Laman

Selasa, 15 Maret 2016

HT M 4 A "HATI PUSAT OTORITAS JATI DIRI MANUSIA"


"HATI PUSAT OTORITAS JATI DIRI MANUSIA"

UMI LATIFAH
2021214443

 KELAS M
JURUSAN TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji rasa syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan kenikmatan kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hati Pusat Otoitas Jati Diri Manusia”.
Sholawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi Besar Muhamad SAW. Yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman Islamiah.
Makalah ini berisi mengenai penjelasan hati pusat otoritas jati diri manusia, dipandang dari segi pengertian, kemudian dihubungkan dengan ayat Al-Qur’an atau hadits yang berkaitan, dijelaskan dengan teori pengembangan, dan bagaimana pengaplikasian dalam khidupan serta nilai pendidikan yang dapat diambil dri hadits.
kami dengan penuh kesadaran diri bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dengan keterbatasan kemampuan dan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan pihak yang turut membantu terselesainya makalah ini.
Akhirnya kepada Illahi kita berharap dan berdo’a, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca. Amin.
                                             

Pekalongan, Maret 2016



Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna, kesempurnaannya dapat mengantarkan manusia pada posisi terhormat bahkan melebihi malaikat. Kesempurnaan hanya terwujud jika manusia mampu tanduk pada kebenaran yang terletak pada kalbu manusia.
Hati sangat berperan dalam kehidupan manusia, baik secara fisik maupun psikis. Hati memiliki fungsi utama yang mnggerakkan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Selamatnya jasad tergantung kepada selamatnya hati karena hati (jantung) merupakan organ terpenting di dalam tubuh manusia. Selamatnya gerakan hati akan melahirkan keselamatan dalam gerakan anggota badan. Jika hati selamat, maka tidak ada di dalamnya selain kehendak Allah dan keinginan-Nya. Jika ia cenderung baik maka seseorang akan baik, begit pula sebaliknya. Untuk membuatnya cenderung pada kebaikan, maka seseorang harus benar-benar mampu mengarahkannya.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Hati (qalb), yakni secara jasmaniyyah adalah segumpal darah atau daging bulat panjang berada di dada kiri atas. Secara ruhaniyyah adalah hakikat manusia yang halus, yang mengetahui dan mengenal, yang merasa secara mendalam.[1]
Hati sangat berperan dalam kehidupan manusia setiap saat, baik secara fisik maupun psikis. Hati memiliki fungsi utama yang mnggerakkan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Hati mememiliki kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil, yang halal dan haram, bahkan sesuatu yang berada pada keduanya yaitu syubhat (tidak jelas). Namun hati harus ditata, ia adalah potensi dasar manusaia yang mengandung dua kecenderungan, yaitu baik dan buruk. Jika ia cenderung baik maka seseorang akan baik, begit pula sebaliknya. Untuk membuatnya cenderung pada kebaikan, maka seseorang harus benar-benar mampu mengarahkannya.[2]

B.     Hadits / ayat pendukung
Ayat pendukung terdapat dalam surat Al-Hajj: 46 yang artinya “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46).[3]
Sangat disayangkan apabila hati yang potensial harus terhalang dan hilang kemampuannya, apalagi jika sampai menjadi buta. Buta hati jauh lebih berbahaya daripada buta mata, karena orang yang buta hatinya dapat merusak siapa saja dan apa saja yang ada, termasuk dirinya sendiri.

C.     Teori pengembangan
Manusia di bekali oleh sang khaliq, dua sifat yang bersebrangan, yakni baik dan buruk (fujur dan taqwa) dalam ruhaninya. Kedua sifat ini tidak bisa hilang dari hati/jiwa seseorang. Yang bisa terjadi adalah terkena dampak dari perbuaan-perbuatan yang dilakukan oleh dirinya. Misalnya, jika seseorang berbuat baik maka akan dapat menekan sifat buruknya, sebaliknya, jika dia berbuat buruk maka akan semakin memperparah sifat buruknya. Selain itu, sifat-sifat jiwa /hati tersebut juga mendorong untuk melakukan suatu perbuatan. Sifat baik akan mendorong melakukan perbuatan baik, dan juga sifat buruk mendorong melakukan perbuatan buruk. Berarti ada faktor saling mempengaruhi antara keberadaan sifat-sifat dengan perbuatan seseorang.[4]
Menurut imam Al-Ghazali, ada tiga macam kondisi qalb (hati) manusia:
1.      Hati yang shahih (sehat) yang bisa menjadi salim (selamat), ini yang dijanjikan akan dapat ‘bertemu’ Allah. Ia memiliki tanda-tanda antara lain: imannya kokoh, mensyukuri nikmat, tidak serakah, hidupnya tentram, khusyu’ dalam ibadah, banyak berdzikir, kebaikannnya selalu meningkat, segera sadar jika lalai atau berbuat salah, suka bertobat dan sebagainya.
2.      Hati yang maridh (sakit), yang di dalamnya ada iman, ada ibadah, tetapi juga ada kemaksiatan dan dosa-dosa (kecil/besar). Tanda-tandanya antara lain: hatinya gelisah (tidak tenang), suka marah, tidak pernah punya rasa puas, susah menghargai orang lain, serba tidak enak/tidak nyaman, penderitaan lahir batin, tidak bahagia dan sebagainya.
3.      Hati yang mayyit (mati), yang telah mengeras dan membatu karena banyak kerak akibat dosa-dosa yang dilakukan sehingga menghalangi datangnya petunjuk Allah. Tanda-tandanya antara lain: tidak ada/tipis iman, mengingkari nikmat Allah, dikuasai hawa nafsu, pikirannya negatif/buruk sangka, tak berperikemanusiaan, egois, keras kepala, tak pernah merasa bersalah, dan sebagainya.[5]
Untuk mengarahkan hati menuju kebaikan dapat dilakukan dengan sebagai berikut :
1.      Mengurangi makan. Secara fisik dalam perut manusia terdapat banyak komponen yang berdesak-desakan, diantaranya jantung, lambung, usus, dan hati. Ketika salah satu komponen terlalu dominan, maka yang lain akan terhimpit dan sulit berfungsi. Dalam istilah tasawuf, ada ungkapan “makan sedikit akan membuat hati tercerahkan”.
2.      Bergaul dengan orang shalih. Dengan sendirinya, kita akan terpengaruh oleh ketulusan hatinya yang selalu ingin dekat dengan Allah.
3.      Selalu ingat dengan Allah (berdzikir), baik pikiran maupun hati. Pikiran, berarti dapat menyanfarkan segala sesuatu yang ada kepada kebesaran dan kekuasaan Allah. Sedangkan hati, merasakan apa yang diucapkan dan dipikirkan.[6]

D.    Aplikasi hadits dalam kehidupan
Bekerja dengan hati nurani adalah bekerja dengan berlandaskan pada pusat kesadaran manusia, yaitu kalbu. Hati nurani atau kalbu digunakan sebagai alat pertimbangan yang utama dalam menentukan sikap dan perilaku di dunia kerja. Kalbu pada hakikatnya cenderung merujuk pada kebaikan, karena itu, dengan hati nurani niai-nilai kebaikan akan ditampilkan sebagai sikap kerja sehingga muncullah perilaku-perilaku positif dalam pekerjaan.
Bekerja dengan hati nurani dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.      Mengawali kerja dengan niat baik dan benar
2.      Menjaga agama Allah SWT dalam bekerja
3.      Menghadirkan Allah SWT dalam setiap pekerjaan
4.      Menggunakan hati nurani dalam menentukan sikap saat bekerja
5.      Menampilkan sikap takwa dalam bekerja
6.      Ikhlas dalam bekerja
7.      Menampilkan cara kerja yang terbaik
8.      Memunculkan  syukur prestatif
9.      Menjalin silaturrahmi dan merajut ukhuwh (kerja sama)
10.  Menampilkan pelayanan prima.[7]

E.     Nilai Tarbawi
Aspek tarbawi yang dapat kita ambil dari hadits adalah:
1.        Memerintahkan untuk mengerjakan perbuatan yang halal, menjauhi yang haram, dan meninggalkan yang subhat.
2.        mengamalkan dan mengajarkan ilmu kepada orang lain dengan niat yang baik dan ikhlas.
3.        Mewujudkan sikap takwa dalam mendidik dengan selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkah yang dilakukan.
4.        Mendidik dengan sepenuh hati, dan selalu menghadirkan suasana yang baik dalam mendidik.
5.        Menjalin kerja sama yang baik antar pendidik maupun antar peserta didik.





BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hati sangat berperan dalam kehidupan manusia setiap saat, baik secara fisik maupun psikis. Hati memiliki fungsi utama yang mnggerakkan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Hati mememiliki kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil, yang halal dan haram, bahkan sesuatu yang berada pada keduanya yaitu syubhat (tidak jelas). Namun hati harus ditata, ia adalah potensi dasar manusaia yang mengandung dua kecenderungan, yaitu baik dan buruk. Jika ia cenderung baik maka seseorang akan baik, begit pula sebaliknya. Untuk membuatnya cenderung pada kebaikan, maka seseorang harus benar-benar mampu mengarahkannya.
Sangat disayangkan apabila hati yang potensial harus terhalang dan hilang kemampuannya, apalagi jika sampai menjadi buta. Buta hati jauh lebih berbahaya daripada buta mata, karena orang yang buta hatinya dapat merusak siapa saja dan apa saja yang ada, termasuk dirinya sendiri.











DAFTAR PUSTAKA

Syukur, Amin dan Fathimah Usman. 2009. Terapi Hati Dalam Seni Menata Hati. Semarang: Pustaka Nuun.
Al-Bugha, Musthafa dan Muhyiddin Mistu. 2002. AL-WAFI : Syarah Hadits Arbai’in Imam Nawawi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Muwafik,  Saleh. 2009. Bekerja dengan Hati Nurani. Semarang: Erlangga.


















TENTANG  PENULIS
Nama                           : Umi latifah
Tempat Tanggal lahir  : Batang, 7 januari 1996
Alamat                                    : Dk. Kebonagung, Ds. Kambangan,
   Kec. Blado, Kab. Batang.
Riwayat Pendidikan   : 1. MI Islamiyah Kambangan (2001-2007)
                                      2. MTs Agung Alim Blado (2007-2010)
                                      3. MA Darussalam Subah (2010-2013)
                                      4. STAIN Pekalongan (2014-sekarang)







TEKS HADITS
Hadits no.22

 حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنْ عَامِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: " الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْب
(رواه البخاري في الصحيح, كتاب الإيمان , باب فضل من استحب الدين)
Artinya:
“Nu’man bin Basyir bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Perkara yang halal telah jelas dan yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh  kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah, semua raja mempunyai larangan dan ketahuilah pula larangan Allah swt adalah segala yang di haharamkan-Nya. Ketahuilah dalam tubuh itu semuanya. Apabila daging itu rusak, maka binasalah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, daging tersebut ialah hati.”
(HR. Al-Bukhori)



[1] Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, MA dan Dra. Hj. Fathimah Usman, Msi, Terapi Hati Dalam Seni Menata Hati, (Semarang: Pustaka Nuun, 2009), Hlm. 24
[2]Dr. Musthafa Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu, AL-WAFI : Syarah Hadits Arbai’in Imam Nawawi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), hlm. 39-41
[3] Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, MA dan Dra. Hj. Fathimah Usman, Msi, Op. Cit, hlm. 34
[4] Ibid, Hlm. 31-32               
[5]Ibid, hl m. 32
[6] Ibid, hlm. 48
[7] Muwafik Saleh, Bekerja dengan Hati Nurani,  (Semarang: Erlangga, 2009), hlm.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar