritual.
Selanjutnya pada akhir abad kedua puluh, ditemukan adanya jenis kecerdasan atau “Q”. Jenis ketiga yang disebut kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini disingkat dengan SQ[1].
SQ adalah kecerdasan yang memberi kita kemampuan membedakan, rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku dibarengi dengan pemahaman dan cinta.
SQ adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri.
SQ adalah pedoman saat kita berada “di ujung” tatkala dihadapkan dengan masalah-masalah eksistensial.
Dengan SQ kita bisa menjadi kreatif, luwes, berwawasan luas, atau spontan secara kreatif, untuk berhadapan dengan masalah eksistensial yaitu saat secara pribadi kita merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan[2]. 
Kecerdasan Spiritual atau SQ itu adalah kecerdasan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat transenden, hal-hal yang mengatasi waktu. Ia adalah bagian terdalam dan terpenting dari manusia. Dan sains, terutama  neuron antomi dan  neurokimia membuktikan bahwa SQ itu berbasis pada otak manusia. Basis itu adalah (1) osilasi 40 Hz, (2) Penanda Somatik, (3) Bawah Sadar Kognitif, dan (4) God Spot. Secara sederhana, keempat penanda itu melukiskan kesatuan kerja jaringan saraf yang menyatukan kepingan-kepingan pengalaman menjadi suatu yang utuh. Mereka menjadi substrat pentiing kehadiran Tuhan.[3]
B.     Ciri-ciri SQ yang Telah Berkembang
Ciri-ciri SQ yang telah berkembang adalah sebagai berikut :
1.      Kemampuan bersikap fleksibel
2.      Mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi
3.      Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4.      Mempunyai visi-visi dalam kehidupan
5.      Kemampuan memanfaatkan sesuatu hal[4]
C.    Manfaat dan Peningkatan SQ
Ø  Cara untuk meningkatkan SQ
Menurut Zohar, ada tujuh langkah praktis menuju kecerdasan spiritual, yaitu :
a.       Menyadari keberadaan kita sekarang
b.      Merasakan keinginan kuat untuk berubah
c.       Merenungkan pusat diri dan menanyakan motivasi terdalam
d.      Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah lebih maju
e.       Meyakinkan hati pada sebuah jalan
f.       Tetap menyadari adanya banyak jalan
Sedangkan menurut Tony Buzan, untuk menigkatkan SQ, kita perlu melakukan latihan-latihan spiritual berikut ini :
a.       Belajar menghargai alam
b.      Memiliki visi
c.       Mensyukuri karunia yang kita dapat
d.      Dengarkan musik yang indah
e.       Belajar kepada guru spiritual
f.       Belajar / memanfaatkan pengalaman buruk kita untuk kebaikan
Ø   Manfaat SQ
 Manfaat SQ antara lain :
1.      Menjadi kreatif
2.      Mampu menghadapi masalah eksistensial
3.      Mencapai perkembangan diri yang lebih karena kita memiliki potensi[5]
D.    Hubungan Kecerdasan Spiritual (SQ) dengan Psikologi Agama
a.      Motivasi Psikis dan Spiritual
Motivasi Psikis dan Spiritual yang di miliki manusia sama sekali tidak berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat organik seperti motivasi fisiologis. Ini tidak juga berkaitan dengan motivasi penjagaan diri atau pelestarian jenis. Motivasi psikis dan spiritual merupakan motivasi yang harus dipenuhi kebutuhannya. Dengan memenuhi motivasi ini manusia dapat mempeoleh kehidupan yang tentram, damai dan bahagia. Sebaliknya, jika motivasi ini tidak terpenuhi maka perasaan damai dalam jiwa manusia tidak akan terpenuhi, bahkan dapat menyebabkan seseorang merasakan gundah gulana, gelisah, sengsara, dan tidak nyaman. Salah satu motivasi psikis dan spiritual yang penting bagi manuisia adalah motivasi beragama.
b.      Motivasi Beragama
Dalam diri manusia memiliki fitrah atau naluri untuk mengenal Allah SWT, memercayai (al-amin), mengesakan (at-tauhid), mendekatkak diri (at-taqarrub) dengan berbagai aktivitas penghambaan diri (al-ibadah), dan meminta pertolongan atau perlindungan ketika menghadapi bahaya. Alquran mengisyaratkan fitrah ini sebagai motivasi beragama. Firman Aallah SWT:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (qs. Ar-Rum: 30)
Sama halnya bahwa manusia pada mulanya adalah makhluk spiritual murni. Manusia berada pada tempat yang tinggi sebagai makhluk spiritual murni, yang kemudian ruh spiritual itu ditiupkan kedalam tubuh manusia. Sifat-sifat spiritual itu dipadukan dalam materi konkret berupa tubuh manusia yang terbuat dari tanah. Maka lahirlah manusia yang tidak hanya memiliki tubuh tetapi juga memiliki sifat spiritual.
Dalam ayat Alqur’an surat Al-A’raf ayat 172, Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan perjanjian kepada setiap keturunan anak adam da menyaksikan sikap ketuhanan mereka terhadap diri-Nya. Perjanjian ini di sepakati ketika mereka masih berada dalam di alam penaburan, sebuah wujud alam sebelum mereka diciptakan di bumi (alam dunia). Pada hari kiamat kelak perjanjian ini akan menjadi saksi yang akan membantah alasan kelalaian meraka dalam menuhankan Allah SWT. Ayat inipun menunjukkan bahwa manusia sejak dilahirkan fitrah atau kesiapan alamiah untuk mengenal, mempercayai, dan mengesakan Allah SWT.
Berkaitan dengan sebuah fenomena besar tentang kehidupan spiritual manusia adalah kecenderungan manusia untuk senantiasa menuju sifat-sifat ilahiah. Manusia lebih terasa terharu atau bahagia apabila titik spiritualnya tersentuh, dan manusia cenderung ingin mengikuti sifat-sifat Allah. Inilah bukti bahwa manusia memang pernah melakukan perjanjian ruh dengan penciptanya, yang terurai dalam ayat berikut :
Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, mereka tidak berpaling ke belakang. Dan perjanjian (dengan) Allah itu akan ditanya
(Qs. Al-Ahzaab)
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa manusia dilahirkan berdasarka fitrah dan agama yang lurus. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Nabi SAW pernah berkata:
“Tidak ada orang dilahirkan didunia kecuali dalam keadaan fitrah. Maka orang tualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Najusi. Sebagai binatang ternak yang telah melahirjkan aak-anaknya, apakah engkau membersihkan unta yang termasuk binatang ternak?” kemudian Abu Hurairah mengatakan, “Bacalah jika kalian semua menghendakinya; (tetaplah atas) fitrah Allah SWT yang telah menciptaka manusia menurut fitrah itu.
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa anak yang baru dilahirkan senantiasa dalam keadaan fitrah (memiliki kesiapan alamiah). Yang dimaksud fitrah disini tidak lain ialah sikap keberagamaan yang lurus. Hanya saja, seorang anak manusia terkadang dapat dipengaruhi oleh perilaku orang tuannya, bahkan dapat dipengaruhi oleh faktor pendidika dan budaya, dan lingkungan yang melingkupinya. Oleh karena itu setiap orang tua mempunyai peranan sangat penting dalam menetukan arah kefitrahan anaknya, apakah orang tua mengarahkan anaknya untuk meyakini agama Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Fitrah di sini di gambarkan oleh rasulullah seperti binatang ternak yang melahirkan anak dengan selamat tanpa cacat. Pada dasrnya fitrah manusia sulit di nodai oleh perilaku menyipang yang ada dikehidupan sosialnya. Namun demikian, ia tetap memerlukan proses pengembangan dirinya.[6]
Oleh karenanya manusia telah di karuniai tiga kecerdasan secara lengkap, yaitu intelektualitas,, emosionalitas dan spiritualitas, maka manusia di perintahkan membaca tanda-tanda yang ada dalam diri dan lingkungannya serta berkewajiban untuk mengetahui siapa tuhannya dan tetap dalam kefitrahannya, dalam riwayat qudsi disebutkan, “Aku adalah perpendaharaan yang terpendam. Aku cinta dan rindu untuk diketahui. Maka aku ciptakan alam semesta.” Dalam hadits tersebut tersirat makna yang mendalam tentang tujuan penciptaan alam semesta, tujuan penciptaan tersebut merupakan perwujudan akan kerinduan dan kecintaan Allah akan manusia.
Namun tidak luput juga dengan peranan dari orang tua bahwa membimbing anak secara benar dengan menyikapi fenomena lingkungan social secara dini dapat meningkatkan intensitas keimanan (akidah tauhid) dari bentuk penyimpangan. Melalui tradisi dan budaya islam, kita dapat mengarahkan manusia atau anak memiliki loyalitas terhadap pesan universal Alquran dan Hadits.
Dan berdasarkan dari sejarah penciptaan manusia yang fitrah dan barasal dari spiriytual yang murni, manusia mempunyai misi dan potensi yang ada dalam dirinya, maka jelaslah bahwa manusia sesungguhnya adalah makhluk spiritual. Inilah yang di namakan proto kesadaran, yang terdeteksi padaa isolasi 40 Hz oleh Pare dan Llinas.dengan bermodalkan SQ itu, manusia mengabdi kepada Allah untuk mengelola bumi sebagai kholifah, misi utamanya semata mencari ridha Allah. target utamanya adalah menegakkan keadilan, menciptakan kedamaian, membangun kemakmuran termasuk di dalamnya, langkah nyata berupa spiritualisasi di segala bidang, baik di perusahaan, instansi, Negara atau dalam lingkup social terkecil yaitu keluarga. Inilah the ultimate meaning sesungguhnya, yang harus di cari Danah Zohar dan Abraham Maslow, yaitu aktualisasi diri melalui ihsan. Dan di namakannya Spioritual Ultimate Self Actualization[7].
Berkompetisi adalah salah satu misi atau motivasi kejiwaan yang bersifat sosial dan mengarah daging pada diri manusia. Ini juga membentuk standardisasi nilai budaya tertentu yang menjadikakkn seorang mampu menilai suatu kompetisi yang dianggap positif. Al-quran menganjurkan kepada manusia untuk berkompetisi dalam hal takwa kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya melalui berbagai aktifitas dan amalan yang baik.
Akan tetapi, pada kenyataannya kebanyakan manusia cenderumg berkompetisi dalam hal duniawi. Banyak hal negatif yang selalu dikejar oleh kebanyakan manusia dalam kehidupan diduna ini.
Banyak manusia modern saat ini menderita penyakit yanag dinamakan spiritual pathology atau spiritual illness. Mernurut Khalil Kavari, apabila manusia gagal dalam mencapai makna hidupnya, mereka aka menderita kekeringan jiwa, seperti yang banyak terjadi disekitar kita dewasa ini. Hal ini terjadi akibat kesalahan orientasi dalam menjalani kehidupan. Mereka menyangka bahwa kehidupan bisa diraih melalui materi, tetapi pada kenyataannya mereka gagal menemukan kehidupan khakiki yang sesungguhnya, lewat materi tersebut. Penemuan ilmiah yang juga diteliti oleh Danah Zohar dan Ian Marshall ini mengatakan, bahwa makna yang paling tinggi dan bernilai, dimana manusia akan merasa bahagia, justru terletak pada aspek spiritualitasnya. Dan hal tersebut dirasakan oleh manusia, ketika ikhlas mengabdi kepada sifat-sifat atau kehendak Allah.[8]
E.     Mencerdaskan Ruhani dengan Psikoterapi Rasulullah
1.      Psikoterapi dengan Iman
Iman adalah sumber ketenangan batin dan  keselamatan hidup. Iman itu ada dalam hati. Rasulullah Saw, bersabda: “ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusaklah sekuruh jasadnya. Kethuilah itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).
Iman, tauhid dan ibadah kepada Allah menimbulkann sikap istiqamah dalam perilaku, seorang mukmin yang berpegang teguh pada agamanya, maka Allah akan menjaga semua ucapan dan perbuatannya. Subtansi dari beriman adalah sikap ikhlas dan mendefinisikan semua kebaikan sebagai ibadah sebagai bukti iman, selalu bergantung pada-Nya, dan ridho terhadap qadha dan qadar Allah SWT.[9]
2.      Psikoterapi dengan Ibadah
Sungguh pelaksanaan ibadah yang diwajibkan Allah seperti sholat,haji dan zakat dapat membersihkan dan menyucikan jiwa serta membeningkan hati dan menyiapkannya untuk menerima musyahadah (penampakan keagungan) Allah berupa cahaya, hidayah dan hikmah.Sesungguhnya ibadah adalah praktik bagaimana ikhlas dilakukan. Allah berfiman: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya  (sama dengan orang-orang yang membatu hatinya)?” (QS Az-Zumar [39]:22).
Beribadah dapat menghapus dosa dan membangkitkan harapan mendapat ampunan Allah dalam diri manusia. Selain itu, beribadah juga menguatkan harapan masuk surga serta menimbulkan kedamaian dan ketenangan. Sesungguhnya ibadah adalah praktik bagaimana ikhlas dilakukan.[10]
3.      Psikoterapi dengan Taubat
Salah satu obat paling penting dalam menyembuhkan perasaan bersalah adalah taubat. Allah menjanjikan ampunan bagi setiap orang yang berdosa. Allah berfirman: “hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungghunya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS Az-Zumar[39]:53).
Di antara hal yang meringankan rasa bersalah  seorang muslim, dia mengetahui bahwa pada dasarnya manusia itu lemah dan rentan berbuat salah, namun  selama ia mengakui kesalahannnya, beristighfaar dan bertaubat kepada Allah maka tak ada alasan untuk menyiksa dirinya sendiri dengan perasaaan bersalah dan berdosa.
Maka seorang mukmin harus ber-husnudhan terhadap Tuhannya, besar harapannya bahwaa Allah menerima taubatnya, dan juga besar harapannya untuk memperoleh pemaafan dan ampunan-Nya. Dengan demikian, ia akan terbebas dari perasaan bersalah dan merasakan ketenangan dan kedamaian.[11]






                                           KESIMPULAN
Kesadaran SQ adalah kecerdasan yang berkaitan dengan hal hal yang bersifat transenden yang mengatasi waktu dan merupakan bagian terdalam yang terpenting dari manusia.
Mencerdaskan rohani dengan psikoterapi Rasulullah seperti;
1.      Psikoterapi dengan iman
2.      Psikoterapi dengan ibadah
3.      Psikoterapi dengan ibadah
Beribadah dapat menghapus dosa dan membangkitkan harapan mendapat ampunan Allah dalam diri manusia.
















DAFTAR PUSTAKA .

Agustian,Ary Ginanjar.2003.Rahasia sukses membangkitkan E SQ power.jakarta:Arga
Efendi,Agus.2005.Revolusi kecerdasan Abad 21.Bandung:Alfabeta
Najati, M.Utsman.2002.Belajar EQ dan SQ dari sunnah Nabi.Jakarta: Hikmah
Najati, M.Utsman .2004.Psikolog dalam perspektif Hadist.Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru
Pasiak, Taufiq. 2003. Revolusi IQ/EQ/SQ antara Neurosains dan Al-qur’an: Bandung : Mizan







[1] Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, (Bandung : Al Fabeta, 2005) h. 215-216
[2] Ibid, h. 207-208
[3] Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ antara Neurosains dan Al-Qur’an, (Bandung:Mizan,2003) h. 137
[4] Agus Efendi, Op Cit h.206
[5] Agus Efendi, Op Cit h. 237-240
[6] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Prspektif Hadis, (Jakarta:PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2004) h. 15-19
[7] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membagkitkan ESQ Power, (Jakarta:ARGa, 2004) h. 103
[8] Ibid h.97
[9] M. Utsman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi,(jakarta:Penerbit Hikmah), hlm. 100-102
[10] Ibid h.104
[11] Ibid h.126-130

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar