Laman

Rabu, 18 November 2015

spi H 07 tiga dinasti bear


PERADABAN MASA TIGA DINASTI BESAR

Oleh:
Khimayatus Solikhah                 (2021113062)
Ainur Riski                                 (2021114009)
Lailatul Muizziyah                     (2021114156)
Faridatunnisa’                            (2021114237)
Kelas: H

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya, makalah yang berjudul “Peradaban Masa Tiga Dinasti Besar” ini dapat diselesaikan. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini membahas tentang Peradaban Islam pada masa Turki Usmani, Peradaban Islam pada masa Dinasti Safawiyah, dan Peradaban Islam pada masa Dinasti Mughol. Dalam makalah ini membahas pula tentang sejarah berdirinya atau asal-usul masa tiga dinasti tersebut, serta kemajuan dan kemunduran dari tiga dinasti tersebut.
Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Di samping itu apabila dalam makalah ini didapati kekurangan dan kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik yang membangun dari pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya. Akhirnya, semoga makalah yang sederhana ini bisa menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.



Pekalongan, 14 Oktober 2015

Penulis






DAFTAR ISI
Kata Pengantar......................................................................................................................................i
Daftar Isi...............................................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan..............................................................................................................................1
A.    Latar Belakang Masalah...........................................................................................................1
B.     Rumusan Masalah....................................................................................................................1
C.     Metode Pemecahan Masalah....................................................................................................2
D.    Sistematika Penulisan Makalah................................................................................................2
BAB II Pembahasan.............................................................................................................................3
A.    Peradaban Islam pada Masa Turki Usmani (1288-1924 M)....................................................3
B.     Peradaban Islam pada Masa Dinasti Safawiyah (1501-1736 M).............................................9
C.     Peradaban Islam pada Masa Dinasti Mughol (1526-1857 M)................................................15
BAB III Penutup.................................................................................................................................20
A.    Kesimpulan.............................................................................................................................20
Daftar Pustaka
Profil Pemakalah








BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang Masalah
Pada masa khilafah tinggi (khususnya masa dinasti Abbasiyah), peradaban Islam telah mencapai zaman keemasan. Dinasti Bani Abbas bukan saja menjadi adikuasa di bidang politik dan ekonomi tetapi juga merupakan pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan dunia. Namun demikian, pasca serbuan bangsa Mongol di bawah panglima Hulagu Khan, maka Baghdad sebagai pusat kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan hancur. Hal ini menandai jatuhnya daulah Bani Abbasiyah. Akan tetapi hancurnya khilafah Abbasiyah tidak berarti hancurnya kekuatan politik di bidang Islam. Etika politik kebangsaan yang dibangun para pendahulu Bani Abbasiyah menjadi referensi bagi kalangan politisi dan umat Islam sesudahnya.[1]
Pasca Abasiyah memang tidak lagi kekuasaan adikuasa di dunia Islam, kecuali tersisa sultan-sultan yang menguasai daerah tertentu seperti di Irak dan Irak Barat (dinasti Buwaihi), Iran Timur (dinasti Samaniyah), Afghanistan (dinasti Ghazwaniyah), Mesir (dinasti Fatimiyah), di Andalusia (dinasti Muwahiddun) dan sebagainya. Dinasti-sinasti kecil pasca Abbasiyah ini tidak memiliki umur panjang di samping wilayah kekuasaan hanya propinsial.[2]
Pada abad ke-16 M kondisi politik Islam berkembang kembali setelah terbentuknya tiga kerajaan besar; kerajaan Safawi di Persia, kerajaan Mughal di India, dan kerajaan Ustmani di Turki. Periode yang dalam sejarah peradaban Islam sering disebut Era Dinasti Mesin Serbuk (Powder Gun Empires) ini merupakan periode dimana peradaban Islam pasang kembali setelah surut beberapa lama.[3]
B.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana munculnya atau sejarah berdirinya dinasti atau kerajaan Turki Usmani, kerajaan Safawiyah, dan kerajaan Mughol (Mongol) ?
2.      Bagaimana Penalukkan kota Konstantinopel yang dilakukan oleh dinasti atau kerajaan Turki Usmani?
3.      Apa saja kemajuan yang dihasilkan atau diperoleh dari masa pemerintahan kerajaan Turki Usmani, Safawiyah, dan Mughol?
4.      Mengaapa kerajaan Turki Usmani, kerajaan Mughol, dan kerajaan Turki Safawiyah mengalami kemunduran dalam masa pemerintahaannya?
5.      Apa saja faktor yang menyebabkan tiga dinasti atau kerajaan tersebut mengalami kemunduran dalam masa pemerintahannya?
C.           Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku dan observasi. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, dan perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber.
D.           Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi : Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan, Bab II, bagian pembahasan, dan Bab III, bagian penutup.











BAB II
PEMBAHASAN
A.           Peradaban Islam pada Masa Turki Usmani (1288-1924 M)
I.              Sejarah Berdirinya Kerajaan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghus yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina.Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak.Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah.
Tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin terbunuh.Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil.Usmani kemudian menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya.Sejak itulah Kerajaan Usmani dinyatakan berdiri.
Penguasa pertama adalah Usman yang disebut juga dengan Usman I. Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya.Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani.
Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M) Turki Usmani dapat menaklukkan Azumia (1327), Tasasyani (1330 M), Uskandar (1328 M), Ankara (1354 M), Gallipoli (1356 M). daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki Kerajaan Usmani.
Turki Usmani mencapai kegemilangannya pada saat kerajaan ini dapat menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu Konstantinopel.Sultan Muhammad II yang dikenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M) dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M.
Dengan terbukanya kota Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih memudahkan arus ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa. Dan wilayah Eropa bagian timur semakin terancam oleh Turki Usmani karena ekspansi Turki Usmani juga dilakukan ke wilayah ini, bahkan sampai ke pintu gerbang kota Wina, Austria.
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam aspek peradabannya.

II.           Penaklukan Konstantinopel
Konstantinopel adalah ibu kota Bizantium dan merupakan pusat agama Kristen. Ibu kota Bizantium itu akhirnya dapat ditaklukkan  oleh pasukan Islam di bawah Turki Usmani pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II yang bergelar Al-Fatih, artinya sang penakluk. Telah berkali-kali pasukan kaum muslimin sejak masa Dinasti Umayyah berusaha menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal karena kokohnya benteng-benteng di kota tua itu. Baru pada tahun 1453 kota itu dapat ditundukkan.
Sultan mempersiapkan penaklukan terhadap kota Konstantinopel dengan penuh keseriusan. Dipelajari penyebab kegagalan dalam penaklukan-penaklukan sebelumnya.Sultan tidak mau lagi kalah sebagaimana para pendahulunya.Ia terlebih dahulu membereskan wilayah-wilayah yang membangkang di Asia Kecil. Datanglah kesempatan yang dinanti-nanti, yakni ketika Kaisar Konstantin IX mengancam Sultan untuk membayar pajak yang tinggi kepada pihaknya, dan jika tidak tunduk pada perintah tersebut maka akan diganggu kedudukannya dengan menundukkan Orkhan, salah seorang cucu Sulaiman, sebagai Sultan. Ancaman tersebut dihadapi dengan kebulatan tekad, yakni dengan membuat benteng-benteng di sekeliling Konstantinopel.Sultan berkilah bahwa benteng-benteng itu dibangun untuk melindungi dan mengawasi rakyatnya yang lalu lalang ke Eropa melalui wilayah Bosporus itu.
Konstantinopel akhirnya dapat dikepung dari segala penjuru oleh pasukan Sultan Muhammad II yang berjumlah kira-kira 250.000 di bawah pimpinan Sultan sendiri. Kaisar Bizantium meminta bantuan kepada Paus di Roma dan raja-raja Kristen di Eropa, tetapi tanpa hasil, bahkan ia dicemooh oleh rakyatnya sendiri karena merendahkan martabatnya. Raja-raja Eropa juga tidak ingin membantunya karena mereka masih dalam perselisihan yang belum terselesaikan.Hanya pasukan Vinicia yang ingin membantu karena memiliki kepentingan dagang di wilayah Usmani.Tentara Vinicia itu merintangi kapal-kapal Usmani dengan merentangkan rantai besar di selat Busporus. Sultan tidak kehilangan akal, dinaikkanlah kapal-kapal itu  di daratan dengan menggunakan balok-balok kayu untuk landasannya, dan berhasil memindahkannya ke sisi barat kota. Maka terperanjatlah pasukan Bizantium dengan strategi Sultan yang telah mengepung kota selama 53 hari. Dalam masa itu meriam-meriam Turki dimuntahkan ke arah kota dan menghancurkan benteng-benteng dan dinding-dindingnya sehingga menyerahlah Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453.
Dengan jatuhnya Konstantinopel, pengaruhnya sangat besar bagi Turki Usmani. Konstantinopel adalah kota pusat kerajaan Bizantium yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan dan menjadi pusat agama Kristen Ortodoks. Kesemuanya itu diwariskan kepada Usmani. Dari segi letak kota itu sangat strategis karena menghubungkan dua benua secara langsung, Eropa dan Asia. Penaklukan kota itu memudahkan mobilitas pasukan dari Anatolia ke Eropa.[4]
III.        Peradaban Islam di Turki
Sejak masa Usman bin Artaghol (1299-1326 M), yang dianggap pembina pertama Kerajaan Turki Usmani ini dengan nama imperium Ottonom timbullah kemajuan dalam berbagai bidang agama Islam. Turki membawa pengaruh cukup baik dalam bidang ekspansi agama Islam ke Eropa. Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut:
a)             Bidang kemiliteran dan pemerintahan
Para pemimipin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan kerajaan Usmani mencapai masa keemasannya itu bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting di antaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan dan di mana saja.
Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Pengorganisasian yang baik, taktik dan stategi tempur militer Usmani berlangsung dengan baik. Pembaruan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan sangat berarti bagi pembaruan militer Turki. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit.
Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jennissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negeri-negeri non-Muslim. Di samping Jennisari ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi karena ia memiliki peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke-16 angkatan laut Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Usmani yang tangguh itu dengan cepat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa.
Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola pemerintahan yang luas sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Untuk mengatur urusan pemerintahan negara di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab Undang-Undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa Al-Abhur yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga tersebut diujung namanya ditambah gelar Sultan Sulaiman Al-Qanuni.[5]
Di masa pemerintahan Turki Usmani seorang Sultan dibantu oleh dewan kerajaan yang secara hierarki terdiri dari perdana menteri yang disebut Shadr Al-‘Adham, gubernur yang disebut pasya sebagain kepala daerah tingkat I, bupati yang disebut Al-Sanaziq atau Al-Alawiyyah di daerah tingkat II, sekretaris dan bendaharawan negara, dewan militer dan dewan ulama atau mufti, serta kepala mahkamah (hakim). Semua itu untuk membantu Sultan dalam melaksanakan pemerintahan dan pengawasan negara yang sangat luas, sehingga mengharuskan adanya pembagian-pembagian distrik kepada beberapa propinsi untuk membantu memudahan administrasi pemerintahan.[6]
Kemajuan dalam bidang kemiliterandan pemerintahan ini membawa Dinasti Turki Usmani mampu membawa Turki Usmani menjadi sebuah negara yang cukup disegani pada masa kejayaannya.
b)             Bidang ilmu pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudyaan, diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf mereka terima dari bangsa Arab.
Orang-orang Turki Usmani banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah. Pada masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, vila dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia.
c)             Bidang keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Mayarakat digolongkan berdasarkan agama dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat.
Pada masa Turki Usmani tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat bektasyi dan tarekat maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat bektasyi mempunyai pengaruh yang amat dominan di kalangan tentara Jenissari, sehingga mereka sering disebut tentara bektasyi. Sementara tarekat maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Jenissari Bektasyi.
Kajian mengenai ilmu-ilmu keagamaan Islam seperti fiqih, ilmu kalam, tafsir, dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya.[7]
IV.        Kemunduran Islam di Turki
Setelah Sultan Sulaiman  Al-Qanuni wafat (1566 M), Kerajaan Turki Usmani memulai memasuki fase kemunduran. Akan tetapi, sebagai  sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman Al-Qanuni diganti oleh Sultan Salim II (1566-1573 M). Di masa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol.[8]
Pada masa pemerintahan Salim II, pasukan laut Usmani menderita kekalahan dari serangan pasukan gebungan armada Spanyol, Bandulia, armada Sri Paus dan sebagian armada pendeta Malta yang dipimpin oleh Don Juan dari Spanyol. Pada tahun 1663 pasukan Usmani menderita kekalahan dalam penyerbuan Hungaria. Demikian juga pada tahun 1676 Turki Usmani kalah lagi dalam pertempuran di Mohakez, Hungaria. Turki Usmani dipaksa menandatangani perjanjian Karlowitz pada tahun 1699 yang berisi pernyataan penyerahan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia, dan Croasia kepada Hapsburg, dan penyerahan Hermeniet, Padolia, Ukraenia, Morea dan sebagian Dalmatia kepada penguasa Venetia. Pada tahun 1770 pasukan Rusia mengalahkan armada Usmani di sepanjang pantai Asia kecil, namun kemenangan Rusia ini dapat direbut kembali oleh Sultan Musthafa III. Pada tahun 1774 penguasa Usmani, Abdul Hamid, terpaksa menandatangi sebuah perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan atas Crimea, dan penyerahan benteng-benteng pertahanan di laut hitam kepada Rusia serta pemberian izin bagi armada Rusia melintasi selat antara laut hitam dan laut putih.[9]
Sementara itu wilayah-wilayah kekuasaan Usmani di timur mulai menyadari kemunduran Usmani. Sebagian wilayah ini mulai melancarkan pemberontakan dalam rangka untuk melepaskan diri dari kekuasaan Usmani. Di Mesir Yennisary bersekutu dengan Mamalik melancarkan pemberontakan. Dan sejak tahun 1772 Mamalik berhasil menguasai Mesir hingga datangnya Napoleon pada tahun 1789. Di Syria dan Libanon juga terjadi pemberontakan yang digerakkan oleh pimpinan Druz, Fahruddin. Ia berabung dengan gerakan Kurdi dan Janbulat. Namun usaha Fahruddin ini menemui kegagalan. Di Arabia timbullah gerakan pemurnian oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab, seorang pimpinan dataran tinggi Najd, Arabia Tengah. Gerakan ini bergabung dengan kekuatan Ibn Sa’ud dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan di sekitar Jazirah Arabia pada abad ke delapan belas.
Banyak sekali faktor yang turut menyokong kemunduran Trki. Di antaranya adalah sebagaimana tersebut berikut ini.
Pertama,luasnya wilayah kekuasaan Usmani. Tampaknya penguasa Turki hanya menuruti ambisi penaklukan, sementara penataan sistem dan tata pemerintahan terabaikan. Ketika Imperium Usmani sedang dalam kemerosotan, wilayah-wilayah perbatasanyang jauh dari pusat mudah direbut oleh pihak musuh atau berusaha melepaskan diri.
Kedua,pemberontakan Yennisary. Pada masa belakangan Yennisary tidak lagi menerapkan prinsip seleksi dan prestasi, namun keberadaannya telah didominasi oleh keturunan dan golongan tertentu. Tokoh-tokoh Yennisary terlibat perselisihan dengan pihak penguasa sehingga terjadi beberapa kali pemberontakan pada tahun 1525, 1632, 1727, dan 1826 M.
Ketiga, penguasa yang tidak cakap. Generasi penguasa Usmani sesudah Sulaiman Al-Qanuni cenderung lemah semangat perjuangannya. Mereka terlibat pembunuhan demi ambisi jabatan. Kehidupan istana yang penuh kemewahan, musik dan sederetan perempuan penghibur serta minuman keras melalaikan mereka dari tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah dan melemahkan semangat perjuangan.
Keempat,merosotnya perekonomian negara akibat sejumlah peperangan, di mana sebagian peperangan tersebut pihak Turki mengalami kekalahan. Terlepasnya wilayah-wilayah kekuasaan Usmani juga menimbulkan kemerosotan pendapatan negara. Sementara biaya militer dan biaya perang menguras cadangan perekonomian negara. Kemerosotan perekonomian menimbulkan dampak langsung terhadap menurunnya pertahanan muliter Usmani.
Kelima, stagnasi bidang ilmu dan teknologi. Kemajuan militer Turki Usmani yang tidak di imbangi dengan ilmu dan teknologi. Sementara itu pihak Eropa berhasil mengembangkan teknologi persenjataan. Maka ketika terjadi kontak senjata, pihak Usmani berkali-kali menderita kekalahan.
Keenam,tumbuhnya gerakan nasionalisme. Kekuasaan Turki atas sejumlah wilayah yang didudukinya bermula dari gerakan penyerbuan dan penaklukan. Sekalipun penguasa Turki telah berbuat sebaik  mungkin terhadap masyarakat yang dikuasainya, namun kehadiran penguasa Usmani tetap saja dipandang sebagai pihak asing.[10]
B.            Peradaban Islam pada Masa Dinasti Safawiyah (1501-1736 M)
I.              Asal-Usul Dinasti Safawiyah
Dinasti Safawiyah di Persia berkuasa antara tahun 1502-1722 M. Dinsati Safawiyah merupakan kerajaan islam di Persia yang cukup besar. Awalnya kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini di beri nama tarekat Safawiyah, yang diambil dari nama pendirinya, yaitu Shafi Ad-Din (1252-1334), dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan, yakni kerajaan Safawi.[11]
Shafi Ad-Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Shafi Ad-Din merupakan keturuna dari Imam Syiah yang keenam, Musa Al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Tajuddin Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani. Dikarenakan prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Shafi Ad-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Shafi Ad-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat pada tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “ahli-ahli bid’ah”. Tarekat yang dipimpin Shafi Ad-Din ini semakin penting terutama setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan kenamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria, dan Anatolia. Di negeri-negeri di luar Ardabil, Shafi Ad-Din menempatkan seorang wakil untuk memimpin murid-muridnya. Wakil tersebut di beri gelar khalifah. Kerajaan ini mengatakan Syi’ahsebagai Madzhab negara.
Fanatisme pengikut tarekat Safawiyah yang menentang golongan selain Syi’ah mendorong gerakan ini memasuki gerkan politik. Kecenderungan terhadap politik terwujud pada masa kepemimpinan Imam Junaid (1447-1460 M) di mana sang imam menambahkan gerakan politik selain gerakan keagamaan. Hal ini menimbulkan konflik antara tarekat Safawiyahdengan penguasa Kara Koyunlu. Salah satu cabang bangsa Turki yang berkuasa di wilayah ini. Sang imam berhasil diusir oleh pihak penguasa ynag di asingkan. Selanjutnya sang imam bersekutu dengan Uzun Hasan, seorang pimpinan Ak-Koyunlu. Persekutuan Imam Junaid dengan Uzun Hasansemakin kuat dengan pernikahannya dengan saudara perempuan Uzun Hasan. Imam Junaid tidak berhasil meraih supremasi politik di wilayah ini, lantaran upayanya merebut kota Ardabil dan Sircassia mengalami kegagalan.
Sepeninggal Imam Junaid, pimpinan tarekat Safawiyah di gantikan oleh anaknya yang bernama Haidar. Haidar mengawini putri Uzun Hasan dan melahirkan anak yang bernama Isma’il. Sang anak inilah yang kelak berhasil mendirikan Kerajaan Safawiyah di Persia.[12]
Atas persekutuan dengan Ak-Koyunlu, Haidar berhasil mengalahkan kekuatan Ak-Koyunlu  dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1476 M. Kemenangan ini membuat nama Safawiyah semakin besar, dan hal ini tidak dikehendaki oleh Ak-Koyunlu. Persekutuan antara Safawiyah dengan Ak-Koyunlu berakhir oleh sikap Ak-Koyunlu memberikan  bantuan kepada Sirwan ketika terjadi pertempuran antara pasukan Haidar dengan pasukan Sirwan. Pasukan Safawiyah mengalami kehancuran, dan Haidar sendiri turut terbunuh dalam pertempuran ini.
Kekuatan Safawiyah bangkit kembali dalam kepemimpinan Isma’il, ia selama lima tahun mempersiapkan kekuatan dengan membentuk pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) yang bermarkas di Gilan.pada tahun 1501 pasukan Qizilbash berhasil mengalahkan Ak-Koyunlu dalam peperangan di dekat Nakhchivan dan berhasil menaklukan Tibriz, pusat kekuasaan Ak-Koyunlu. Di kota ini Isma’il memproklamirkan berdirinya kerajaan Safawiyah dan menobatkan diri sebagai raja pertamanya.
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Secara politik ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri ynag menganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya. [13]
Usaha-usaha yang di lakukan Abbas I berhasil membuat kerajaan Safawi menjadi kuat. Setelah itu Abbas I mulai memusatkan perhatiannya ke luar dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya ynag hilang. Pada tahun 1598 M ia menyerang dan menaklukan Herat. Dari sana ia melanjutkan serangan merebut Marw dan Balk. Setelah kekuasaan terbina dengan  baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaannya dan Turki Utsmani.
Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam. Abbas I mengarahkan serangan-serangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Utsmani. Pada tahun 1602 M, di saat Turki utsmani berada di bawah Sultan Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil  merebut Tabriz, Sirwan dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakhcivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahan 1605-1606 M.
Selama periode Safawiyah di Persia ini (1502-1722 M) persaingan untuk mendapatkan kekuasaan antara Turki dan Persia menjadi kenyataan. Namun demikian, Isma’il menjumpai saingan kepala batu yaitu Sultan Salim I dari Turki. Peperangan ini, seperti para sejarawanmenduga, bisa berasal dari kebencian Salim dan pengejaran terhadap seluruh umat muslimdi Syi’ahdi daerah kekuasaannya. Fanatisme Sultan Salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang didakwa telah mengingkari ajaran-ajaran Sunni. Pembunuhan ini digambarkan oleh seorang ahli sejarah dari Persia sebagai tindakan yang paling dahsyat atau kejam, walaupun dijalankan dengan atas nama agama.
Sekalipun demikian pemberontakan terus menerus yang terjadi di negeri besar Nadhir memaksanya untuk mengakui Sultan Utsmani sebagai seorang khalifah. Pada tahun 1747 M, Nadhir di bunuh dan di gantikan oleh keponakannya, Ali Kuli. Di masa pemerintahannya negara besar Persia mulai mundur dan dengan demikian orang-orang Turki Utsmani menikmati masa perdamaian di dunia timur seperti halnya di Eropa.[14]
II.           Kemajuan Peradaban Dinasti Safawiyah
Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Di bidang yang lain, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. Kemajuan-kemajuan itu antara lain adalah sebagai berikut:
a)             Bidang Ekonomi
Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Persia sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi.
Di samping bidang perdagangan kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
b)             Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.
Beberapa tokoh ilmuwan yang terkenal antara lain, yaitu: Baha Al-Din Al-Syaerazi generalis ilmu pengetahuan, Sadar Al-Din Al-Syaerazi filosof dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad filosof ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan sains, Safawiyah lebih maju dari kerajaan lainnya pada masa yang sama.[15]


c)             Bidang Arsitektur
Penguasa kerajaan Safawi telah berhasil menciptakan Isfahan ibu kota kerajaan menjadi kota yang sangat indah. Di kota Isfahan ini berdiri bangunan-bangunan besar dengan arsitektur bernilai tinggi dan indah, seperti: masjid, rumah sakit, sekolah, jembatan, raksasa di atas Zende Rud dan istana Chihil Sutun. Disebutkan dalam kota Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademik, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum.
Dalam bidang kesenian kemajuan tampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti: Masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan Masjid Syaikh Lutfillah yang dibangun tahun 1603 M.
d)            Bidang Kesenian
Kerajaan Safawi mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang seni, antara lain: dalam bidang kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I. Raja Ismail I pada tahun 1522 M membawa seorang pelukis Timur bernama Bizhad ke Tabriz.
e)             Bidang Tarekat
Cikal bakal kerajaan Safawi adalah gerakan sufistik yaitu gerakan tarekat. Oleh karena itu, kemajuan di bidang tarekat pun cukup maju. Bahkan gerakan tarekat pada masa ini tidak hanya berpikir dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam bidang politik dan pemerintahan.
Dinasti Safawiyah tidak setaraf dengan kemajuan yang pernah dicapai Islam pada masa klasik, tetapi kerajaan ini telah memberikan sumbangan kontribusi yang cukup besar dalam bidang peradaban melalui kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, arsitektur, kesenian, dan tarekat.[16]
III.        Keruntuhan Dinasti Safawiyah
Sepeninggal Abbas I kerajaan safawi lemah sehingga tidak mampu mempertahankan masa kejayaan safawi. Safi Mirza adalah cucu dan sekaligus pengganti Abbas I. Sejak masa ini, beberapa wilayah safawiyah terlepas oleh penguasa lain, misalnya kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afghanistan) lepas dari kekuasaan kerajaan safawi,  diduduki oleh oleh keraan Mughal ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan. Kemudian Ervan, Tibriz, dan Baghdad disebut oleh pasukan Utsman antara tahun 1635-1637 M.
Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun deimikian, Abbas II memiliki semangat perjuangan untuk kerajaan Safawiyah dengan bantuan wazir-wazirnya. Ia merebut embali wikayah Qandahar dari kekuasaan Syah Jihan, namun upaya seperti ini tidak diteruskan oleh para penggantinya. Sulaiman seorang penguasa yang lemah, ia bertindak kejam para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya rakyat bersikap masa bodoh terhadap masa pemerintah, digantioleh Syah Husein yang alim, ia memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan, sehingga gerakan ini mengakhiri pemerintahan Safawi di wilayah ini. Benih pemberontakan ini telah ada semasa Sulaiman dan berubah semakin kritis pada masa Husein.[17]
Apabila dianalisis, terdapat beberapa faktor penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawiyah ini. Faktor-fator tersebut adalah sebagai berikut:
1.             Adanya Figur Pemimpin yang Kurang cakap
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kemajuan paling gemilang di kerajaan Safawiyah adalah masa Syah Abbas I, tetapi sayang sekali kemajuan tersebut tidak diikuti dengan penyiapan generasi penggantinya yang handal. Syah Abbas I kurang memperhatikan pembinaan penggati dirinya.  Kondisi ini pemimpin setelah dirinya menjadi pemimpin-pemimpin yang lemah. Sehingga ketika terjadi goncangan yang melanda kerajaan Safawiyah para pemimpin ini tidak mampu mengatasi dan menghalau dan menyesaikannya.[18]
2.             Konflik Politik yang Panjang
Sebagai sebuah pemerintahan Syiah yang dibangun sejak zaman Syah Ismail I berkuasa dan kemudian menjadikan Syiah sebagai mazhab resmi negaranya, kerajaan Safawiyah memiliki rival politik yang kuat dan sekaligus sewaktu-waktu mengancam pemeritahannya yaitu kekuasaan Turki Usmani yang bermadzhab Sunni. Meskipun konflik ini pernah terhenti sejenak tatkala Syah Abbas I berkuasa dengan jalan menjalin hubungan diplomasi dengannya, tetapi ternyata konflik tersebut muncul kembali tatkala pemerintahan dikendalikan oleh pengganti-penggantinya. Ini yang semakin lama semakin ikut memperpurik stabilitas politik negada Safawiyah.
3.             Melemahnya Kekuatan Militer
Pada zaman Syah Abbas I berkuasa, dia membentuk pasukan Ghulam. Awalnya pasukan ini cukup bagus, tetapi lambat laun pasukan ini tidak memiliki semangat dan militansi yang tangguh, sementara pasukan Qizilbash yang baru dimunculkan kembali tidaklah setangguh Qizilbash pra Abbas I. Ini berakibat fatal karena kerajaan Safawiyah tidak memiliki pertahanan kuat untuk menahan kemampuan pasukan lawan-lawannya yang membawanya kepada kemunduran dan kemajuannya.
4.             Krisis Moral Penguasa
Para wanita piaraan atau harem disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kejatuhan politik dunia Islam. Agaknya terdapat penguasa yang terlibat dalam kasus harem.[19] Sepertinya persoalan harem tersebut terjadi juga pada masa kerajaan Safawiyah ini, utamanya pada kepemimpinan Sulaiman. Di samping dikenal sebagai pecandu berat narkotika, ternyata dia bersibuk ria dalam kehidupan bersama para haramnya. Bahkan di dalam literatur sejarah juga disebutkan bahwa selama tujuh tahun Sulaiman tidak pernah sedetikpun menyempatkan dirinya mengurus pemerintahan. Ini tentu menjadi faktor yang melemahkan stabilitas pemerintahan ini.
5.             Konflik Keagamaan
Konfilik keagamaan di kerajaan Safawiyah tampak di era kepemimpinan Husain. Husain itu sebenarnya dia adalah pemimpin yang lemah lembut dan berbaik hati. Namun karena dia terlalu memberikan kebebasan berlebihan kepada ulama syiah, membuat mereka dapat mengendalikan Husain. Para ulama syiahnya kepada rakyat yang sebelumnya telah diberikan kebebasan dan toleransi, utamanya pada masa Abbas I. Karena pemaksaan inilah, agaknya yang menjadi salah satu motivasi rakyat Qandahar, salah satu wilayah kerajaan Safawiyah yang mayoritas Suni, mengkonsolidasikan kekuatannya yang di bawah komando amir Qandahar, Mir Mahmud Khan. Pada tanggal 8 Maret 1722 , Mir Mahmud Khan akhirnya mampu menggulingkan pemerintah Husain.[20]
C.           Peradaban Islam pada Masa Dinasti Mughol (1526-1857 M)
       I.            Asal Usul Dinasti Mughol (Mongol)
Bangsa mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang daria asia tengah sampai ke Siberia utara, Tibet selatan, dan Manchuria barat, serta Turkistan timur. Nenek moyang mereka bernama alanja khan, yang mempunyai dua putra kembar, tartar dan mongol. Kedua putra ini melahirkan dua suku bangsa besar, yakni mongol dan tartar. Mongol mempunyai anak bernama ilkhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa m0ngol dikemudian hari.
Agama bangsa mongol semula adalah syamanisme, yang meskipun mereka mengakui adanya yang maha kuasa, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya, melainkan menyembah kepada arwah, terutama roh jahat yang karena mampu mendatangkan bencana, mereka  jinakkan dengan sajian-sajian, disamping itu mereka dengan sangat memuliakan arwah nenek moyang yang dianggap masih berkuasa mengatur hidup keturunannya.
Pemimpin atau khan bangsa mongol yang pertama diketahui dalam sejarah adalah yesugey (w. 1175). Ia adalah ayah jenghiz (Chinggiz atau Chingis). Jenghiz aslinya bernama temujin, seorang pandai besi yang mencuat namanya karena perselisihan yang di menangkannya melawan orang khan atau togril, seorang  kepala suku kereyt. Jenghiz sebenarnya adalah gelar bagi temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa itu pada tahun 1206, atau juga disebut jenghiz khan, ketika ia berumur 44 tahun.
Jenghiz khan dan bangsa yang di pimpinnya meluaskan wilayah ke Tibet dan cina, tahun 1213 M, serta dapat menaklukan Beijing tahun 1215 M. ia menundukkan Turkistan tahun 1218 M yang berbatasan dengan wilayah islam terjadi karena ada peristiwa utrar, 1218 M, yaitu ketika gubernur khawarizm membunuh para utusan jenghiz yang disertai pula oleh para saudagar muslim. Peristiwa tersebut menyebabkan mongol menyerbu wilayah islam, dan dapat menaklukan transoxania yang merupakan wilayah khawarizm, tahun 1219-1220, padahal sebelumnya mereka itu justru hidup berdampingan secara damai satu sama lain.
Kemudian mereka masuk Bukhara, samarkhan, khurasan, quswain, hamadzan dan sampai ke perbatasan irak. Di Bukhara, ibu kota khawarizm, mereka kembali mendapat perlawanan dari sultan alauddin, tetapi kali ini mereka dengan  mudah dapat mengalahkan pasukan khawarizm. sultan alauddin tewas dalam pertempuran di mazindaran. Ia digantikan putranya, jalaluddin yang kemudian melarikan diri ke india karena terdesak dalam pertempuran di dekat attock tahun 1224 M. dari sana pasukan mongol terus ke Azerbaijan. “ di setiap daerah yang dilaluinya, pembunuhan besar-besaran terjadi. Bangunan-bangunan indah dihancurkan sehingga tidak berbentuk lagi, demikian juga isi bangunan yang sangat bernilai sejarah, sekolah-sekolah, masjid-masjid dan gedung-gedung lainnya dibakar.
Wilayah kekuasaan jenghiz khan yang luas itu dibagi untuk empat orang putranya sebelum ia meninggal dunia tahun 624 H/1227 M.
Pertama, Juchi anaknya yang sulung mendapatkan wilayah Siberia bagian barat dan stepa qipchaq yang membentang hingga ke rusia selatan, didalamnya terdapat khawarizm. Namun ia meninggal sebelum wafat ayahnya, jenghiz dan wilayah warisannya itu diberikan kepada anak juchi yang bernama batu dan orda. Batu mendirikan horde (kelompok) biru di rusia selatan sebagai pilar dasar berkembangnya horde keemasan (Golden Horde), sedangkan orda mendirikan horde putih di Siberia barat, kedua kelompok itu bergabung pada abad ke empat belas yang kemudian muncul sebagai kekhanan (kepemimpinan) yang berbagai macam ragamnya di rusia, Siberia, da Turkistan, termasuk di crimea, astrakahan, qazan, qosimov, tiumen, Bukhara dan khiva, syaibaniyah atau ozbeg, salah satu cabang keturunan juchi berkuasa di khawarizm dan transoxania pada abad kelimabelas dan keenambelas.
Kedua, chagatay mendapat wilayah yang membentang ke timur, sejak dari transoxania hingga Turkistan timur atau Turkistan china. Cabang barat dari keturunan chagatay yang bermukim di transoxania segera masuk ke dalam lingkungan pengaruh islam, namun akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan timur lenk. Sedangkan cabang timur dari keturunan chagatay berkembang di semirechye, llli, ti’en syan di tarim. Mereka lebih tahan terhadap pengaruh islam, tetapi akhirnya mereka ikut membantu menyebarkan islam di wilayah Turkistan cina dan bertahan di sana hingga abad ke tujuh belas.
Ketiga, ogotay, adalah putra jenghiz khan yang terpilih oleh dewan pimpinan mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai khan agung yang mempunyai wilayah di pamirs dan ti’en syan, mereka berperang melawan anak keturunan chagatay dan qubilay khan, hingga ia meninggal dunia tahun 1301.
Keempat, Tuluy si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni mongke dan qubilay menggantikan ogedey sebagai khan agung. Mongke bertahan di Mongolia yang beribukota di qaraqarum, sedangkan qubilay khan menaklukan cina dan berkuasa disana yang dikenal sebagai yuan dinasti yang memerintah hingga abad keempat belas, yang kemudian digantikan oleh dinasti ming. Mereka memeluk agama budha yang berpusat di Beijing, dan mereka akhirnya bertikai melawan saudara-saudaranya dari khan-khan mongol yang beragama islam di asia barat dan rusia. Adalah hulagu khan, saudara mongke khan, dan qubilay khan, yang menyerang wilayah-wilayah islam sampai ke Baghdad.[21]
    II.            Kemajuan Dinasti Mughol
Kemajuan yang di capai pada masa Dinasti Mughol ini antara lain adalah sebagai berikut:
a)             Bidang Administrasi
Untuk pelayanan masyarakat dikelola oleh suatu badan yang bernama Mansabdari. Dilihat dari sini terlihat sistem administrasi pemerintahan Mughol sudah relatif tertata, ini tentu menjadi bagus untuk perjalanan sebuah pemerintahan yang maju.

b)             Bidang Ekonomi dan Dunia Intelektual
Kerajaan Mughol berhasil mengembangkan program pertanian, pertambangan dan perdagangan, sehingga sumber keuangan negara lebih banyak tertumpu pada sektor pertanian. Sementara dalam dunia intelektual, bidang pendidikan dan ilmu penegetahuan juga mendapatkan masa-masa kecermelangannya. Studi-studi di bidang yang dianggap keilmuan non agama, seperti: logika, filsafat, geometri, geografi, sejarah, politik dna matematika digalakkan. Pada zaman pemerintahan Mughol dipimpin oleh Syah Jahan dan Aurangzeb, mereka membangun sekolah-sekolah tinggi, di samping juga pusat pengajaran di Lueknow. Kualitas pendidikan madrasah Lueknow diakui oleh madrasah yang muncul pada periode-periode selanjutnya yaitu Madrasah Deoband.
c)             Bidang Keagamaan
Secara umum para penguasa (sultan) Mughol beraliran mazhab Sunni, bahkan sebagian dari mereka terkenal ortodoksinya. Dalam bidang keagamaan ini terutama zaman Jahangir, muncul seorang mujaddid terkemuka yaitu Syekh Ahmad Sirhindi ia mempraktekkan tarekat Naqsabandiyah. Meskipun sebagian penguasa cenderung terhadap ortodoksi Sunni, saat itu juga muncul pemikiran sintesa dalam agama.[22]
d)            Bidang Karya Seni dan Arsitektur
No
Nama
Bidang
Masa
1
Gedung Fatehur Sikri
Arsitektur
Akbar
2
Istana Agra
Seni Lukis
Akbar
3
Aga Reza
Seni Lukis
Jahangir
4
Gedung Din Enah
Arsitektur
Humayun
5
Masjid Agung Delhi
Arsitektur
Syah Jehan
6
Taj Mahal
Arsitektur
Syah Jehan
7
Masjid Agung di Sabhal
Arsitektur
Babur[23]


   III.          Kemunduran Dinasti Mughol
Setelah mengalami masa-masa kemajuan pada masa Akbar dan tiga raja penggantinya, selama satu setengah abad. Kerajaan ini lambat laun mengalami kemunduran, kemunduran masa pemerintahan ini ± abad ke- 18 M., ditandai dengan kekuasaan politiknya mulai merosot terjadinya suksesi kerajaan, terjadinya sejumlah pemberontakan kelompok sparatis Hindu. Bersamaan dengan itu, raja-raja pengganti Auranzeb yang tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelemunya.
Adapun hal-hal yang menyebabkan kemunduran kerajaan Mughal, antara lain karena kekuasaan politiknya  mulai merosot, suksesi kepemimpinan diangkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu para pedagang Inggris yang untuk pertama kali diizinkan oleh Jihangir menanmkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatang bersenjata semakin kuat mengusai wilayah pantai.[24]
Ada bebrapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1.             Terjadinya stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat, bahkan mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
2.             Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3.             Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketismenya, sehingga konflik antar agama sangat disukai oleh sultan-sultan sesudahnya.
4.             Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[25]


BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan makalah di atas dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut ini :
1.             Ketiga Kerajaan Besar tersebut yaitu Usmani di Turki, Safawi di Persia, dan Mongol di India merupakan tiga kerajaan besar yang mengalami kemajuan terutama dalam bidang politik. Dan itu terjadi kembali setelah kholifah Abbasiyah di Baghdad runtuh.
2.             Ketiga kerajaan di atas berdiri sendiri dan membentuk model pemerintahan berbeda-beda.
3.             Ketiga kerajaan besar di atas juga mengalami kemajuan dan kemunduran. Kemajuan kemajuan tersebut terjadi baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan maupun dalam seni atau keindahan/ arsitektur. Sedangkan kemunduran tersebut dapat diakibatkan berbagai macam hal seperti:
a.              Konflik Intern dalam kerajaan itu sendiri.
b.             Pemberontakan dan terjadinya stagnansi dalam lapangan ilmu dan teknologi.












DAFTAR PUSTAKA
Ali, K. 2003. Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani (Tarikh Pramodern). Cetakan ke-4. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Bakri, Syamsul. 2011. Peta Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Fajar Media Press.
Fu’adi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyyah II. Yogyakarta: Teras.
Mufradi, Ali. 2002. Kerajaan Usmani, Ensiclopedia tematis 2. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Syukur, Fatah. 2012. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT PUSTAKA RIZKI PUTRA.
Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.













PROFIL PEMAKALAH
Nama                                              :   Khimayatus Solikhah
NIM                                               :   2021113062
Tempat, Tanggal Lahir                   :   Pekalongan, 17 Februari 1995
Alamat                                            :   Ds. Kranji Kec. Kedungwuni Kab. Pekalongan
Pendidikan                                     :   MI Walisongo Kranji 01
SMP Islam Walisongo
Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal

Nama                                              :   Ainur Riski
NIM                                               :   2021114009
Tempat, Tanggal Lahir                   :   Pekalongan, 4 Desember 1995
Alamat                                            :   Jln. Urip Sumoharjo No. 223 Pekalongan
Pendidikan                                     :   MI Islam Pringlangu 03
MTs. Futuhiyyah 2 Mranggen
MAS Simbang Kulon

Nama                                              :   Lailatul Muizziyah
NIM                                               :   20211141
Tempat, Tanggal Lahir                   :   Pekalongan, 11 Desember 1996
Alamat                                            :   Banyurip Ageng Gg. 04/101
Pendidikan                                     :   MI Islam 1 Banyurip Ageng
MTs. Isthifaiyah Nahdhiyah Banyurip Ageng
SMA Islam Pekalongan

 
Nama                                              :   Faridatunnisa’
NIM                                               :   2021114237
Tempat, Tanggal Lahir                   :   Pekalongan, 31 Maret 1996
Alamat                                            :   Ds. Petukangan No. 16 Kec. Wiradesa Kab. Pekalongan
Pendidikan                                     :   MI Muhammadiyah Delegtukang
MTs. Muhammadiyah Pekajangan
SMA Muhammadiyah 2 Pekalongan


[1] Syamsul Bakri, Peta Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011), hlm. 131
[2] Ibid.
[3] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam ( Semarang: PT PUSTAKA RIZKI PUTRA, 2012), hlm. 145
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 194-200
[5]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 133.
[6]Imam Fuadi, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 183.
   [7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 135.
[8] Ibid., hlm. 205
[9] K. Ali, Op. Cit., hlm, 559
[10] Ibid., hlm, 562
[11] Ibid., hlm. 187
[12]. K. Ali, Sejarah Islam dan Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Utsmani (Tarikh Pramodern), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 519
[13]. Samsul Munir Amin, Op. Cit., hlm. 189
[14] Ibid., hlm. 190
[15]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 143.
[16]Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 191.
[17] Fatah Syukur, Op. Cit., hlm. 146
[18] Imam Fuadi, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyyah II (Yogyakarta: Teras, 2012),  hlm. 236
[19] Ibid., hlm. 237
[20]Imam Fuadi, Op. Cit., hlm. 238
[21] Samsul Munir Amin, Op. Cit., 212-215
[22] Imam Fuadi, Op.cit., hlm. 253
[23] Ali Mufradi, Kerajaan Usmani, Ensiclopedia tematis 2, (Jakarta:PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm.298
[24] Fatah Syukur, Op. Cit., hlm. 158
[25] Ibid., hlm. 150

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar