Laman

Minggu, 15 Maret 2015

F - 5 - b: M. IMAM BAIHAQI



SUMBER ILMU: INTUISI HATI
 Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
 

Disusun Oleh :

Muhammad Imam Baihaki                    [2021113103]

Kelas F

TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di era yang serba berkemajuan, kita dituntut untuk memiliki kemajuan pula dalam hal keilmuwan. Hal tersebut dikarenakan, apabila kita mengikuti zaman tanpa ilmu, maka kita akan mudah tergerus oleh zaman. Terkadang orang berpikir bahwa lebih baik bila kita hidup mengalir saja bagaikan air. Sepintas kata-kata ini terlihat benar dan terlihat lebih enak dirasakan. Akan tetapi, kita pasti juga mengetahui bahwa ketika kita mengalir begitu saja, kita akan terbentur oleh beragam hal. Tanpa adanya bekal dan control yang cukup, kita akan tersangkut bahkan akan tergerus arus derasnya zaman.
Mengarungi zaman tanpa bekal ilmu akan membuat kita terombang-ambing. Oleh karena itu, kiranya penting bagi kita untuk mencari dan mempersiapkan bekal keilmuan guna mengarungi kemajuan zaman. Di dunia ini, ada banyak sumber keilmuan yang bisa kita temukan. Bisa dari internal maupun eksternal. Termasuk hati kita, konon merupakan salah satu sumber keilmuan kita. Oleh karena itu, perlunya kita bahas mengenai bagaimana pengaruh hati sebagai sumber keilmuan kita.












BAB II
SUMBER ILMU: INTUISI HATI
A.    Pengertian Intuisi Hati
Intuisi hati berasal dari dua kata, yaitu intuisi dan hati. Intuisi memiliki definisi daya kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari, bisikan hati, gerak hati.[1] Kemudian, secara fisik, hati adalah segumpal daging yang berbentuk bundar memanjang, terletak di pinggir kiri dada. Di dalamnya terdapat lubang-lubang yang terisi darah hitam. Hati merupakan sumber dan tambang nyawa. Sedangkan secara psikis, hati adalah sesuatu yang halus, yang berasal dari alam Ketuhanan. Hatilah yang merasa, mengetahui, dan mengenal segala hal, serta diberi beban, disiksa, dicaci, dan sebagainya.
Hati mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Hati memiliki fungsi utama yang menggerakkan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Secara fisik, hati berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi, pembentukan protein asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun dalam tubuh. Sementara ditinjau dari segi psikis, hati berfungsi layaknya panca indra, yaitu indra perasa, pelihat, pendengar, dan peraba.[2]
B.     Teori Pendukung
Menurut al-Ghazali, dilihat dari keadaan psikisnya, hati seseorang terbagi ke dalam tiga kondisi, yaitu: pertama, hati yang baik (shahih), yaitu orang yang imannya kokoh, selalu mensyukuri nikmat, tidak serakah, hidup tenteram, tenang dalam beribadah, banyak mengingat Allah, selalu meningkat kebaikannya, segera tersadar jika melakukan kelalaian. Kedua, hati yang mati, yaitu orang yang tipis imannya, sering dikuasai hawa nafsu, pikirannya negatif, keras kepala, dan sebagainya. Ketiga, hati yang sakit, dimana pemiliknya selalu gelisah, marah, tidak pernah merasa puas, tidak bahagia, dan lain sebagainya.[3]
Secara psikis, Hakim at-Tirmidzi, seorang ulama tasawuf dalam karyanya Bayan al-Farq Bayn as-Shadr wal-Qalb wal-Fuad Wal-Lubb memberikan penjelasan gamblang tentang hati. Menurutnya hati terdiri dari empat bagian yang masing-masing mempunyai nama tersendiri di antaranya sebagai berikut.
1.      Shadr adalah tempat bersemayamnya cahaya iman yang mengandung kualitas tenang, cinta, rela, yakin, takut, berharap, sabar, dan merasa cukup kepada Allah SWT. Shadr juga merupakan tempat bersemayamnya rasa dendam, dengki, dan perbuatan jahat lainnya. Shadr juga memiliki kemampuan untuk menerima informasi, dan karenanya di sinilah tempat pembelajaran dilakukan.
2.      Qalb merupakan tempat bersemayamnya niat dan ilmu. Segala sesuatu yang keluar dan masuk ke dalam diri manusia berasal dari qalb. Niat menghasilkan tindakan, dan tindakan berasal dari pengetahuan. Sebab itulah, semua tindakan seseorang, hasilnya akan dirasakan oleh qalb.
3.      Fuad ialah tempat terpancarnya cahaya penglihatan, sehingga seseorang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Fuad mampu melihat sesuatu secara mendalam, akan tetapi kerja bagian ini amat tergantung pada bantuan qalb. Seseorang dapat melihat dengan fuad, dan mengetahui dengan qalb.jika keduanya bersatu, maka perkara apapun dapat dilihatnya.
4.      Lubb, yaitu tempat bersemayam cahaya ketuhanan. Kepercayaan dan keyakinan bersumber dari bagian hati yang satu ini.[4]


C.    Materi Hadits dan Terjemah
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Nu’man bin Basyir bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perkara yang halal sudah  jelas & yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yg tak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yg menjauhi diri dari yg syubhat berarti telah memelihara agamanya & kehormatannya. Dan barangsiapa yg sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yg menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yg dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, & ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adl apa-apa yg diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yg apabila baik maka baiklah tubuh tersebut & apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adl hati”. [HR. Bukhari].
Penjelasan Hadits
 Mudzghoh (segumpal darah) dinamakan hati (qolbun), karena sifatnya yang selalu berubah atau karena dia adalah bagian badan yang paling bersih, atau juga karena dia diletakkan terbalik dalam badan.
Idzaa sholuhats dan Idzaa fasadats Penggunaan kata Idzaa menunjukkan hal tersebut biasa terjadi dan bisa juga berarti “jika” seperti yang ada di riwayat ini. Dikhususkannya hati dalam hal ini, karena hati adalah pemimpin badan. Jika pemimpinnya baik maka rakyat pun akan baik, demikian pula sebaliknya.[5]
Hadits ini mengandung peringatan akan pentingnya hati, dorongan untuk memperbaikinya dan isyarat bahwa nafkah yang baik memiliki efek terhadap hati, yaitu pemahaman yang diberikan oleh Allah. Pendapat tersebut dapat dijadikan dalil bahwa akal berada di hati berdasarkan firman Allah, “Mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.” dan firman Allah, “Sesungguhnya dalam semua itu terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati.” Para ahli tafsir mengartikan hati dengan “akal”. Adapun disebutkannya hati, karena hati adalah tempat bersemayamnya akal.[6]
D.    Refleksi Hadits dalam Kehidupan
Guru tangguh berhati cahaya bagaikan mata air di pegunungan yang terus-menerus mengeluarkan airnya. Dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Mengalir deras memberikan kehidupan kepada manusia dan berbagai makhluk di dunia. semakin diambil airnnya, maka semakin jernih airnya. Mereka yang meminumnya serasa disembuhkan dari segala macam penyakit. Termasuk juga penyakit hati yang menggerogoti manusia yang sombong[7].
Guru tangguh berhati cahaya selalu konsisten dan komitmen. Selain itu, mampu menerangi peserta didiknya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Kemudian, guru tangguh  berhati cahaya akan mampu memahami dan membangun karakter siswa dengan baik, membangkitkan semangat dan motivasi yang mencerahkan peserta didiknya untuk berprestasi.  Iman, ilmu, dan amal menjadi landasan membangun karakter peserta didiknya sehingga pendidikan tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas otak saja, tetapi juga cerdas watak. Berikutnya selain hal di atas, guru tangguh berhati cahaya mampu mengajak peserta didik untuk saling bekerjasama, dan menjadikan para peserta didiknya pemimpin di masa depan.[8]
Tugas pengajar adalah menghayati hati dan pola pikir siswa, lalu membimbing mereka sedikit demi sedikit, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana. Seorang da’i atau pengajar yang ikhlas akan mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada tulisan atau ceramah. Seorang pengajar yang ikhlas dan penuh kasih sayang, tidak akan kesulitan untuk mengirimkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain.[9]
Da’i atau pengajar adalah ibarat qalbu (hati), maka barangsiapa yang tidak memfungsikan qalbunya maka ia tidak mendapatkan sambutan dari masyarakatnya.
Description: 3_159.GIFAllah SWT berfirman,





“Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut tehadap mereka. Sekiranya kamu berlaku keras lagi kasar, tentu mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (Ali-Imran: 159)
Description: 64_11.GIFKemudian, hati seorang mukmin adalah sumber penggerak[10].




“Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizing Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghaabun: 11)
E.     Aspek Tarbawi
Berdasarkan hadits di dalam  makalah ini dan berdasarkan sumber-sumber pendukung hadits tersebut, maka diperoleh beberapa nilai kependidikan di antaranya sebagai berikut.
1.      Hati merupakan sumber ilmu pengetahuan.
2.      Seorang pendidik adalah pendakwah atau da’i.
3.      Untuk menyampaikan informasi kepada pesertadidik hendaknya disertai kasih sayang dan kelembutan sehingga materi pelajaran yang disampaikan dapat dengan mudah ditangkap oleh peserta didik.
4.      Seorang pendidik dituntut untuk mengetahui pola pikir peserta didiknya.

















BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Hati tidak hanya memiliki sisi fisik akantetapi hati jugamemiliki sisi psikologis. Sisi psikologi hati inilah yang erat kaitannya dengan penangkapan informasi, bahkan sebagai pusat informasi  atau ilmu layaknya sebuah akal. Untuk menjadi sebuah sumber informasi, maka hati ini perlu yang namanya penataan.
Kemudian, sebagai seorang pendidik juga diibaratkan sebagai qalbun atau guru tangguh yang berhati cahaya, dimana untuk menggapai itu seorang guru hendaknya mampu memahami potensi peserta didik,menghayati hati dan pola pikir peserta didik, lalu membimbing mereka sedikit demi sedikit, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana. Seorang pendidik yang ikhlas akan mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada tulisan atau ceramah. Seorang pendidik yang ikhlas dan penuh kasih sayang, tidak akan kesulitan untuk mengirimkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain (peserta didik).














DAFTAR PUSTAKA
`Al Asqalani, Ibnu Hajar;  Al Hafizh, Al Imam. 2008.  Fathul Baari Syarah.  Jakarta: Pustaka Azam,.
As-Sissiy, Abbas.  1997. Da’wah dan Hati. Solo: Citra Islami Press.
Kusumah, Wijaya . 2012. Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya. Jakarta: Indeks.
Syukur,  Amin. 2013. Menata Hati Agar DIsayang Ilahi,. Jakarta: Erlangga.






















IDENTITAS DIRI

Nama Lengkap                      : Muhammad Imam Baihaki
Nama Panggilan                    : Baihaki
Ttl                                           : Pekalongan, 14 September 1995
Alamat                                    : Jalan Kusuma Bangsa Gang Ia/ 6
Kelurahan:    Kandang Panjang
Kecamatan:   Pekalongan Utara
Hobi                                        : Membaca Novel
Cita-Cita                                : Penulis dan Ahli Matematika
E-Mail                                                : Miki.Baihaki103@Gmail.Com
Contact Person                      :085200010400
Motto                                      :Man Jadda wa Jadda
                                      



Curved Down Ribbon: BAIHAKI
Description: SAM_1170.JPGDescription: SAM_1177.JPG


[1] http://Artikata.com/arti-330995-intuisi.html.diakses pada pukul 22.02.
[2] Amin Syukur, Menata Hati Agar DIsayang Ilahi, (Jakarta: Erlangga, 2013), hlm. 2-3.
[3] Ibid., hlm. 2.
[4] Ibid., hlm. 6.
[5] Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Imam Al Hafizh, Fathul Baari Syarah, (Jakarta: Pustaka Azam, 2008), hlm. 236.
[6] Ibid.,  hlm. 236-237.
[7] Wijaya Kusumah, Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya, (Jakarta: Indeks, 2012), hlm. 105.
[8] Ibid., hlm. 106-107.
[9] Abbas As-Sissiy, Da’wah dan Hati, (Solo: Citra Islami Press,1997), hlm. 20.
[10] Ibid., hlm. 21.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar