Laman

Minggu, 15 Februari 2015

L-I-02: Yuni Kurniasih


Lembaga Pendidikan
"Teladan dari Pemimpin Rumah Tangga"

Mata Kuliah: Hadist Tarbawi II


Oleh:
1.      Yuni Kurniasih    (2021213015)

KELAS L
JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
              SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)                                                        PEKALONGAN
2015


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
               Alhamdulillah, pertama dan utama kalimat puji syukur pemakalah panjatkan kehadirat Allah swt. Yang telah melimpahkan segala Rahmat, taufik, dan hidayahNya kepada pemakalah, sehingga makalah yang berjudul “Lembaga Pendidikan Teladan Pemimpin Dari Rumah Tangga’’ ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada beliau baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
               Makalah ini merupakan materi yang disajikan sebagai bahan materi dalam Mata Kuliah Hadist Tarbawi 2. Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan Mahasiswa mengenai pentingnya teladan seorang pemimpin dari Rumah Tangga sebagai pendidik atas anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa agar terbentuk  pribadi yang memiliki sifat Sidiq,Tabligh,Amanah, dan Fathanah, berakhlakul karimah serta mengikuti sunnah Nabi-Nya dan taat kepada Allah SWT untuk menjalankan tugas khalifah dibumi terutama dalam keluarga.
               Sebelum mengakhiri pengantar ini penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak yang telah membantu terutama Bapak dan Ibu ku yang telah mendidik dan memberi motivasi serta jasanya yang begitu luar biasa yang mana penulis tidak mampu membalas jasanya yang tak ternilai dan  hanya Allah SWT semata yang dapat memberi pahala semoga kelak dikumpulkan di yaumul qiyamah dengan para kekasih Allah SWT. Amin ya rabb alamin.
               Dengan kemampuan yang sangat terbatas, penulis menyadari bahwa apa yamg disajikan dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan disana sini. Oleh karenaya kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak khususnya Bapak Dosen dan sahabat-sahabati seperjuangan kelas L Tarbiyah PAI. Semoga makalah ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat serta memberi perbaikan dikemudian hari. Aminnn
                                                                                                Pekalongan, 13 februari 2015
             



PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam sebuah hadits shahih di riwayatkan oleh Al Imam Bukhari, disebutkan bahwa Rasululllah SAW bersabda :

 كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَ الْفِطْرَة, فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

(HR. Bukhari I:240)                       
Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa setiap anak itu lahir dalam keadaan baik hanif dan bertauhid, sedang apabila ia kelak dewasa menajadi orang kafir, yahudi, Nasrani dan Majusi. Sungguh itu semua adalah karena orang tua mereka, yang dimana mereka tiada memberikan pendidikan yang baik.
 Allah SWT berfirman,                                                                

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
(QS.At Tahrim. 66 :6)

Keluarga merupakan denyut nadi kehiudpan yang dinamis dan termasuk salah satu pranata yang secara konstruktif mempunyai andil besar dalam pembentukan,pertumbuhan,dan pengembangan pendidikan karakter anak.

           







PEMBAHASAN

1.PENGERTIAN
               Munculnya gejala kependidikan dalam suatu keluarga menurut A. Hamid Syarif (1993:161) disebabkan adanya pergaulan antara orang tua sebagai manusia dewasa dengan anak yang belum dewasa. Dari peristiwa itu lahirlah pendidikan dalam sebuah wadah yakni keluarga. Dalam perspektif Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah, ahl, ‘ali, dan nasab. Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan,yaitu anak-cucu. Anak merupakan anugerah, amanat Allah swt. Sebahai hasil perkawinan yang dijaga, dibina, dan dibimbing, ia adalah generasi penerus dan cita-cita orang tua. Dengan demikian, orang tua mempunyai tanggung jawab penuh terhadapnya dalam situasi dan kondisi apapun juga. Jalaluddin dan Usman Said (1999:101) menyebut tanggung jawab keluarga terhadap anaknya adalah pertama, mencegah kemungkaran dan selalu menginstrusikan hal-hal yang baik. Kedua, memberikan arahan dan binaan, untuk selalu berbuat baik. Tiga, beriman dan bertakwa kepada Allah.[1]
Firman Allah swt:                                         
   
                      وَقُو دُهاَالنَا سُ وَالحِجَارَةُ  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (QS.At Tahrim. 66 :6)
   Ayat diatas merupakan dasar pengajaran dan pendidikan anggota keluarga,memerintah mereka dengan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran.[2]
   “Anak adalah peniru yang baik” Ungkapan tersebut seharusnya disadari oleh para orang tua, sehingga mereka bisa lebih menjaga sikap dan tindakannya ketika berada atau bergaul dengan anak-anaknya. Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting.
   Secara psikologis, anak memang sangat membutuhkan penutan atau contoh dalam keluarga. Sehingga dengan contoh tersebut anak dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya jika anak tidak memperoleh model atau perilaku yang mencerminkan akhlakul karimah, tentu mereka pun melakukan hal-hal yang kurang baik. Pada dasarnya seorang anak yang melihat orang tuanya berbuat dusta, tidak mungkin ia belajar jujur. Seorang anak yang melihat orang tuanya berkata kasar, tidak mungkin ia akan belajar bertutur manis. Seorang anak yang melihat orang tuanya marah tidak mungkin belajar sabar, seorang anak yang melihat orang tuanya berkhianat,tidak mungkin ia belajar amanat. Dari penjelasan diatas dapat ditegaskan bahwa seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tua orang tuanya memberikan teladan yang baik. Sebaliknya seorang anak yang akan tumbuh dalam dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk. [3]
   Sebuah kepemimpinan merupakan amanah bagi orang yang mengembannya. Oleh karena itu kekuasaan yang diemban seorang pemimpim itu harus dijaga dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Seseorang pemimpin hendaknya berlaku adil terhadap masyarakat dan tidak melakukan kezaliman.[4]








3.HADIST

4- حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا صَالِحٌ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ قَالَ  { كَانَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ إِذَا أَشْفَى عَلَى خَتْمِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ بَقَّى مِنْهُ شَيْئًا حَتَّى يُصْبِحَ فَيَجْمَعَ أَهْلَهُ فَيَخْتِمَهُ مَعَهُمْ  }   (رواه الدارمي فى السنن,كتاب فضا ئل القران, باب فى ختم القران)

   Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Shalih dari Tsabit Al Bunani ia berkata; Apabila Anas bin Malik hampir mengkhatamkan Al Qur'an di malam hari, ia menyisakan sedikit dari Al Qur'an hingga waktu pagi. Lalu ia mengumpulkan keluarganya, kemudian ia mengkhatamkan Al Qur'an bersama mereka. (HR. Ad-Darimi).


MUFRODAT:



Dari Tsabit al Bunaaniyi berkata
عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ قَال      
Adalah
كَانَ
Anas bin Malik
اَنَسُ بْنُ مَالِكِ
Apabila
اِذَا
Sudah mendekati
اَشْفَى عَلَى
Khatam Al-Qur’an
خَتْمِ الْقُرْاَنِ
Pada waktu malam
بِللَّيْلِ
Masih atau menyisakan sedikit
بَقَّى
Darinya
مِنْهُ
Sesuatu
شَيْئًا
Sampai
حَتَّى
Pagi hari
يُصْبِحَ
Mengumpulkan
فَيَجْمَعَ
Keluarganya
اَهْلَهُ
Mengkhatamkannya
فَيَخْتِمَهُ
Bersama
مَعَهُمْ




4.Nilai Edukatif yang Teraplikasikan
Tinjauan dari sudut ilmiah menunjukkan bahw, pada dasarnya, keteladanan memiliki sejumlah azas kependidikan berikut ini.
Pertama, seorang pendidik dituntut untuk menjadi teladan di hadapan anak didiknya, bersegera untuk berkorban, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang hina. Artinya, setiap anak didik akan meneladani pendidiknya dan benar-benar puas terhadap ajaran yang diberikan sehingga perilaku ideal yang diharapkan dari setiap anak merupakan tuntutan realitas dan dapat diaplikasikan. Begitu juga dengan orang tua, anak-anak harus memiliki figur teladan dalam keluarganya sehingga sejak kecil dia terarahkan oleh konsep-konsep islam. Dengan begitu, para pendidik dan orang tua harus menyempurnakan dirinya dengan akhlak mulia yang berasal dari Al-Qur’an dan dari perilaku Rasulullah saw.
Kedua, sesungguhnya islam telah menjadikan kepribadian Rasulullah saw, sebagai teladan abadi dan aktual bagi pendidik dan generasi muda sehingga setiap kali membaca riwayat beliau, semakin bertambahlah kecintaan dan hasrat kita untuk meneladani baliau. Islam menyajikan keteladanan ini agar manusia menerapkan suri teladan itu kepada dirinya sendiri.[5]
     Ketiga,Peran orang tua dalam pengembangan Anak di Lembaga Keluarga
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Mengingat pendidik adalah seorang figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak tanduknya, akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak.[6]    
     Ahmad Tafsir (2013:129), hakikat keteladanan adalah pendidik yang meneladankan itu tidak hanya orang tua, tapi seluruh orang yang yang kontak dengan anak, diantaranya ayah,ibu,kakek,nenek,paman-bibi dan segenap orang yang di rumah termasuk pembantunya. Mereka seharusnya meneladankan sifat sabar, jujur,tidak berkata jorok,mengucapkan salam,senyum,kebersihan,kerja keras, tepat waktu,senyum dan sebagainya. [7]
     Keluarga adalah basis awal pengembangan pendidikan bagi anak-anak.keluarga sebagai institusi yang sejak dini dan awal telah menanamkan sendi-sendi kehiupan bagi masa depan manusia terutama bagi anak-anak yang masih membutuhkan, bimbingan, dan pedoman hidup ke depan. Islam memandang bahwa orang tua memiliki tanggung jawab penuh dalam mengantarkan anak-anaknya untuk bekal kehidupan kelak, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Sebagai lembaga pendidikan, maka orang tua terutama pihak ibu memiliki peranan yang cukup signifikan dalam penumbuhan dan pengembangan pendidikan anak kedepan. Anak merupakan orang pertama yang masuk sebagai peserta didik. Oleh karenanya dalam berinteraksi orang tua harus mampu menampilkan pola perilaku positif, karena dapat menjadi stimulus anak, terutama dalam etika berbicara(sopan-santun), bertingkah laku, dan sebagainya. Karena anak akan men-sugesti,mendemonstrasikan apa yang biasa ia lihat, lebih-lebih yang ia lihat itu datang menyadari dalam lingkungan keluarga sendir. Maka alternatifnya anak selalu diajak untuk menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar, yang dimulai dari kehidupan interaksional dalam keluarga.[8]
     Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting adalam menentukan baik buruknya anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, sabar, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, sabar dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika pendidik adalah seorang pembohong, pengkhianat, orang yang kikir, penakut, dan hina, maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina.
Seorang anak, bagaimanapun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimanapun sucinya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi, adalah sesuatu yang sangat mudah bagi pendidik, yaitu mengajari anak dengan berbagai materi pendidikan, akan tetapi adalah sesuatu yang teramat sulit bagi anak untuk melaksanakannya ketika ia melihat orang yang memberikan pengarahan dan bimbingan kepadanya tidak mengamalkannya. Oleh karena itu, disebutkan dalam hadis bahwa “surga itu terletak dibawah telapak kaki ibu”. Hal tersebut menunjukkan peran  seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga turut berperan dalam membina keluarga sebagaimana seorang suami yang hendak membina keluarga agar jauh dari perbuatan maksiat yang dapat menggiring ke neraka.[9]
Berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, kita dapat mengatakan bahwa tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah hal-hal berikut.
Pertama, mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga. Artinya, tujuan berkelurga adalaah mendirikan rumah tangga muslim yang mendasarkan kehidupannya pada perwujudan penghambaan kepada Allah.
Kedua, mewujudkan ketenteraman dan ketenangan pikologis.
Ketiga, mewujudkn sunnah Rasulullah saw dengan melahirkan anak-anak saleh sehingga umat manusia merasa bangga dengan kehadiran kita.
Keempat, memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak
Kelima,menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Dengan demikian, orang tua dan pendidik berkewajiban melakukan dua langkah berikut.
Pertama, membiasakan anak untuk mengingat kebesaran dan nikmat Allah,
Kedua, membiasakan anak-anak untuk mewaspadai penyimpangan-penyimpangan yang kerap membiaskan dampak negatif terhadap diri anak.[10] 

   Syariat Islam memuat ajaran-ajaran yang mengatur manusia untuk bekerja dan mencari nafkah dengan jalan halal. Aturan-aturan yang berlaku bagi rumah tangga muslim di dalam bekerja dan berusaha sebagai berikut.
1.      Tanggung jawab Laki-Laki untuk bekerja dan wanita mengatur rumah tangga
Kepala keluarga (suami) yang baik harus mempunyai keyakinan bahwa segala pekerjaan dan usaha yang dilakukan itu adalah ibadah dan sebagai suatu ketaatan kepada Allah swt. Sedang istri kewajibannya mengurus rumah tangga.
2.      Istri berhak bekerja dengan aturan tertentu
Islam membatasi hak-hak wanita bekerja sesuai dengan tabiat dan kodrat kewanitaannya, seperti menjadi guru, perawat. Islam melarang wanita bekerja ditempat yang berdesak-desakan dengan kaum laki-laki.
3.      Usaha itu harus halal dan baik
Wajib bagi suami untuk mencari pekerjaan yang baik agar hasilnya halal, suami tidak boleh bekerja dengan jenis pekerjaan yang haram.
4.      Bekerja sesuai dengan batas kemampuan
Suami tidak boleh bekerja melampaui batas hak-hak bagi anggota keluarganya, sebab setiap mereka (istri dan anak-anak) memiliki hak yang harus dipenuhi oleh suami.
5.      Melatih anak bekerja
Islam senantiasa memperhatikan masalah pertumbuhan anak dengan anjuran agar anak-anak dilatih bekerja pada usia dini. Islam melarang memanjakan anak seperti yang terjadi di negara-negara yang moralnya rusak.[11]







5.ASPEK TARBAWI
1. Setiap orang adalah pemimpin
2.Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab dan akan dimintai   pertanggungan jawabnya.
3. Pemberian pengaruh secara spontan
            Pengaruh yang tersirat dari sebuah keteladanan akan menentukan sejauhmana seseorang memiliki sifat yang mampu mendorong orang lain untuk meniru dirinya,
4. Pemberian pengaruh secara sengaja
Pemberian pengaruh secara sengaja melalui keteladanan bisa juga dilakukan secara sengaja, misal seorang imam membaguskan shalatnya untuk mengajarkan shalat yang sempurna.
5.Seorang pemimpin dalam rumah tangga harus bisa menjadi teladan yang baik   untuk keluarganya
6.Keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak
7. Rasulullah sebagai figur pendidik islami, mengisyaratkan agar pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mengarahkan anak didiknya melalui teladan dan contoh perbuatan secara langsung. [12]

 














PENUTUP

KESIMPULAN
            Keluarga merupakan denyut nadi kehidupan yang dinamis dan termasuk salah satu pranata yang secara konstributif mempunyai andil besar dalam pembentukan, pembinaan,pertumbuhan, dan pengembangan pendidikan karakter anak, karena keluarga dibangun lewat hubungan-hubungan kemanusiaan yang akrab dan harmonis, serta lahir dan tumbuh gejala sosial dan pendidikan di lingkungan pergaulan keluarga. Rasulullah sebagai figur pendidik islami, mengisyaratkan agar pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mengarahkan anak didiknya melalui teladan dan contoh perbuatan secara langsung. Dan yang tak kalah penting, para pendidik dituntut untuk mengarahkan pandangan anak didik untuk meneladani perbuatannya. Pendidik yang demikian dapat dikatakan sebagai pendidik yang telah membuat jejak-jejak kebaikan.

















DAFTAR PUSTAKA

A.Yasin, Fatah. 2008. “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam”. Malang:UIN Malang Press
Abdurrahman, An-Nahlawi.1995.”Pendidikan islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat”. Jakarta:Gema Insani Press
Bariyah,Oneng Nurul. 2007. “Materi Hadist tentang islam, hukum, ekonomi, sosial dan lingkungan”. Jakarta:Kalam Mulia
Haris,Ainul bin Umar Arifin. 1998. “40 Nasehat memperbaiki Rumah Tangga”. Jakarta:Darul Haq
Syahatah,Husein.1998. “Ekonomi rumah tangga muslim”. Jakarta:Gema Insani Press
Syarbini,Amirulloh.”Model pendidikan karakter dalam keluarga”. Banten: PT Elex Media Komputindo
Ulwan,Dr.Abdullah Nasih.2007.”Pendidikan anak dalam islam”. Jakarta: Pustaka Amani













1.A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam,(Malang:UIN Malang,2008),hlm.205
[2].Ainul Haris Bin Umar Arifin,40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga,(Jakarta:Darul Haq,1998),hlm.31
[3].Amirulloh Syarbini,Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga,(Banten:PT Elex Media Komputindo),hlm.61
[4].Dra. Oneng Nurul Bariyah, Materi hadist,(Jakarta:Kalam mulia,2007), hlm 122
[5] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan masyarakat,(Jakarta:Gema Insani Press, cet 1,1995), hlm.262
[6]. Dr. Abdullah Nashih Ulwan,Pendidikan Anak Dalam Islam,(Jakarta:Pustaka Amani,2007),hlm.142  
[7]. Amirulloh Syarbini,Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga,(Banten:PT Elex Media Komputindo),hlm.61
[8]. A.Fatah Yasin, dimensi-dimensi pendidikan islam,(Malang:UIN Malang Press,2008), hlm. 217
[9].Dra. Oneng Nurul Baariyah,Materi Hadist tentang Islam, Hukum Ekonomi, sosial dan Lingkungan,(Jakarta:Kalam Mulia,2008),hlm.118
[10]Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan masyarakat,(Jakarta:Gema Insani Press,1995), hlm.139
[11].Husein Syahatah,Ekonomi rumah tangga muslim,(Jakarta:Gema Insani Press,1998), hlm.62
[12]. Abdurrahman An nahlawi, pendidkan islam di rumah, sekolah, dan masyarakat,(Jakarta:Gema Insani Press,1995), hlm. 266

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar