Laman

Senin, 14 Maret 2016

TT H 4 D "ada usaha nyata untuk merubah nasib"



TAFSIR TARBAWI
QS. AR-RA'D : 13, PRINSIP ETOS KERJA
"ada usaha nyata untuk merubah nasib"


INTAN RIZKA AGUSTIA
KELAS H

JURUSAN TARBIYAH/ PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Surat ar- Ra’d diturunkan di Mekkah, surat ini diambil pada ayat 13 yang menerangkan bahwa petir yaitu kilat yang diiringi geledeg yang mencetuskan api kemudian diiringi oleh bunyi keras. Disamping ayat-ayat demikian, ditarik perhatian kita pada ayat 11. Manusia memiliki para malaikat yang mengawasinya. Perkara adanya para malaikat pencatat, jika manusia mengetahui, bahwa ada para malaikat yang mencatat segala amalanya, maka dia akan berhati-hati agar tidak terjerumus ke perbuatan maksiat.
Disitu terdapat ikhtiar manusia, dan ikhtiar itu terasa sendiri oleh masing-masing kita. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jelas-jelas tertulis di kitab Al-Qur’an dan selalu menjadi kalimat motivasi yang akan sering kita dengar di mana saja. Salah satu ayat-Nya Allah Swt menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah keadaan yang ada pada dirinya. Kalimat tersebut tentu saja memberikan kita pemahaman bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas nasib yang kita dapatkan di zaman dahulu, sekarang, dan yang akan datang. Dalam makalah ini akan dibahas tentang masalah Takdir, konsep takdir dan hubungannya dengan pengembangan sumber daya Manusia agar manusia tidak hanya pasrah terhadap garis kehidupan yang sudah ditentukan Allah, padahal Allah juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah nasib yang bisa diubah salah satunya seperti hidup miskin menjadi kaya.
Oleh sebab itu, peranan tauhid sangat diperlukan sebagai modal unuk mendapatkan nilai (kualitas) ibadah. Manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, maka Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1.         Apa maksud dari Q.S Ar- Ra’d ayat 11?
2.         Bagaimana penjelasan Definisi Judul tersebut?
3.         Apa Hadits yang berkaitan dengan ayat tersebut?
4.         Apa saja Aspek Tarbawi dari ayat tersebut?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas penulis akan memaparkan beberapa tujuan penulisan makalah. Adapun tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1.        Untuk mengetahui apa yang dimaksud dari Q.S Ar- Ra’d ayat 11
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dari Definisi Judul tersebut.
3.      Untuk mengetahui Hadits yang berkaitan dengan ayat tersebut.
4.      Untuk mengetahui Aspek Tarbawi dari ayat tersebut.

D.    Metode Penulisan
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literature atau metode kajian pustaka, menggunakan beberapa referensi buku dan dari referensi lain yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan tema yang akan dibahas, melakukan perumusan masalah, penentuan tujuan penulisan, serta perumusan masalah dengan mengkaji sumber - sumber yang ada.



E.     Sistematika Penulisan
Makalah ini ditulis dalam tiga bab dengan sistematika sebagai berikut :
BAB  I         Pendahuluan, meliputi : latar belakang masalah, rumusan    masalah, tujuan  penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB  II        Pembahasan, meliputi: Definisi Judul, Penjelasan ayat, Hadits atau ayat pendukung dan Aspek Tarbawi.
BAB  III       Penutup, meliputi : Kesimpulan dan Saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Judul
Surat Ar- Ra’d diturunkan di Mekkah, surat ini diambil pada ayat 13 yang menerangkan bahwa petir yaitu kilat yang diiringi geledeg yang mencetuskan api kemudian diiringi oleh bunyi keras. Disamping ayat-ayat demikian, ditarik perhatian kita pada ayat 11. Disitu terdapat ikhtiar manusia, dan ikhtiar itu terasa sendiri oleh masing-masing kita. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jelas-jelas tertulis di kitab Al-Qur’an dan selalu menjadi kalimat motivasi yang akan sering kita dengar di mana saja.
Salah satu ayat-Nya Allah Swt menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah keadaan yang ada pada dirinya. Kalimat tersebut tentu saja memberikan kita pemahaman bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas nasib yang kita dapatkan di zaman dahulu, sekarang, dan yang akan datang.[1] Oleh sebab itu, peranan tauhid sangat diperlukan sebagai modal unuk mendapatkan nilai (kualitas) ibadah. Manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, maka Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya.
B.     Teori Pengembangan
1.    Q.S Ar- Ra’d (Guruh) ayat 11, Surat 13: 43, Madaniyyah
 Terjemahan Ayat
“ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliaran, dimuka bumi dan dibelakang, mereka menjaganya atas perintah Allah. Susungguhnya Allah tidak mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang menolaknnya; dan sekali-kali ada pelindung bagi mereka selain Dia.”[2]
3.      Mufrodat
Arti
Teks
maksutnya adalah atas perintah Allah. Mereka adalah para malaikat.
مُعَقِبَا تٌ
Mu’aqqibatun


dari hadapannya.
مِنْ بَيْنِ يَدَ يه
Min baini     yadaihi
dari belakangnya.
وَ مِنْ خَلْفِه
Min Khalfihi
Dengan perintah dan pertolongan Allah Swt. Maksutnya adalah atas iin Allah.
مِنْ اَمْرِاللهِ
Min amrillah
Penolong
وَالٍ
Walin[3]

4.         Penjelsan Surat Ar- Ra’d 13: 11
Manusia Dikelilingi Empat Malaikat
Kata (M»t7Ée)yèãB) Mu’aqqiba adalah bentuk jamak dari kata المعقّبة)) al- mu’aqqibah. Yang dapat dipahami dalam arti mengikuti seakan-akan yang mengikuti itu meletakkan tumitnya di tempat tumit yang diikutinya. Yang maksutnya adalah malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah mengikuti setiap orang secara sungguh-sungguh. (¼çmtRqÝàxÿøts) yahfabunahu/Memeliharamu dapat dipahami mengawasi manusia dalam saat gerak langkahnya, baik ketika dia tidak bersembunyi maupun saat perbersembunyi.[4]
“Baginya ada penjaga-penjaga bergilir, di hadapanya dan dibelakangnya, mereka memeliharanya dengan perintah Allah.” (pangkat ayat 11). Artinya, bahwasanya malaikat-malaikat sengaja disediakakan oleh Allah untuk menjaga kita seluruh makhluknya ini dengan bergiliran.[5] Manusia mempunyai para malaikat yang bergantian mengawasinya di waktu malam dan siang hari, menjaga dari bahaya, dan mengawasi keadaannya, sebagaimana para malaikat yang lain bergantian mengawasi perbuatannya, apakah baik atau buruk.
Dua malaikat masing-masing berada disamping kanan dan kiri untuk mencatat perbuatannya. Dua malaikat lain menjaga dan memeliharanya; satu dari belakang dan satu lagi dari depan. Jadi, dia diapit oleh empat malaikat di waktu siang, dan empat malaikat di waktu malam secara bergantian, dua malaikat penjaga dan dua malaikat pencatat amal, sebagaimana dijelaskan didalam hadis sahih :
“ Bergiliran menjaga kalian para malaikat di waktu malam dan para malaikat di waktu siang, mereka berkumpul pada waktu siang, mereka berkumpul pada waktu shalat subuh dan shalat asar. Kemudian, para malaikat yang mengawasi kalian di waktu malam naik kepada-Nya, lalu Dia menanyai mereka sedang Dia lebih mengetahui tentang keadaan kalian ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan? Mereka menjawab, ‘Kami datang kepada mereka ketika mereka sedang shalat, dan kami meninggalkan mereka ketika mereka sedang shalat.”
Jika manusia mengetahui, bahwa ada para malaikat yang mencatat segala amalanya, maka dia akan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan maksiat karena takut diketahui oleh para malaikat pencatat, dan akan malu melalukan segala perbuatan buruk, sebagaimana dia malu melakukan segala perbuatan buruk diketahui oleh manusia.[6] Maka tersebutlah didalam beberapa hadits bahwasanya makhluk itu dijaga terus oleh malaikat, ada yang bernama malaikat Raqib dan ‘Atid, menjaga caranya manusia beramal. Raqib menuliskan amalan yang baik, ‘Atid mencatat amalan yang buruk. Dan tersebut juga didalam hadits bahwasanya ada malaikat yang menjaga semata-mata malam hari, datangnya bergiliran pada waktu subuh dan sehabis waktu asar.
“ Tidak seorang pun dari kamu, melainkan telah diwakilkan untuknya temanya dari jin dan temanya dari malaikat, mereka berkata: Engkkau pun, ya Rasulullah! Beliau jawab: Aku pun! Tetapi Allah selalu menolongku atasnya, maka tidaklah dia menyuruhkan kepadaku melainkan yang baik-baik.”
Pada hadits ini dinyatakan bahwa pengawalan malaikat ada pada tiap-tiap orang. Dan kalau dia lalai mengawasi dirinya, maka Qarin atau teman yang satu lagi lah yang akan mempengaruhi dia, yaitu jin dan syaitan. Di dalam Surat Az- Zukhruf, surat 43 ayat 36, keterangan Rasul SAW., ini dikuatkan lagi, yaitu bahwa barang siapa yang kabur matanya dari pada dari pada mengingat Allah Yang Rahman, Pemurah, niscaya Kami tentukan baginya seorang syaitan akan menjadi Qarin atau teman. Maka selama zikir kepada Allah masih kuat dan ibadah masih teguh, pengawalan dari malaikatlah yang bertambah banyak, dan jika lalai dari jalan Tuhan, datanglah teman dari iblis, jin dan syaitan.[7]
Perkara Pencatat Tidak Mustahil bagi Akal
Perkara adanya para malaikat pencatat, tidak mustahil menurut akal, setelah agama menetapkan dan ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa banyak perbuatan yang mungkin dihitung dengan alat-alat yang sangat halus dan sangat teliti, sehingga tidak luput daripada sedikit pun.[8]
Kemudia datanglah sambungan ayat: “ Sesungguhnya Allah tidaklah akan mengubah apa yang ada pada satu kaum, sehingga mereka ubah apa yang ada pada diri mereka (sendiri).” Inilah ayat yang terkenal tentang kekuatan dan akal budi yang dianugrahkan Allah kepada manusia sehingga manusia itu dapat bertindak sendiri dan mengendalikan dirinya sendiri dibawah naungan Allah. Sebab itu maka manusia itu pun wajiblah berusaha sendiri pula menentukan garis hidupnya, jangan hanya menyerah saja dengan tidak berikhtiar.[9] Disini, terdapat pelajaran bagi orang yang mau merenungkan dan mendengarkan kebenaran ini. Al-Qur’an menjadikan saksi atas kebenran pandangan tersebut:
“ Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; Dia pusatkan kepada siapa pun ynag Dia kehendaki di antaranya par hamba-Nya.” (A’raf, 7: 128).
“…. Bawasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” (Al-Anbiy’, 21: 105).[10]
“Dan apabila Allah kepada suatu kaum hendak mendatangkan celaka, maka tidaklah ada penolakanya. Dan selain dari padNya tidklah ada bagi mereka Pelindungnya,” (ujung ayat 11)
Perhatikan ayat ini dengan seksama. Terdapat bunyi Wahyu bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau tidak kaum itu sendiri yang terdahulu mengubah nasibnya. Disitu terdapat ikhtiar manusai. Dan ikhtiar itu terasa sendiri oleh masing-masing kita. Kekayan jiwa yang terpendam dalam batin kita, tidaklah akan menyatakan dirinya keluar, kalau kita sendiri tidak berikhtiar dan berusaha.
Kekhilafan kita mengambil jalan yang salah, menyebabkan kita dapat saja terperosok ke dalam juang malapetaka. Kita harus berusaha merubah nasib kepada yang lebih baik, mempertinggi mutu diri dan mutu amal, melepaskan diri dari perbudakan dari yang selain Allah. Kita harus  usha mencapi kehidupan yang lebih bahagia dan lebih maju. Tetapi kita pun mesti insaf bahwa tenaga kita sebagai insan amat terbaas. Kita terikat oleh ruang yang sempit dan kita terkurung oleh waktu yang pendek. Disamping usaha yang kita kerjakan menurut kesanggupan dan takdir yang untuk kita, harus kita insafi bahwa ada lagi takdir-takdir di dalam alam ini, yang dijadikan Tuhan kadang-kadang bertemu, kadang-kadang bertentangan dengan apa yang kita kehendaki, maka jangan lupa mengingatkan kata yang penting yaitu “ Insa Allah”.[11]
C.     Hadits atau Ayat Pendukung
Diriwayatkan Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir telah meriwayatkan sebuah hadits garib. Ia mengatakan :
Telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan Ibrahim ibnu Abdus Salam ibnu Saleh Al-Qusyairi, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnu Jarir. dari Hammad ibnu Salamah, dari Abdulah Humaid ibnu Ja’far, dari Kinanah Al- Adawi yang mengatakan bahwah Utsman ibnu Affan masuk kedalam rumah Rasullah Saw., lalu ia bertanya, “ Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang seorang hamba, ada berapa malaikatkah yang selalu menyertainya?” Rasulullah Saw., bersabdah;
Seorang malaikat berada disebelah kananmu yang mencatat amal baikmu, dia adalah kepala (pemimpin) dari malaikat yang ada disebelah kirimu. Apabila kamu melakukan suatu kebaikan, maka dicatatkan sepuluh kebaikan; dan apabila kamu mengerjakan suatu keburukan (dosa, maka malaikat yang ada disebelah kirimu berkata kepada malaikat yang di sebelah kanan menjawab,’ Jangan barangkali dia memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.’ Malaikat yang ada disebelah kiri meminta izin kepada yang ada disebelah kann sebanyak tiga kali. Dan apbila dia telah meminta izin sebnyak tiga kali maka barulah malaikat yang disebelah kanan berkata, ‘Catatlah, semoga Allah membebaskan kita darinya. Seburuk-buruknya orang yang kita temani adalah orang yang sedikit perasaan muraqabah-Nya (diawasi oleh Allah) dan sedikit malunya terhadap kit.’ Allalh Swt., berfirman: 
Artinya:
“Tidak suatu ucapan pun yang diucapkan melaikan ada di dektnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf, 50: 18). Ada dua malaikat lagi, yang seorang berada dihadapanmu, dan yang seorang lgi berada di belakangmu. Allah Swt., berfirman: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliarn, di muka dan dibelakangnya.”(Ar-Ra’d: 11). Ada malaikat yang memegang ubun-ubunmu. Ada dua yang menjaga mulutmu, dia tidak akan membirkan mulutmu dimsuki oleh ular. Dan dua malaikat lagi yang ada dikedua matamu, seluruhnya ada sepuluh malaikat untuk tiap-tiap manusia. Malaikat-malaikat yang bertugas di malam hari turun untuk menggantkan malaikat-malaikat yang bertugas di siang hari, karena malaikat malam hari lain dengan malaikat siang hari, mereka berjumlah dua puluh malaikat untuk setiap manusia sedngkan iblis bekerja di siang hari dan anaknya bekerj di malam hari.”[12]
D.    Aplikasi dalam kehidupan
Allah SWT., memberitahukan tentang jangkauan pengetahuan-pengetahuan -Nya bahwa bagi-Ny adalah sama saja orng merahasiakan atau membisik-bisikan ucapanya atau menyertakannya dengan terus terang, Allah akan mengetahui dan mendengarnya. Juga adalah sama sja bagi-Nya, orang bersembuyi di dalam rumahnya di waktu malam yang gelap atau berjalan menampakkan dirinya pada siang yang bolong, Allah akan mengetahui dn melihatnya.[13]
Allah telah menjadikan bagi hal-hal indrawi sebab-sebab indrawi yang berhubungan dengan munasabahnya sesuai dengan kebijaksanaannya. Maka, dia menjadikan pelupuk mata sebagai jalan untuk melindungi mata dari benda-benda yang masuk dn menyakitinya. Dengan demikian pula Allah, telah menjadikan para malaikat sebgai sebab untuk melindungi. Segala perbuatan Allah tidak terlepas dari hikmah dan kemaslahatan.
Demikian pula untuk menjaga segala perbuatan kita, Di menjadikan para malaikat pencatat yang mulia, meski kita tidak mengethui segala perbuataan manusia, sehingga cukup bagi-Nya untuk memberikan pahala atau siksa atas perbuatan tersebut.[14]
E.     Aspek Tarbawi
1.      Ada malaikat-mlikat yang ditugaskan Allah SWT,. Untuk memelihara manusia agar rencana llah SWT., bagi yang bersangkutan terlaksana sesuai kehendak-Nya.
2.      Ada juga malaikat-malaikat yang berfungsi mencatat segala macam aktifitaas manusia agar kelak di hari kemudian menjadi buykti atas apa yang dilakukan.
3.      Perubahan dari negtiaf ke positif atu sebaliknya tidak terjadi, kecuali didahului oleh perubahan sisi dalm manusia, yakni nilai yang dianutnya, pengetahuan, tekat, dan lngkahnya. Jika telah terpenuhi, Allah SWT., turun tangan mewujudkan perubahan.
4.      Masyarakat yang masih memperthankan nilai-nilinya, maka sekedar perubahan system, apalagi penguasa, tidak akan mengalami perubahan. Disisi lain, semakin luhur dan tinggi nilai yang dianut, semakin luhur dan tinggi pula yang dapat dicapai.[15]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Allah Swt., menugaskan kepada beberapa malaikat untuk selalu mengikuti manusia secara bergiliran, di muka dan di belakangnya. Dua malaikat di sebelah kanan dan di sebelah kiri yang mencatat amal perbuatan manusia. Malaikat-malaikat itu menjaga manusia atas perintah Allah, dengan izin Allah dan pemeliharaan-Nya yang sempurna. Demikian pula Allah Swt. telah menugaskan malaikat-malaikat untuk mencatat amal perbuatan manusia. Mungkin di dalamnya terkandung hikmah yaitu supaya manusia lebih tunduk dan akan menerima pahala atau azab yang akan diterimanya nnti di akhirat, karena telah pula disaksikn dan dicatat oleh para malaikat itu, menjaga manusia atas perintah dan izin Allah.
Ayat ini berbicara tentang kedu mcam perubahn dengan dua pelaku. Pertama, perubahan seseorngn yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubhan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakukan adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum yang ditetapkan-Nya. Perpadun kedunya menciptakan kekuatan pendorong untuk melalukan sesuatu. Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebanya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan yang pada gilirannya menghasilakan perubahan.

B.     Saran-Saran
Dengan demikian, pendidikan harus bersifat dinamis dan harus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan it uterus harus tetap berlandaskan kepada ajaran Islam. Jadi perubahan itu bukan bebas tanp batas, tetapi bebas terkendali.


DAFTAR PUSTAKA

Abi Thalhah bin Ali. 2009. Penerjemah Muhyiddin Ma Rida, TAFSIR IBNU ABBAS. Jakarta: PUSTAKA AZZAM.
Hamka. 1983. TAFSIR AL- AZHAR JUZ XIII-XIV. Jakarta: PUSTAKA Panjimas.
Suhrin, Bahtiar. 1978. Departemen Agama R.I, Terjemah dan Tafsir Al-Qur’an huruf Arab dan Latin. Bandung: FA. Sumatra.
Mustafa, Ahmad. 1994. TAFSIR AL- MARAGI, JUZ XII. Semarang: PT Karya Toha Putra Semarang.
M. Quraish, Shihab. 2006. TAFSIR AL-MISHBAH. Jakarta: Lentera Hati.
M. Quraish, Shihab. 2012. AL- LUBAB. Jakarta: Lentera Hati.
http://ibnukatsironline.blogspot.co.id/2015/06/tafsir-surat-ar-rad-ayat-10-11.html# (diakses pada tanggal 9 maret 2016, pukul: 23:15 WIB.)


[1] Dr. Hamka, Tafsir Al- Azhar Juz XIII-XIV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm: 56
[2] Bachtiar Surin, Departemen Agama R.I, Terjemhan dan Tafsir Al-Qur’an huruf arab dan latin, (Bandung: Fa. Sumatra), hlm:362
[3] Ali bin Abi Thalhah; penerjemah Muhyiddin Ma Rida, TAFSIR IBNU ABBAS (Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2009), hlm : 445.
[4] M. Quraish shihab, TAFSIR AL- MISHBAH Pesan, kesan, dan keerasian l-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm: 565-566.
[5] Dr. Hamka, Tafsir Al- Azhar Juz XIII-XIV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm: 72
[6]Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1994), hlm:134
[7] Op.Cit, Tafsir Al-Azhar, hlm: 72.
[8] Op, Cit. Al-Maragi, hlm: 141.
[9] Op. Cit, Tafsir Al-Azhar, hlm:73.
[10] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1994), hlm:144.
[11] Op. Cit, Tafsir Al-Azhar, hlm:73-74.
[13] H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 4 (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1988), hlm:
[14] Op. Cit, Tafsir Al-Maragi, hlm: 142.
[15] M. Quraish shihab, AL- LUBAB ( Ciputat Tanggerang;  Lentera Hati, 2012), hlm:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar