Laman

Selasa, 12 April 2016

TT H 7 A “BERGURU HARUS SABAR HINDARI SIKAP APRIORI (SU’UDHON)”



TAFSIR TARBAWI
ADAB MENCARI ILMU
“BERGURU HARUS SABAR HINDARI SIKAP APRIORI (SU’UDHON)”
AL-KAHFI ayat 65-70


Usmawati Dewi          (2021114073)
 Pendidikan Agama Islam H

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT., berkat Rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang “ADAB MENCARI ILMU ( Berburu harus sabar hindari sikap Apriori / Su’udhon)” dalam surat Al-Kahfi ayat 65-70. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW., keluarga dan sahabatnya.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini. Dan saya juga telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran yang membangun demi menyempurnakan makalah saya.
Akhir kata semoga makalah yang sederhana ini bisa menambah keluasan ilmu dan bermanfaat bagi pembaca maupun penulis.




Pekalongan, Maret 2016

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam kehidupan dunia, ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan memberikan kemudahan bagi kehidupan baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan bermasyarakat. Menurut al-Ghazali dengan ilmu pengetahuan akan diperoleh segala bentuk kekayaan, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, jabatan, dan kekuasaan. Apa yang dapat diperoleh seseorang sebagai buah dari ilmu pengetahuan, bukan hanya diperoleh dari hubungannya dengan sesama manusia, para binatangpun merasakan bagaimana kemuliaan manusia, karena ilmu yang ia miliki.
Dalam kehidupan beragama, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang wajib dimiliki, karena tidak akan mungkin seseorang mampu melakukan ibadah yang merupakan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah, tanpa didasari ilmu. Minimal, ilmu pengetahuan yang akan memberikan kemampuan kepada dirinya, untuk berusaha agar ibadah yang dilakukan tetap berada dalam aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam agama, ilmu pengetahuan, adalah kunci menuju keselamatan dan kebahagiaan akhirat selama-lamanya.
Dalam mencari ilmu sebaiknya kita harus mempunyai sifat sabar dan meninggalkan sifat su’udhon agar ilmu yang kita cari lebih cepat dapat kita mempunyai ilmu yang bermanfaat.
B.     Inti ayat al-Kahfi ayat 65-70
Kisah nabi Musa dalam mencari ilmu, bahwa ia sebelumnya telah diperingatkan bahwa dia tidak mungkin bersabar menghadapi apa yang belum diketahui dan dikuasainya. Namun, dia tetap ngotot dengan berazam untuk bersabar memohon pertolongan taufik dengan kalimat insya Allah, diperkuat pula dengan janji dan menerima persyaratan khidr. Namun ketika berhadapan dengan kenyataan lapangan berkenaan dengan perilaku Khidr, dia dengan semangat menyala mengingkarinya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi judul
Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang berasal dari pengamatan panca indra, dari pengalaman yang sering disebut dengan pengetahuan empirik. Ilmu juga dapat berawal dari cara berfikir manusia dengan menggunakan rasio (pengetahuan rasional).[1]dan ketika berbicara tentang sabar, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang separuh iman dan tentang salah satu prinsip dasar agama. Bahkan menciptakan langit dan bumi Allah menciptakan dalam enam hari. Dengan begitu, Dia mengajarkan kepada kita bahwa alam muncul secara bertahap.[2]
Dari hal itu maka dalam kita mencari ilmu kita harus bersikap sabar dan menghindari diri kita dari sikap berburuk sangka terhadap apa yang sedang kita pelajari tersebut.
B.     Hadis yang berkaitan dengan ayat
Diriwayatkan dari Abu Musa r.a bahwa Nabi saw bersabda:”perumpamaan teman yang baik (saleh) dan teman yang buruk (jahat) adalah ibarat peracik minyak wangi dan tukang pelebur besi. Adapun peracik minyak wangi boleh jadi wewangian akan menempel padamu, atau kamu akan membelinya atau boleh jadi kamu kecipratan bau wangi darinya. Dan adapun pelebur besi, bisa jadi apinya akan membakar bajumu, dan boleh jadi kamu kecipratan bau tak sedap darinya”. (HR.Muslim)[3]
Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis, bahwa pada suatu ketika Nabi Musa berdiri berkhotbah dihadapan kaum bani Israil. Lalu ada pertanyaan : “Siapakah orang yang paling alim?” Maka Musa menjawab, “Aku”. Lalu Allah menegur Nabi Musa karena ia belum pernah belajar (ilmu gaib), maka Allah menurunkan wahyu kepadanya: “Sesunggunhya Aku mempunyai hamba yang tinggal di pertemuan dua laut; dia lebih alim daripadamu”. Musa berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimanakah caranya agar aku bisa bertemu dengan dia?” Allah berfirman: “Pergilah kamu dengan membawa seekor ikan besar, kemudian ikan itu kamu letakkan kepada keranjang. Maka manakala kamu merasa kehilangan ikan itu, berarti dia berada di tempat tersebut”. Lalu Nabi Musa mengambil ikan itu dan ditaruhnya pada sebuah keranjang, selanjutnya ia berangkat disertai dengan muridnya yang bernama yusya’ bin Nun, hingga keduanya sampai kepada batu besar. Di temapat itu keduanya berhentiuntuk istirahat seraya membaringkan tubuh mereka, akhirnya mereka berdua tertidur. Kemudian ikan yang ada dikeranjang berontak dan melompat keluar, lalu jatuh kelaut.
            Lalu ikan itu melompat mengambil jalanya ke laut itu”.(al-kahfi:61)
Allah menahan arus air demi untuk jalanya ikan itu, sehingga pada air itu tampak seperti terowongan. Ketika keduanya terbangun dari tidurnya, murid Nabi Musa lupa memberitakan tentang ikan kepada Nabi Musa. Lalu keduanya berangkat melalkukan perjalanan lagi selama sehari semalam. Pada keesokan harinya Nabi Musa berkata kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan siang kita”, sampai dengan perkataanya: “Lalu ikan itu melompat mengambil jalanya kelaut dengan cara yang aneh sekali”. Bekas ikan itu tampak bagaikan terowongan dan Musa beserta muridnya merasa aneh sekali dengan kejadian itu.[4]



C.    Teori Pengembangan ( al- Kahfi 65-70)
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا﴿٦٥﴾
65. lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[886].
Penjelasan ayat 65
Perjalanan kembali ketempat hilangnya ikan, ditempuh oleh Nabi Musa as. Bersama pembantunya itu, lalu ketika mereka sampai ketempat ikan itu mencebur kelaut, mereka berdua bertemu dengan seorang hamba mulia lagi taat di antara hamba-hamba Kami yang mulia lagi taat, yang telah Kami anugrahkan kepadanya rahmat yang besar dari sisi Kami, dan yang Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami,  secara khusus lagi langsung, tanpa upaya manusia, ilmu yang banyak.
Banyak ulama yang berpendapat bahwa hamba Allah yang dimaksud disini adalah seorang hamba nabi yang bernama al-khidhr. Tetapi riwayat tentang beliau sungguh sangat beragam dan sering kalimdi bumbuhi oleh hal-hal yang kurang irasional. Apakah beliau nabi atau bukan, dari bani Israil atau selainnya, dan masih banyak hal lain dengan rincian pendapat yang berbeda-beda. Kata al-Khidhr  sendiri bermakna hijau. Nabi saw, bersabda bahwa penamaan itu disebabkan suatu ketika ia duduk dibulu yang berwarna putih, tiba-tiba warnanya berubah menjadi hijau (HR. Bukhori melalui Abu Hurairoh). Agaknya penamaan serta warna itu sebagai simbol keberkahan yang menyertai hamba Allah yang istimewa itu.
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa beliau dianugrahi rahmat dan ilmu. Penganugrahan rahmat dilukiskan dengan kata (من عندنا) min ‘indina sedang penganugrahan ilmu  dengan kata (من لدنّا) min ladunna, yang keduanya bermakna dari sisi Kami.[5]
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدً﴿٦٦﴾ قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴿٦٧﴾ وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا﴿٦٨﴾ قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا﴿٦٩﴾ قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا﴿٧٠﴾
Terjemahan:
66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.”
68. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".
70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
D.    Penjelasan ayat 66-70
Pada ayat 66, dijelaskan alangkah sopan adab yang ditunjukan oleh seorang nabi Allah ini. Musa memomohon penjelasan pemahaman tanpa memaksa, dan ia mencari ilmu yang dapat memberikan petunjuk dari hamba saleh yang alim itu.
Namun, ilmu hamba yang saleh itu bukanlah ilmu seorang manusia yang sebab-sebabnya jelas dan hasil-hasilnya dekat. Sesungguhnya ia termasuk ilmu laduni tentang perkara gaib, yang diajarkan oleh Allah kepadanya tentang qadar yang diinginkan-Nya tentang hikmah yang diinginkan-Nya. Oleh karena itu, Musa tidak akan mampu bersabar bersama hamba saleh itu dan perilaku-perilakunya yang tampak dipermukaan kadangkala terbentur dengan logika akal yang lahiriah dan hukum-hukum yang lahiriyah. Pasalnya, perilaku hamba yang saleh itu mengharuskan adanya pengertian dan pengetahuan tentang hikmah gaib yang ada dibaliknya.
Pada ayat 66-67, Musa berazam akan bersabar dan taat, sambil memohon pertolongan dari Allah dan pantang menyerah untuk merealisasikan kehendaknya. Pada ayat 69,diceritakan Hamba sholeh itupun masih menekankan dan memperjelaskan permasalahannya. Ia menyebutkan persyaratannya dalam menemaninya sebelum memulai perjalanan. Yaitu, Musa harus bersabar untuk tidak bertanya dan meminta penjelasan tentang sesuatu dari perilaku-perilakunya hingga rahasianya terbuka sendiri baginya.
Pada ayat 70, Musa pun menyetujui dengan penuh kerelaan. Maka, dihadapan kita berputarlah episode awal dari kisah dua orang ini.
“Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melubanginya ... “
Perahu itu membawa keduanya dan juga membawa para penumpang lainnya. Mereka sedang berada di tengah-tengah lautan. Kemudian hamba sholeh itu tiba-tiba melubangi perahu itu. Tampak jelas bahwa perbuatan ini membawa kesulitan bagi perahu dan para penumpangnya dengan ancaman bahaya tenggelam dan mereka menjadi terjepit. Jadi, kenapa hamba sholeh ini melakukannya perbuatan keji dan bahaya itu. Musa menjadi lupa akan janjinya yang dikatakan kepada hamba saleh itu dan persyaratan yang telah diajukan oleh hamba itu, dihadapan perilaku aneh yang tidak diterima sama sekali oleh akal sehat. Kadangkala seseorang hanya menemani secara teoritis tentang gambaran umum yang menyeluruh tentang suatu makna. Maka ketika berbenturan dengan praktek kerja nyata untuk mengimplementasikan makna itu dalam contoh nyata, dia akan berhadapan dengan fakta lain yang berbeda dengan gambaran pandangan.[6]
E.     Aplikasi dalam kehidupan
Alquran telah menceritakan bagaimana kisah nabi Musa dalam mencari ilmu, bahwa ia sebelumnya telah diperingatkan bahwa dia tidak mungkin bersabar menghadapi apa yang belum diketahui dan dikuasainya. Namun, dia tetap ngotot dengan berazam untuk bersabar memohon pertolongan taufik dengan kalimat insya Allah, diperkuat pula dengan janji dan menerima persyaratan khidr. Namun ketika berhadapan dengan kenyataan lapangan berkenaan dengan perilaku khidr, dia dengan semangat menyala mengingkarinya.
Begitu pula dengan tabiat manusia saat bertemu pada fakta nyata, yang tidak bisa dipungkiri bahwa ketika berhadapan dengna kenyataan lapangan, ia akan menemukan fakta dan cita rasa yang berbeda dengan gambaran pandanganya. Ia tidak akan mengetahui hakikat suatu perkara tanpa merasakan dan mencobanya.[7]
F.     Aspek tarbawi
1.      Belajar dari seseorang yang kedudukannya lebih rendah daripada anda bukanlah aib.
2.      Nabi Musa as. yang memiliki ilmu lahiriah menilai sesuatu berdasarkan sifat lahirnya saja. Sesuatu yang bersifat lahir ada pula sisi batinya. Sisi batiniyah ini yang tidak terjangkau oleh nabi Musa.
3.      Penuntut ilmu harus memiliki kesabaran dan tekad yang kuat untuk bersungguh-sungguh mencurahkan perhatian, bahkan tenaga, terhadap apa yang dipelajarinya.
4.      Seorang yang percaya harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh yang dipercayainya, suka atau tidak, mengerti atau tidak. Ini terutama dalam bidang pembinaan jiwa/ akhlak.
5.      Pelajar harus menghormati gurunya. Seperti nabi Musa yang tidak menuntut untuk diajar, tetapi meminta. Itupun ditunjukan dalam bentuk pertanyaan. “Bolehkah aku mengikutimu?”[8]


BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kisah nabi Musa dalam mencari ilmu, bahwa ia sebelumnya telah diperingatkan bahwa dia tidak mungkin bersabar menghadapi apa yang belum diketahui dan dikuasainya. Namun, dia tetap ngotot dengan berazam untuk bersabar memohon pertolongan taufik dengan kalimat insya Allah, diperkuat pula dengan janji dan menerima persyaratan khidr. Namun ketika berhadapan dengan kenyataan lapangan berkenaan dengan perilaku Khidr, dia dengan semangat menyala mengingkarinya.
Begitu pula dengan tabiat manusia saat bertemu pada fakta nyata, yang tidak bisa dipungkiri bahwa ketika berhadapan dengan kenyataan lapangan, ia akan menemukan fakta dan cita rasa yang berbeda dengan gambaran pandanganya. Ia tidak akan mengetahui hakikat suatu perkara tanpa merasakan dan mencobanya.
Sebagai seorang yang beriman kita harus bisa mempunyai rasa sabar dalam diri kita dalam keadaan apapun, terutama dalam mencari ilmu agar ilmu yang kita cari dapat dimiliki oleh kita dan ilmu itu insya Allah akan menjadi ilmu yang manfaat.



DAFTAR PUSTAKA

al-Mahalli , Imam Jalaludi dan Imam Jalaludin as-Suyuti. 2010. Terjemahan Tafsir jalalain berikut Asbabun Nuzul jilid 2,Penerjemah Bahrun Abu Bakar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Departemen Agama RI. 2009.  Al-Qur’an dan Terjemahannya disertai Tanda-Tanda Tajwid dengan Tafsir Singkat. Jakarta: Bayan Qur’an
Khaled, Amr. 2010. Buku Pintar Akhlak. terj. Fauzi Faisal Bahreisy. Jakarta: Zaman
Quth, Sayid. 2003. Tafsir Fi Dzilalil Qur’an di bawah naungan Al-Qur’an jilid 7, terj Ahmad Yasin dkk, Jakarta: Gema Insani Press
Saebani, Beni Ahmad dan Abdul Hamid. 2010. Ilmu Akhlak. Bandung: Pustaka Setia
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol.8. Jakarta : Lentera Hati
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur’an. Tangerang: Lentera Hati







Nama               : Usmawati Dewi
TTL                 : Pekalongan, 07 Desember 1996
Alamat                        : Jl. Otista gang 18, Rt.03 Rw.04 Soko, Pekalongan Selatan
Cp                   : 0856 4256 2578
                          usmawatidewie@gmail.com
                          usmawatidewi79@gmail.com
Cita-cita          : menjadi seorang guru yang teladan
Motto              : Sugestilah diri anda dengan sugesti yang positif


[1] Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid, Ilmu Akhlak,(Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 17
[2] Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, terj. Fauzi Faisal Bahreisy,(Jakarta: Zaman, 2010) hlm. 283
[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya disertai Tanda-Tanda Tajwid dengan Tafsir Singkat (Jakarta: Bayan Qur’an,2009).hlm.301
[4] Imam Jalaludi al-Mahalli dan Imam Jalaludin as-Suyuti, Terjemahan Tafsir jalalain berikut Asbabun Nuzul jilid 2,Penerjemah Bahrun Abu Bakar (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2010), hlm.28
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol.8 (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm. 94-95
[6] Sayidh Quth, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an di bawah naungan Al-Qur’an jilid 7, terj Ahmad Yasin dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm.
[7] Ibid., hlm. 331
[8] M. Quraish Shihab, Al-Lubab Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur’an,(Tangerang: Lentera Hati, 2012), hlm. 310-311

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar