Laman

1111

Senin, 02 September 2013

SBM-H,01: Hakikat, Ciri dan Komponen



MAKALAH
HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah                 :           Strategi Belajar mengajar
Dosen pengampu        :           Ghufron Dimyati, M.Si

Disusun oleh :

 Wido Murni                           2021110302
M. Miftakhul Aziz                  2021111018
Mohammad Juhdi Syiarudin   2021111069

Kelas H
 
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2013



BAB I

PENDAHULUAN

          Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses yang penuh makna. Di dalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan ke dalam  ciri setiap pribadi anak didik. Dan juga kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik.
Sebagai seorang guru, sudah seharusnya menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ke tujuan pengajaran. Sebagai kegiatan yang bernilai edukatif, maka belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri, dan komponen. Ketiga aspek ini perlu diketahui oleh seorang guru guna menunjang tugas di medan pengabdian. 
Mengingat pentingnya hakikat, ciri-ciri dan komponen belajar mengajar bagi guru, maka perlulah kami membahas di dalam  makalah ini mengenai hal tersebut dan hal-hal yang terkait dengannya. Dan  makalah ini kami beri judul “Hakikat, Ciri Dan Komponen Belajar Mengajar”.














BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Belajar Mengajar
Belajar dan mengajar adalah dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan apa yang  harus dilakukan seseorang sebagai subjek maupun sebagai obyek pembelajaran, sedangkan mengajar merupakan apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Dua konsep ini menjadi  terpadu menjadi suatu kegiatan manakala terjadi interaksi guru dan siswa, pada saat pembelajaran itu berlangsung.
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Dan perubahan itu bersifat intetensional, positif aktif dan efektif fungsional. Perubahan sebagai suatu proses hasil belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti sikap, pengetahuan dll.[1]
Setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar siswa yang didesain secara sengaja, sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan anak sebagai subyek pembelajaran yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan guru.
Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini melahirkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan ajar sebagai mediumnya. Pada kegiatan belajar mengajar, keduanya (guru-murid) saling mempengaruhi dan memberi masukan. Karena itulah kegiatan belajar harus merupakan aktivitas yang hidup, sarat nilai dan senantiasa memiliki tujuan.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. pada tahap berikutnya adalah proses memberikan bimbingan dan bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar merupakan serangkaian aktivitas yang disepakati dan dilakukan guru-murid untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal.[2]

B. Ciri-Ciri Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar merupakan proses komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati yang bersifat timbal balik antara guru dengan peserta didik atau peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Edi Suardi sebagai suatu proses pengaturan kegiatan belajar mengajar memiliki beberapa ciri yaitu:
  1. Memiliki tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Secara umum kegiatan belajar mengajar mempunyai tujuan yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.
  1. Adanya suatu prosedur (jalan interaksi)
Dalam kegiatan belajar mengajar diperlukan adanya suatu prosedur yang direncanakan.agar mencapai tujuan yang optimal maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur dan langkah-langkah sistematik dan relevan.
Secara umum prosedur kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui tiga tahap antara lain: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan akhir dan tindak lanjut kegiatan belajar mengajar.
  1. Ditandai dengan aktivitas peserta didik
Menurut E. Mulyasamenekankan pentingnya upaya pengembangan aktifitas, kreatifitas, motivasi pesertaa didik dalam kegiatan belajar mengajar  mengemukakan hal-hal yang perlu dipikirkan yaitu:
a. dikembangkannya rasa percaya diri peserta didik dan mengurangi rasa takut.
b. memberikan kesempatan kepaada seluruh peserta didik untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah
c. melibatkan peserta didik dalam menentukan tujuan dan evaluasi
d. memberi pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter
e. melibatkan peserta didik secara aktif dan kreatif dalamm proses belajar mengajar secara keseluruhan
  1. Guru berperan sebagai pembimbing
Sebagai pembimbing guru harus menghidupkan dan memberi motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif, harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar mengajar sehingga menjadi tokoh yang dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. Selain sebagai pembimbing peran guru lainnya yaitu sebagai perencana, pelaksana dalam belajar mengajar.
  1. Membutuhkan disiplin
Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar diartikan sebagai pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar.
  1. Ada batas waktu        
Dalam kegiatan belajar mengajar ada batas waktu untuk mencapai tujuan tertentu dalam sistem kelas. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai.
  1.  Evaluasi         
Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan sudah tercapai atau belum dan dapat juga melihat efisiensi pelaksanaan.[3]

C. Komponen Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar menagdung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan pelajaran, kegaiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi.
a.       Tujuan
Tujuan merupakan suatau cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksananaan pembelajaran. Tujuan dalam pendidikan dan pengejaran merupakan sutau cita-cita yang bernialai normatif, sebab dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. suatu tujuan pengajaran menunjukkan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran dan bukan sekedar proses dari pengajaran itu sendiri.
b.      Bahan Pelajaran
Bahan atau materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang “dikonsumsi” oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Bahan ajar yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.
Bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bidsa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan pengajran merupakan inti dalam proses belajar mengajar
c.       Kegiatan belajar mengajar
Dalam kegiatan belajar, guru dan peserta didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu peserta didiklah yang lebih aktif, bukan guru seperti yang dikehendaki oleh pendekatan CBSA (cara nelajar sisiwa aktif), murid sebagai sentral pembelajaran. Interaksi dikatakan maksimal bila terjadi antara guru dengan semua peserta didik,antara peserta didik dengan guru, antara peserta didik dengan peserta didik, pserta didik dengan bahan dan media pembelajatran, bahkan peserta didik dengan dirinya sendiri, namun tetap dalam kerangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
d.      Metode
Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menguasai metode mengajar merupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat.
e.       Alat
Alat merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Dalam proses pengajaran maka alat mempunyai fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan.
f.       Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran bisa didapatkan. Sumber bahan pelajaran sesungguhnya nahyak sekali terdapat di mana pun seperti di sekolah, pusat kota, pedesaan, benda mati, lingkungan, toko dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya.
g.      Evaluasi
Evaluasi dalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
Evaluasi sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan dalam proses bel;ajar mengajar dan di dalamnya melibatkan guru dan siswa, pada dasarnya memiliki funsi sebagai berikut :
1.      Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pengajaran serta mengadakan perbaikan program bagi murid.
2.      Memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid
3.      Menentukan posisi murid di dalam situasi belajar mengajar agar sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki masing-masing siswa
4.      Mengenal latar belakang siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar. Nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan-kesulitan belajar
Seorang guru tidak bisa mengabaikan evaluasi dalam pendidikan, sekalipun seni, cara dan teknik pelaksanaannya bergantung pada guru masing-masing.[4]




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
              Belajar dan mengajar adalah dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan apa yang  harus dilakukan seseorang sebagai subjek maupun sebagai obyek pembelajaran, sedangkan mengajar merupakan apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar.
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi. Kegiatan belajar mengajar merupakan proses komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati yang bersifat timbal balik antara guru dengan peserta didik atau peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

















Daftar Pustaka

Zaenal Mustakim, Strategi dan metode pembelajaran,(Yogyakarta :Gama media,2009)
Pupuh Fathurrohman dan Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum Dan Kosep Islami,( Bandung: PT Refika Aditama,2009)


[1][1] Zaenal Mustakim, Strategi dan metode pembelajaran,(Yogyakarta :Gama media,2009)
[2] Pupuh Fathurrohman dan Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum Dan Kosep Islami,( Bandung: PT Refika Aditama,2009) hlm.8-9
[3] Zaenal Mustakim, Strategi dan metode pembelajaran, (Yogyakarta :Gama media,2009)
[4] Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islami, (Bandung : PT. Revika Aditama, 2009) hal 13-18)

24 komentar:

  1. Restu noviani
    2021111091
    kelas H
    saya cuma tanya apabila dalam kegiatan belajar mengajar salah satu dari komponen itu tidak terpenuhi,apa yang terjadi ??? dan bagaimana kita bisa menyukai "belajar" jelaskan menurut anda.trims..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mohammad juhdi sy
      2021111069
      sya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudara restu,
      didalam komponen kegiatan belajar mengajar terdiri dari: tujuan, bahan pelajaran, metode, KBM, alat, sumber pelajaran dan evaluasi. apaa bila dri komponen itu salah satu tidak terpenuhi yang akan terjadi adalah dalam kegiatan belajar tidak akan maksimal.dan bisa terjadi dalam KBM ya akan gagal.
      kalo menurut saya bagai mana bisa menyukai belajar,,,
      jadikanlah belajar itu kebiasaan kita dan hobi.

      Hapus
    2. wido murni 2021110302

      sedikit menambahi......Belajar merupakan salah satu kegiatan pokok yang terjadi dalam kegiatan proses belajar mengajar disekolah, selain kegiatan mengajar kegiatan belajar juga dapat menentukan berhasil atau tidaknya pencapaian suatu tujuan pengajaran disekolah

      Hapus
  2. 2021 111 127

    assaLamu'alaikum,,
    saya ingin bertanya apa yang menjadi pengaruh atau faktor yang menjadikan berhasil tidaknya suatu kegiatan belajar mengajar???
    terimaksih....
    wassalamu'alaikum,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, bahwa setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK(tujuan pengajarkan intruksional khusus) tersebut dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK(tujuan pengajarkan intruksional khusus ), guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil.
      Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan, diantaranya:
      1.Tujuan
      2.Guru
      3.Peserta Didik
      4.Kegiatan pembelajaran
      5.Bahan dan alat Evaluasi
      6.Suasana Evaluasi
      7.Aspek Psikologis dari Kesulitan Belajar

      Hapus
    2. wido murni 2021110302

      Sedikit menambahi.....Berhasil tidaknya suatu kegiatan belajar mengajar mempunyai 4 faktor yaitu
      1. Adanya motivasi.
      2. Adanya perhatian dan mengetahui sasaran.
      3. Adanya usaha.
      4. Adanya evaluasi dan pemantapan hasil.

      Hapus
  3. 2021 111 345

    assalam...
    sya hnya ingin brtanya,bagaimana caranya agar suatu tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan baik?apabila ada guru yg cara mmbimbgnya itu dgn cra sedikit kasar apakah itu akn mmbuat dampk baik bgi anak didik?
    maturnuwun...wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalikumussalam........
      .pengertian dri Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. jdi maksudnya itu setelah siswa mengikuti pembelajaran, siswa diharapkan agar bisa memahami,dan mengaplikasikan apa yang telah disampaikan oleh pendidik.
      dengan cara seperti apa agar siswa bisa diharapkan sesuai dengan tujuan itu??? pastinya seorang pendidik itu harus memiliki materi yang luas agar menyampekan materinya itu maksimal dan bisa meng efektifkan kelas dengan metode- metode pengajaran, bisa memberikan respon terhadap siswa, memberikan kesempatan agar siswa bisa aktif, sehingga siswa itu bisa mengembangkan ilmu nya dngan baik.
      terimakasih........

      Hapus
    2. Wido murni 2021110302

      Sedikit menambahi...........Seseorang yang telah belajar akan mendapatkan pengetahuan yang akan mendampak pada perubahan tingkah laku, "belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik.

      Hapus
  4. Nais Stanaul Athiyah
    2021 111 280

    assalamkum,,
    yang saya ingin tanyakan, bagaimana cara menciptakan belajar mengajar yang efektif sesuai dengan tujuan pembelajaran? dan strategi apa saja yang harus digunakan jika berhadapan dengan anak yang bandel atau hiperaktif tanpa guru memerahinya? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berikut ini adalah beberapa kiat kiat khusus agar waktu belajar lebih efisien dan efektif untuk mencapai tujuan belajar agar prestasi akademik meningkat.

      1.Niat dan kesadaran untuk belajar
      2.Ciptakan suasana yang kondusif
      3.Belajar Kelompok
      4.Buatlah catatan intisari dari bahan pelajaran
      5.Berlatihlah tehnik kemampuan mengingat
      6.Mengulang Apa yang telah kita pelajari
      7.Pahami bukan Dihafal

      Hapus
    2. Karena penyebabnya sebagian besar adalah gangguan kimiawi dan anatomi otak, apa boleh buat, salah satu pengelolaannya adalah dengan obat-obatan yang ditujukan penyebab utamanya. Ini membutuhkan penanganan profesional.
      Pengelolaan lain yang juga esensial adalah terapi perilaku dan edukasi, antara lain:
      - latihan kedisiplinan dengan pola hadiah/pujian dan hukuman
      - penyederhanaan materi pelajaran
      - fokus pada apa yang bisa menimbulkan minat dan kesukaan
      - metode dan pendekatan yang penuh variasi dan peraga yang menarik dan berubah-ubah
      - perhatian dan kasih sayang

      Hapus
    3. waalikumusallam......
      pertanyaan ya sama dengan mba miroh jdi bisa dilhat sendiri sdah dijawab.
      dan strategi apa sja saat menghadapi siswa yang bandel???
      sejatinya seorang pendidik itu adalah mengajak para siswa agar bisa belajar dengan baik dan tekun. Dalam proses penyesuaian pengajaran, tentu akan terdapat ketidaksesuaian karena perbedaan persepsi, perilaku, dan harapan. Namun, ketidaksesuaian itu akan menjadi bentuk kesesuaian setelah terjadi persamaan persepsi, kehendak, perilaku, dan seterusnya. Dengan begitu, dapat dikatakan kalau siswa bandel, malas, dan manja merupakan warna asli anak-anak yang belum menemukan titik kesesuaian seperti yang diharapkan oleh guru. hal yang wajar jika siswa itu bandel, malas, dan manja. Kewajaran itu ditentukan oleh diri anak yang belum matang, belum dewasa, dan belum menemukan jatidirinya.

      Tugas gurulah untuk mengajak siswa bandel, malas, dan manja berubah menjadi siswa yang sepadan dengan aturan. Caranya:
      1. Anggaplah bahwa bandel, malas, dan manja hal yang terjadi dalam diri siswa.
      2. Identifikasikanlah tingkat kebandelan, kemalasan, dan kemanjaannya siswa tersebut.
      3. Golongkan tingkat kebandelan, kemalasan, dan kemanjaan berdasarkan kesamaan dari siswa.
      4. Carilah penyebab kebandelan, kemalasan, dan kemanjaan siswa secara detail.
      5. Berikanlah perhatian yang sesuai dengan tingkat kebandelan, kemalasan, dan kemanjaan.
      6. Terus-meneruslah memberikan perhatian kepada siswa-siswa tersebut seperti kita mengajari anak menggunakan tangan kanan.
      7. Ciptakan kondisi tertentu sampai pada taraf siswa tersebut mempunyai kedekatan dengan Anda.
      8. Cari aneka metode untuk menguabh anak dari belum bisa menjadi bisa.
      mungkin bisa dimengrti,,,,,
      trimakasihh,,,,

      Hapus
  5. panji hardiko
    2021 111 352

    askum..
    bagaimana cara menciptakan belajar mengajar yang baik? mengapa demikian,
    trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak terhadap terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana lingkungan sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara anak dan guru, maka akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi semua anak (Kusmoro, 2008).

      Hapus
    2. Wido Murni 2021110302

      Mencoba menanggapi bagaimana cara menciptakan belajar mengajar yang baik yaitu......
      1. Tingkatkan partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai teknik mengajar.
      2. Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
      3. Menarik Minat dan Perhatian Siswa.
      Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang.
      4. Membangkitkan Motivasi Siswa
      Motif adalah semacam daya yang terdapat dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedang motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.
      Tugas guru adalah bagaimana membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar. Berikut ini beberapa cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa :
      • Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya;
      • Pada awal kegiatan pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, sehingga siswa terpancing untuk ikut serta didalam mencapai tujuan tersebut.
      • Guru berusaha mendorong siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
      • Guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usahanya sendiri;
      • Guru selalu berusaha menarik minat belajar siswa.
      • Sering-seringlah memberikan tugas dan memberikan nilai seobyektif mungkin.

      Hapus
  6. tolkhah
    2021 111 348

    assalamualaikum,,
    bagaimanakah cara guru ketika dalam proses belajar, alat pembelajaran yang dibutuhkan tidak lengkap bahkan tidak ada?
    wassalamualaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. kreatif dan inovatif dg cara memaksimalkan yang ada

      Hapus
    2. Wido murni 2021110302

      Kita sebagai guru yang profesional Dalam manajemen sumber daya manusia, menjadi profesional adalah tuntutan jabatan, pekerjaan ataupun profesi. Ada satu hal penting yang menjadi (dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, maupun dalam bidang yang digeluti seperti pilot, ataupun profesi yang telah familiar ditengah masyarakat. Akan tetapi guru...? Sudahkan menjadi profesi dengan kriteria diatas. Guru jelas sebuah profesi. Akan tetapi sudahkah ada sebuah profesi yang profesional...? Minimal menjadi guru harus memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Apabila keahlian tersebut tidak dimiliki, maka tidak dapat disebut guru. Artinya tidak sembarangan orang bisa menjadi guru.

      Hapus
  7. Muhammad Azizin
    2021 111 316

    1. Kenapa belajar perlu diberi batasan waktu?,
    2. Jika dalam batasan waktu tertentu,tujuan pendidikan tidak tercapai, apakah proses pendidikan dikatakan gagal atau bagaimana??
    3. Jika dilihat dari macam-macam komponen belajar mengajar, ketika guru hanya mengajarkan apa yang ada di buku tanpa menambahi penjelasan, keterangan, dan perluasan materi, apakah guru di sini hanya berfungsi sebagai alat penyampai bahan belajar ataukah berfungsi sebagai sumber belajar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo menurut sya belajar itu ga ada batas waktu nya,,,, belajar boleh kapan saja boleh melalui formal maupun non formal.tanpa batas yang membatasi hanya kematian saja,

      yo bisa dikatakan gagal,atau kurang maksimal.krna pendidik itu tidak bisa memahamkan kepada siswanya, kan arti dari tujuan pembelajaran adalah pembelajaran tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. jdi maksudnya itu setelah siswa mengikuti pembelajaran,siswa diharapkan agar bisa memahami,dan mengaplikasikan apa yang telah disampaikan oleh pendidik.
      dengan cara seperti apa agar siswa bisa diharapkan sesuai dengan tujuan itu??? pastinya seorang pendidik itu harus memiliki materi yang luas agar menyampekan materinya itu maksimal dan bisa meng efektifkan kelas dengan metode- metode pengajaran, bisa memberikan respon terhadap siswa, memberikan kesempatan agar siswa bisa aktif, sehingga siswa itu bisa mengembangkan ilmu nya dngan baik.

      Hapus
  8. 2021 111 316

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.

    saya ingin bertannya, apa perbedaan dan persamaan antara belajar, menuntut ilmu, dan mengaji?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Persamaannya baik menuntut ilmu dan mengaji, adalah sama-sama belajar
      Perbedaannya menuntut ilmu itu bisa bermacam-macam, Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu, ibadah seseorang menjadi sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah saw. mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan. Umat Islam wajib menuntut ilmu yang selalu dibutuhkan setiap saat. Ia wajib shalat, berarti wajib pula mengetahui ilmu mengenai shalat. Diwajibkan puasa, zakat, haji dan sebagainya, berarti wajib pula mengetahui ilmu yang berkaitan dengan puasa, zakat, haji, dan sebagainya sehingga apa yang dilakukannya mempunyai dasar. Dengan ilmu berarti manusia mengetahui mana yang harus dilakukan mana yang tidak boleh, seperti perdagangan, batas-batas mana yang boleh diperbuat dan mana yang dilarang.
      Sedangkan mengaji adalah ilmu Agama Rosulullah memerintahkan kita untuk tidak pernah berhenti ngaji(menuntut ilmu), setidaknya ada dua alasan yang menuntut kita agar selalu ngaji sepanjang hidup.
      1. Manusia mudah lupa

      Lupa adalah sifat dasar manusia, tidada seorangpun yang dapat melepaskan diri dari sifat ini, meski intensitasnya berbeda beda, ada yang sekali saja, atau yang kadang-kadang lupa, bahkan ada yang sering lupa sampai-di juluki si pikun. Dengan ngaji / belajar, maka seseorang dapat mengulang secara kontinyu pelajaran yang pernah di pelajarinya, sehingga ilmu tersebut tetap bertahan di dalam hatinya dan tidak lupa, ngaji juga dapat di jadikan sebagai media pengingat pelajaran-pelajaran yang telah terlupakan.
      2. Keadaan manusia selalu berubah-ubah

      Perubahan umur dan nasib seseorang menjadikanya senantantiasa menuntut ilmu yang berdasarkan umur dan kodisi nasibnya. karena pada setiap perubahan manusia membutuhkan ilmu yang berbeda-beda.

      Ketika masih anak-anak dia hanya di wajibkan belajar tentang pokok-pokok akidah, namun ketika seorang beranjak dewasa, maka dia membutuhkan ilmu yang lebih banyak lagi, seperti tata cara sholat atau puasa, karena ketika dia baligh dia di wajibkan untuk sholat, ketika udah menjadi remaja dan mau nikah maka dia di wajibkan untuk belajar ilmu tentan ahkam an nikah dan ilmu belkeluarga agar dapat mewujudkan keluarga yang bahagia.

      Hapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus