Laman

Sabtu, 20 September 2014

SPI - H - 3 : Peradaban Islam pada Dinasti Umayyah Timur dan Barat



Makalah
Peradaban Islam pada Dinasti Umayyah Timur dan Barat
Disusun dan Disampaikan guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I


oleh :
Siti Nurul Fadila (2021113157)
Marisa Cagar Patria (2021113171)
Dewi Astuti (2021113174)

Kelompok 3 
 Kelas PAI-H

JURUSAN TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2014



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masa pemerintahan Bani Umayyah, merupakan masa kepemerintahan setelah khalifahur rasyidin, setelah khalifah Ali terbunuh dalam peperangan di Siffin. Muawiyyah memerintah setelah melakukan perjanjian dengan Hasan. Muawiyyah merupakan orang yang sangat cerdik, pada masa pemerintahannya agama Islam berkembang pesat serta banyak menaklukan wilayah-wilayah. Setelah kematiannya Muawiyyah digantikan oleh keturunannya, yang mengalami pasang surut dalam masa pemerintahannya, sehinngga mengakibatkan kehancuran Dinasti Umayyah.
Pada abad ke-7 M, ketika Nabi Muhammad memulai misinya di negeri Arab, seluruh pantai laut tengah merupakan bagian dari masyarakat Kristen. Ketika Islam memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakanganya.
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam tampak mudah di sebabkan oleh faktor eksternal dan internal.
Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol berupa kemajuan Intelektual, kemajuan pembangunan fisik, faktor-faktor pendukung kemuajuan. Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini, banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam, yang berkembang di periode klasik.
Transmisi ilmu-ilmu keIslaman ke Eropa melalui perang Salib, Negara Sicilia, dan melalui Andalusia.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa pendiri Dinasti Umayyah ?
2.      Siapa para khalifah Dinasti Umayah ?
3.      Apa yang menyebabkan kemajuan Dinasti Umayyah ?
4.      Apa yang menyebabkan kehancuran Dinasti Umayyah ?
5.      Kapan masuknya Islam di Spanyol ?
6.      Faktor-faktor yang menyebabkan Islam mudah masuk ke Spanyol ?
7.      Bagaimana perkembangan Islam di Spanyol ?
8.      Bagaimana kemajuan peradaban Islam di Spanyol ?
9.      Apa pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa ?
10.  Bagaimana transmisi ilmu-ilmu keislaman di Eropa ?

C.     Metode
Makalah ini dibuat dengan mengunakan metode kajian pustaka yaitu dengan mencari dan mengunakan referensi buku atau kajian lainnya yang merujuk pada permasalahan.
D.    Sistimatika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dengan mengunakan 3 bagian yaitu :
BAB I, bagian pendahuluan yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah,metode pemecahan masalah, sistematika penulisan makalah.
BAB II, bagin pembahasan
BAB III, bagian penutupan terdiri dari kesimpulan








BAB II
PEMBAHASAN
1.      DINASTI UMAYAH 661-750
A.    Berdirinya Dinasti Umayah
Dinasti Umayyah (sebut: Umayah) mengambil nama  keturunan dari Umayah ibn Abdi Syams ibn Manafah. Ia adalah salah seorang terkemuka dalam persekutuan pada zaman Jahiliyah, bergandeng dengan pamannya Hasyim ibn ‘Abdi Manaf. Umayah dan Hasyim berebut pengaruh dalam proses-proses sosial-politik pada zaman Jahiliyah, namun Umayah lebih dominan. Hal ini karena ia merupakan pengusaha yang kaya, dan memiliki banyak harta yang berlimpah. Padahal harta dan kekayaan menjadi faktor dominan untuk merebut hati di kalangan Quraisy, sehingga Hasyim tidak dapat mengimbangi keponakannya tersebut.
Setelah kematian Hasan akibat di racun, Muawiyah menjadi penguasa tunggal dan memindahkan ibu kota pemerintahan yang semula di Kufah dan sebelumnya lagi di Madinah berganti ke Damaskus. Pada masa ini terdapat tiga tokoh kunci yang berpengaruh di kalangan Umayah. Mereka adalah Amr ibn al-Ash, Mughirah ibn Sho’bah, dan Ziyad ibn Abih. Ketiga tokoh inilah yang membantu meletakkan fondasi Dinasty Umayah, Muawiyah segan terhadap ketiganya, karena mereka itu paham betul kelebihan dan kekurangannya. Amr ibn al-Ash adalah tokoh yang menyelamatkan Muawiyah pada saat perang Siffin. Sementara Mughirah dan Ziyad dianggap sebagai tokoh yang memperkokoh kedudukannya sebagai khalifah.[1]
Berdirinya Muawiyyah bukan hanya di karenakan kemenangan diplomasi difisin dan terbunuhnya Ali. Melainkan sejak gubernur Suriah itu memiliki “basis rasional” yang solid bagi landasan pembangunan politiknya di masa depan. Pertama, berupa dukungan yang kuat dari rakyat Suriah dan dari keluarga Bani Umayyah sendiri. Kedua, sebagai administrator, Muawiyyah sangat bijak dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan-jabatan penting. Ketiga, Muawiyyah memiliki kemampuan menonjol sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat “hilm”, sifat tertinggi yang dimiliki oleh pembesar Mekah pada zzaman dahulu.[2]
B.     Para Khalifah di Dinasti Umayyah
Kekuasaan Dinasti Umayyah hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 khalifah. Di antara mereka ada pemimpin-pemimpin besar yang berjasa ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Adapun urutan khalifah Umayah:
1.      Muawiyah 1 bin Abi Sufian (41-60 H / 661-679 M)
Silsilah Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri Daulah Amawiah yang berkuasa atas pemerintah kaum Muslimin selama delapan puluh tahun (40-132 H) bersambung kepada Umayah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay.
2.      Yazid 1 bin Muawiyah (60-64 H / 679-683 M)
Yazid dilahirkan dari isteri Muawiyah yang bernama Maimu binti Bahdal Al Kabiah, seorang wanita kampung yang dinikahi Muawiyah sebelum ia menjadi khaifah. Ia fasih dalam berkata, dermawan, dan sangat pandai bersyair.
3.      Muawiyah II bin Yazid (64 H / 683 M)
Muawiyah II saat diangkat menjadi khalifah masih anak-anak dan dianggap lemah. Dia tidak meninggalkan sesuatu yang pantas untuk dicatat mengingat masa pemerintahannya juga hanya empat puluh hari saja. Dia juga tidak sempat menikmati kekuasaanyya karena ia sakit sehingga hanya terdiam didalam rumahnya.
4.      Marwan I bin Hakam (64-65 H / 683-684 M)
Marwan adalah keturunan Bani Umayah yang dikenal bersikap memusuh Rasulullah dan dakwahnya. Marwan adalah seorang intelek, petah lidah, pemberani, dan seorang yang rajin membaca Al-qur’an.
5.      Abdul Malik bin Marwan (65-86 H / 684-705  M)
Abdul Malik bin Marwan lahir di Madinah pada tahun 26 H, pada masa pemerntahan Utsman bin Affan. Tercatat, bahwa ia tumbuh dengan sangat cepat dan terkenal sebagai pemberani serta suka menolong.
6.      Al-Walid I bin Abdul Malik (86-96 H /705-714 M)
Memerintah 10 tahun lamanya pada masa pemerintahannya, kekayaan dan kemakmuran melimpah ruah. Kekuasaan Islam melangkah ke Spanyol dibawah pimpinan pasukan Thariq bin Ziyad ketika Afrika dipegang oleh gubernur Musa bin Nushair. Karena kekayaan melimpah maka ia sepurnakan pembangunan gedung-gedung, pabrik-pabrik, dan jalan-jalan yang dilengkapi dengan sumur untuk para Khalifah yang berlalu lalang di jalur tersebut.
7.      Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H / 714-717 M)
Ia merupak Khalifah yang kurang bijaksana, suka harta sebagaimana yang diperlihatkan ketika ia menginginkan harta rampasan perang dari Spanyol yang dibawa oleh Musa bin Nushair. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dibenci oleh rakyatnya, karena tabiatnya yang kurang bijaksana itu. Para pejabatnya terpecah belah demikian pula masyarakatnya.


8.      Umar bin Abdul Aziz (99-101 H / 717-719 M)
Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, namun Umar merupakan “Lembaran Putih” Bani Umayah dan sebuah periode yang berdiri sendiri, mempunyai karakter yang tidak terpengaruh oleh berbagai kebijaksanaan daulah Bani Umayah yang banyak disesali. Ia merupakan personifikasi seorang Khalifah yang taqwa dan bersih.
9.      Yazid II bin Abdul Malik (101-105 H / 719-723 M)
Dilantik menjadi Khalifah pada bulan Rajab tahun 101 H, sesudah ia menjabat Khalifah, Syaudzab Al Khariji menyatakan perang kepada orang-orang Amawi dan dalam beberapa pertempuran Syaudzab berhasil mengalahkan mereka, sampai Maslamah bin Abdul Malik diangkat oleh Yazid sebagai gubernur Koufah. Masa pemerintahan Yazid diwarnai pula dengan peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Yazid bin Al Mulahhab bin Abu Shufrah. Tercatat, bahwa ia dipenjarakan pada masa pemeriintahan Khalifah Umar bin Abdul Azizi, tetapi ia berhasil melarikan diri dari penjara lalu bergerak menuju Bashrah dan berhasil menawan gubernurnya.
10.  Hisyam bin Abdul Malik  (105-125 H /723-742 M)
Hisyam adalah seorang yang cerdas, penyantun, dan murah hati. Dia juga terkenal sebagai seorang ahli strategi dan seorang politikus ulung sehingga dikatakan, bahwa ahli politik dari Bani Umaya ada tiga orang : Muawiyah, Abdul Malik, dan Hisyam.
11.  Al-Walid II bin Yazid II  (125-126  H / 742-743 M)
        Al Walid terkenal sebagai seorang Khalifah yang gemar berfoya-foya, hura-hura, dan bermaiin perempuan. Dia juga dikenal sebagai seorang penyair yang kualitatif yang berhasil menciptakan beberapa bait syair yang baik sekala daam objek celaan, asmara, dan obsesinya tentang arak. 
12.  Yazid bin Walid bin Malik  (126 H / 743 M)
Ia adalah seorang bermata juling dan suka menampakkan diri sebagai orang yang taat beribadah. Namun ia juga dijuluki dengan orang kikir, karena telah memotong gaji para tentara terutama para  tentara Hijaz. Ia juga seorang Khalifah yang berfaham ajaran Mu’tazilah.
13.  Ibrahim bin Al-Walid II  (126-127  H / 743-744 M)
Ibrahim Al Walid dilantik  sesudah Yazid bin Walid meninggal. Ia hanya memerntah selama 2 bulan saja.
14.  Marwan II bin Muhammad      (127-132 H / 744-750 M)[3]
Ia merupakan Penguasa Umayah terakhir yang dibunuh di Mesir oleh pasukan Abbasiyyah.
C.    Kemajuan Dinasti Umayyah
Bani Umayah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian bertumpu ada usaha perluasan wilayah dan penaklukan yang terhenti sejak zaman kedua Khulafaur-Rasyidin terakhir. Menurut prof. Ahmad Syalabi, penaklukan militer di zaman Umayah mencakup tiga fron penting, yaitu sebagai berikut :
1.      Fron melawan Roma di Asia kecil dengan sasaran utama pengeppungan ke Ibu kota Konstantinopel dan penyerangan ke pulau-pulau di laut tengah.
2.      Fron melawan Afrika Utara, selain menundukan daerah pasukan Muslim, juga menyeberangi Gibraltal lalu masuk ke Spanyol.
3.      Fron timur, menghadap wilayah yang sangat luas, sehingga operasi ke jalur ini dibagi menjadi dua arah. Yang satu menuju Utara ke daerah-daerah di sungai Jihun atau Ammu Darya. Sedangkan, yang lain ke selatan menyusuri Sind, wilayah India bagian barat.
D.    Masa Kehancuran Dinasti Umayyah
Meskipun kejayaan Dinasti Umayyah telah di raih, ternyata tidak bertaman lama, di karenakan kelemahan-kelemahan internalnya dan semakin kuatnya tekanan dari pihak luar. Menurut Dr. Badri Yatim, ada beberapa faktor menyebabkan Dinasti Umayyah lemah dan membawanya dalam kehancuran, yaitu :
1.      Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan yang tidak sesuai dengan tradisi Arab, yang lebih menentukan aspek senioritas, pengaturannya tidak jelas.
2.      Latar belakang terbentuknya Dinasti Umayyah tidak dapat di pisahkan dari beberbagai konflik polotik yang terjadi di masa khalifah Ali.
3.      Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara dan Arab Selatan sudah ada sejak sebelum Islam semakin runcing.
4.      Lemahnya pemerintahan Bani Umayyah di sebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban kenegaraan makalah mereka mewarisi kekuasaan.
5.      Penyebab langsung runtuhnya kekuasaaan Dinasti Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang di pelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abas Al-Muthalib.[4]

2.      ISLAM DI SPANYOL
Setelah berakhirnya periode klasik Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbalakangannya, kebangkitan itu bukan saja terihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak bisa di pisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Islam Spanyol di Eropa banyak menimba ilmu. Ada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.
A.    Masuknya Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasa Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan Afrika Utara itu terjadi di masa Abdul Malik (685-705 M).
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paing berjasa memimpin satuan-satuan pasukan kesana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Aziz tahun 99 H/717 M. Kali ini, sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 201 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abd Al-Rahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordesu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan menyebar jauh menjangkau Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam Nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya factor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan factor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol itu sendiri. Adapun yang dimaksud dengan factor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang, dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklikan wilayah Spanyol pada khususnya. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
B.     Faktor-faktor yang Menyebabkan Islam mudah masuk Spanyol
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam tampak mudah di sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol itu sendiri. Contoh : kondisi politik yang buruk mengakibatkan sosial dan ekonominya semakin lemah. Faktor internal : suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, beberapa tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam wilayah Spanyol khususnya. Contoh: sikap yang kompak, berani dan percaya diri para pemimpin dan prajurit Islam.[5]
C.    Perkembangan Islam di Spanyol
Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu :
1.      Periode pertama (7711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar.Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat erbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa, merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam.
Periode ini berakhir dengan datangnya Abd Al-Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2.      Periode Kedua (755-921 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu di pegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad.
Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman Al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al-Ausath, Muhammad ibn Abd Al-rahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9, stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan (Martyrdom). Namun, Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri.  Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu, sejumlah orang tidak puas membangkitkan revolusi. Yang terpentig di antanya adalah, pemberontakan yang di pimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga.
3.      Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd Al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompk” yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini, umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd Al-Rahman Al-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat. Awal kehancuran khalifah Bani Umayah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu, kekuasaan actual berada di tangan para pejabat.
4.      Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga pulih negara di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif. Umat Islam Spanyol kembali memasuki pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan keopada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang Kristen pada periode ini, mulai megambil inisiatif peperangan.
5.      Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini, Spanyol Islam masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan Dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya dalah sebuah gerakan agama yang didirikan ole Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas “undangan” pengusa-penguasa Islam disana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negerinegerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart.
6.      Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir, karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan.
D.    Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol
1.      Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. 1. Filsafat, 2. Sains, 3. Fiqih, 4. Musik dan Kesenian, dan 5. Bahasa dan Sastra.
2.      Kemegahan pembangunan fisik
Aspek-Aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sangat banyak. Pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota Al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Sragosa, tembok Toledo, istana Al-Makmun, Masjid Seville, dan istana Al-Hamra di Granada.
3.      Faktor-faktor pendukung kemajuan
Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat da berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam.
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga, mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol.
E.     Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini, banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam, yang berkembang di periode klasik.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, social, maupun perekonomian,dan peradaban antarnegara. Pengaruh peradaban Islam, termasuk didalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa yang belajar di universitas-universitas Islamdi Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Erpa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin.[6]
F.     Transmisi Ilmu-ilmu keislaman ke Eropa
Sebenarnya transmisi ilmu pengetahuan Islam mengalir ke Eropa melalui berbagai jalur. Jalur-jalur tersebut adalah melalui perang Salib, negeri Sicilia, dan Spanyo (Andalusia).
1.      Melalui Perang Salib
Perang Salib yang terjadi dari tahun 1096-1273 M (489-666 H) adalh perang antara Umat Kristen Eropa Barat ke tanah Timur khususnya Palestina yang dikuasai daulah Islam.
Dengan adanya perang Salib ini banyak membawa keuntungan bagi benua Eropa. Perhubungan orang Kristen dengan orang Timur Tengah memberikan kemajuan dalam berbagai bidang. Ketika kembali ke Eropa kapal-kapal mereka membawa barang-barang berharga seperti kain tenun sutera, bejana dari porselin, dan lain-lain.
2.      Melalui Negara Sicilia
Sebagai titik persentuhan dari dua lapangan kebudayaan, maka pulai Sicilia teristimewa merupakan alat penghubung untuk meneruskan pengetahuan kuno dan pengetahuan abad pertengahan.
Ada dua jembatan penyeberangan filsafat Islam ke Eropa, pertama melalui orang-orang Islam Andalusia (Spanyol), kedua, melalui orang-orang Sicilia. Sebenarnya, tidak hanya filsafat.
Beberapa disiplin ilmu telah diperkenalkan dan dikembangkan di Sicilia. Diantara tokoh-tokoh yang mengembangkan ilmu di Sicilia adalah:
a.       Hamzah Al-Basri, ahli filologi dan perawi dari penyair-penyair besar Arab Al-Mutanabbi.
b.      Muhammad bin Khurusan, ahli status Al-qur’an (sejarah hermenetik dan sejarah perkembangan huruf-huruf Al-qur,an).
c.       Para dokter Sicilia antara lai Abu Sa’id bin Ibrahim; Abu Bakr As-Siqili salah seorang guru besar dari para dokter; Ibnu Abi Usaibi. Abu Abbas Ahmad bin Abdussalam.
d.      Masih banyak lagi yang bergerak dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang bahasa dan sastra. Termasuk yang menarik adalah karya Dante. Divine Comedy.
3.      Melalui Andalusia ( Spanyol )
Peran Andalusia ( Spanyol ) sebagai wahana penbrangan ilmu pengetahuan ke Eropa tidak di ragukan lagi. Semasa Islam di Andalusia ada sejumlah perguruan tinggi terkensl di sana. Perguruan tinggi itu antara lain : Universitas Cordova, Sevilla, Malaga dan Granada. Di samping itu juga memiliki gedung perpustakaan terbesar. Di Andalusia sedikit demi sedikit kehilangan wilayah kekuasaan. Tahun 1085 M, Toledo di rebut oleh Kriten. Tahun 1236 M Cordova di rampas oleh Raja Alfonso. Penyaluran ilmu pengetahuan Eropa di mulai ketika Toledo jatuh ke tangan Kristen untuk mempermudah penyerapan ilmu-ilmu Arab, di Toledo di dirikan sekolah tinggi terjemah.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dinasti Umayyah di ambil dari nama Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf. Ia seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa Jailiyyah. Para Khalifah pada masa Bani Umayyah berjumlah 14 orang, dengan masa kejayaannya yang berbeda-beda.
Dinasti Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif yang perhatiannya tertumpu pada perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua Khulafaur Rasyidin terakhir.
Bani Umayyah mengalami kemunduran dengan beberapa faktor: sistem perpindahan khalifah yang berdasarkan keturunan, terdapat berbagai konfik politik pada masa Ali, pertentangan etnis suku Arab Selatan dan Utara. Dan sikap hidup mewah di lingkungan istana.
Spanyol di duduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M) salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.
Perkembangan Islam di Spanyol berlangsung dari setengah abad yang dapat di bagi menjadi 6 periode. Kemajuan peradaban Islam di Spanyol antara lain : 1. Kemajuan intelektual (filsafat, sains, fiqih , musik dan kesenian, bahasa dan sastra), 2. Kemegahan perkembangan fisik, 3. Faktor-faktor pendukung kemajuan, dan 4. Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa.
Transmisi ilmu-ilmu keislaman Eropa melalui perang salib, Melalui Negara Sicilia, dan melalui Andalusia ( Spanyol ).



DAFTAR PUSTAKA

Amin. Syamsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah.
Karim. M.Abdul. 2010. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Jakarta : Pustaka Book Publisher.
Yatim. Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Ibrahim. Hasan Hasan. 2001. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.





















[1] Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, ( Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007), hlm 113-114.
[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradan Islam, ( Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 119-120.
[3] Samsul Munir Amin...hlm. 121.
[4] Ibid.......hlm.129-136.
[5] Ibid.....166-168
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 87-110.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar