Laman

Sabtu, 07 Mei 2016

HT M 10 C "Dampak kecurangan, kezaliman dan penghianatan"



 Hadist Tarbawi II
PENGETAHUAN TANTANG FENOMENA SOSIAL
"Dampak kecurangan, kezaliman dan penghianatan"


Kamilia milkhatul izzah 
2021214464
KELAS M
 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



Bab I
Pendahuluan
Dosa yang identik dengan sebuah siksa adalah jenis-jenis perbuatan yang balasanya adalah neraka. Penegasan tentang siksa dari perbuatan menyimpang ini menurut menurut Allah adalah bagian dari hikma pensyari’atkan kebaikan untuk kemaslahatn semua makhluk. Apa yang telah dijanjikan Allah kepada manusia maupun yang diancamkanya tidak perlu diragukan, karena hati yang ragu akan membawa akibat rusaknya iman dan lenyapnya sianar Allah dari hati kita, bahwa yang telah dijanjikan Allah pasti akan diterima oleh semua hamba.
Karena seorang hamba berdosa kepada Allah sebagaimana pendapat sahabat ibnu Mas’ud ra: seorang hamba yang merasa dosa-dosanya seperti setinggi gunung, dia khawatir jikalau dosa yang besar dan tinggi itu akan jatuh dan menimpa dirinya (seperti gunung yang bisa roboh menimpa manusia dibawahnya). Dan sebaliknya, orang-orang yang menganggap enteng dosa dan kesalahan yang pernah dipebuatnya, menganggap dosa itu seperti lalat yang hinggap di ujung hidungnya, ia menganggap remeh dosa yang diperbuatnya remeh dosa yang diperbuatnya, tidak akan menggangu pikiran dan perasaanya seperti mudahnya ia menghalau lalat yang hinggap diujung hidungnya.






BAB II
PEMAHASAN
A. Pengertian
1.kecurangan
Curang atau kecurangan identik dengan ketidak jujuran, atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik. Curuang atau  kecurangan artinya apa yang diingkan tidak sesuai denagan hati nuraninya, atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha[1].
dalam ilmu sangat berbahaya dan memiliki dampak negatif yang cukup besar. Para ulama mengatakan, tatkala seseorang mendapatkan ijazah pendidikan dengan cara yang tidak jujur, maka harta yang didapatkan dengan ijazah itu pun teranggap harta yang haram. Praktek kecurangan dalam ujian, adalah petaka yang menyedihkan dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya berada di garda depan dalam membentuk manusia-manusia yang jujur dan memiliki integritas tinggi, acap kali justru diwarnai praktek-praktek tidak terpuji seperti itu. Seperti halnya dalam dunia politik , misalnya:
Pemimpin yang curangKemimpinan, jabatan dan kedudukan sering kali disalahgunakan untuk menipu rakyat atau orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya. Kecurangan dan sikap mensia-siakan amanah pada sebagian para pejabat sudah menjadi rahasia umum. Kasus-kasus hukum yang menimpa mereka, sudah menjadi menu informasi yang kita terima sehari-hari[2]
2.Kezaliman
    Kezaliman adalah kerusakan didalam fitrah manusia karenaAllah swt menciptkan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada kebaikan da menjauhi keburukan .tapi karna fitrah dapat menjadi lemah di karenakan rusaknya pendidikan yang di terima seseoang ,hawa nafsu, kepentingan dan sebab sebab yang lain , maka manusia tidak jarang menuju kearah yang tidak benar dan bertentangan dengan fitrah.
            Perbuatan zalim kadang terbentang dan terjadi dihadapn kita, tanpa kita mampu mencegahnya, karena lemahnya kekuatan yang dimiliki. Mungkin hanya rasa iba dan haru yang dapat kita sumbangkan, baik kepada si penindas atau yang ditindas. Orang-orang zalim yang sering menindas kaum yang lemah, niscaya hidupnya akan menderita di dunia maupun diakhirat nanti. Mereka kelak akan menemui kesengaraan dan penderitaan yang tiada henti, setimpal dengan balasan dari perbuatanya. Dengan sewenag-wenang mereka berbuat kezaliman terhadap manusia, melakukakn kejahatan dan angkara murka di muka bumi, tanpa landasan hukum yang sah. Karena nafsu ingin melampiaskan dendam dan memuaskan kehendak hati yang timbul dari biskan setan, mereka menangkap , memnyiksa, mememnjarakan dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Dengan berkedok untuk kesejahteraan sosoial dan keamanan nasional, mereka nyatakan bahwa tindakan yang dia lakukakan adalah untuk memelihara keamanan masyarakat dari tindakan oknum yang dapat memecah belah dan menghancurkan persatuan umat. Dibalik semua aksi yang mereka cenangkan, terdapat suatu rencana keji untuk menghancur leburkan umat islam yang jadi musuh mereka, hingga kini. Mereka dustai dengan beragam dalih yang terdapat diterima di logika, sebagai satu-satunya jalan untuk menghindari diri dari tuduhan melakukan tindakan kejahatan dan kezaliman yag meraka lakukan[3]
3.pengkianatan
Khianat merupakan sifat jahat yang sanagat dibenci Allah. Karena jahatnya sifat khianat itu maka banyak ayat-ayat al qur’an yang secara tegas menyatakan bahwa Allah tidak menyukai  orang-orang yang berkhianat Ayat-ayat al qur’an tersebut diatas menunjukan kepada kita bahwa perbuatan khianat merupakan perbuatan yang sangat dibenci Allah, karena akibat darinya akan merugikan dan menyakiti banyak orang, sehingga sangat dimungkinkan pengkhianatan dapat merusak hubunganpersaudaraan dan persahabatan[4]
            Pada level pemerintahan penghianatan seorang pemimpin terhadap amanah yang diberikan rakyat akan menimbulkan rusaknya tatanan suatu pemerintahan.  Karena itu Allah sangat membenci pemimpin yang berkhianat dengan mengatakan:
“Sesungguh Nya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”[5]
Pemimpin yang menghianati rakyat tidak akan dapat merasakan bau surga, jangankan masuk, baunya pun tidak bisa merasakan. Berbeda dengan pengkhinat yang tidak lagi mendapat kepercayaan di hati orang lain, maka orang yang amanah akan mendapat kepercayaan banyak orang. Karena itu sangatlah masuk akal sabda nabi yang mengatakan bahwa amanah dapat mendatangkan rizqi dan khianat dapat mandatangkan kefakiran.
            Sebagai ilustrasi barangkali perlu disampaikan di sini sebuah contoh dari amanah yang mandatangkan rizqi: suatu hari ada pengemis dari anak jalanan yang meminta kepada orang kaya yang lewat, maka diberilah oleh orang kaya itu sejumlah uang, maka ketika dia meninggalkan pengemis tersebut jatuhlah domepet orang kaya itu, dan penegemis itu lari mengambilnya untuk dibalikan kepada pemiliknya, maka heranlah orang kaya tersebut dab sebagai tanda terimaksihnya orang kaya tersebut menawarakan sejumlah uang dan pekerjaan, karena diberi pekerjaan dqn dengan ketekunanya dia dapat menggapai posisi manager sebuah perusahaan, walahsil jadilah dia orang kaya lanatan amanahnya[6].
B. hadits pendukung
a. Dari Ma’qil bin Yasar al Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة
Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim)[7]

C. Teori pengembangan

1.      Faktor-faktor perbuatan curang

Perbuatan curang memang biasanya tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor dan pemicu seseorang melakukan perbuatan tersebut. Diantaranya:
a)      Lemahnya iman, sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatannya sekecil apa pun.
b)      Kebodohan sebagian orang tentang haramnya perbuatan curang, khususnya dalam bentuk-bentuk tertentu dan saat perbuatan tersebut sudah menjadi sistem ilegal dalam sebuah lembaga atau organisasi.
c)      Ketiadaan ikhlas (niat karena Allah) dalam melakukan aktifitas, baik dalam menuntut ilmu, berniaga dan yang lainnya.
d)     Ambisi mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan dengan berbagai macam cara. Yang penting untung besar, walaupun dengan menumpuk dosa-dosa yang kelak menuntut balas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak lagi mempedulikan apa yang didapatkannya, dari yang halal atau dari yang haram.” (HR Bukhari)
e)      Lemahnya pengawasan orang-orang yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
f)       Tidak adanya kesungguhan. Sebagian orang bermalas-malasan menyelesaikan tugas dan apa yang menjadi kewajibannya, saat semua itu harus ia pertanggungjawabkan, maka ia pun menutupinya dengan perbuatan curang. Seperti seorang murid yang malas belajar, saat datang masa ujian, ia pun berusaha berbuat curang agar bisa lulus ujian.
g)      Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat curang dan selalu menuruti ajakan setan untuk berbuat curang.
h)      Lemahnya pendidikan yang ditanamkan sejak kecil di rumah atau di sekolah. Sering kali orang tua atau guru tidak memberi tindakan yang tegas saat anak atau muridnya berbuat curang, atau malah justru memberi contoh dengan melakukan kecurangan dihadapan anak atau murid di sekolah.
i)        Kurang percaya diri. Saat seseorang merasa dirinya tidak mampu bersaing dengan orang lain, maka tidak jarang ia akan melakukan kecurangan untuk menutupi kekurangannya.
j)        Sikap bergantung kepada orang lain dan malas menerima tanggung jawab.
k)      Tidak qanaah dan ridho dengan pemberian Allah.
l)        Tidak adanya sistem hukum yang efektif untuk membuat jera para pelaku kecurangan.
m)    Lalai dari mengingat kematian. Ini adalah faktor penyebab seluruh perbuatan maksiat dan terus-menerus dalam melakukannya[8]

Dampak negatif perbauatan curang

  1. Orang yang melakukan kecurangan dan orang yang meridhainya akan mendapat dosa.
  2. Nabi berlepas diri dari pelakunya, “Barangsiapa yang mencurangi kami, maka ia bukan golongan kami.”
  3. Manusia akan membenci orang yang suka berbuat curang dan tidak mau bergaul dengannya.
  4. Perbuatan curang merupakan perbuatan khianat kepada umat dan sikap mensia-siakan amanah.
  5. Perbuatan curang termasuk salah satu sifat orang-orang munafik.
  6. Perbuatan curang akan menghilangkan keberkahan.
  7. Perbuatan curang akan melemahkan kepercayaan kaum muslimin.
  8. Perbuatan curang akan menjadi faktor kegagalan masyarakat dalam semua bidang.
  9. Zalim kepada orang lain.
  10. Melemahkan pencapaian ilmu dan kemampuan
  11. Menciptakan permusuhan dan kebencian antar kaum muslimin.
  12. Mendapatkan harta haram dari cara-cara yang curang.
  13. Terjerumus pada sikap meremehkan pengawasan Allah.
D. Aplikasi hadist terhadap kehidupan
Kecurangan,kezaliaman, dan pengkhianatan dapat diatasi jika dalam hati masyarakat sudah tertanam dengan kuat nilai-nilai ketauhidan dan keimanan. Kesadaran selalu diawasi oleh Allah akan membuat seseorang tidak akan berani melakukan perbuatan tersebut. Pun pemahaman terhadap akibat-akibat buruk yang akan menimpa mereka kelak dari perbuatan curang harus terus ditingkatkan. Jika kesadaran ini telah terkolektif, maka insya Allah praktek-praktek kecurangan, kezaliman, dan penghianatan dapat diatasikan, atau sedikitnya diminimalisir.
Bagi kita yang telah menyadari perbuatan buruk tersebut, hendaknya menjauhi sahabat atau teman yang suka berbuat curang, zalim, dan khianat terus berdoa kepada Allah memohon taufiq, selalu mengingat akhirat dan berusahalah melakukan amar makruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan dalam rangka merubah keadaan masyarakat menuju yang lebih baik[9].

E.nilai tarbawi
Dari materi diatas menjelaskan tidak diperbolehkanya melakukan perbuatan curang, zalim, dan khianat. Karena sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang dibenci Allah selain akibat darinya akan merugikan dan menyakiti banyak orang, sehingga sangat dimungkinkan sifat tercela tersebut dapat merusak hubungan persaudaraan dan perhasabatan Allah untuk menjaga dan manjalinkanya dengan penuh kasih sayang.

















BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa islam adalah agama yang sempurna. Begitupun dalam hal kecurangan, kezaliman, dan penghianatan islam sangat melarang berbuatan keji tersebut. Karena selain mendapat dosa besar, orang yang melakukan perbuatan keji tersebut dapat mengecewaan orang lain. Hal ini tercantum dalam hadist yang berbunyi “Dari Abdullah bin amer  bin ash r.a bahwasanya rasullah saw. Bersabda: ada empat hal yang barang siapa terjerumus kedalamnya maka dia adalah munafik sejati, dan barang siapa terjerumus kedalam salah satu dari empat hal tersebut berarti dalam dirinya terdapat salah satu sifat kemunafikan, sampai dia mau meninggalkan sifat itu. Lalu dia menyebutnya: apabila dipercaya dia berkhianat, apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dai mengingkari, dan apabila bermusuhan dia berbuat jahat”. (H.R Bukhari Muslim). Maka dari sifat tercela tersebut Allah sangat membenci sifat tersebut.














Nama : kamilia milhatul izzah ,lahir di pekalongan. Tinggal di desa degayu, kecamatan Gamer, pekalongan selatan, pernah bersekolah di:
1.      RA Masyitoh pekalongan
2.      MII Degayu 01, pekalongan
3.      SMP Salafiyah kauman, pekalongan
4.      MA Darul Amanah sukorejo, kendal
Di bangku SMP mengenyam pendidikan formal, sedang di MA juga menganyam pendidikan non formal di Pondok Pesantren Darul Amanah sukorejo, kendal. Dan sekarang masih Menempuh Pendidikan Di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri). Pekalongan Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam.
Motto hidup saya adalah, yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit. Man jadda waa jadda


[2] Dr.H.NasrunHaroen, MA,fiqh muamalah, (jakarta: gaya media pratama,2007), hlm 191
[3] Mustafa Masyhur,tentang kezaliman, (jakarta: Gema insani pres,1988), hlm 7-9
[4] Dr.Juwariyah,M.Ag,hadist tarbawi, (yogyakarta: Teras,2010), hlm 41
[5] Ahmad mustafa al-maraghi,tafsir al-maraghi, (semarang: cv.toha putra,19920, hlm225
[6] Ibid.hlm 41-42
[7] Salim bahreisy,riyadus shalihin,(bandung: P.T Alma’arif,1987), hlm457
[9] Ibid.hlm 37

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar