Laman

Selasa, 19 April 2016

TT G 8 B "BACALAH QUR’AN DENGAN TARTIL & KHUSYU’"



Tafsir Tarbawi
ADAB MEMBACA AL-QUR'AN 
"BACALAH QUR’AN DENGAN TARTIL & KHUSYU’"


Afian Khasanah
2021114225

Kelas G
JURUSAN TARBIYAH / PRODI PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

          Alhamdulillah, segala puji syukur ke hadirat Allah swt., atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad saw., keluarga, dan para sahabatnya. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya kelak di yaumul qiyamah. Aamiin.
            Saya mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ade Dedi Rohayana, M.Ag., selaku ketua STAIN Pekalongan, terima kasih kepada Bapak Muhammad Ghufron Dimyati, M. S. I., selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi II terimakasih kepada ke dua orang tua dan teman-teman saya serta kepada semua pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya makalah ini. Makalah yang berjudul “ Bacalah Al-Qur’an dengan Tartil dan Khusu’ ”.
            Saya dari pihak penulis mohon maaf apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.







Pekalongan,  25 Maret  2016


Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................................   i
Kata Pengantar....................................................................................................   ii
Daftar Isi ............................................................................................................   iii 
BAB    I    PENDAHULUAN...........................................................................   1
A.    Latar Belakang Masalah....................................................................   1
B.     Rumusan Masalah.............................................................................   1
BAB   II    PEMBAHASAN..............................................................................   2
A.    Pengenalan Terhadap Surah Al-Muzzammil....................................   2
B.     Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 20.........................................   3
C.     Arti Kata...........................................................................................   4
D.    Penafsiran Ayat.................................................................................   5
E.     Asbabun Nuzul.................................................................................   5
F.      Aspek Tarbawi..................................................................................   7
  BAB   III   PENUTUP.......................................................................................   8
A.    Simpulan...........................................................................................   8
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................   9
PROFIL PENULIS............................................................................................   10





BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Tema utama surah ini adalah uraian tentang bagaimana  mempersiapkan mental menghadapi tugas dakwah antara lain dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat malam dan membaca Al-Qur’an serta sabar dan tabah sambil mengingat perjuangan nabi-nabi yang lalu, khususnya nabi Musa as. ketika menghadapi kekejaman Firaun.
Tujuan utma surah ini adalah bimbingan kepada Nabi Muhammad saw. dan juga umat Islam agar menyiapkan mental untuk melaksanakan tugas penyampaian Risalah dengan segala rintangan-rintangannya. Sekaligus ancaman kepada para pengingkar kebenaran. Surah ini juga bertujuan mengingatkan bahwa amal-amal kebajikan menampik rasa takut dan menolak marabahaya, serta meringankan beban, khususnya bila amal kebajikan itu berupa kehadiran kepada Allah swt. serta konsentrasi mengabdi kepada-Nya pada kegelapan malam.
A.    Rumusan Masalah
1.      Apa isi kandungan surah Al-Muzzammil ayat 20?
2.      Adakah aspek tarbawi / pendidikan dalam surah Al-Muzzammil ayat 20?
3.      Apakah ada asbabun nuzzul pada surah Al-Muzzammil ayat 20?








BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengenalan Terhadap Surat Al-Muzzammil
Surah al-Muzzammil terdiri dari 20 ayat. Surah ini sebagian besar turun sebelum Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah dan paling tidak ayatnya yang terakhir turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah karena ayat terkahir menyebutkan tentang adanya kaum Muslim yang berperang, padahal peperangan baru terjadi pada tahun kedua hijriah.[1]
Pada ayat terakhir surah ini, yang ayatnya relaif panjang bahkan lebih panjang dari lima ayat di awal surah ini, Allah swt. memberikan keringanan atas pelaksanaan sholat malam itu. Sebab bisa jadi, bagi sementara orang shalat malam seperti yang digambarkan tersebut dirasakan berat dan memberatkan. Sementara Allah Yang Mahatahu yang memberikan perintah sangat mengetahui shalat malam yang telah dilaksanakan itu. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau spertiganya.[2] Artinya segala perintah itu telah engkau jalankan sebagaimana yang ditentukan oleh Tuhan; yang dekat dengan dua pertiga sudah, yang seperdua malam pun sudah, demikian pun yang sepertiga. Semuanya sudah dilaksanakan dengan baik; “Dan satu segolongan dari orang-orang yang bersama engkau.” Artinya bahwa engkau telah memberikan teladan tentang bangun sembahyang malam itu kepada pengikut-pengikut setia engkau dan mereka pun telah berbuat demikian pula bersama engkau.[3] Demikianlah Rasulullah saw. telah melaksanakan shalat malam dengan sangat tekun dan khusuk. Sampai-sampai, menurut riwayat yang dituturkan oleh ‘Aisyah, kaki beliau menjadi bengkak karena shalat malam itu.[4]
B.   Al-Qur’an Surat Al-Muzzammil Ayat 20
http://3.bp.blogspot.com/-kOqPZrocJB8/VQxh3Z_k5hI/AAAAAAAAET8/Z8fQ2Lt3CPY/s1600/73_20.png
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[5]
C.   Arti Kata
إن ربك يعلم أنك تقوم أدنى
     Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri”         
من ثلثى اليل ونصفه وثلثه
     dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya”
وطا ئفة من الذين معك
“dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu”
ولله يقدر
“dan Allah menetapkan”
اليل والنهار علم ان
“ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa”
لن تحصوه
“kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu”
فتاب عليكم
“maka Dia mengampuni kalian”[6]

D.    Penafsiran Ayat :
Kalimat (إنّ ربّك)  Inna Robbakal sesungguhnya Tuhanmu memberi kesan betapa luas jangkauan rahmat dan kasih sayang Allah yang tercurah kepada Nabi Muhammad saw. yang menjadi mitra bicara Tuhan dalam redaksi tersebut. Sayyid Quthub dalam tafsirnya menyatakan antara lain : Sesungguhnya Dia melihatmu. Shalatmu bersamasekelompok orang-orang yang mengikutimu telah diterima oleh-Nya. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (bersama mereka) tidak tidur pada waktu banyak orang biasanya tidur. Lambungmu jauh dari pembaringan, kehangatan kasur engkau jauhi pada malam yang dinginnya menyengat. Engkau tidak menghiraukan ajakan “bantal” yang menggiurkana, yang engkau perkenankan adalah panggilan Tuhanmu. Tuhan kasih padamu dan karena padamu dan karena itu Dia akan meringankan bebanmu dan orang-orang yang bersamamu.
Penjelasan tentang shalatnya Rasulullah saw. oleh ayat di atas dipisahkan dari penjelasan menyangkut shalat (وطائفة من الّذين معك) wa tha’ifatun min al-ladzina ma’aka/sekelompok dari yang bersamamu, sedang dari segi kebahasaan kedua penjelasan tersebut dapat digabung dalam satu redaksi dengan menggunakan bentuk jamak, misalnya:           (إنّ ربّك يعلم أنّكم تقومون) inna rabbakum ya’lamu annakum taqumuna/sesungguhnya  Tuhan kamu mengetahui bahwa kamu sekalian bangkit untuk shalat. Ini agaknya untuk mengisyaratkan perbedaan hukum dan substansi shalat Rasulullah saw. dan shalat kelompok yang bersama beliau itu.
E.     Asbabun Nuzul
Al Bazar dan Ath-Thabarani meriwayatkan dengan sanad lemah dari Jabir, ia mengatakan; oran-orang Quraisy berada di Darun Nadwah dan berkata, “Namailah laki-laki itu (Nabi Muhammad) dengan nama yang membuat  orang-orang berpaling.” Mereka berkata, “Juru ramal.” Mereka berkata, “Bukan juru ramal.” Mereka berkata, “Orang gila.” Mereka berkata, “Bukan orang gila.” Mereka berkata, “Tukang sihir.” Mereka berkata, “Bukan tukang sihir.”[7]
Akhirnya hal tersebut sampai kepada Nabi saw. maka beliau langsung menyelimuti dirinya dengan bajunya sehingga seluruh tubuhnya terselimuti. Lalu pada saat itu juga datang malaikat Jibril seraya membawa wahyu firman-Nya:
“Hai orang-orang yang berselimut...” (Q.S. 73 Al-Muzzammil, 1 dan seterusnya) dan firman-Nya:
“Hai orang berkemul (berselimut)...” (Q.S. 74 Al-Muddassir, 1 dan seterusnya).
Imam Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis lainnya melalui Ibrahim An-Nakha’i sehubungan ayat ini, yaitu Firman-Nya:
“Hai orang yang berselimut”. (Q.S. 73 Al-Muzzammil, 1).[8]
Ibrahim An-Nakha’i mengatakan; Ayat tersebut turun berkenaan dengan keberadaan Rasulullah yang berada dalam selimut.[9]
Imam Hakim telah mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Siti Aisyah r.a. Siti Aisyah telah menceritakan bahwa setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya:
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)”. (Q.S. 73 Al-Muzzammil, 1-2).
Para sahabat ikut meniru jejaknya selama satu tahun, sehingga telapak kaki mereka bengkak-bengkak. Lalu turunlah ayat lainnya, yaitu Firman-Nya:
“maka bacalah pa yang mudah (bagi kalian) dari Al-Qur’an”. (Q.S. 73 Al-Muzzammil, 20).
Imam Ibnu Jarir At-Tabari telah mengetengahkan pula hadis yang serupa,hanya hadis yang diketengahkannya ini melalui Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainnya.[10]
Hadis seperti itu pula dikemukakan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibni Abbas dan lainnya.[11]
F.     Aspek Tarbawi
1.      Apabila tidak mampu bangkit di waktu malam, baik untuk shalat maupun lainnya, maka ayat terakhir surat ini member alternative pengganti. Demikiann Allah tidak membebani seseoramng melebihi kemampuannya dan selalu menghendaki kemudahan bagi manusia dalam beragama.
2.      Muslim yang baik, dituntut agar pandai mengatur waktunya, mengatur kemampuannya, serta menilai mana yangn harus di dahulukan. Ia harus menyadari bahwa mendahulukan amalan sunnah/anjuran agama tidaklah dibenarkan bila mengantar kepada pengabaian yang wajib.
3.      Ibadah diperintahkan oleh Allah bukanlah untuk membuat manusia menjadi jatuh sakit.







BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Makna ayat secara lengkap, dan segolongan orang-orang yang bersama kamu yang telah melakukan hal yang sama. Mereka melakukan demikian mengikuti jejak Nabi saw. sehingga disebutkan, bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tidak menyadari berapa rakaat salat malam yang telah mereka kerjakan, dan waktu malam tinggal sebentar lagi. Sesungguhnya Nabi saw. selalu melakukan salat sunah sepanjang malam, karena demi melaksanakan perintah Allah secara hati-hati. Para sahabat mengikuti jejaknya selama satu tahun, atau lebih dari satu tahun, sehingga disebutkan bahwa telapak-telapak kaki mereka bengkak-bengkak karena terlalu banyak salat. Akhirnya Allah swt. memberikan keringanan kepada mereka. (Dan Allah menetapkan) menghitung (ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna sedangkan isimnya tidak disebutkan, asalnya ialah annahu (kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu) yaitu waktu malam hari. Kalian tidak dapat melakukan salat malam sesuai dengan apa yang diwajibkan atas kalian melainkan kalian harus melakukannya sepanjang malam. Dan yang demikian itu memberatkan kalian (maka Dia mengampuni kalian) artinya, Dia mencabut kembali perintah-Nya dan memberikan keringanan kepada kalian (karena itu bacalah apa yang mudah dari Alquran) dalam salat kalian.





DAFTAR PUSTAKA

Quraisy Shihab, M. 2012. Al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur’an. Tanggerang : Lentera Hati.

Yunan Yusuf, M. 2013. Tafsir Khuluqun ‘Azhim (Budi Pekerti Agung). Tanggerang : Lentera Hati.

Hamka. 1983. Tafsir Al Azhar Juz XXIX. Jakarta : PT. Pustaka Panjimas.

Imam Jalaluddin Al-Mahalli, Imam dan Jalaluddin As-Suyuti,Imam. 2010.   . Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Kahfi s.d. An-Nas 2. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

As-Suyuthi, Imam. 2014. Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an). Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar.

Quraish Shihab, M. 2011. Tafsir al misbah (kesan, pesan, dan keserasian al qur’an). Jakarta : Lentara Hati.
Mujieb, Abdul. 1986. Lubanul Nuqul fi Asbabun Nuzul. Rembang : Darul Ikhya Indonesia.











PROFIL PENULIS

20151129_122610.jpg

Nama                    : Afian Khasanah
Alamat                 : Desa Ujungrusi-Kecamatan Adiwerna-Kabupaten Tegal,
                                           Jl. Teratai No. 15, Rt 20/ Rw 02.
Motto                   : “Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain yang
                                           membutuhkan, jangan jadi orang yang menyusahkan
                                           orang lain”.





[1] M. Quraisy Shihab,Al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur’an),Cet. I,(Tanggerang, Lentera Hati, 2012),hlm. 431.
[2] Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Tafsir Khuluqun ‘Azhim (Budi Pekerti Agung), Cet. I (tanggerang : lentera hati, 2013), hlm. 441-442.
[3] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXIX, (Jakarta : PT. Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 192.
[4] Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Tafsir Khuluqun ‘Azhim (Budi Pekerti Agung), Cet. I (tanggerang : lentera hati, 2013), hlm. 442.

[5] Prof. Dr. Hamka,Tafsir Al-Azhar Juz XXIX,Cet. VI,(Jakarta, Pustaka Panjimas, 2004),hlm. 191-192.
[6] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti,Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Kahfi s.d. An-Nas 2,     ,hlm. 1197.


[7] Imam As-Suyuthi,Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an),Cet. I,(Jakarta Timur, Pustaka Al-Kautsar, 2014),hlm. 571.
[8] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti,Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Kahfi s.d. An-Nas, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2010),hlm. 1197.
[9] Imam As-Suyuthi,Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an),Cet. I,(Jakarta Timur, Pustaka Al-Kautsar, 2014),hlm. 571.
[10] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti,Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Kahfi s.d. An-Nas 2, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2010) ,hlm. 1197.
[11] M.Abdul Mujieb As.,Lubanul Nuqul fi Asbabun Nuzul,(Rembang : Darul Ikhya Indonesia, 1986),hlm. 624.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar