Laman

Sabtu, 16 April 2016

HT M 8 "Manusia Dan Kehidupanya"




Hadits Tarbawi
"Manusia Dan Kehidupanya"
 




           1. Ainur Rijal
                      2. Fatminatul Istiyani
               3. Alifatur Rizal
                     4. syafa’atul Udzma
 
KELAS :M
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM / JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016
 
PENGANTAR

 
Sebelumnya kami mengucapkan banyak terimakasih atas karunia Allah yang tiada henti-hentinya di berikan kepada kita selaku Hamba-Nya, atas karunia-Nya itu kami bisa mengerjakan tugas-tugas yang di berikan kepada kami walaupun masih banyak kekurangan.
Dalam tulisan ini, kami mencoba mejelaskan bagaimana berbagai macam kehidupan manusia dengan Tuhan dan antar manusia, yang mempunyai banyak perbedaan masing-masing manusia. Dari kehidupan, tingkah laku, hubungan manusia dengan tuhan-Nya dll.
Sebelumnya kami meminta maaf bila mana dalam penulisan karangan kami banyak kesalahan dan kekurangan baik disengaja maupun tidak. Sekian dan terimakasih.









DAFTAR ISI
ASPEK FISIK BIOLOGIS................................................................................................ 1
BAHASA MANUSIA DI DUNIA.................................................................................... 2
MIRAS AMORAL DAN ENTERTAIMENT ..................................................................  3
HUBUNGAN PENCIPTA DENGAN MANUSIA.......................................................... 9
















PENDAHULUAN
Keberadaan manusia di dunia merupakan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan karena manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, baik dilihat dari segi bentuk, kepribadian akal, pikiran, perasaan, dan sebagainya. 
Manusia berbeda dengan binatang dan makhluk-makhluk lainnya, karena dalam penciptaannya manusia mengalami beberapa tahapan. Diamana menurut pandangan islam tahapan-tahapan tersebut yang terdapat dalam alquran tidak ada pertentangan atau perbedaan dengan ilmu pengetahuan
Oleh karena itu seorang mukmin harus memahami bagaimana  hubungan  yang  seharusnya dibina dengan Allah SWT, sebagai Rabb-nya dan Ilah-nya.  Hal yang penting  didalam membina hubungan itu, manusia  harus lebih dahulu  mengenal betul  siapa Allah. Bukan untuk   mengenali zatNYA, tetapi mengenali  landasan dasar-NYA (masdarul ´ulmu)/ilmu-ilmu Allah. (QS 35:28,  49:18). Dengan memahami bagaimana luasnya kekuasan dan Ilmu Allah, akan timbul rasa kagum dan takut  kepada Allah SWT sekaligus menyadari betapa kecil dan hina dirinya. Pemahaman itu akan  berlanjut  dengan  kembalinya  ia pada hakikat penciptaannya dan mengikuti landasan hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT (QS 96:5).  Ia  menyadari  ketergantungannya kepada Allah dan merasakan keindahan iman kepada Allah.













PEMBAHASAN MATERI

MATERI 1 ASPEK FISIK BIOLOGISOLEH AINUR RIJAL
A.    PENGERTIAN
Manusia atau individu adalah Makhluk yang dapat di pandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek material yang memepersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berfikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, makhluk yang dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya.
Dalam kamus Echols dan Shadaly (1975), Individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, dan oknum. Bedasarkan pengertian di atas dapat di bentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat yang dapat merangsang perkembanganpotensi-potensi yang di milikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang di inginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan pada awal kehidupannya. Bagi seorang bayi mementingkan kebutuhan jasmaninya, ia belum peduli dengan apa yang terjadi di luar dirinya sendiri. Ia sudah senang jika kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi. Dalam perkembngan yang selanjutnya ia akan mulai mengenal lingkungannya, memebutuhkan alat komunikasi (bahasa), membutuhkan teman, keamanan dan yang lainnya. Semakin besar anak tersebut maka akan semakin banyak kebutuhan non fisiknya atau psikologis yang di butuhkan dirinya.
B.     PEMBAHASAN
                  Syarah hadist  ini dinukil dari kitab Syarah Al Imam An-nawawi ‘ala Shahih Muslim rahimahullah Ta’ala.
Hadist ini merupakan pangkal dalam bab taqdir, yaitu tatkala hadist tersebut menyebutkan bahwa taqdir janin meliputi 4 hal: rizqinya, ajalnya, amalnya, dan bahagia atau celakanya.
Janin sebelum sempurna menjadi janin melalui 3 fase, yaitu: air mani (nutfah), segumpal darah, kemudian segumpal daging.
                  Janin sebelum berbentuk manusia sempurna juga mengalami 3 fase, yaitu:
1. Taswir, yaitu digambar dalam bentuk garis-garis, waktunya setelah 42 hari.
2. Al-Khalq, yaitu dibuat bagian-bagian tubuhnya.
3. Al-Barú, yaitu penyempurnaan.[1]
Berikut adalah penjelasannya:
Yang dimaksud nutfah dalam hadist ini adalah telur yang telah dibuahi (janin) yang dihasilkan dari pertemuan antara sperma ayah dan ibu. Nutfah yang sudah bercampur ini berkembang dengan cara membelah diri dengan cepat menjadi sejumlah sel terkecil, lalu yang terkecil lagi hingga membentuk gumpalan bulat sel-sel yang disebut dengan nama morula, empat hari setelah proses pembuahan. Pada hari kelimanya, morula membelah dan membentuk kantong keturunan. Pada hari keenam kantong ini menanamkan diri di kantong rahim dan memakan waktu selama seminggu penuh hingga sperma tersebut benar-benar tertanam di dinding rahim. Lalu beralihlah dari masa sperma ke gumpalan darah (‘alaqah). Pada hari kelima belas dari umur janin, muncullah pita pertama di samping gumpalan darah yang kelak akan menjadi tali pusar. Janin mencapai akhir fase ‘alaqah sekitar hari kedua puluh empat hingga kedua puluh lima sejak awal pembuahan. Pada hari kedua puluh enam ‘alaqah berubah menjadi mudhghah (segumpal daging). Fase ini ditandai dengan mulai tampaknya bagian-bagian tubuh atau kelompok-kelompok anggota tubuh. Proses ini berlangsung hingga hari keempat puluh dua umur janin. Bersamaan dengan proses tersebut pada hari keempat puluh pertama rezeki, ajal, amal perbuatan, dan nasib celaka atau keberuntungannya ditetapkan oleh Allah SWT.
                  Pada hari keempat puluh tiga hingga keempat puluh sembilan usia janin dimulailah fase pembentukkan tulang. Pada fase ini pula janin menunjukkan perawakan badannya dan menampakkan ujung-ujung jari, dan kantong otak. Pada fase ini akan ditiupkan pula ruh kehidupan pada embrio manusia. Setelah itu, dimulailah fase pertumbuhan akhir, Selama fase ini ciri-ciri kemanusiaan mulai tampak secara bertahap. Pembungkusan tulang dengan otot dan juga penutupan otot dengan daging pun telah selesai. Proses ini berjalan hingga mencapai awal minggu kedua belas. Ketika itulah proses pertumbuhan mulai berjalan cepat sampai hari kelahiran.[2]
                  Dalam hadist ini juga terdapat kata  dziraa’yang maksudnya adalah  perumpamaan untuk menyatakan betapa dekat nasib orang itu dengan surga ketika meninggal dunia. Begitu dekatnya dengan alam tempat tinggal keabadian itu, sampai akhirnya diungkapkan dengan kata dziraa’ yang artinya tinggal sejengkal. Karena orang tersebut telah diberi hidayah untuk mengerjakan kabaikan setelah sebelum-nya mempraktekkan keburukan. Sedangkan seseorang yang semula baik,diakhir hayatnya berbuat buruk atau melakukan kekufuran dan kemaksiatan (sebagaimana matan hadist di atas) maka ia akan dekat dengan  neraka hingga jarak yang sejemgkal pula.

C.     APLIKASI HADIST

1.      Menggunakan pendekatan pembelajaran fleksibel disertai penggunaan multimedia dan multimetode
2.       Memahami pilihan gaya belajar siswa kemudian menyediakan lingkungan belajar yang mendukung gaya belajar mereka.
3.      Memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang menggabungkan pilihan cara belajar siswa, menggunakan metode mangajar, insentif, alat, dan situasi yang direncanakan sesuai dengan pilihan siswa
4.      Gunakan kombinasi cooperative learning, pembelajaran individual, dan pembelajaran kelompok, atau antara aktifitas-aktifitas belajar yang berpusat pada guru dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
5.      Berikan waktu yang cukup untuk memproses dan memahami informasi.
6.      Gunakan alat-alat multi sensory untuk memproses, mempraktekkan dan memperoleh informasi.

D.    ASPEK TARBAWI

Dari uraian hadist ini dapat kita pahami bahwa proses penciptaan manusia melalui beberapa tahapan, ini merupakan penjelasan yang paling gamblang tentang kekuasaan Allah. Dengan pentahapan ini Allah mengajarkan kepada para hambaNya untuk bertindak tenang dan tidak tergesa – gesa dalam segala urusan. Ini juga merupakan pemberitahuan bahwa jiwa akan meraih kesempurnaan dengan cara bertahap sesuai dengan bertahapnya dalam penciptaan manusia yang melalui beberapa fase. Demikian pula yang semestinya berlaku pada pembinaan akhlak.
                  Dapat diketahui pula dari penjelasan  hadist diatas bahwa kita harus beriman kepada Qadar (takdir), karena Allah telah mentakdirkan nasib manusia sejak di alam rahim. Tentang rezekinya, ajalnya yang juga tidak bisa diajukan atau diundurkan, amal perbuatannnya baik yang baik atau yang buruk dan juga celaka atau bahagianya. Beriman kepada takdir akan menghasilkan rasa takut yang mendalam akan nasib akhir hidupnya dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap khusnul khatimah.
Beriman kepada takdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Hati orang-orang yang shalih diantara dua keadaan, yaitu khawatir tentang apa yang telah ditulis baginya atau khawatir tentang apa yang akan terjadi pada akhir hidupnya.

MATERI II BAHASA MANUSIA DI DUNIA OLEH FATMINATUL ISTIYANI
A.    PENGERTIAN
Didalam Kamus Bahasa Indonesia, kata bahasa berarti 1. Sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenag-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan peraaan dan pikiran; 2. Perkataan-perkatan yang di pakai oleh suatu bangsa; 3. Percakapan yang baik. Sedangkan menurut Bloch dan Trager, bahasa adalah suatu sitem simbol-simbol bunyi yang arbriter yang di pergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi. Karena bahasa merupkan sistem simbol maka yang memiliki bahasa tidak hanya manusi. Tuhan, Malaikat, Jin, binatang juga memiliki bahasa yang tentunya berbeda dengan Bahasa Manusi. Seperti yang Telah di paparkan dalam Al-Quran dialog antara malaikat dengan Tuhan (Q.S. Al- Baqarah: 30). Dalam dunia binatang, Bahasa di gunakan sewaktu mengadakan hubungan, membutuhkan perlindungan, perkelahian, dan sewaktu membutuhkan makanan.  Berbeda dengan Bahasa Manusi yang melibatkan pemikiran dan kesadaran, Bahasa binatang bersifat fisis.
Salah satu aspek terpenting dari sebuah Bahasa adalah aspek fungsi. Fungsi utama Bahsa bagi Manusia adalah sebagai alat komunikasi. Istilah komunikasi mencakup makna mengerti dan berbicara, mendengar dan merespon suatu tindakan.
Apabila di kaitkan dengan aspek makna, Bahasa Manusi memiliki ciri khusus yang membedakan dengan Bahasa binatang, atau mahluk lain; diantanya yaitu:
1.      Bersifat tetap dan memiliki kriteria tertentu.
2.      Memiliki hubungan timbal balik.
3.      Menggunakan kriteria prakmatik, berkaitan dengan bunyi-bunyian.
4.      Mengandung kriteria semantis.
5.      Memiliki kritera sintaksis.
6.      Audivisual.
7.      Memiliki kriteria kombinasi dan bersifat produktif.
8.      Bersifat arbiter.
9.      Transmisi budaya
10.  Bahasa itu dapat di pelajari.[3]

B.     PEMBAHASAN
Telah di jelaskan dimuka, bahwa  bahasa merupakan perkataan perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa (suku bangsa, daerah, negara, dsb).[4] Di dunia ini Manusia hidup berbangsa-bangsa, tergolong dalam  Benua yang berbed, hidup dalam ras, suku, yang berbeda. maka jelas,  bahasa digunakan oleh orang di suatu daerah/ Bangsa  yang ada di dunia memiliki perbedaan memiliki karakteristik tersendiri. Beberapa Bahasa yang ada di dunia ini, diantaranya adalah bahasa Inggris, Bahasa Mandari, Bahasa Brab, Bahasa Indonesia. bahkan, di indonesia yang merupakan negara kepulauan, dari sabang sampai merauke, memiliki bahasa Daerah yang berbeda beda di seiap Daerah yang ada.
Identitas individu dapat mudah di ketahui dari warna Bahasa dan cara berbahasa atau ideoleknya. Perangi seseorang dengan demikian juga mudah di kenali dari ciri khas kebahasaan yang di milikinya. Dengan demikian dialek Bahasa juga dapat dapat digunakan sebagai indikator identitas pemiliknya. [5]
C.     APLIKASI
Seiring dengan perkembangan zaman, Sekat pembatas antara bangsa- bangsa, negara- negara, bahkan antar benua mulai terkikis bahkan hilang karena perkembangan teknologi. Kebutuhan akan barang dan jasa pun akan semakin meningkat. Dengan demikian kebutuhan akan barang dan jasa dari negara tetangga angat mutlak di perlukan. Dari siani peranan Bahasa di perlukan. Individu perlu memiliki keterampilan dalam berbahasa demi kelangsungan hidup serta perkembngan lingkunganya. Maka perlulah bagi setiap individu untuk belajar Bahasa Dunia.
Dalam duni pendidikan, bahasa sangat dibutuhkan guna memperkaya pengetahuan. Menengok sejarah pada masa islam menduduki masa keemasa di bidang pendidikan, ilmuan- ilmuan islam mempelajari bahasa yunani untuk memahami karya-karya filsuf-filsuf yunani terdahulu yang karya tersebut hampir punah. Dari situ, ilmuan Islam melakukan penelitian akan kebenaran teori yang di ciptakan oleh filsof Yunai, seperti Plato, Socrates, dan filsof lain, hingga menemukan kebenaran akan teori yang telah ada bahkan menemukan teori yang lebih nyata karena telah dibuktikan dengan penelitian ilmiah serta merujuk pada kebenaran ayat Al-qur’an. Kembali ke abat 21, kejayaan pendidian di pegang oleh bangsa Eropa, hal ini perlu lah bagi kita untuk mempelajari Bahasa yang di gunakan oleh Bangsa Eropa guna memahami serta mengembangkan keilmuan yang di miliki Eropa.
D.    ASPEK TARBAWI
Aspek  tarbawi (pendidikan) dari hadis bahasa-bahasa Mnausia di dunia adalah sebagai berikut:
1.      Bahasa suatau anugrah yang di berikan oleh Allah kepada manusi untuk di syukuri.
2.      Dengan bahasa manusisia mamp mengenali lingkungan sekitarnya, hingga mempermudah dalam proses belajarnya.
3.      Dengan mempelajari bahasa dunia, kita dapat lebih mudah memhami ilmu-ilmu yang ada di dunia ini.
4.      Memahami bahasa memudahkan seseorang dalam berinteraksi dengan sesamanya.
5.      Dengan bahasa manusia mampu melakukan hubung dengan bangsa lain, terutama dalam proses belajar mengajar.

MATERI III MIRAS MORAL DAN ENTERTAIMENT OLEH ALIF FATHU RIZAL
Ø  PEMBAHASAN

Hadist ini menerangkan bahwa umat muslim ada yang meminum khamer ataupun sejenisnya yang semuanya itu haram. Dan juga umat yang berfoya-foya dengan bernyanyi dengan para biduan disertai dengan alat musik. Allah akan mengancam perbuatan ini dengan menutupi kehidupannya/membuat hina dan menjadikan sebagiannya menjadi babi dan kera.
Khamer dan sejenisnya yang memabukkan adalah selamanya haram karena bukan melanggar syariat saja tetapi merusak hubungan sosial. Begitu pula kebiasaan bernyanyi dan bermusik bersenang-senang disertai nyanyian dan tarian yang mengandung kekejian, kefasikan, dan menyeret seseorang kepada kemaksiatan telah disepakati bahwa itu haram. Semua hal itu adalah untuk menuruti kesenangan semata tanpa memperdulikan sekitar.Mengenai masalah bernyanyi, tidak semua  nyanyian itu hukumnya haram, karena dalam hal ini masih menjadi perdebatan dan tidak ada nash shahih yang mengharamkannya. Dan para ulama’ berbeda pendapat tentang dibolehkannya nyanyian baik yang menggunakan alat musik ataupun tidak. Ulama’ yang membolehkan nyanyian memandang bahwa nyanyian halal, karena asal segala sesuatu adalah halal selama tidak ada nash shahih yang menjelaskannya.
Jadi semua ini dikembalikan lagi pada niatnya, jika seseorang mendengarkan nyanyian dengan niat untuk menghibur hatinya agar bergairah untuk menaati Allah SWT dan mendorongnya melakukan kebaikan, maka perbuatan ini termasuk dalam kategori kebenaran.

Ø  NILAI TARBAWI

a. Demi terciptanya keharmonisan dalam masyarakat umat islam hendaklah menjauhi khamer yang menguras moral sebagian umat islam
b. Hendaklah kita tidak berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan yang bersifat kesenengan pribadi
c. Dalam hidup bermasyarakat kita harus mengedepankan nilai-nilai etika dan hidup saling menyayangi


Ø  PENUTUP

Khamar adalah cairan yang dihasilkan dari peragian biji-bijian atau buah-buahan dan mengubah saripatinya menjadi alcohol dengan menggunakan kapalisator (enzim) yang mempunyai kemampuan untuk memisahkan unsur-unsur tertentu yang berubah melalui proses peragian.
Islam melarang keras meminuman keras, karena akan merusak akal manusia dan menggring manuisa untuk melakukan kejahatan yang merusak hubungan sosial.
Music dan biduanita adalah hiburan tidak baik, karena menimbulkan nafsu syahwat bagi orang yang mendengar ataupun melihatnya.

           
MATERI IV HUBUNGAN PENCIPTA DENGAN MANUSIA OLEH SYAFA’ATUL UDZMA

A.    PENGERTIAN

Hubungan fundamental antara Tuhan dan manusia, Allah dan insan. Sudah jelas bahwa Allah, menurut Al-Qur’an, tidak saja sebagai satu-satunya yang tertinggi namun juga satu-satunyaWujud yang pantas disebut “wujud” dalam arti kata seutuhnya,dimana tak satupun diseluruh dunia ini yang dapat melawannya karena Tuhan berada di tengah-tengah dunia wujud,dam semua objek-objek lainnya, baik manusia maupun non-manusia adalah makhluk-Nya. Dan inilah sesungguhnya Allah adalah kata fokus tertinggi dalam kosa kata Al-Qur’an, yang menguasai seluruh medan semantic, dan konsekuensinya, seluruh sistem. Karena diantara semua objek yang diciptakan, “manusia” merupakan salah satu yang paling penting di dalam Al-Qur’an sehingga paling tidak ia menarik perhatian kita dengan jumlah yang sama sebagaimanaTuhan. Manusia,sifatnya,perbuatannya, psikologinya, kewajibannya, tujuannya, dijadikan pusat perhatian pemikiran Al-Qur’an sebagaimana persoalan Tuhan sendiri. Pemikiran Al-Qur’an secara keseluruhan berbicara tentang persoalan keslametan manusia. Jika bukan karena persoalan ini, maka kitab tersebut tidak akan “diturunkan” karena Al-Qur’an itu sendiri secara jelas dan berulang-ulang menekankan hal tersebut. Dan dalam pengertian khusus ini, konsep tentang manusia sangat penting pada tingkatan tertentu sehingga membentuk kutub utama yang kedua, yang bertahap-tahap dengan kutub terpenting, yakni konsep tentang Allah.[6]
B.     PEMBAHASAN
Tuhan adalah prinsip asal dari segala yang ada dan Dia wajib adanya. Sedangkan selainnya, yang biasa disebut alam atau makhluk, hanyalah mungkin adanya. Bukti keberadaan Tuhan adalah fakta bahwa alam ini ada. Syaikh Al- Isyraq ini atau tokoh aliran filsafat iluminasi menyebut Tuhan sebagai Al-Ghani (yang tidak membutuhkan apapun). Kenyataannya bahwa alam ada di hadapan kita menunjukan bahwa Tuhan harus ada sejak semula.
Tuhan boleh saja dikatakan memiliki sifat-sifat, walaupun Al-Qur’an menyebutnya” Nama-nama”(asma). Namun sifat-sifat itu tidak selalu harus digambarkan sebagai tambahan kepada zatnya, seperti yang disangkakan kaum asy’ariyah yang akan mengesankan adanya komposisi (tarqib) pada diri Tuhan. Tuhan adalah ESA, dan ini merupakan sifatnya yang paling Esensial.
Bagi saya, KeEsaan Tuhan tercermin dalam kesatuan sistem Perintah (amr) yang mengendalikan alam semesta. Kenyataan bahwa hanya ada satu sistem yang berlaku dialam semesta pada suatu saat, menunjukan bahwa hanya ada satu sistem perintah yang berlaku. Dan ini pada gilirannya, menunjukan keEsaan pemberi perintah tersebut, yakni sang pencipta (Al-Khaliq) alam semesta yang tidak lain adalah Tuhan. Sebab, seandainya ada dua atau lebih pemberi perintah, maka tidak mungkin dihindarkan adanya dua sistem control yang berlaku dialam semesta. Dua sistem control ini selain tidak terbukti melalui penelitian ilmiyah juga akan menyebabkan perseteruan dua kekuatan illahi yang akan berakhir dengan kehancuran alam semesta. Kenyataannya bahwa alam semesta masih ada dan telah berlangsung cukup lama, menunjukan bahwa hanya ada satu sistem control, yang pada gilirannya, menunjukan keEsaan si pengontrol, yaitu Tuhan.
Karena Tuhan itu Esa, maka tak ada suatu apapun yang bisa di pandang serupa atau setara dengannya. Pengetahuan manusia mengenai Tuhan hanya bersifat Majazi (alegoris) dan tidak bisa disebut mutlak, juga maha perkasa (Al-Aziz dan Al-Jalal) dan ini ditunjukan oleh daya kontrolnya yang tidak tergoyahkan terhadap alam semesta melalui perintahnya. Sehingga apa yang ada dialam semesta tunduk pada kehendaknya. [7]
C.     APLIKASI
Kewajiban mukmin dalam konteks hubungan dengan Tuhannya adalah menjaga Hak Allah, yaitu disembah oleh seluruh makhluk secara ekseklusif sebab tiada ada rabb maupun illahi selain Dia, dan Dia telah berbaik hati memberikan banyak nikmat dan karunia kepada makhluk-Nya. Jika ada sebagaian diantara mereka yang kufur terhadap nikmat-nikmat tersebut, lalu tidak mengenal sang penciptanya dengan menyembah dan mengesakannya maka ia telah dzalim terhadap dirinya dan mengingkari Allah untuk disembah sehingga lebih lanjut layak mendapat murka dan siksa-Nya. Allah telah mengambil sumpah/ikrar anak turunan Adam saat mereka berada dialam dzurr untuk setia menyembah dan mengEsakan-Nya, dan merekapun mengakuinya sebagai satu-satunya illah dan rabb. Sebagai konsekuensi pemenuhan sumpah tersebut, manusia dituntut beriman kepada Allah dan mengimani sifat-sifat kebesaran dan kesempurnaan yang sesuai dengan kapasitasnya. Lebih lanjut, penunggalan Allah secara eksklusif dalam ibadah dan tauhid berkonsekuensi logis kepatuhan kepadanya dengan menjalankan semua yang di perintahkannya berupa ragam ibadah dan prilaku mulia, dan menjauhi segala yang dilarangnya berupa prilaku-prilaku sesat dan nista,serta tunduk sepenuhnya kepada Rosulullah dalam segala urusan agama.[8]
D.    ASPEK TARBAWI
Allah SWT. Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu, tetapi segala sesuatu butuh kepadanya. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Tiada yang serupa dengannya walau dalam khayalan. Jika Dia berkehendak, terlaksana kehendaknya kapanpun Dia kehendaki, tanpa terikat oleh waktu, alat, atau apapu.
Manusia paling tidak dalam kehidupan dunia ini tidak dapat melihat atau bercalap-cakap langsung dengan Allah SWT, karena manusia tidak mempunyai potensi untuk itu.
Tidak diperlukan lagi buku-bukti baru tentang Wujud dan keEsaan Allah SWT, karena sudah demikian banyak bukti-bukti tentang hal tersebut yang terhampar di alam raya dan dalam diri manusia. Alam dan manusia setiap saat menampilkan bukti yang baru
Tugas nabi, demikian juga penganjur agama, hanyalah menyampaikan ajaran agama dengan penuh kesungguhan. Allah SWT. Yang menganugrahi petunjuk bagi seseorang yang hatinya cenderung mencari kebenaran. Nabi SAW. Atau sipapun tidak bertanggungjawab atas kekufuran siapapun.[9]




PROFIL KELOMPOK


1.      AINUR RIJAL                                   (2021214445)

RIJAL.jpg
IMG_20160312_00182055.jpg

2.      FATMINATUL ISTIYANI               (2021214460)


Eny0ng_001.jpgC360_2015-05-08-06-48-26-877.jpg
3.      ALIF FATHU RIZAL                                   (2021214482)







4.      SYAFA’ATUL UDZMA                   (2021214488)






DAFTAR PUSTAKA

Al Maraghi, Abdullah Mustofa. 2001. Pakar-Pakar fiqh Sepanjang Sejarah. Yogyakarta: LKPSM
        An-Najjar, Zaghlul. 2011. Sains dalam Hadis (Mengungkap Fakta Ilmiah dari Kemukjizatan Hadist Nabi). Jakarta: Impint Bumi Akasara
Zainudin Ahmad, Al-Imran.2004. Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Bandung: PT Mizan Pustaka
HaditsWeb3.chm_compileedHTML(Hadist-shahih-bukhari-muslim.zip-WinRAR)
Hidayat, Asep, Ahmad. 2009.Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat makna Dan   Tanda,Bandung : RemajaRosda Karta.
Najati, Muhammad, Utsman,. 2005. Psikologi dalm Al-Qur’an, Terapi Quran        dalam menyembuhkan Gangguan Jiwa. Bandung: Pustaka Setia.
Rahardi, Kunjana. 2006. Dimens i- Dimensi Kebahasaan. Jakarta : Penerbit
Erlangga
Hajjaj, Muhammad Fauqi, 2011, Tasawuf Islam dan Akhlak. Jakarta: AMZAH
Izutsu, Toshihiko, 1997, Relasi Tuhan dan Manusia. Yogyakarta: PT Tiara Wacana
Kartanegara, Mulyadhi, 2007, Nalar Religius Menyelami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga
Shihab, M. Quraish, 2012, Al- Lubab. Tanggerang: Lentera Hati









a.jpgb.jpgc.jpgd.jpge.jpgf.jpg



[1] HadistWeb3.chm_compiledHTML(Hadist-shahih-bukhari-muslim.zip-WinRAR)
[2]Zaghlul An-Najjar, Sains dalam Hadis, Mengungkap Fakta Ilmiah dari Kemukjizatan Hadist Nabi, Imprint Bumi Aksara, jakarta, 2011, hlm.410-412
[3]Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat akna Dan Tanda, (Remaja Rosda Karta: Bandung, 2009, cetakan ke-2), hal: 21- 27.
[4]Asep Ahmad Hidayat: loc cit, hal.22
[5]Kunjana Rahardi, dimensi- Dimensi Kebahasaan, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hal: 11.
[6]Thoshihiko Izutu, Relasi Tuhan Dan Manusia, (Yogyakarta: Tiara Wacana,1997), Hlm.77-78
[7]Mulyadi Kartanegara, Nalar Religius  Menyelami Hakikat Tuhan, Alam, Dan Manusia, (Jakarta: Erlangga, 2007), Hlm. 2-5
[8]Dr. Muhammad Fauqi Hajjaj, Op. Cit, hlm.261-262
[9]M. Quraish Shihab, Al- Lubab, (Tanggerang: Lentera Hati, 2012) Hlm.37

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar