Laman

Selasa, 12 April 2016

TT G 7 E “ILMU, PENA DAN TULISAN MENGANGKAT BUDI MULIA”



ADAB MENCARI ILMU
“ILMU, PENA DAN TULISAN MENGANGKAT BUDI MULIA” 
 

Atina Qonita (2021114265)
Kelas     : G
 
JURUSAN TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN)  PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karuniaNya, makalah yang berjudul “Ilmu, Pena dan Tulisan Mengangkat Budi Mulia” ini dapat di selesaikan. Sholawat serta salam kami curahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad S.A.W
Makalah ini menjelaskan tentang Surat al-Qalam beserta aplikasinya dalam kehidupan. Dengan demikian, dibuatlah makalah ini guna memenuhi tugas Tafsir Tarbawi II.
Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komperensif.  Disamping itu,  apabila dalam makalah ini didapati kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isinya maka penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik guna menyempurnakan makalah ini.

           
Pekalongan, 29 Maret 2016


        Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

            Sebagaimana telah kita ketahui dalam Surat ini kita bertemu ayat-ayat yang pendek tetapi padat, sebagai kebiasaan Surat-surat yang turun di Makkah. Yang pertama sekali ialah pembelaan Allah kepada RasulNya Muhammad SAW dan peneguh hati beliau daripada tuduhan-tuduhan dan hinaan. Dan di dalam Surat ini juga kita bertemu suatu kisah perbandingan tentang orang berkebun atau bersawah yang loba dan tamak, takut harta benda mereka akan diminta oleh orang miskin, lalu hendak mengetam hasil sawahnya pagi-pagi buta sebelum orang miskin mengetahui. Agar kaum miskin itu jangan mengganggu dengan meminta-minta supaya mereka diberi bagian. Rupanya kehendak Allahlah yang berlaku, sawah mereka habis dimusnahkan api. Di samping menerangkan dengan kata-kata yang ringkas tentang akhlak Rasulullah yang tinggi dan mulia dalam surat ini juga terdapat perbandingan akhlak yang buruk orang kafir menolak kebenaran dengan akhlak orang yang bertakwa berhubungan baik dengan Tuhan. [1]














BAB II
PEMBAHASAN


A.    Q.S Al Qalam: 1-4
úc 4 ÉOn=s)ø9$#ur $tBur tbrãäÜó¡o ÇÊÈ   !$tB |MRr& ÏpyJ÷èÏZÎ/ y7În/u 5bqãZôfyJÎ/ ÇËÈ   ¨bÎ)ur y7s9 #·ô_V{ uŽöxî 5bqãZôJtB ÇÌÈ   y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ  
Artinya :
1. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
2. berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
3. dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
A.    Asbabun Nuzul
Surat ini populer dengan nama surat al-Qalam, juga surat Nun, ada juga yang menggabung kedua kata itu, yakni surat Nun wa al-Qalam.
            Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Ad-dala’il dan Al-Wahidi dengan sanadnya yang diriwayatkan dari Aisyah, ia mengatakan tidak ada seorangpun yang memiliki akhlak yang lebih baik dari pada Rasulullah. Tidak pernah seorang pun dari sahabat maupun keluarga beliau ketika mengundang beliau, melainkan beliau akan mengatakan, “Labbaik (Aku penuhi undanganmu).” Oleh karena itu Allah menurunkan ayat, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.[2]
            Thabathaba’i berpendapat bahwa surat ini bertujuan menghibur Nabi Muhammad SAW setelah beliau dicerca oleh kaum musyrikin sebagai orang gila. Dengan surat ini Allah menenangkan hati beliau melalui janji serta pujian atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak mematuhi atau melunakkan sikap menghadapi mereka.[3]

B.     Penjelasan Ayat
Dalam surat Al Qalam  menampilkan contoh azab yang diterima oleh orang-orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah tersebut.
Pokok-pokok kandungan surat al-Qalam meliputi: Penegasan bahwa Nabi Muhammad itu bukanlah orang yang gila. Ia adalah orang yang mempunyai akhlak paripurna. Suratini juga memuat berbagai larangan, seperti bertoleransi di bidang akidah dan keyakinan, larangan mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang dicela oleh Allah, larangan untuk tidak kufur nikmat, serta kecaman Allah dan azab yang dijatuhkan kepada orang-orang yang ingkar.
Kata al-qalam/pena  ada yang memahaminya dalam arti sempit yakni pena tertentu, ada juga yang memahaminya secara umum, yakni alat tulis apa pun, termasuk komputer tercanggih sekalipun. Yang memahami dalam arti sempit ada yang memahaminya pena yang digunakan malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk serta segala kejadian dan makhluk yang kesemuanya tercatat dalam Lauh Mahfuzh, atau pena yang digunakan malaikat menulis amal-amal baik dan buruk setiap manusia, atau pena sahabat Nabi menulis ayat-ayat Al-Qur’an.
Firman-Nya: ( tbrãäÜó¡ o$tBur) dan apa yang mereka tulis. Dengan ayattersebut, Allah bagaikan bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang dapat diperoleh dari tulisan.
Kalimat (y7În/u pyJ÷èÏZÎ/ ) dapat dipahami dalam arti berkat nikmat Tuhanmu engkau bukanlah seorang yang gila. Nikmat itu adalah aneka anugerah Allah yang menjadikanmu terbebaskan dari segala kekurangan manusiawi. Kaum musyrikin menuduh Nabi Muhammad SAW gila karena menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an yang antara lain mengandung kecaman terhadap kepercayaan mereka.
Kata (bqãZôJtB) terambil dari kata manna yang berarti putus asa atau yang berarti menyebut-nyebut pemberian sehingga menyinggung perasaan yang diberi. Jika memahaminya dalam arti putus, ganjaran yang Allah anugerahkan itu akan terus-menerus bersinambung tidak putus-putusnya. Jika memahami kata mamnun dalam makna kedua, ini hanya tertuju kepada Nabi SAW sendiri. Ini berarti ganjaran yang Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kendati sangat banyak, ia tidak disebut-sebut dalam bentuk yang merendahkan atau menyakitkan hati beliau.
Kata (,=z) khuluq, jika tidak dibarengi dengan adjektifnya, ia selalu berarti budi pekerti yang luhur, tingkah laku dan watak yang terpuji.
Kata ‘ala mengandung makna kemantapan. Di sisi lain juga mengesankan bahwa Nabi Muhammad yang menjadi mitra bicara ayat-ayat di atas tingkat budi pekerti yang luhur. Beliau adalah bentuk nyata dari tuntunan al-Qur’an, kita pun tidak mampu melukiskan  betapa luhur Nabi Muhammad SAW.[4]

C.    Aplikasi dalam Kehidupan
Dalam surat al-Qalam Allah memerintahkan untuk mengikat ilmu dengan menulis dan mencari ilmu dengan informasi yang benar atau shahih. Di antaranya dapat dengan cara sebagai berikut:
1.      Mengajarkan Ilmu
Ketika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan argumentsi kita. Agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarkanluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga di masa yang akan datang.


2.      Ilmu Sebagai Amal Jariyah
Ketika kita mengamalkan ilmu seperti apa yang diajarkan Rasulullah SAW, kita tentu akan mendapat pahala atas amal yang kita kerjakan. Inilah yang dinamakan amal jariyah, yang tiada terputus meskipun kita telah tiada.
3.      Menjaga Akhlak / Budi Pekerti
Dalam mengajarkan ilmu pasti ada saja rintangannya, diantaranya mendapat peserta didik yang sulit diatur, nakal, maka kita mesti bersabar, menasehatinya dengan cara yang lembut. Meneladani sikap Rasulullah saat dahulu menyebarkan agama Islam mendapat hinaan, cacian, Rasulullah menghadapinya dengan santun dan akhlak yang agung. Meski mendapat siksa, intimidasi, boikot dan segala bentuk upaya untuk menghentikan dakwah Rasulullah bersama para sahabatnya tetap tegar.

D.    Aspek Tarbawi
1.      Mengajarkan ilmu yang kita punya bisa dalam bentuk tulisan
2.      Allah menjanjikan pahala yang tiada putusnya untuk orang yang mengamalkan ilmunya
3.      Senatiasa sabar saat menghadapi cobaan atau rintangan
4.      Senantiasa menjaga akhlak dalam mengajarkan ilmu
5.      Tidak mudah putus asa saat menghadapi masalah.






DAFTAR PUSTAKA

As-Suyuthi, Imam. 2014. Asbabun Nuzul. Jakarta: PUSTAKA AL KAUTSAR.
Hamka. 1983.  Tafsir Al-Azhar Juz XXIXI. Jakarta: PT. Pustaka Panji mas.
Shihab, M. Quraish Shihab. 2011. TAFSIR AL-MISHBAH. Jakarta: Lentera Hati.















BIODATA

             
Nama               : Atina Qonita
NIM                : 2021114265
TTL                 : Pekalongan, 22 Maret 1995
Alamat            : Jl. Syekh Datuk Abdul Iman No. 20 Pekalongan Selatan
Motto              :  Let’s Talk do More J


[1] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXIX, (Jakarta, PT PUSTAKA PANJI MAS, 2004), hlm.36.
[2] Imam As-Suyuthi, Asbabun Nuzul, (Jakarta, PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2014), hlm.559.
[3][3] M. Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH, (Jakarta, Lentera Hati, 2011), hlm.235.
[4] Ibid., hlm.242-245.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar