Laman

Minggu, 15 Februari 2015

L-I-03: Dzikriyatul Fikriyah

"METODE PEMBELAJARAN DALAM RUMAH TANGGA"
Mata kuliah : Hadits Tarbawi II


                                                                       Disusun Oleh :
                                                   Dzikriyatul Fikriyah               2021213031
          
KELAS L

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2015









KATA PENGANTAR
           
Bismillahirrahmanirrahim,

            Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “Metode Pembelajaran Dalam Rumah Tangga” ini dapat diselesaikan.
            Makalah ini merupakan materi yang disajikan sebagai bahan pembelajaran dalam mata kuliah Hadis Tarbawi II. Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai metode-metode pembelajaran dalam rumah tangga. Dengan ini diharapkan mahasiswa mampu mengambil pelajaran dari materi yang telah disampaikan pada makalah ini, diantaranya adalah mahasiswa mampu berpikir jernih tentang harapan yang diinginkan dan banyak timbul pula rasa keingintahuan mengenai sesuatu yang ada di dunia ini sehingga pola pikir mahasiswa dapat berkembang maju, progresif, kreatif dan inovatif .
            Dengan kemampuan yang sangat terbatas, penulis sudah berusaha menyusun makalah ini yang diambil dari beberapa referensi buku dan referensi lainnya. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik konstruktif dari pembaca.
            Akhirnya, semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya,. Amin yaa robbal ‘alamin.


Pekalongan, 13 Februari 2015




                                                                                    Penulis








A. PENDAHULUAN
Pada dasarnya, metode pendidikan Islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka sehingga aplikasi metode ini memungkinkan puluhan ribu kaum mukminin dapat membuka hati manusia untuk menerima petunjuk Ilahi dan konsep-konsep peradaban Islam. Selain itu, peradaban Islam akan mampu menempatkan manusia di atas luasnya permukaan bumi dan dalam lamanya masa yang tidak di berikan kepada penghuni bumi lainnya.
Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan. Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. (Anwar, 2003: 42) Rasul saw.
   sejak awal sudah mencontohkan dalam mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan ajaran Islam. Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah swt. dan syari’at-Nya.
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan sebuah pembahasan hadis tentang pendidikan rumah tangga yang berjudul “Metode Pembelajaran Dalam Rumah Tangga” Dalam makalah ini akan di bahas tentang hadits yang metode pembelajaran dalam rumah tangga. Berikut pembahasannya.

B. PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
a. Pengertian Metode
Dari segi bahasa, metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian, metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tertentu (Barnabid, 1990: 85). Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya berarti jalan untuk mencapai tujuan. Jalan unutk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada posisinya sebagai cara untuk menemukan, mnguji, dan menyusun data yang diperlukanbagi pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya suatu pemikiran (Langgulung, 1990: 183). Dengan pengertian yang terakhir ini, metode lebih memperlihatkan sebagai alat untuk mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan teori atau temuan. Dengan metode serupa itu, ilmu pengetahuan dapat berkembang (Abuddi Nata, 2001: 91).
Selanjutnya jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter, dapat membawa arti metode sebagai jalan unutk menanamkan karakter pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.
b. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah bagian dari tiga intuisi pendidikan selain sekolah dan masyarakat. Di dalam keluarga anak banyak belajar tentang norma dan nilai. Jika di bandingkan dengan sekolah atau masyarakat, kedudukan keluarga sebagai lembaga pendidikan lebih esensial. Hal ini di dasari oleh keberadaan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang bisa mempengaruhi anak.
Sebuah istilah Arab mengatakan bahwa metode lebih baik dari pada isi materi. “Ath-Thoriqotu ahammu minal madah”. Cara penyampaian yang baik dan sesuai dengan objek lebih utama dari pada isinya karena keberhasilan pesan yang akan disampaikan akan bergantung dari cara menyampaikannya.

2. TEORI PENDUKUNG
a. Metode-Metode Pembelajaran Dalam Rumah Tangga
1)   Metode Internalisasi
Metode internalisasi adalah upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehiduoan sehari-hari. Definisi ini sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Tafsir (2011: 299), bahwa pengetahuan (baik itu konsep netral maupun konsep yang mengandung nilai, ataupun konsep berupa nilai) adalah sesuatu yang diketahui. Pengethuan masih berada di otak, dikepala, dipikiran, itu masih berada di daerah luar (extren); keterampilan melaksanakan juga masih berada di daerah extern. Upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) itu ke dalam pribadi, itulah yang kita sebut sebagai upaya internalisasi atau personalisasi. Personalisasi karena upaya itu berupa usaha menjadikan pengetahuan dan keterampilan itu menyatu dengan pribadi (person).
Masih menurut Tafsir, ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk pembelajaran, yaitu (a) tahu atau mengetahui (knowing). Disini tugas pendidik adalah mengupayakan agar peserta didik mengetahui suatu konsep. (b) mampu melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui (doing), dan (c) peserta didik menjadi orang seperti yang ia ketahui itu (being).
2)    Metode Keteladanan
“Anak adalah peniru yang baik”. Secara psikologis, anak memang sangat membutuhkan panutan atau contoh dalam keluarga. Sehingga dengan contoh tersebut anak dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya jika anak tidak memperoleh model atau perilaku yang mencerminkan akhlak karimah, tentu mereka pun akan melakukan hal-hal yang kurang baik.
Hal senada diungkapkan oleh Ahmad Tafsir (2013: 129), hakikat metode keteladanan adalah pendidik meneladankan muslim dalam segala aspeknya. Yang meneladankan itu tidak hanya orang tua, tapi seluruh orang yang kontak dengan anak, antara lain: ayah, ibu, kakek-nenek, paman-bibi dan segenap orang yang ada dirumah teramasuk pembantu dan orang-orang yang ada disekitar rumah. Mereka seharusnya meneladankan kebersihan, sifat sabar, kerajinan, transparansi, musyawarah, jujur, kerja keras, tepat waktu, tidak berkata jorok, mengucapkan salam, senyum, dan lain sebagainya.
Dari penjelasan diatas dapat ditegaskan bahwa seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memilih karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.
3)    Metode Pembiasaan
Metode lain yang cukup efektif dalam membina karakter anak adalah melalui pembiasaan. Para pakar pendidikan sepakat bahwa untuk membentuk moral atau karakter anak dapat mempergunakan metode ini. Al-Ghazali (1985: 53) misalnya, menekankan pentingnya metode pembiasaan diberikan kepada anak sejak usia dini. Beliau menyatakan, “Hati anak bagaikan suatu kertas yang belum tergores sedikitpun oleh tulisan atau gambar. Tetapi ia dapat menerima apa saja bentuk tulisan yang digoreskan, atau apa saja yang digambarkan didalamnya. Bahkan, ia akan cenderung kepada sesuatu yang diberikan kepadanya. Kecenderungan itu akhirnya akan menjadi kebiasaan dan terakhir menjadi kepercayaan (kepribadian). Oleh karena itu, jika anak sudah dibiasakan melakukan hal-hal bain sejak kecil, maka ia akan tumbuh dala kebaikan itu dan dampaknya ia akan selamat di dunia dan akhirat.
Dari penjelasan diatas dapat ditegaskan bahwa penggunaan metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.
4)    Metode Bermain
“Dunia anak adalah dunia bermain”. Demikian ungkapan para ahli pendidikan sejak zaman dahulu kala. Ungkapan ini menunjukkan bahwa bermain dapat dijadikan salah satu metode dalam mendidik karakter anak di keluarga. Belajar sambil bermain demikian istilahnya. Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak mendapatkan informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melalui ketrampilan yang ada.
Anak-anak senantiasa tumbuh dan berkembang. Mereka manampilkan ciri-ciri fisik dan psikologis yang berbeda untuk tiap tahap perkembangannya. Masa anak-anak merupakan masa puncak kreatifitasnya dan kreativitas mereka perlu terus dijaga dan dikembangkan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas melalui bermain. Oleh karena itu, pendidikan dirumah yang menekanka bermain sambil belajar dapat mendorong anak untuk mengeluarkan semua daya kreativitasnya.
Beberapa ahli psikologi anak seperti Rodgers, Erikson, Piaget, Vygorsky dan freud, menyampaikan paling tidak ada tiga jenis kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak, yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran dan bermain konstruktif.
Pertama, bermain fungsional atau sensomotor dimaksudkan bahwa anak belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya. Kegiatan sensomotor anak didukung ketika anak-anak disediakan kesempatan unutk bergerak secara bebas berhubungan dengan bermacam-macam bahan dan alat permainana, baik di dalam maupun di luar ruangan, dihadapkan dengan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak.
Kedua, bermain peran disebut juga bermain simbolik, pura-pura, fantasi, imajinasi atau bermain drama. Bermain peran ini sangat penting unutk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun. Bermain peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembanagn daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama kelompok, penyerapan kosakata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, ketrampilan spasial, afesi dan ketrampilan kognisi. Kualitas pengalaman main peran tergantung pada beberapa faktor, anatara lain; (a) cukup waktu untuk bermain, (b) ruang yang cukup dan (c) adanya peralatan unutk mendukung bermacam-macam degan permainan.
Ketiga, bermain konstruktif dilakuakn melalui kegiatan bermain untuk membuat bentuk-bentuk tertentu menjadi sebuah karya dengan menggunakan beraneka bahan, baik bahan cair, maupaun bahan terstruktur seperti air, cat, krayon, playdough, pasir, puzzle atau bahan alam lain.
Dalam kegiatan bermain, dikenal adanya konsep intensitas dan dentitas. Konsep intensitas menekankan pada jumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk berpindah melalui tahap perkembangan kognisi, sosial, emosi, dan fisik yang dibutuhkan. Konsep densitas menekankan pada keanekaragaman kegiatan bermain yang disediakan untuk anak di lingkungannya. Kegiatan ini harus memperkaya kesempatan pengalaman anak melalui beberapa jenis bermain yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan perkembangan anak.
5)    Metode Cerita
Metode bercerita merupakan salah satu yang bisa digunakan dalam mendidik karakter anak. Sebagai suatu metode, bercerita mengundang perhatian anak terhadap pendidik sesuai dengan tujuan mendidik. Adapun tujuan metode bercerita adalah agar pembaca atau pendengar cerita/kisah dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa, baik lisan maupun tulisan. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak. Intinya bercerita dapat membentuk karakter anak secara tidak langsung (Salim, 2013: 262).
6)    Metode Nasehat
Metode lain yang dianggap representatif dalam membina karakter anak adalah melaui nasihat. Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Dengan demikian, metode ini memadukan antara metode ceramah dan keteladanan, namun lebih diarahkan kepada bahasa ati, tetapi bisa pula disampaikan dengan pendekatan rasional (Syarbini, 2012: 85).
Dengan demikian dapat ditegaskan, metode nasihat merupakan metode yang baik untuk membentuk karakter anak. Agar nasihat daoat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberi nasihat.
7)    Metode Pengahargaan dan Hukuman
Metode terakhir yang dianggap dapat membantu dalam menanamkan karakter pada anak adalah metode dengan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase dari pekembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan. Karena itu, jika anak bisa melakukan hal-hal yang terpuji selayaknya orang tua memberikan apresiasi penghargaan, tetapi tidak boleh berlebihan. Karena dengan adanya penghargaan, anak akan lebih termotivasi unutk melakukan perbuatan-perbuatan baik, selanjtnya dengan pengahrgaan baisanya anak merasa bangga dan percaya diri.
Selain penghargaan, metode hukuman juga bisa diterapkan dalam membentuk karakter anak. Namun oerlu digaris bawahi, metode hukuman sebenarnya kurang baik bila diterapkan dalam pendidikan, terlebih untuk mendidik anak. Sebab dengan adanya hukuman biasanya anak melakukan sesuatu dalam keterpaksaan karena takut hukuman.
Sebenarnya, tidak ada ahli pendidikan yang menghendaki digunakannya hukuman dalam pendidikan kecuali bila terpaksa. Hadiah atau penghargaan jauh lebih dipentingkan ketimbang hukuman. Dari paparan diatas dapat disimpulkan, metode penghargaan dan hukuman bisa digunakan dalam mendidik karakter anak, tapi penghargaan harus didahulukan daripada hukuman, jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

8)    Metode Dialog Qur’ani dan Nabawi
a)   Dialog Khithabi dan Ta’abbudi
Keberadaan Al-Qur’an yang membina jiwa anak didik melalui metode ta’abbudi dan khitabi harus disadari setiap pendidik sehingga mereka mampu mendeteksi sejauh mana pengaruh dialog tersebut dalam jiwa anak didik. Hal-hal yang dapat dijadikan indikasi dalam melihat pengaruh itu adalah:
Pertama, Senantiasa merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Al-Qur’an dan menjawabnya sesuai dengan bisikan nurani.
Kedua,  Merasakan betrapa berpengaruhnya makna-makna yang tersirat dalam Al-Qur’an terhadap emosionalitas dan kehidupan pribadi Nabi SAW.
Ketiga, Mengarahkan perilaku dan perbuatan selaras dengan tuntunan Al-Qur’an. Sikap seperti itu merupakan hasil alamiah dari pengaruh emosional dan kepuasan penalaran yang ditimbulkan oleh metode dialog. 
b)    Dialog Deskriptif
Dialog deskriptif disajikan dengan gambaran orang-orang yang tengah berdialog. Pendeskripsian itu meliputi gambaran kondisi hidup da psikologis orang-orang yang berdialog sehingga kita dapat memahami kebaikan dan keburukannya. Selain tu, pendeskrisian berpengaruh juga pada mentalitas seseorang sehingga perasaan ketuhanan dan perilaku positif manusia akan berkembang.
c)    Dialog Naratif
Dialog naratif tampil dalam episode kisah yang bentuk dan alur ceritanya jelas sehingga menjadi bagian dari cara atau unsur cerita dalam Al-Qur’an. Walaupun Al-Qur’an mengandung kisah yang disajikan dalam bentuk dialog, kita tidak dapat mengidentikkan keberadaannya dengan drama yang sekarang ini muncul sebagai sebuah karya sastra. Artinya, Al-Qur’an tidak menyajikan unsur dramatik walaupun dalam penyajian kisahnya terdapat unsur dialog, seperti surat Hud yang mengkisahkan Syu’aib dan kamunya.
d)    Dialog Argumentatatif
Di dalam dialog argumantatif, kita akan menemukan diskusi dan perdebatan yang diarahkan pada pengokohan hujjah atas kaum musyrikin agar mereka mengakui pentingnya keimanan dan pengesaan kepada-Nya, mengakui kerasulan akhir Muhammad SAW, mengakui kebatilan tuhan-tuhan mereka dan mengakui kebenaran seruannya.
b.   Rumah Dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan
Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syari’at Islam. Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, kita dapat mengatakan bahwa tujuan terpenting dai pembentukan keluarga adalah sebagai berikut:
1)    Mendirikan syari’at Allah dalam segala permasalahan rumah tangga, artinya tujuan berkeluarga adalah mendirikan rumah tangga muslim yang mendasarkan kehidupannya pada perwujudan penghambaan kepada Allah. Unutk hubungan suami istri, Allah pun membolehkan permintaan thalaq dari seorang istri karena kekhawatiran ketidakmampuan menegakkan syari’at Allah sebagaimana difirmankan dalam ayat berikut:
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ.........
Artinya: “......  Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya .....” (Al-Baqarah: 229)
2)    Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
Artinya: “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya ........” (Al-A’raf: 189)
3)    Mewujudkan sunnah Rasulullah SAW dengan melahirkan anak-anak sholeh sehingga umat manusia merasa bangga dengan kehadiran kita. Seperti yang di sabdakan Rasulullah SAW, yang artinya:
“Menikahlah, berketurunanlah, niscaya kamu menjadi banyak, karena aku akan merasa bangga olehmu dihadapan umat Islam di hari kiamat”.
Hadits di atas mengisyaratkan kewajiban rumah tangga muslim dan mendidik putra putrinya melalui pendidikan yang dapat mewujudkan tujuan Islam dan itu terpatri dalam jiwa mereka. Kebanggaan anak umat ini hanya terletak dari lahirnya keturunan yang shaleh. Tanggung jawab itu terletak diatas pundak para orang tua sehingga anak-anak terhindar dari kerugian, keburukan dan api neraka yang senantiasa mengisyaratkan hal itu melalui firman-Nya ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu .......” (At-Tahrim: 6)
4)    Memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak. Naluri menyayangi anak merupakan potensi diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia dan binatang. Allah menjadikan sebagai salah satu landasan kehidupan alamiah, psikologis dan sosial mayoritas makhluk hidup.
5)    Menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Dalam konsepsi Islam, keluarga adalah penanggung jawab utama terpeliharannya fitrah anak. Dengan demikian, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan anak-anak lebih disebabkan oleh ketidakwaspadaan orang tua atau pendidik terhadap perkembangan anak.

3.   MATERI HADIS
a.   Hadits
حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل قال حدثنا النضر بن علقمة أبو المغيرة عن داود بن علي عن أبيه عن بن عباس : { أن النبي صلى الله عليه و سلم أمر بتعليق السوط في البيت } (رواه البخارى فى الأدب المفرد, باب تعبيق السوط فى البيت : 1229 ) [ ص 422 ] قال الشيخ الألباني : صحيح
Artinya:”Dari ibnu abbas r.a berkata:”sesungguhnya nabi saw menyuruh untuk menggantung cemeti di dalam rumah”
b.   Mufrodat
أمر   =   menyuruh
بتعليق   = menggantung
السوط   = cemeti
فى البيت   = di   dalam   rumah

c.   Biografi Perowi
Nama aslinya adalah abdullah bin abbas bin abdul mutholib bin hasyim bin abdul manaf,beliau adalah anak dari paman rasulullah,beliau lahir sebelum tahun 3 H,beliau di doakan oleh rasulullah agar di beri kepahaman mengenai alquran,sehingga ia mempunyai pengetahuan yang luas dan umar berkata:ibnu abbas merupakan salah satu orang yang banyak meriwayatkan hadist sejumlah1660,beliau wafat di kota thaif pada tahun 68 H,beliau merupakan salah satu dari sekian banyak sahabat nabi dan merupakan salah satu sahabat yang ahli dalam ilmu fiqih
Dilahirkan di makkah, tiga tahun sebelum hijrah, yaitu di lembah saat rasulullah beserta kaum muslimin dikepung oleh musyrikin quraisy, Nabi berdoa kepadanya, “ Ya allah pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah takwil “ Umar bin al-khatab mendudukannya dalam majlisnya dan mengambil manfaat dari ilmunya yang melimpah serta akalnya tang cerdas. Dia meninggal di thaif tahun 71 H dan dikuburkan di sana.
d.   Keterangan Hadis
Hadits tersebut menerangkan bahwa perintah Rasulullah kepada kita untuk menggantungkan cemeti di dalam rumah, hadits tersebut bukan bermaksud agar orang tua saling memukul anggota keluarganya akan tetapi maksudnya adalah sekedar untuk membuat rasa takut terhadap ancaman tersebut, sehingga mereka bisa atau mampu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bersifat buruk atau terrcela.

C.  REFLEKSI HADIS DALAM KEHIDUPAN
     Di dalam lingkungan buruk yang dilahirkan oleh pengaruh budaya barat dan berbagai media informasi terhadap rumah tangga muslim, dan orang tua yang larut dalam berbagai pekerjaan Seperti pada sebagian keluarga, sang ibu keluar untuk bekerja, sedangkan ayah mengambil jam lembur, akhirnya mereka sangat jauh dari pendidikan anak-anak mereka. Jika berkumpul dengan anak-anaknya, mereka kehilangan rasa humornya, yang didengarkan oleh anak-anak hanyalah teriakan dan kata-kata keras, jauh dari kalimat kasih sayang, senyum manis atau candaan. Sebagian orang tua mengira bahwa hal tersebut merupakan cara terbaik untuk mendidik anak, bahkan menurut mereka merupakan prinsip dalam hal ini. "Pukullah anakmu untuk mendidiknya, maka dia akan menjadi anak beradab dan saleh." Ini merupakan kekeliruan dalam pendidikan.
      Mendidik anak dengan menggantung pecut untuk dilihat anggota keluarga, termasuk sunah, akan tetapi itu menjadikan sarana satu-satunya dalam masalah ini adalah pendapat yang tertolak. Metode-metode pendidikan harus digali dari wahyu yang mulia; Al-Quran dan Sunah. Syariat telah membawah segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan segala urusannya. Di antara metode tersebut adalah mendidik dengan memberikan kisah. Demikianlah, mendidik dengan kisah dan menyampaikan makna agar sensitif dan mewujudkan tujuan dengan contoh, merupakan metode yang paling baik dan paling banyak menghasilkan kesuksesan dan nyata, insya Allah.
           Demikianlah, kami dapatnya kenyataan bahwa memberikan nasehat dengan kisah sangat berpengaruh dalam jiwa anak. Semakin menarik orang yang bercerita dengan caranya yang khas, akan menarik perhatian sang anak dan mempengaruhinya, karena kisah memiliki pengaruh bagi orang yang membaca atau mendengarnya.
           Termasuk perkara yang tidak diragukan lagi bahwa kisah menarik dan rinci, akan membuat pendengarnya tertarik dan sampai ke dalam jiwa manusia dengan mudah. Karenanya, metode kisah mendatangkan manfaat yang lebih efektif. Kisah adalah sesuatu yang disukai orang dan memberikan kesan dalam jika serta selalu diingat. Bahakn saat masa kecil sekalipun, mereka cenderung suka mendengarkan kisah dan memasang pendengarannya untuk itu. Fenomena ini merupakan tabiat, selayaknya bagi para pendidik memanfaatkan hal ini dalam media pendidikannya, apalagi banyak media kita yang merusak anak-anak kita dengan menjadikan bintang-bintang film sebagai pahlawan. Tidak ada seorang bintang film pun kecuali mereka melakukan wawancara dengannya.

D.  ASPEK TARBAWI
1).  Pendidik hendaknya bersikap tegas terhadap peserta didiknya.
2).  Pendidik hendaknya bersikap berani dalam mengambil keputusan.
3).  Pendidik hendaknya dapat membuat peserta didik merasa nyaman dalam menerima pelajaran.
4).  Mendidik akhlak dan jiwa peserta didik, menanamkan nilai-nilai keutamaan, membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi.


PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian metode adalah Dari segi bahasa, metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian, metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tertentu.
Beberapa metode pendidikan yang dikemukakan dalam makalah ini terdiri dari Metode Internalisasi, Metode Keteladanan, Metode Pembiasaan, Metode Bermain, Metode Cerita, Metode Nasehat, Metode Pengahargaan dan Hukuman, Metode Dialog Qur’ani dan Nabawi.





DAFTAR PUSTAKA
An-Nahlawi, Abdurrahman. 1995.  Pendidikan Isalm Di Rumah, Sekolah Dan Masyarakat, Jakarta: GEMA INSANI PRESS
Falah, Saiful. 2014. Parent Power Membangun Karakter Anak Melalui Pendidikan Keluarga, Jakarta: Republik
Syarbini, Amirullah. 2014. Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga, Jakarta: PT Elex Media Komputindo

TENTANG PENULIS
Dzikriyatul Fikriyah, dengan nama panggilan adalah Dzikri, lahir di Pemalang, Jawa Tengah pada tanggal 18 April 1992. Pendidikan dasar di SDN kebondalem 02, kemudian dilanjutkan di MTsN (Model) Pemalang, kemudian dilanjutkan di MAN Buntet Pesantren Cirebon. Pada tahun 2009, melanjutkan studi di IAIN Walisongo Semarang Fakultas Syari’ah Jurusan D.3 Perbankan Syari’ah dan lulus tahun 2012.
Pada tahun 2013 melanjutkan studi di program S.1 STAIN Pekalongan dengan mengambil program studi Pendidikan Agama Islam sampai dengan sekarang baru semester empat (4).
                 






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar