Laman

Sabtu, 16 April 2016

SPI A 7 B "IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM"



SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
"IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM"
 


1.      Nailatul Fauziyah  (2014115040)
2.      Eni Maghfiroh       (2014115056)
 KELAS B
PRODI HUKUM EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR


Alhamdullilah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Imperialisme Barat terhadap Dunia Islam” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada sebaik-baik manusia, nabi Muhammad Saw., keluarganya, dan sahabatnya.
Makalah ini ditunjang dengan adanya pembahasan yang bertujuan untuk memperlengkap pemahaman makalah sesuai dengan tema. Semua terjabarkan secara lengkap dan tidak meniggalkan aspek lingkungan sekitar yang berhubungan dengan makalah yang telah disusun.
Makalah ini tentu tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan baik isi maupun tulisan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah ini..Akhirnya, kami berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi peningkatan pembelajaran dan penambahan ilmu pengetahuan untuk mahasiswa yang lain. Amin yaa robbal ‘alamin.


Pekalongan, 16 April 2016
      Penulis














BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

Umat Islam mengalami puncak kejayaan kedua pada masa tiga kerajaan Besar berkuasa, yakni Kerajaan Usmani, Safawi, dan Mughal. Namun, seperti pada masa kekuasaan Islam terdahulu, lambat laun kekuatan Islam menurun. Bersamaan dengan kemunduran tiga kerajaan tersebut, bangsa Barat mulai menunjukkan usaha kebangkitannya. Periode kerajaan tersebut (1503-1789) bahkan disebutkan sebagai periode kejayaan peradaban Islam, setelah sebelumnya mengalami kemunduran pasca jatuhnya dinasti Abbasiyyah.
Kebangkitan bangsa Barat bermuara pada semangat keilmuan yang begitu tinggi, yang telah membawa bangsa Barat menuju peneman-penemuan baru dan penjelajahan samudra, serta revolusi industri hingga berujung pada imperialisme terhadap wilayah-wilayah Islam pada khususnya. Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830, dan merebut Aden dari Inggris sembilan tahun kemudian. Tunisia ditaklukkan pada tahun 1881, Mesir pada tahun 1882, Sudan pada tahun 1889. Sementara itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat. Umat Islam di Asia Tengah menjadi sasaran pendudukan Uni Soviet.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.
1.    Apa saja kemajuan dunia Barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi?
2.         Bagaimana cara Eropa bangkit?
3.    Bagaimana Imperialisme Barat di dunia Islam?
4.         Apa saja faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan Utsmani?
5.    Bagaimana ekspansi Barat ke negeri-negeri Islam?

C.    Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.    Sitematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.


BAB II
IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM


A.      Kemajuan Dunia Barat dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kemajuan yang telah dicapai bangsa-bangsa Barat pada periode ini sebenarnya memiliki kolerasi yang erat dengan perkembangan peradaban dunia Islam, baik ketika Islam mencapai puncak kemajuannya di Eropa ataupun kemajuan yang dicapai dunia Islam di Bagdad. Bangsa Barat banyak berutang budi kepada para ilmuan muslim yang telah berhasil mengambangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Spanyol (Andalusia) merupakan tempat paling utama bagi bangsa Barat dalam menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antarbangsaa. Bangsa Barat menyaksikan realitas bahwa ketika Andalusia berada di bawah kekuasaan umat Islam, negeri ini telah terlalu jauh meninggalkan negara tetangga-tetangganya di Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping perkembangan dan kemajuan bangunan fisik.
Dalam hal ini pemikiran Ibnu Rusyid atau Averros (1120-1198 M) sangat berpengaruh di dunia Eropa. Pemikiran ini berhasil melepaskan belenggu pemikiran taklid, dan mengkritik semua bentuk pemikiran yang tidak rasional. Di antara ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Islam yang banyak dipelajari oleh ilmuwan Barat adalah ilmu kedokteran, ilmu sejarah, sosiologi, dan ilmu-ilmu lainnya.
Di samping ilmu-ilmu terserbut, terdapat ilmu lain yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Barat. Di antaranya ilmu kimia, ilmu hitung, ilmu tambang (mineralogi), meteorologi, dan sebagainya.[1]

B.       Kebangkitan Eropa

Bangsa-bangsa Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat pada awal kebangkitannya. Dihadapan mereka masih terdapat kekuatan-kekuatan angkatan perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus jalan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka.
Mereka melakukan berbagai penelitian tentang rahasia Islam, berusaha menaklukan lautan dan menjelajahi dunia yang sebelumnya masih diluputi kegelapan. Setelah Christopher Colombus menemukan benua Amerika (1492 M) dan Vasco dan Dagama menemukan jalan ke Timur melalui Cape Towen (1498 M), benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa.
Dalam bidang perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tidak terhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya. Maka, mulailah kemajuan bangsa Barat menandingi kemajuan umat Islam yang telah sejak lama memang berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kemajuan bangsa Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Penemuan mesin uap yang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa semakin memantapkan kemajuan mereka. Teknologi perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian, Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari dan ke seluruh dunia tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan dan pesaing-pesaing mereka. Bahkan, satu demi satu negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri taklukan dan jajahan.
Negeri-negeri Islam yang pertama kali jatuh ke bawah kekuasaan Eropa adalah negeri-negeri yang jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Usmani, karena kerajaan ini meskipun terus mengalami kemunduran, ia masih disegani dan dipandang masih cukup kuat untuk berhadapan dengan kekuatan militer Eropa waktu itu.

C.      Imperialisme Barat di Dunia Islam

Kelemahan dan kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Barat untuk bangkit dan bergerak menuju ke arah negara-negara Islam serta menguasai dan menjajahnya. Motivasi mereka datang ke negara-negara Islam adalah motivasi ekonomi, politik, dan agama. Mereka datang dengan dalih untuk berdagang atau mencari rempah di Timur. Akhirnya, mereka terangsang oleh keuntungan besar dan ambisi yang kuat, sehingga muncullah keinginan untuk menguasai semua sistem ekonomi dan politik negara-negara Islam yang dikuasainya.
Pada saat yang sama, dunia Islam sedang terus dilanda kemunduran dan kelemahan dalam berbagai bidang, sehingga negara-negara Islam tidak mampu bersaing dengan bangsa Barat yang didukung oleh kekuatan politik militer yang tangguh. Saat inilah dunia Islam berada dalam kekuasaan kaum imperialisme Barat.
Dengan demikian dapat dikatakan, pada saat kelemahan umat Islam seluruh benua Asia Afrika jatuh ke tangan penjajah bangsa-bangsa Barat. Namun, meskipun berada dalam tekanan dan penjajahan, umat Islam terus melakukan perlawanan dan berusaha membebaskan tanah air dan agama mereka dari tekanan penjajah bangsa-bangsa Barat tersebut. Sebab para penjajah yang datang ke negara-negara Asia Afrika, selain untuk mengeruk hasil bumi dan keuntungan yang sangat besar, mereka juga menyebarkan agama Kristen.
Pada awal abad ke-17, India yang pada saat itu di bawah kekuasaan Mongol Islam, berada dalam posisi kemajuan dan kemakmuran. Keadaan demikian mengundang bangsa Eropa yang sedang mengalami kemajuan untuk berdagang ke sana. Pada awal abad ke-17, Inggris dan Belanda mulai menginjakkan kaki di India. Pada tahun 1611 M, Inggris mendapat izin menanamkan modal, dan pada tahun 1617 M Belanda mendapatkan izin yang sama.
Kongsi dagang Inggris, British East India Company (BEIC) mulai berusaha menguasai wilayah India bagian timur ketika mereka merasa cukup kuat. Penguasa-penguasa setempat mencoba mempertahankan kekuasaan, dan berperang melawan Inggris tahun 1761. Namun, mereka tidak berhasil mengalahkan Inggris. Akibatnya, daerah-daerah Oudh, Bengal, dan Orissa jatuh ke tangan Inggris. Pada tahun 1803 M, Delhi, Ibu kota Kerajaan Mughal juga berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Inggris.[2]
Asia Tenggara sebagaimana juga India, kekuasaan politik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20 M, ketika negeri-negeri jajahan tersebut memerdekakan diri dari dominasi kekuasaan asing. Wilayah Asia Tenggara yang juga merupakan negara-negara Islam, tidak terkecuali jatuh dalam kekuasaan bangsa-bangsa Eropa yang selama beberapa waktu menjajahnya.

D.      Kemunduran Kerajaan Usmani

Dikarenakan kemajuan-kemajuan bangsa Eropa terutama dalam teknologi militer dan industri perang, membuat Kerajaan Utsmani menjadi kecil di hadapan Eropa. Akan tetapi, nama besar Turki Utsmani masih membuat Eropa Barat segan untuk menyerang atau mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam ini, termasuk daerah-daerah yang barada di Eropa Timur.
Namun, kekalahan besar Kerajaan Utsmani dalam menghadapi serangan Eropa di Wina tahun 1683 M membuka mata Barat bahwa Kerajaan Utsmani telah mundur jauh sekali. Sejak itulah Kerajaan Utsmani berulang kali mendapat serangan-serangan dari Barat. Ia hanya terpelihara dari keruntuhan karena kedengkian di antara kerajaan-kerajaan Barat, yang memperebutkan rampasan perang yang berasal dari Turki.
Sejak kekalahan dalam pertempuran Wina itu, Kerajaan Utsmani juga menyadari akan kemundurannya dan kemajuan Barat. Usaha-usaha pembaruan mulai dilaksanakan dengan mengirim duta-duta ke negara-negara Eropa, terutama prancis, untuk mempelajari suasana kemajuan di sana dari dekat.[3]
Celebi Mehmed diutus ke Paris tahun 1720 M dan diinstruksikan untuk mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan dan institusi-institusi lainnya. Ia kemudian memberi laporan tentang kemajuan teknik, organisasai angkatan perang modern, dan kemajuan lembaga-lembaga sosial lainnya. Laporan-laporan itu mendorong Sultan Ahmad III (1703-1730) untuk memulai pembaruan di kerajaannya. Pada masa kekuasaannya didatangkan ahli-ahli militer dari Eropa untuk tujuan pembaruan militer dalam Kerajaaan Utsmani. Pada tahun 1717 M, seorang perwira Prancis De Rochefort, datang ke Istambul dalam rangka membentuk korp At-Then dan melatih tentara Utsmani dalam ilmu-ilmu kemiliteran modern. Pada tahun  1729 M, datang lagi Comte de Bonneval, juga dari Prancis, untuk memberi latihan penggunaan meriam modern. Ia dibantu oleh Macatthydari Irlandia, Ramsay dari Skotlandia, dan Mornia dari Prancis. Pada tahun 1734 M, untuk pertama kalinya Sekolah Teknik Militer dibuka.
Usaha pembaruan ini tidak terbatas dalam bidang militer. Dalam bidang-bidang yang lain pembaruan juga dilaksanakan, seperti pembukaan pencetakan di Istambul tahun 1727 M, untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan. Demikianlah juga gerakan penerjemahan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Turki. Pembaruan di Turki dilakukan dalam berbagai bidang untuk meraih kemajuan-kemajuan negara.
Akan tetapi, walaupun demikian, usaha-usaha pembaruan itu bukan hanya gagal menahan kemunduran Kerajaan Turki Utsmani yang terus mengalami kemerosotan, tetapi juga tidak membawahasil yang diharapkan. Penyebab kegagalan itu terutama adalah kelemahan raja-raja Utsmani karena wewenangnya sudah jauh menurun. Di samping itu, keuangan negara yang terus mengalami kemerosotan sehingga tidak mampu menunjang usaha pembaruan. Faktor terpenting lainnya yang membawa kegagalan itu adalah karena ulama dan tentara Yenisseri yang sejak abad ke-17 M menguasai suasana politik dalam Kerajaan Utsmani serta menolak usaha pembaruan itu. Dengan demikian, Kerajaan Utsmani terus mendekati jurang kehancurannya, sementara Barat yang menjadi ancaman baginya semakin besar dan bertambah maju.
Modernisasai di Turki Utsmani baru mengalami kemajuan setelah penghalang pembaruan utama, yaitu tentara Yunisseri dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807-1839) pada tahun 1826 M. Struktur kekuasaan dirombak, lembaga-lembaga pendidikan modern didirikan, buku-buku Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, siswa-siswa berbakat dikirim ke Eropa untuk belajar, dan yang terpenting sekali adalah sekolah-sekolah yang berhubungan dengan kemiliteran didirikan. Bidang militer inilah yang utama dan pertama mendapat perhatian. Akan tetapi, meski banyak mendatangkan kemajuan, hasil gerakan pembaruan tetap tidak berhasil menghentikan gerak maju Barat ke dunia Islam di abad ke-19 M. Selama abad ke-18 M Barat menyerang ujung garis medan pertempuran Islam di Eropa Timur, wilayah kekuasaan Kerajaan Utsmani.
Gerakan modernisasi di Turki justru mengancam kekuasaan para sultan yang absolu, karena para pejuang Turki melihat bahwa kelemahan Turki terletak pada keabsolutan Sultan itu. Mereka ingin membatasi kekuasaan Sultan dengan membentuk konstitusi, sehingga lahir gerakan Tanzimat, Utsmani Muda, Turki Muda, dan Partai persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terekki).
Ketika Perang Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami kekalahan. Akibatnya, kekuasaan kerajaan Turki Utsmani semakin ambruk. Pada sisi lain, satu demi satu daerah-daerah di Asia dan Afrika yang sebelumnya dikuasai Turki Utsmani, melepaskan diri dari pusat kekuasaan Konstantinopel.dari sekian banyakfaktor yang menyebabkan kemunduran Turki Utsmani itu yang tak kalah pentingnya adalah timbulnya perasaan nasionalisme pada bangsa-bangsa yang bderada dibawah kekuasaannya. Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, memohon bantuan Barat untuk kemerdekaan tanah airnya. Bangsa Kurdi pegunungan dan Arab di padang pasir dan lembah-lembah juga bangkit untuk melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Turki Utsmani.
Ketika terjadi Perang Dunia I (1915 M) Turki Utsmani berada pada pihak yang kalah. Sampai tahun 1919 M, Turki diserbu tentara Sekutu. Sejak itu kebesaran Turki Utsmani benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian, kekhalifahannya dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas, baik di Asia maupun Afrika diambil alih oleh negara-negara Eropa yang menang perang. Perang Dunia itu merupakan babak akhir proses penaklukan Barat terhadap negeri-negeri Islam. Sejak itu, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan Islam yang betul-betul merdeka.

E.       Ekspansi Barat ke Negeri-Negeri Islam

Penetrasi Barat ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama dilakukan oleh dua bangsa Eropa terkemuka, Inggris dan Prancis, yang memang sedang bersaing. Inggris terlebih dulu menanamkan pengaruhnya di India. Prancis merasa perlu memutuskan hubungan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur. Oleh karena itu, pintu gerbang ke India, yaitu Mesir, harus berada di bawah kekuasaannya. Untuk maksud tersebut, Mesir dapat ditaklukan Prancis tahun 1798 M.[4]
Alasan lain Prancis menaklukan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil industrinya. Mesir, disamping mudah dicapai, juga dapat menjadi sentral aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang ke Turki, Syiria, Hijaz, begitu pula ke Timur Jauh. Di balik itu, Nopoleon sendiri, sebagai Panglima Ekspedisi Prancis itu memiliki keinginan untuk mengikuti jejak Alexander the Great dari Macedonia, yang jauh di masa lalu pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. Akan tetapi, kondisi politik Prancis menghendaki Napoleon meninggalkan Mesir tahun 1799 M. Di Mesir, Jenderal Kleber menggantikan kedudukan Napoleon. Dalam suatu pertempuran laut antara Inggris dan Prancis Jenderal Kleber kalah. Jenderal Kleber dan ekspedisinya meninggalkan Mesir 31 Agustus 1801 M, dan di Mesir terjadi kekosongan kekuasaan.
Kekosongan itu dimanfaatkan oleh seorang perwira Turki, Muhammad Ali (1769-1849 M) yang didukung oleh rakyat berhasil mengambil kekuasaan dan mendirikan dinastinya. Dimulai oleh Muhammad Ali, Mesir sempat menegakkan kedaulatan dan melakukan beberapa pembaruan. Tetapi pada tahun 1882 M, negeri ini ditaklukkan oleh Inggris. Persaingan antara Inggris dan Prancis di Timur Tengah memang sudah lama dan terus berlangsung. Dengan demikian satu demi satu wilayah-wilayah negara Islam jatuh ke tangan imperialisme Barat. Keadaan umat Islam yang semakin melemah tersebut seakan tiada berdaya menghadapi imperialisme Barat yang semakin maju dalam berbagai bidang khusus di dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[5]



BAB III
PENUTUP


A.      Simpulan

Kemajuan yang telah dicapai bangsa-bangsa Barat pada periode ini sebenarnya memiliki kolerasi yang erat dengan perkembangan peradaban dunia Islam, baik ketika Islam mencapai puncak kemajuannya di Eropa ataupun kemajuan yang dicapai dunia Islam di Bagdad. Bangsa Barat banyak berutang budi kepada para ilmuan muslim yang telah berhasil mengambangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bangsa-bangsa Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat pada awal kebangkitannya. Dihadapan mereka masih terdapat kekuatan-kekuatan angkatan perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus jalan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka.
Kelemahan dan kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Barat untuk bangkit dan bergerak menuju ke arah negara-negara Islam serta menguasai dan menjajahnya. Motivasi mereka datang ke negara-negara Islam adalah motivasi ekonomi, politik, dan agama. Mereka datang dengan dalih untuk berdagang atau mencari rempah di Timur. Akhirnya, mereka terangsang oleh keuntungan besar dan ambisi yang kuat, sehingga muncullah keinginan untuk menguasai semua sistem ekonomi dan politik negara-negara Islam yang dikuasainya.

B.       Saran-saran

Dengan diselesaikannya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Selanjutnya penulis juga  mengharapkan kritik dan saran guna peningkatan kualitas dalam penulisan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA


Amin, Drs. Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Hamzah
S.M. Ikram. 1997. Muslim Civilization in India. London : Cambridge University Press.
Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam.Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Nasution, Harun. 1992. Pembaharuan Dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Hitti, Philip K. 1974. History of the Arabs. London: The Macmillan.




[1] Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta : Hamzah), hlm. 345
[2] S.M. Ikram, Muslim Civilization in India (London : Cambridge University Press, 1997), hlm. 268. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 176.
[3] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm.15.
[4] Philip K. Hitti, History of the Arabs (London: The Macmillan, 1974), hlm.722.
[5] Drs. Samsul Munir Amin, M.A., Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2010), hlm.354-359.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar