Laman

Minggu, 15 Maret 2015

F - 5 - c: DEWI ASTUTI



AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Mata Kuliah  : Hadist Tarbawi II



oleh:
Dewi Astuti
  ( 2021113174 )
Kelas/Semester : PAI – F/ IV ( Empat )

JURUSAN TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya saya dapat  menyelesaikan tugas individu mata kuliah Hadist Tarbawi II, yang berjudul “AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER ILMU PENGETAHUAN”.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, untuk itu melalui kata pengantar ini penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Dan tidak pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Hadist Tarbawi II.
            Sebagai bantuan dan dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis dapat diterima dan menjadi amal sholeh dan diterima Allah sebagai sebuah kebaikan. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan semua pembaca pada umumnya .



Pekalongan, 11 Maret 2015




Penulis







                                               BAB I   
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Qur’an tidak lain adalah sebuah kitab suci, dan merupakan salah satu dari kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT melalui wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yang berisikan garis besar pemahaman akan hakekat kemanusian dan alam sekitar kepada manusia, apabila manusia sanggup menggunakan akalnya (rasio) dan tidak hanya menggunakan hati nurani yang digunakan untuk menyatakan keyakinan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah.
Al-Qur’an telah menambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membantu pikiran manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi. Al-Qur’an menunjukkan bahwa materi bukankah sesuatu yang kotor dan tanpa nilai, karena padanya terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia kepada Allah serta kegaiban dan keagungan-Nya. Alam semesta yang amat luas adalah ciptaan Allah, dan Al-Qur’an mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkap keajaiban dan kegaibannya, serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kesejahteraan hidupnya. Jadi Al-Qur’an membawa manusia kepada Allah melalui ciptaan-Nya dan realitas konkret yang terdapat di bumi dan di langit. Inilah yang sesungguhnya dilakukan oleh ilmu pengetahuan, yaitu: mengadakan observasi, lalu menarik hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan eksperimen. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat mencapai yang maha pencipta melalui observasi yang teliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur gejala alam, dan Al-Qur’an menunjukkan kepada Realitas Intelektual Yang Maha Besar, yaitu Allah SWT lewat ciptaan-Nya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaiman Pengertian Al-Quran dan ilmu pengetahuan?
2.      Bagaimana teori pendukung Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan?
3.      Bagaimana Hadist tentang Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan?
4.      Bagaimana refleksi Hadist tentang Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam kehiduapan?
5.      Apa saja aspek tarbawi dari Hadist Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan?

C.    Metode
Makalah ini dibuat dengan mengunakan metode kajian pustaka yaitu dengan mencari dan mengunakan referensi buku atau kajian lainnya yang merujuk pada permasalahan.
D.    Sistimatika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dengan menggunakan 3 bagian yaitu :
BAB I, bagian pendahuluan yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, metode pemecahan masalah, sistematika penulisan makalah.
BAB II, bagian pembahasan.
BAB III, bagian penutupan terdiri dari kesimpulan.






BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Al-Qur’an  dan Ilmu Pengetahuan
Secara harfiah Al-Qur’an berasal dari kata Qara’a yang artinya membaca atau mengumpulkan. Dan secara termologi Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, sampai kepada kita secara mutawarir. Di mulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, dan dinilai ibadah bagi orang yang membacaranya dan mendengarkan.[1]
Dalam konteks Indonesia, kata “ilmu”, seperti halnya  kata  science dalam bahasa Inggris, juga berasal dari kata asing, dari bahasa Arab. Ilmu berasal dari ‘ilm, kata jadian dari ‘alima, ya’lamu, menjadi ‘ilmun, ma’lumun, ‘alimun, dan seterusnya. Tiga kata yang terakhir ini menjadi kata Indonesia, ilmu, maklum, dan alim ulama. Dalam bahasa Arab, ‘alima, sebagai kata kerja, berarti tahu atau mengetahui. Ilmu, sebagaimana halnya scientia, berarti juga pengetahuan. 
Dari segi maknanya, pengerian ilmu sepanjang terbaca dalam pustaka menunujukan sekurang-kurangnya pada tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas, dan metode. Dalam hal yang pertama dan ini yang palig umum, ilmu senantiasa berarti pengetahuan (knowledge). Diantara para filosof dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (a systematic body of knowledge). Seorang filosof yang meninjau ilmu, John G. Kemeny, juga memakai arti semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah (all knowledge collected by means of the scientific method).[2]
Sedangkan Ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu.[3]
Jadi dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia melalui teks-teks wahyu Allah, yakni al-Qur’an.
2.     Teori Pendukung
Al-Qur’an sekarang semakin laris dikaji oleh para ilmuan terutama masyarakat maju nonmuslim. Terbukti, Al-Qur’an banyak memberikan informasi tentang Iptek yang semakin hari semakin nyata lewat kajian dan percobaan yang mengagumkan. Sebagai contoh, hasil percobaan pemotretan atas pegunungn-pegunungan di Nejed (Arab Saudi) oleh Telstar (Satelit Amerika Serika) ternyata diketahui bahwa gunung-gunung itu beracak sebagaimana mega (QS 27:88). Jangkau pengamatan empirik dan resiko kita terlalu lemah, dan akal kita tidak mampu mencerna bahwa gunung-gunung sedahsyat itu dan terancap di bumi, dikatakan dalam Al-Qur’an, berjalan sebagaimana awan. Tetapi ternyata hal ini telah di buktikan oleh Iptek sebagai perpanjangan pengamatan manusia.
Memang begitulah kehendak Allah terhadap gunung-gunung, karena wajib menerima dengan penuh keimanan semua isi Al-Qur’an yang menyangkut Iptek, baik itu sudah terbukti atau belum. Manusia dan Iptek masih harus kerja keras untuk membuktikan formula-formula Al-Qur’an. Iptek menjelaskan fenomena alam semesta, dan alam semesta membuktikan kebenaran Al-Qur’an, karena Al-Qur’an dan ayat kauniyah salaing menafsirkan secara konsisten, tidak bertentangan.
Jika Alvin Toffler meramalkan revolusi gelombang ketiga adalah revolusi komunikasi, maka di lembaga pendidikan dan R&D kita diramalkan akan bangkit revolusi gelombang keempat yaitu revolusi spiritual. Di saat Al-Qur’an mulai dikomunikasikan oleh berbagai institusi di dunia, Al-Qur’an akan menjadi paradigma dan dasar, serta memberi makna spiritual kepada Iptek yang kini masih berwajah bebas-nilai (value-free). Dunia akan damai jika Al-Qur’an dipakai sebagai rujukan Iptek. Tidak ada rujukan lagi di dunia ini, kecuali kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah dua pusaka abadi untuk kehidupan manusia.[4]

3.    Materi Hadist : Al-Qur’an sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan
عَنْ الْحَارِثِ قاَلَ مَرَرْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَآِذَا النّاَسُ يَخُوضُونَ فِي الآَحَادِيثِ فَدَخَلْتُ عَلى عَلٍيِ فَقُلْتُ يَاآَمِيرُ الْمُؤمِنِيْنَ ألاَ تَرَى أَن النَّاَسَ قَدْ خَاضُوا فِي الْاحَادِيثِ قَالَ وَقَدْ فَعَلُوهَا قُلْتُ نَعَمْ قَالَ آَمَا إِنِّي قَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللٌهِ صَلٌىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: آَلَا إنّهاَ سَتَكُونُ فِتْنَةُ فَقُلْتُ مَا المَخْرَجُ مِنْهَا يَا رَسُولَ اللَهِ قاَلَ كِتَابُ اللٌهِ فِيهِ نَبَأُ ماَ كَانَ قَبْلَكُمْ وَخَبَرَ مَا بَعْدَكُم وَ حُكَمَ مَا بَيْنَكُمْ وَهُوَ الْفَصْلٌ لَيْسَ بِالْهَزْلِ مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍ قَصَمَهُ اللهُ وَمَنْ ابْتَغَى الْهُدَى فِي غَيْرِهِ أضَلَّهُ اللهُ وَهُوَ حَبْلُ الله الْمَتِينُ وَهُوَ الٌدِّكْرُ اْلحَكِيْمُ وَهُوَ الِّصرَاطَ الْمُسْتَقِيْمُ هُوَ اَّدِلَاء تَزِيغُ بِهِ الآَهْوَاءُ وَلاَتَلْتَبِسُ بِهِ الألْسِنَةُ وَلاَ يَشْبَعُ مٍنْهُ الْعُلَمَاءُ وَلاَ يَخْلَقُ عَلَى كَثْرَةِ الرٌّدِّوَلَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ هُوَ الَّذِي لَمْ تَنْتَهِ الْجِنُّ إِذْ سَمِعَتْهُ حَتَّى قَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْانَا عَجَبَا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَامَنَّأ بِهِ, مَنْ قَالَ بِهِ صَدَقَ وَمَنْ عَمِلَ بِهِ آُجِرَ وَمَنْ حَكَمَ بِهِ عَدَلَ وَمَنْ دَعَا إِلَيْهِ هَدَى إلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمِ خُذْهَا إِلَيْكَ يَا آَعْوَرُ.}  قَالَ آَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثِ غَرِيبُّ لا نَعْرِفُهُ إلاَّ مِنْ هَذَا الوَجْهِ وَإِسْنَادُهُ مَجْهُولٌ وَفِي الحَارِثِ مَقَالٌ  (رواه الترمذي فى الجامع,كتاب فضائل القران عن رسول الله,باب ما جاء فى فضل القرآن)
Artinya : Di riwayatkan dari Al Harits, Beliau Berkata “Pada suatu waktu aku melewati masjid, di sana pada waktu itu aku melihat orang-orang sedang berbicara panjang lebar, lalu aku mendatangi Ali. Aku bertanya kepadanya, wahai Amirul Mu’minun tidakkah engkau melihat orang-orang yang telah berbicara panjang lebar. Beliau bertanya ataukah mereka benar-benar meengerjakannya, aku menjawab Ya. Beliau berkata,”ingatlah sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: “Ingatlah bahwa sesungguhnya akan terjadi fitnah. Lalu aku (Ali) bertanya: apa jalan keluar darinya wahai Rasulullah?. Beliau bersabda Kitabullah yang di dalamnya terdapat cerita cerita tentang umat sebelum kalian juga kabar tentang hal yang akan terjadi setelah kehidupan kalian dan hukum sesuatu yang terjadi diantara kalian. Dan Kitabullah adalah pemisah antara yang haq dan yang bathil bukan senda gurau. Barang siapa yang meninggalkannya dari orang-orang yang  angkuh atau sombong maka Allah akan membinasakannya dan barang siapa mencari petunjuk dengan selamanya maka Allah akan menyesatkannya. Kitabullah adalah kitab Allah yang kuat, juga dzikir yang bijaksana, serta jalan yang lurus. Kitabullah adalah sesuatu yang membuat keinginan tidak menyeleweng, tidak membuat lidah sulut dalam melafalkan, tidak membuat para ulama merasa puas , tidak usang sebab banyak di ulang serta tidak akan habis keajaiban-keajaibannya. Kitabullah adalah sesuatu yang membuat jin tidak berhenti kala mendengarnya sehingga mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk pada jalan kebenaran, lalu kami beriman kepadanya”. Barang siapa berbicara dengannya (Kitab Allah) maka dia telah berkata jujur. Barang mengamalkannya maka akan diberikan pahala. Barang siapa menghukumi dengannya maka dia telah berbuat adil. Barang siapa yang mengajak kepadanya maka dia telah diberi petunjuk pada jalan yang lurus. Ambillah kalimat-kalimat ini wahai orang yang bermata satu. Hadist ini adalah Hadist ghorib yang tidak kami ketahui kecuali dari hadistnya Hamzah Al Zayyat mata rantai hadistnya tidak diketahui dan dalam hadistnya Al-Hadist terdapat komentar. (HR. At-Tirmidzi).

4.    Refleksi Hadist dalam Kehidupan
Dalam konteks Islam, pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan khas manusia. Pengetahuan ini sebenarnya juga berada pada akal budi manusia, tetapi yang dibedakan disini adalah menekankan pada sistematika dan kekuatan metodologis. Selain itu, terdapat sumber pengetahuan lagi dalam perspektif islam, yaitu Ilham dan wahyu. Hal ini disebutkan sebagai sumber pengetahuan tertinggi di luar struktur pengalaman dan pengetahuan rasio, bahkan diluar jangkauan akal. Para filosof sufilah yang memaparkan hal ini. Pengetahuan wahyu juga dapat mengungkap tabir metafisik.[5]
Menurut Imam Jafar Shadiq as, wahyu adalah salah satu alat dan sumber pengetahuan. Ratusan ayat dalam al-Quran menyinggung wahyu sebagai sumber besar ilmu pengetahuan. Bahkan tidak hanya dalam al-Quran saja, semua kitab Samawi dan para pengikut agama-agama Samawi memperkenalkan wahyu sebagai sumber terpenting ilmu dan makrifat, sebab wahyu bersumber dari ilmu tak terbatas Allah Swt.[6]
Setelah manusia diciptakan dia tidak ditinggalkan dalam kebodohan dalam hidup merana diatas bumi tanpa daya, melainkan dianugrahi Allah pengetahuan dan pengertian terhadap unsur-unsur dari alam semesta agar dapat menggali dan memanfaatkan kekayaan yang ada di bumi dan di langit bagi kesejahteraan hidupnya. Kekayaan pengetahuan inilah yang mengangkat kedudukan manusia di atas makhluk lainnya yang saat ini di bawah kekuasaannya, yang setiap saat dapat dimanfaatkannya untuk melayaninya. Kesemuanya itu merupakan karunia yang telah dilimpahkan Tuhan kepada manusia sehingga ia bersyukur kepada-Nya atas anugerah dan karunia-Nya serta tidak berbuat kerusakan dalam kerajaan-Nya.
Manusia tidak hanya di beri kekayaan yang ada di langit dan di bumi melainkan juga diberi kemampuan untuk menembus batas-batas bumi serta mengamati tanda-tanda kebesaran Allah :
يَمَعشَرَ الجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعتٌمْ أَن تَنفٌذُوا مِن اَقطَارِ السَّمَوَاتِ وَالأَارضِ فَانفُذُوا ‌ـ لَاتَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلطَنٍ ۳۳
Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat memembusnya melainkan dengan kekuatan”. (QS. Ar-Rahman 55 : 33)
Bahwa Al-Qur’an memberikan kepada manusia kunci ilmu pengetahuan dunia dan akhirat serta menyediakan peralatan untuk mencari dan meneliti segala sesuatu agar dapat mengungkapkan dan mengetahui keajaiban dari kedua dunia itu.al-Qur’an juga mendorong manusia mendapatkan sesuatu yang mungkin di dapat dalam dunia ini, kemusdian memanfaatkan bagi kesejahteraannya.[7]



5.    Aspek Tarbawi
Dibagian sebelumnya telah dibahas tentang berbagai macam hal-hal yang berkaitan dengan Al-qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dalam hal ini ada beberapa aspek tarbawi yang bisa kita ambil dari pembahasan tersebut, diantaranya adalah :
1.      Alqur’an bukan hanya sebagai dasar hukum islam saja tetapi banyak hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang ada dalam alqur’an.
2.      Ketika membaca Al-Qur’an dianjurkan tidak hanya membaca saja, tetapi memahami makna dari apa yang dibaca dalam Al-Qur’an.
3.      Kita dianjurkan untuk saling memberikan informasi atau pengetahuan dalam Al-Qur’an walaupun hanya satu ayat.
4.      Kita diperbolehkan mencari referensi sebagai tambahan pengetahuan walaupun bukan produk murni orang muslim, aslakan tidak keluar dari syariat islam.








BAB III
KESIMPULAN

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, dan sampai kepada kita (manusia) secara mutawarir. Di mulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, dan dinilai ibadah bagi orang yang membacaranya dan mendengarkan. Sedangkan Ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. Jadi dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia melalui teks-teks wahyu Allah, yakni al-Qur’an.


















DAFTAR PUSTAKA

Majid, Abdul. 2012. Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang IPTEK. Jakarta : Gema Insani Press.
M. Yusuf, Kadar. 1997. Studi Al-Qur’an. Jakarta : Bumi Aksara.
Rahman, Alfazur. 2000. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan.  Jakarta : PT. Rineke Cipta.
Syafi’i, Imam. 2000. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an, Yogyakarta : UII Press.



















TENTANG PENULIS

Nama Lengkap : Dewi Astuti
Nama Panggilan : Dewi
TTL : Batang, 17 April 1995
Alamat : Ds. Cepokokuning RT 04/ 01 Batang
Agama : Islam
Golongan Darah : O
·         Riwayat Pendidikan :
1.      TK Anggrek Kencana Cepokokuning Batang
2.      SD Cepokokuning Batang
3.      SMP N 4 Batang
4.      SMA N 2 Batang
5.      STAIN PEKALONGAN
·         Riwayat Pendidikan Non Formal :
1.      TPQ Al-Huda Cepokokuning Batang




[1] Kadar  M. Yusuf, Studi Al-Qur’an, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2012 ), hlm. 1.
[2] Imam Syafi’I, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an, ( Yogyakarta : UII Press, 2000), hlm. 25-27.
[4] Abdul Majid bin Aziz Al-Zindani, Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang IPTEK, ( Jakarta : Gema Insani Press, 1997), hlm. 41-42.
[7] Alfazur Rahman, Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : PT. Rineke Cipta, 2000), hlm. 9-12.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar