zzz

Rabu, 17 Februari 2016

TT2 G 01 Asal Kejadian Manusia



Tafsir Tarbawi
ASAL KEJADIAN MANUSIA

Disusun Oleh :

Nuraini   Ita Masita 
  Lili Sun Haji     Bahati  
  Millatina Ulfah   

Kelas: PAI (G)


JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2016



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peranan penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan atau ilmu pengetahuan, proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan modern sulit untuk diwujudkan.
Dalam Islam, pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan sepanjang usia. Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Islam juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan.
Allah menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling sempurna, baik secara fisik ataupun ruhani yang dilengkapi dengan akal, itulah yang membedakan manusia dari makhluk Allah yang lain. Suatu tuntutan yang berlaku bagi manusia yang telah diberi nilai ekstra yakni akal adalah untuk difungsikan sebagai media ataupun fasilitas untuk meraih tanda-tanda kekuasaan Allah.

B.  Rumusan masalah
1.      Bagaimana proses asal kejadian  manusia sesuai Al-Quran ?
2.      Bagaimana diskripsi ayat-ayat Al-Quran tentang kejadian manusia ?
3.      Apa saja aspek tarbawi tentang asal usul kejadian manusia ?




BAB II
PEMBAHASAN
ASAL KEJADIAN MANUSIA
A.    Surat al-mukminun ayat 12-14
Artinya: “dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal dari tanah). Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk lain), maka maha suci Allah pencipta yang paling baik. (al-mukminun, 23: 12-14  ).[1]
Kandungan ayat Q.S Al-Mu'minun ayat 12-14

a.     Allah swt. menciptakan manusia dari saripati tanah. artinya Allah swt. menciptakan manusia berasal dari seorang laki-laki dan perempuan, keduanya mengonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan dan hewan yang juga memperoleh makanan dari tanah. Sari pati makanan yang dimakan oleh kedua orang tua kita mejadi sperma dan sel telur.

b.     Hail pembuahan menjadi segumpal darah dan yang selanjutnya menjadi segumpal daging hingga tulang belulang yang dibungkus daging. sesudah itu, Allah menciptakan anggota-anggota badan dan menyusun menjadi makhluk yang berbentuk seorang bayi manusia.

c.     Air mani yang berasal dari saripati tanah, juga mengandung makna bahwa manusia pada akhirnnya akan kembali pada tempatnya semula, yaitu tanah. Tanah yang dimaksud adalah liang lahat. Artinya manusia berasal dari tanah, dan akan kembali tinggal meyatu dengan tanah
Penjelasan :
Uraian tentang proses tersebut yang demikian mengagumkan membuktikan perlunya beriman dan tunduk kepada Allah sang pencipta, serta keharusan mengikuti jejak orang-orang mukmin yang disebut pada ayat kelompok pertama. Hal itulah yang dapat mengantar manusia mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.
“dan sesungguhnya kami bersumpah bahwa kami telah menciptakan manusia yakni jenis manusia yang kamu saksikan bermula dari suatu saripati tanah. Dan kemudian yakni nuthfah yang disimpan dalam rahim ibu. Kemudian Kami ciptakan yakni alaqah lalu Kami ciptakan mudhghah tulang belulang lalu Kami bungkus tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami meniupkan ruh ciptaan Kami kepadanya makhluk dan berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain. Maka sesudah itu atau melalui proses tersebut dan ketika kamu berada dipentas bumi ini dan melalui lagi proses dari bayi anak kecil, remaja, dewasa, tua dan pikun, benar-benar kamu akan mati dan pada masa pikun maupun sebelumnya.
Berbeda dengan pendapat ulama tentang kejadian siapa yang dimaksud dengan manusia pada ayat 12 diatas banyak yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Adam. Memang ayat selanjutnya mengatakan Kami menjadikannya nuthfah bukan Kami menjadikannya keturunan nufhfah. Ini menganut pendapat diatas tidak menjadi penghalang karena sudah demikian populer bahwa anak keturunan Adam melalui proses nuthfah.
Bagi yang tidak menerima pendapat diatas ada yang menyatakan bahwa kata al-insan yang dimaksud adalah jenis manusia. Al-Baqa’i misalnya menulis bahwa sulalah min thin/ saripati dari tanah merupakan tanah yang menjadi bahan penciptaan Adam. Thabathaba’i juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-insan tidak mungkin Adam as.
Thahir Ibn Asyur, walaupun membuka kemungkinan memahami kata al-insan dalam arti Adam tetapi cenderung berpendapat bahwa al-insan yang dimaksud adalah putra-putri Adam as. Saripati tanah itu menurutnya adalah apa yang diproduksi oleh alat pencernaan dari bahan makanan yang kemudian menjadi darah, yang kemudian berproses hingga akhirnya menjadi sperma ketika terjadi hubungan seks.
Kemudian pada kata “Khalaqan akhar/ makhluk lain mengisyaratkan ada sesuatu yang dianugerahkan kepada makhluk lain. gorilla atau orang utan, memiliki organ yang sama dengan manusia. Tetapi ia berbeda dengan manusia, karena Allah telah menganugerahkan makhluk ini ruh Ciptaan-Nya yang tidak Dia anugerahkan kepada siapapun kendati kepada malaikat.[2]
B.     Surat Al-Hijr ayat 26-34
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*uHxq 5bqãZó¡¨B ÇËÏÈ   ¨b!$pgø:$#ur çm»uZø)n=yz `ÏB ã@ö6s% `ÏB Í$¯R ÏQqßJ¡¡9$# ÇËÐÈ   øŒÎ)ur tA$s% y7/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) 7,Î=»yz #\t±o0 `ÏiB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*yJym 5bqãZó¡¨B ÇËÑÈ   #sŒÎ*sù ¼çmçF÷ƒ§qy àM÷xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr (#qãès)sù ¼çms9 tûïÏÉf»y ÇËÒÈ   yyf|¡sù èps3Í´¯»n=yJø9$# öNßg=à2 tbqãèuHødr& ÇÌÉÈ   HwÎ) }§ŠÎ=ö/Î) #n1r& br& tbqä3tƒ yìtB šúïÏÉf»¡¡9$# ÇÌÊÈ   tA$s% ߧŠÎ=ö/Î*¯»tƒ $tB y7s9 žwr& tbqä3s? yìtB tûïÏÉf»¡¡9$# ÇÌËÈ   tA$s% öNs9 `ä.r& yàfóX{ @t±u;Ï9 ¼çmtFø)n=yz `ÏB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*uHxq 5bqãZó¡¨B ÇÌÌÈ   tA$s% ólã÷z$$sù $pk÷]ÏB y7¯RÎ*sù ÒOŠÅ_u ÇÌÍÈ  
Artinya :
”Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Berkata iblis: Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia, yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Allah berfirman: 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu (iblis) terkutuk,"
Penjelasan:
Ayat 26-27:
Disini Allah SWT berfirman: dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia, yakni Adam dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya, yakni sebelum penciptaan Adam dari angin yang sangat panas.
            Kata (صلصا ل)  terambil dari kata (صلصلة) yaitu suara keras yang bergema akibat ketukan. Yang dimaksud disini adalah tanah yang sangat keras dan kering. Kata ini serupa maknanya dengan (الفخار) , hanya saja kata terakhir ini digunakan untuk tanah yang keras akibat pembakaran dengan api, berbeda dengan shalshal yang kekeringan dan kekerasanya tanpa pembakaran.
            Kata (حماء) adalah tanah yang bercampur air lagi berbau sedangkan kata (مسنون) berarti dituangkan sehingga siap dan dengan mudah dibentuk dengan berbagai bentuk yang dikehendaki. Ada juga yang            memahami kata ini dalam arti yang telah lama sehingga kadaluwarsa. Ia terambil dari kata (السنة) yang berarti yahun. Dengan kata     yang lama.
            Kata (الجانّ) seakar dengan kata (جنّ) yang terambil dari akar kata (جنن) yang berarti menutup/tertutup. Sementara  ulama memahami kata al-jann pada ayat ini dalam arti bapak dari kelompok yang dinamai jin sebagaimana Adam as. adalah bapak dari kelompok makhluk yang dinamai insan/manusia. Ada juga yang mempersamakan kata  tersebut dengan jin, apalagi menurut penganut pendapat ini uraian tentang mereka diperhadapkan dengan uraian insan/manusia.
            Kata (سموم) berarti angin yang sangat panas yang menembus masuk ke tubuh. Ada juga yang memahaminya dalam arti api yang tanpa asap. Dalam QS. Ar-Rahman: 15 dinyatakan bahwa dan jin diciptakan dari nyala api. Dari gabungan kedua ayat ini dapat dikatakan bahwa angin panas mengakibatkan kebakaran sehingga menimbulkan nyala api, dari nyala api itulah jin diciptakan.
Ayat 28-34:
            Sedang penekanan uraian dalam surah al-Hijr ini adalah uraian tentang unsur penciptaan Adam as., rahasia perolehan hidayah dan kesesatan, serta faktor-faktor dasar menyangkut kedua hal itu dalam diri manusia.             Karena itu disini diuraikan tentang penciptaan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk serta penciptaan     sebelumnya dari api yang sangat panas. Kemudian diuraikan keengganan iblis bersujud lalu pengusirannya dan permohonannya serta pengakuannya bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk menjerumuskan hamba-hamba Allah SWT yang taat kepada-Nya.
            Ayat diatas membedakan juga dengan jelas asal kejadian manusia dan asal kejadiana jin. Perbedaan itu bukan saja pada unsur tanah dan api, tetapi yang lebih penting adalah bahwa pada unsur kejadian manusia ada            ruh ciptaan Allah swt., unsur ini tidak ditemukan pada iblis/jin. Unsur ruhani itulah yang mengantar manusia lebih mampu mengenal Allah Swt., beriman, berbudi luhur serta berperasaan halus.
            Kata (بشر) terambil dari kata (بشرة) yang berarti kulit. Kata ini biasa diterjemahkan dengan manusia. Ini agaknya, karena sisi lahiriah yang nampak dari manusia adalah kulitnya bukan seperti binatang yang etrlihat dengan jelas bulunya. Namun demikian perlu dicatat bahwa kata ini berbeda dengan kata insan yang juga diterjemahkan dengan manusia. Adapun kata insan maka ia menampung perbedaan-perbedaan dalam bidang keruhanian, keimanan dan akhlak.  Dengan kata lain, basyar menunjukan persamaan, sedang kata insan dapat mensyiratkan perbedaan antara seseorang dengan yang lain. Ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt., menciptakan basyar/manusia semuanya          sama,   dan kalaupun terjadi perbedaan antara seseorang dengan yang lain, maka           hal itu disebabkan adanya faktor ekstern yang mengakibatkan hal tersebut.
            Kata (سوّيته) terambil dari kata سوّيmenjadikan sesuatu sedemikian rupa sehingga setiap bagianya dapat berfungsi sebagaimana yang direncanakan.
            Kata (نفخت) aku meniupkan terambil dari kata            نفخ        nafakha yang hakikatnya adalah mengeluarkan angin melalui mulut. Yang dimaksud disini adalah memberi potensi ruhaniah kepada makhluk             manusia yang menjadikanya dapat mengenal Allah swt., dan mendekatkan diri      kepada-Nya. Bahwa peniupan itu dinyatakan sebagai dialkukan oleh Allah swt., adalah sebagai isyarat penghormatan kepada manusia. perlu dicatat bahwa disini tidak ada peniupan, tidak ada juga angin atau ruh dari dzat Allah swt., yang menyentuh manusia. ruh Allah swt., yang dimaksud adalah milik-Nya dan yang merupakan wewenang-Nya semata-mata.
            Kata (ابليس) terambil dari kata bahasa arab yang berarti putus asa atau dari kata (بلس) yang berarti tiada kebaikanya. Dari penggabunganya lahir beberapa makna antara lain menentang, menghalangi, dan yang berada antara dua pihak untuk memecah belah dan menciptakan kesalah pahaman. Iblis menolak sujud bukan dengan alasan bahwa sujud kepada Adam as., adalah syirik, seperti dugaan sementara orang yang sangat dangkal pemahamanya. Keenggananya bersumber dari keangkuhan yang menjadikan ia menduga dirinya lebih baik dari Nabi Adam as.[3]
C.    Surat ar-Ruum ayat 54
الله اَّلذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُرَّةَ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَ شَيْبَةً يَخْلُقُ ما يَشَاءُ وَهُوَ اْلعَلِيْمُ اْلقَدِيْرُ
Artinya: “Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu kekuatan. Kemudian Dia menjadikan sesudh kekuatan itu kelemahan dan uban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Penjelasan:
Ayat ini memulai dengan menyebut nama wujud yang teragung dan yang khusus bagi-Nya serta yang mencakup segala sifat-Nya yakni: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah yakni setetes sperma yang bertemu dengan indng telur. Lalu tahap demi tahap meningkat dan meningkat hingga kemudian setelah melalui tahap bayi, kanak-kanak dan remaja, Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu memiliki kekuatan sehingga kamu Dia menjadikan kamu sesudah menyandang kekuatan itu menderita kelemahan kembali dengan hilangnya sekian banyak potensi, dan tumbuhnya uban di    kepala kamu. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki sesuai hikmah kebijaksanaa-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
            Ayat diatas melukiskan pertumbuhan fisik, kendati kelemahan dan kekuatan berkaitan juga dengan mental seseorang. Ada kelemahan manusia menghadapi sekian banyak godaan, juga tantangan yang menjadikan semangatnya mengendor. Di sisi lain ada kekuatan yang dianugerahkan Allah berupa kekuatan jiwa menghadapi tantangan. Tentu saja kekuatan dan kelemahan fisik maupun mental seseorang berbeda kadarnya satu pribadi dengan pribadi yang lain, dan atas dasar itulah agaknya sehingga kata-kata (ضعف ) kelemahan dan kata (قوة ) kekuatan ditata dalam bentuk indefinit.
            Apa yang dikemukakan ayat di atas adalah uraian tentang tahap-tahap hidup manusia secara umum, bukan yang dialami oleh setiap orang, karena di antara manusia ada yang meninggal dunia pada tahap awal hidupnya, ada juga saat puncak kekuatanya. Namun jika tahap puncak itu dilampauinya, maka pasti dia akan mengalami tahap-tahap kelemahan lagi. Apapun yang dialami manusia, semua kembali pada Allah SWT. Karena itu, setelah menyebut tahap-tahap tersebut, ayat diatas menegaskan bahwa Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan buat manusia tahap-tahap yang dilalui serta kadar masing-masing. Itu semua ditetapkan atas dasar pengetahuan-Nya yang menyeluruh, karena Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.[4]
D.    QS. At-Tin ayat 4-6
 
Terjemah
4. Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang amat baik
5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang paling rendah
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Maka bagi mereka pahala yang tiada putusnya

Munasabah                                         
Hubungannya dengan Surat Asy-Syarh ialah kalau dalam Surat Asy-Syarh dijelaskan oleh Tuhan tentang keadaan makhluk Allah yang paling sempurna, yaitu Nabi Muhammad saw. maka dalam Surat ini Allah menerangkan tentang keadaan manusia sampai akhir perhentian urusannya dan balasan apa yang disediakan oleh Allah swt. untuk orang yang beriman kepada Rasul-Nya.

Penafsiran Ayat
Ayat 4
 
“Sungguh Kami telah ciptakan manusia dengan bentuk yang amat baik”
Maksudnya, Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling baik. Kami jadikan ia mempunyai perawakan tegap, bertulang tumit indah, mampu mencapai maksud yang diinginkannya dengan tangannya, tidak seperti hewan yang memungut sesuatu dengan mulutnya.
Allah telah mengistimewakan manusia dengan akal, kesanggupan membedakan serta menerima ilmu dan berbagai pengetahuan serta membuat gagasan-gagasan yang menjadikannya mampu menguasai alam, di samping itu ia pun punya kemampuan dan jangkauan untuk meraih segalanya.
Manusia yang memiliki ahsan taqwim (bentuk yang amat baik) berarti manusia yang dianugerahi bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya, yang menyebabkan manusia dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya sebaik mungkin dan terpenuhi dalam dirinya nilai-nilai tertentu sehingga ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan kehadirannya atau tujuan penciptaannya.
Akan tetapi manusia lalai atas keistimewaannya. Ia menyangka dirinya seperti makhluk yang lain. Dia melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh akal sehat dan fitrahnya. Lalu membekali dirinya dengan kenikmatan dunia dan kesenangan hawa nafsu dengan jalan apa saja yang dapat dilaluinya, berpaling dari memikirkan sesuatu yang bermanfaat untuk akhiratnya kelak, dan apa yang membuat keridhaan Tuhan dan memperoleh kenikmatan abadi.
Al-qur’an memperkenalkan manusia melalui sekian banyak ayat-ayatnya, memperkenalkan potensi positif dan negatif yang dimilikinya. Kepadanya diberikan petunjuk-petunjuk agama agar dapat mencapai puncak tertinggi dari kemanusiaannya. Namun, sebagian mereka enggan mengikuti petunjuk-petunjuk tersebut hingga jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya[5].
Ayat 5

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang rendah”
Yaitu karena dia telah menukar perbuatan baik dengan perbuatan rusak, menerjunkan diri dalam kesesatan, melupakan fitrah sucinya, menenggelamkan diri dalam jurang perbuatan buruk dan dosa, kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah. Orang-orang ini tetap dalam kesucian fitrahnya yang telah Allah gariskan sejak dahulunya.
Ayat 6
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putusnya”
Yaitu orang-orang yang hatinya sudah penuh dengan iman, mengetahui bahwa alam ini ada pencipta yang mengatur segala urusannya, telah menetapkan syariat agama untuk jalan kehidupan manusia dan percaya benar-benar bahwa perbuatan dosa ada hukumannya dan perbuatan baik ada pahalanya. Mereka itu adalah orang-orang yang diberi petunjuk kepada kebenaran oleh Allah[6].

E .Q.S. Al-Mu’min 67
uqèd Ï%©!$# Nà6s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜœR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ §NèO öNä3ã_̍øƒä WxøÿÏÛ §NèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£ä©r& ¢OèO (#qçRqä3tFÏ9 %Y{qãŠä© 4 Nä3ZÏBur `¨B 4¯ûuqtGム`ÏB ã@ö6s% ( (#þqäóè=ö7tFÏ9ur Wxy_r& wK|¡B öNà6¯=yès9ur šcqè=É)÷ès? ÇÏÐÈ  
Artinya :
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa). Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) samapi tua, diantara kamu ada yang di wafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).
Sebagaimana pada ayat diatas yang menerangkan tentang bahan penciptaan manusia, pada saat ini juga menerangkan hal tersebut. Yakni fisik manusia diciptakan dari tanah. Dia masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan minumanya. Zat-zat makanan itu memperkaya darah manusia. Darah itulah yang mengandung mania atau seperma.
Mani atau khama tu dikeluarkan setelah terjadi persetubuhan antara seorang laki-laki dan perempuan. Di dalam rahim kedua mani itu bercampur dan berpadu jadi satu. Itulah yang disebut nuthfah yaitu mani yang telah bergumpal jadi satu epat puluh hari lamanya kemudian menjadi darah, kemudian akan tambah membeku menjadi mudhgah yaitu segumpal daging yang kemudian dikeluarkan dan menjadi bayi setelah genap bulannya ada yang tercepat yaitu tujuh bulan dan ada yang biasa yaitu sembilan bulan.
Hal tersebut terjadi supaya manusia memahami bahwa segalanya itu ditentukan oleh Allah SWT tidak dicampuri oleh tangan manusia sedikitpun. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari masa itu.
Manusia di ciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah yang merupakan salah satu unsur yang ada di dalam bumi. Tanah mengandung unsur-unsur yang nantinya akan membentuk fisik manusia. Fisik yang terbentuk akan di sempurnakan oleh Allah SWT dengan bentuk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk yang lain. Kemudiaan ditiupkan roh ke dalamnya sehingga manusia bernyawa dan hidup. [7]
Allah Swt., telah megurutkan umur manusia menjadi tiga tahap, yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa tua. Dan diantara manusia ada yang dimatikan sebelum mencapai tahap yang terakhir dan Allah melakukan yang seperti itu agar kalian mencapai saat yang telah ditentukan yaitu hari kiamat dan agar kalian memahami bermacam-macam pelajaran dan hikmat yang terdapat dalam peralihan.[8]
F.   Aspek Tarbawi
1.    Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia memiliki berbagai keistimewaan daripada makhluk lain seperti diberi  akal yang dengannya manusia dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik.
2.    Manusia diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya untuk melaksanakan fungsi kekhalifahan,
3.    Proses kejadian manusia ada dua tahap yaitu penyempurnaan fisik dan penghembusan Ruh Illahi. Apabila manusia tidak bisa menyeimbangkan dua aspek tersebut, maka dia akan terjerumus ke dalam tempat yang serendah-rendahnya.
4.    Tempat yang rendah itu digambarkan seperti keadaan manusia sebelum Ruh Illahi menyentuh fisiknya.
5.    Manusia tidak akan terjerumus ke tempat rendah tersebut selama manusia tetap beriman dan beramal saleh. Dan mereka akan tetap mendapat pahala yang tiada terputus dari perbuatan baiknya.
6.     Proses kejadian manusia ada dua tahap yaitu penyempurnaan fisik dan penghembusan Ruh Illahi. Apabila manusia tidak bisa menyeimbangkan dua aspek tersebut, maka dia akan terjerumus ke dalam tempat yang serendah-rendahnya.
7.    Tempat yang rendah itu digambarkan seperti keadaan manusia sebelum Ruh Illahi menyentuh fisiknya.
8.    Manusia tidak akan terjerumus ke tempat rendah tersebut selama manusia tetap beriman dan beramal saleh. Dan mereka akan tetap mendapat pahala yang tiada terputus dari perbuatan baiknya.
9.    Manusia tidak diperbolehkan sombong karena tercipta dari nuthfah
      
         
                                                                                













DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1986. Tarjamah Tafsir Al-Maraghi. Yogyakarta: Sumber Ilmu.
Al-Maraghi ,  Ahmad Mustafa. 1889.  Terjemah Al-maraghi 18. Semarang:

Toha Putra.
Al-Maraghi, Akmad Musthafa. 1987. Terjemah al-Maraghi 24.  Semarang : Toha Putra
Hamka. 1982, Tafsir Al-Azhar juzz XXIV , Jakarta : Panjimas
Shihab, Muhammad Quraish. 1997. Tafsir Al-Qur’anul Karim. Bandung: Pustaka Hidayah.















PROFIL PENULIS
1.      
NAMA             : Siti Nuraini
TTL                 : Batang, 14 Juni 1994
Alamat            :Sinongko, Blado, Batang
Hobby             : Membuat kerajinan
Motto              : Berjuang selagi muda
Cita-cita         :  Dosen dan pengusaha rajutan
  1.  
Nama     : Ita Masitha
Ttl          : Pemalang , 4 November 1996
Alamat : Petarukan, Pemalang

Nama     : Lili Sun Haji                                                    
Ttl          : Pemalang, 22 Februari 1995
Alamat : Bodeh, Pemalang
  1.  
Nama     : Listi Bahati
Ttl          : Pemalang, 12 Maret 1996
Alamat : Ds. Gendowang, Moga, Pemalang
Motto     : Jangan pernah takut pada bayanganmu sendiri “selalu percaya diri”
  1.  
Nama : Milatina Ulfah
Ttl : Batang, 26 September 1996
Alamat : Masin Warungasem, Batang
               



[1]Syekh Ahmad Mustafa Al-maraghi, Terjemah Al-maraghi 18, (Semarang: CV. Toha Putra, 1889), hlm.  10.

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) hlm. 169.
[3] Ibid.,  hlm. 118-125.
[4] Ibid., hlm. 96-97.
[5] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-qur’anul Karim (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), hlm. 740-764.
[6] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi (Yogyakarta: Sumber Ilmu, 1986), hlm. 232-235.
[7] Hamka, Tafsir Al-Azhar juzz XXIV (1982, Jakarta : Panjimas), Hlm.169-170
[8] Akmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi juz 24 (1987, Semarang : PT Karya Toha Putra), hlm. 169-170.

2 komentar: