Laman

Sabtu, 07 Mei 2016

TT G 11 A ( Fenomena Alam, Bahasa, dan Warna Kulit serta Hukum Kausalitas Alam Semesta )


Tafsir Tarbawi
PENDIDIKAN INTELEKTUAL-TRANDENSENTAL
( Fenomena Alam, Bahasa, dan Warna Kulit serta Hukum Kausalitas Alam Semesta )

Amirul Mu’minin
2021114220

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,segala puji syukur ke hadirat Allah swt, atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Nabi Muhammad saw,keluarga,dan para sahabatnya. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Amin.
            Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas tafsir tarbawi dengan judul pendidikan intelektual-trasendental (fenomena alam,bahasa dan warna kulit dan hukum kausalitas alam”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ghufron dimyati M,Si. selaku Dosen pengampu mata kuliah tafsir tarbawi di kelas G.
            Makalah ini menjelaskan mengenai fenomena alam, bahasa dan warna kulit. Ini adalah satu keagungan Allah, karena Ia menciptakan manusia dengan beragam-ragam bahasa, warna kulit dan lain-lainya.
            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah berikutnya.  Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.

                                                                        Pekalongan, 31 Maret 2016


                                                                                   Penulis



DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................ ii
BAB I      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah...................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................... 2
C.     Tujuan Penulisan................................................................. 2
D.    Metode Penulisan................................................................ 2
E.     Sistematika Penulisan.......................................................... 3
BAB II    PEMBAHASAN
A.    Qs. Ar-Rum Ayat 22.......................................................... 5
B.     Penafsiran Ayat.................................................................. 5
C.     Aspek tarbawi.................................................................... 11
D.    Qs. Ar-Rum Ayat 24.......................................................... 12
E.     Penafsiran Ayat.................................................................. 12
F.      Aspek Tarbawi................................................................... 17
BAB III   PENUTUP
A.    Kesimpulan........................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 19
PROFIL PENULIS............................................................................ 20








BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Sesudah allah SWT menuturkan tentang bukti-bukti keberadaan-Nya melalui apa yang dituturkan-Nya dalam penciptaan manusia, selanjutnya Allah melanjutkan penjelasan tentang bukti-bukti yang berada pada semesta alam pada perbedaan warna kulit serta bahasa yang jumlahnya tidak dapat di hitung. Padahal mereka berasal dari satu ayah dan satu ibu. Dan bukti-bukti keberadaan-Nya  yang terdapat pada hal-hal yang dapat disaksikanya, yaitu seperti tidur mereka yang nyenyak di waktu malam, aktivitas mereka yang energik di siang hari dalam rangka mencari rizki dan kesungguhan serta jerih payah mereka di dalam mencari rizki.
            Sesudah Dia menyebutkan penampilan sifat-sifat yang terdapat di dalam diri manusia, lalu dia menyebutkan penampilan tanda-tanda Nya yang terdapat pada  alam semesta dan cakrawala yang kita saksikan dari hari ke hari ini. Di dalam nya terdapat pelajaran bagi orang yang mau berfikir tentangnya dan memperhatikan alam semesta ini dengan pandangan yang telilti dan mengambil pelajaran, yaitu tentang keindahan-keindahan alam semesta ini, di maksud sebagai sarana untuk mengetahui Pengaturnya dan Penciptanya yang menciptakan segala sesuatu yang dengan baik kemudian Dia memberinya petunjuk.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    QS. Ar-Rum Ayat 22
ومن ءا يا ته خلق السموا ت والارض واختلا ف أ سنتكم وألوا نكم ان فى ذلك لآيات للعا لمين  (22)
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan lidah kamu dan warna kulit kamu. Sesungguhnya yang pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang alim.”[1]
B.     Penafsiran Ayat
1.      Tafsir Al-Misbah
Ayat-ayat di atas masih melanjutkan uraian tentang bukti-bukti ke-Esaan dan kekuasaan Allah SWT. Ada persamaan antara pria dengan langit dan wanita dengan bumi,sehingga lahir tumbuhan. Demikian juga dengan suami dan istri. Atau setelah menyebut pasangan manusia, kini di sebut pasangan yang lain yaitu langit dan bumi. Ayat-ayat di atas menyatakan : dan juga di antara tanda-tanda kekuasaan dan keesaanNya adalah penciptaan langit yang bertingkat-tingkat dan bumi. Semua dengan sistemnya yang teliti, rapi dan teliti. Serta kamu juga dapat mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah melalui pengamatan terhadap perbedaan lidah kamuseperti perbedaan bahasa, dialek dan intonasi. Dan juga perbedaan warna kulit kamu, ada yang hitam, kuning, sawo matang, dan tanpa warna ( putih ), padahal kamu semua bersumber dari asal usul yang sama. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang alim yakni yang dalam pengetahuannya.
Sekelumit dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan ke-esaan-Nya dapat di ketahui dengan mengamati langit dan bumi atau alam raya ini. Perhatikanlah keadaanya, amatilah peredaran benda-benda langit. Sekian banyak benda langit yang beredar di angkasa raya, namun tidak terjadi tabrakan antara benda-benda itu, tabrakan yang mengakibatkan kehancuran bumi atau penduduknya. Belum lagi tanda-tanda kekuasaan dan kebesarannya jka kita mengetahui betapa luas alam raya ciptaan-Nya.
Melalui salah satu benda langit yang sangat berperan dalam kehidupan manusia dan mahluk di bumi, yaitu matahari, dimana terjadi sekian banyak tanda-tanda kekuasaan-Nya, yaitu perbedaan malam dan siang, dan perbedaan musim.[2]
Di bumi pun, sekian  banyak tanda-tanda kekuasaan Allah. Disini yang di singgung adalah yang terdapat dalam manusia sekaligus yang berkaitan dengan perdaran manusia dan bumi matahari dan bumi. Yang di sebutkan adalah perbedaan lidah, ini terjadi karena perbedaan tempat tinggal di bumi. Demikian juga perbedaan warna kulit, antara lain di pengaruhi oleh panasnya matahari. Ayat di atas menekankan perbedaan, karena perbedaan itu lebih menonjolkan kekuasaan-Nya. Betapa tidak demikian, manusia berbeda-beda dalam banyak aspek, padahal semua lahir dari asal usul yang sama dan bersumber dari seorang kakek.
kata  السنتكم adalah jamak dari kata لسا ن yang berati lidah.[3] Ia juga di gunakan dalam arti bahasa atau suara. Penelitian yang terahir menunjukan tidak seorang pun yang memilki suara yang sepenuhnya sama dengan orang lain. Persis seperti sidik jari. idak ada dua orang yang sama sidik jarinya.
Ayat di atas di tutup dengan للعا لمين bagi orang-orang yang alim yaknidalam pengetahuannya. Perbedaan bahasa dan warna kulit, hal ini sangat jelas terlihat dan disadari atau di ketahui oleh setiap orang, apalagi kedua perbedaan tersebut bersifat langgeng pada diri setiap manusia . tetapi jangan duga bahwa tidak ada sesuatu di balik apa yang terlihat dengan jelas itu. Banyak rahasia yang belum terungkap. Banyak juga masalah baik menyangkut warna kulit maupun bahasa dan suara yang hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi banyak orang.
2.      Tafsir Al-Lubab
Ayat 22 menunjuk pada penciptaan langit yang bertingkat-tingkat dan bumi. Semua dengan sistemnya yang sangat teliti, rapi dan serasi. Ayat ini menunjuk juga perbedaan lidah manusia, yakni seperti perbedaan bahasa, dialek dan intonasi. Juga perbedaan warna kulit, padahal semua bersumber dari asal-usul yang sama. Ayat ini di tutup dengan firman-Nya : sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Bagi orang-orang yang dalam pengetahuannya.[4]
3.      Tafsir Al-Azhar
Dan setengah dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan semua langit dan bumi dan berlainan bahasa-bahasa kamu dan warna-warna kulit kamu”  (pangkat ayat 22). Dalam susunan ayat ini seorang yang pengertian disuruh terlebih dahulu menengadah ke atas melihat langit dengan ketinggian dan keluasannya, di siang hari awan bergerak di malam hari bintang berkelip. ada bintang yang beredar terus, tampak berganti tiap tahun, ada yang melewati ke dekat bumi dalam 40 tahun sekali, ada yang hanya sekali seumur hidup manusia dan kemudian tidak terlihat lagi. Dan ada pula bintang-bintang yang tetap kelihatan, sebagai bintang timur yang gemerlap tiap-tiap pagi. Maka di ujung di tepi langit  yang kita namai ufuk berbaliklah pandangan kita ke bumi, maka kelihatanlah pandangan yang indah sekali, baik tepi laut yang luas entah dimana  tepinya. Atau kelihatan gunung-gunung, embun menyentak naik, hujan merinai turun, angin berhembus sayu, hutan menghijau lebat, laut menghitam biru, ombak memukul pantai, sungai mengalir deras, bukit yang tinggi, lurah yang dalam, pohon-pohon yang tinggi, rumput-rumput yang rata, akar yang menjulai, binatang serangga, ikan dan burung dan masih banyak sekali.
Sesudah menengadah melihat langit dan mengukur meninjau bumi, orang disuruh kembali melihat dirinya sendiri. “dan berlainan bahasa-bahasa kau dan warna-warna kulit kamu” itupun menjadi salah satu tanda pula dari berbagai tanda kebesaran tuhan.[5] Terutama perlainan, meskipun manusia hidup dalam satu bumi, dibawah kolong dari satu langit, namun terdapatlah bahasa yang berbagai-bagai. Ada bahasa inggris, prancis, jerman, rusia, dan berbagai bahasa lagi di eropa timur, dan ada bahasa italaia, dan bahasa spanyol. Jangankan demikian, sedangkan di tanah air indonesia, negara kepulauan ini saja, tidak kurang dari 300 bahasa daerah, yang kalau tidakalah bahasa indoesia, yang bahasa dahulunya bahasa melayu, yang menjadi bahasa lingua franca yang mempersatukan pulau-pulau ini, alangkah sukarnya buat menjadi sebuah negara besar.
Di samping berbagai bahasa yang berbagai ragam, entah berapa ribu banyak bahasa di dunia terdapat pula kelainan warna kulit, warna muka. Kulit kuning, kulit putih, kulit hitam, dan kulit sawo matang dan dan kulit warna merah di amerika pada bangsa indian. Termasuk juga dalam berlainan warna kulit ialah bentuk keindahan wajah insani. Di waktu menulis tafsir ini tidaklah kurang dari pada 4,000,000,000 atau empat milyard penduduk dunia ini, namun tidaklah ada yang serupa. Hanya kelihatan sepintas lalu mereka sesama manusia, namun Allah mentakdirkan buat tiap-tiap diri ada kepribadian sendiri yang berbeda dari satu sama lain. Sampai-sampaipun kepada ujung jari, yang bernama sidik jari sampaipun kepada raut muka, bentuk mata, bentuk hidung, bentuk telinga, tidak ada yang serupa, yang satu melaini yang lain. Alangkah kaya tuhan dengan rupa dan bentuk yang demikian. Sudah sekian ratus tahun manusia hidup di dunia, yang datang dan yang pergi dan ada lagi yang akan datang, menggantikan yang sekarang yang pasti pergi bila datang ajalnya, namun yang serupa tidak ada. Sungguh suatu keajaiban yang dahsyat.
“sesungguhnya yang pada demikian adalah tanda-tanda bagi orang yang berpengetahuan” (ujung ayat 22). [6]
Ujung ayat ini membayangkan tentang pentingnya orang yang mempunyai ilmu pengetahuan di samping pada ayat yang sebelumnya orang dianjurkan untuk berfikir.bahkan segala tanda-tanda yang telah disebutkan itu sungguh-sungguh mengalahkan manusia untuk berfikir dan belajar. Mengajak manusia untuk mendirikan berbagai universitas dengan berbagai fakultas. Ilmu alam yang meminta pengetahuan tentang binatang-binatang di langit, ilmu bumi tempat kita berdiam. Sangat banyak ilmu yang timbul di atas permukaan bumi ini. Yang berkenaan dengan manusia saja berbagai cabang bagiannya, belum tentang ilmu bumi itu sendiri yang dengan berbagai ragam ilmunya. Karena bertambah mendalam peneyelidikan bertambah timbul keyakinan bahwa alam ini seluruhnya adalah suatu teknik agung yang menyeluruh. Pendekatanya dikurbankan seluruh hidup untuk mencari ilmu baru sedikit yang kita tahu, hidup itu sudah habis.
4.      Tafsir Jalalain
(Dan di antara tanda-tanda kekuasaa-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasa kalian) maksudnya dengan bahasa yang berkelainan, ada yang berbahasa arab dan ada yang berbahasa ‘Ajam serta berbagai bahasa lainya.- (dan berlain-lainan pula  warna kulit kalian) di antara kalian ada yang berkulit putih, ada yang hitam, dan lain sebagainya. Padahal kalian berasal dari seorang lelaki dan seorang perempuan, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa.-(sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda)  yang menunjukan kekuasaan Allah Swt.- (bagi orang-orang yang mengetahui) yaitu bagi orang yang berakal dan berilmu. Dapat dibaca lil’alamina dan lil’alimina.[7]
5.      Tafsir Al-Maraghi
Diantara bukti-bukti keberadaan-Nya dan tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan langit yang penuh sesak dengan bintang-bintang dan planet-planet naik yang tetap maupun yang beredar. Langit itu sangat tinggi luas cakrawalanya. Dan pada penciptaan bumi yang memiliki gunung-gunung, lembah-lembah, laut-laut, padang pasir, hewan, dan pohon-pohonan.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berbeda-beda bahasa kalian dengan perbedaan yang tak ada batasnya, ada yang berbahasa arab, ada yang berbahasa prancis, inggris, hindusta, china, dan lain sebagainya yang tiada seorang pun mengetahui banyaknya melaimkan hanya yang menciptakan bahasa-bahasa (Allah). Dan berbeda-bedanya jenis serta bentuk kalian hingga perbedaan ini membantu kita untuk membedakan di antara orang- orang, baik melauli suaranya atau warna kulitnya. Hal ini merupakan sesuatu yang penting sekali di dalam pergaulan hidup dan berbagai macam tujuan. Maka betapa banyaknya orang-orang yang hanya dengan melalui suara kita mengenal identitasnya, dengan demikian kita dapat mengetahui teman dan lawan, lalu kita dapat membuat persiapan yang lazim buat menghadapi masing-masing. Sebagaimana kita pun dapat membedakan melalui bahasa yang di pakainya lalu kita mngetahui dari bangsa manakah dia.
Sesungguhnya pada hal-hal yang telah di sebutkan tadi terkandung bukti-bukti yang jelas bagi orang-orang yang berilmu, yaitu mereka yang memikirkan tentang mahluk yang di ciptakan oleh Allah Swt. Maka mereka mengetahui dan menyimpulkan, bahwa Allah tidak sekali-kali menciptakan mahluk-Nya secara Cuma-Cuma, tetapi Dia menciptakannya untuk tujuan hikmat yang mendalam, yang terkandung di dalamnya pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akal pikirannya.[8]         
C.    Aspek Tarbawi
1.      kita sebagai sesama mahluk ciptaan Allah tidak boleh saling membeda-bedakan satu sama lain.
2.      Walaupun kita berbeda ras, suku dan bahasa kita harus saling menghormati satu sama lain.
3.      Semua mahluk di hadapan Allah itu sama, namun yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaan kita terhadap-Nya. 



  


D.    QS.Ar-Rum Ayat 24
ومن ءا يته يريكم البرق خوفا وطمعا وينز من السماء ماء فيحى به الارض بعد موتها ان فى ذلك لأيت لقوم يعقلون (24)
  Artinya : “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, dia memperlihatkan kepada kalian kilat ( untuk menimbulkan ) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itusesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya”.[9]
E.     Penafsiran Ayat
1.      Tafsir Al-Maraghi
Dan diantara tanda-tanda yang kebesaran kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia memperlihatkan kepada kalian kilat, yang karenanya kalian merasa takut terhadap suara guruh yang timbul darinya, dan sekaligus kalian berharap akan hujan yang diakibatkannya turun dari langit. Karena dengan air hujan itu bumi yang tandus tiada tanaman  pohon-pohonan dengannya akan hidup subur.[10]
Sesunguhnya di dalam hal-hal yang telah disebutkan tadi benar-benar terdapat bukti-bukti yang pasti dan dalil yang jelas bagi tiada hari berbangkit dan dan adanya hari kiamat. Karena sesungguhnya bumi yang tandus, tiada tanaman, dan pohon-pohonan padanya, bila ia kedatangan air, maka ia akan menjadi gembur dan subur serta dapat menumbuhkan berbagai macam dan jenis tumbuh-tumbuhan yang tampak indah. Di dalam hal tersebut benar-benar terkandung gambaran yang jelas dan dalil yang terang menunjukan adanya kekuasaan Allah yang menghidupkannya. Bahwa ia mampu menghidupkan kembali mahluk semuanya sesudah mereka mati, yaitu di saat manusia di bangunkan kembali untuk menghadap kepada tuhan semesta alam.
2.      Tafsir Al-Azhar
 “Dan setengah dari pada tanda-tanda kebesaran-Nya ialah dia di perlihatkan pada kamu kilat, menimbulkan kekuatan dan keinginan.” (pangkal ayat 24). Sekarang kita disuruh melihat dengan mata kepala sendiri betapa dahsyat kebesaran tuhan itu di ruang angkasa. Mula-mula kelihatan langit yang tadinya cerah, tidak berawan panas  matahari laksana membakar. Tiba-tiba mulailah angin berhembus, mulanya sepoi tetapi tidak lama kemudian sudah mulai hembusnya itu keras. Dilihat kelangit, dalam masa yang tidak lama, hanya dari menit ke menit, bukan dari jam ke jam, awan tadi mulai berkumpul dan bergumpal. Mulanya memutih tetapi dengan segera menjadi berwarna hitam dan kian pekat. Mulailah kedengeran guruh yang agak keras, dan anginpun bertambah keras. Tiba-tiba memancarkan sinar putih yang kita kenal dengan kilat atau petir itu, cepat sekali, laksana cemeti memukul di ruang angkasa sejenak saja sesudah kilat yang hebat itu kedengranlah bunyi petir atau petus yang dahsyat bunyinya, lebih berpuluh kali hebatnya dari letusan bom atau meriam bikinan manusia. Ketika itu tumbuhlah takut, demi mendengar bunyi dahsyat sesudah melihat cemeti bunyi kilat, tetap takut bercampur dengan keinginan, yaitu keinginan agar hujan segera turun. Karena sudah lama kemarau saja.
Perurutan dari hembusan angin yang sayu, kemudian angin yang lebih keras, kemudian awan hitam berkumpul bertambah pekat, di sertai dengan guruh-guruh toho, dan angin bertambah keras dan kilat melecut angkasa laksana cemeti tuahan, lalu di iringi oleh petus dan petir yang berbunyi dahsyat itu hanyalah dalam beberapa menit saja.[11] Bahkan persambungan di antara kelitan kilat dengan dahsyatnya petir hanya dalam beberapa detik (second) saja. Beralasan kalau orang takut, karena cemeti kilat yang berekorka petiratau petus itu dahsyat sekali. Dia bisa menumbangkan pohon besar di hutan. Dia mampu mereobohkan bangunan kokoh. Kalau ada orang yang berjalan di tempat itu, dia bisa menjadi sasaran petus dan mati di tembak petus di saat itu juga.
Itu sebab maka di pelajari hubungan elektrisitas dalam ruang angkasa, kecepatan positif mencari negatifnya, sehingga orang mendapat akal memasangkan kawat petir pada rumah-rumah besar, sehingga ketiak kilat telah melecut cemetinya dan akan petirnya akan meletus, denga kekuatan dengan sambutan kawat tadi, si positif sudah dicarikan satuanya kedalam bumi. Sesudah itu barulah :”dan Dia turunkan air dari langit” yaitu hujan! “Maka hiduplah dengan sebabnya bumi itu sesudah mati itu” yaitu dengan sebab turunnya air dari langit itu, yaitu dari angkasa yang di atas kira itu, yang disebut langit karena tingginya.[12] Turun air itu dari sana, menjadilah hujan. Hujan yang telah lama ditunggu. Hujan yang telah lama dinantikan dengan penuh keinginan dan harapan. Sebab tuhan sendiri yang telah berfirman, sebagai tertulis dalam surat 21, al-anbiya’ (nabi-nabi) ayat 30.
Maka teranglah bahwa air adalah tali pergantungan hidup. Orang sakit berbulan-bulan tidak makan, bisa tahan. Namun dia pasti diberi minum. Maka bumi yang tadinya laksananya mati, sebab kering, sebab tidak ada air, sampai rumput-rumput jadi layu, mersik dan kering, dengan sebab turunya air hujan itu dia hidup kembali, dia bahagia. Binatang-binatang ternak yang nyaris mati kekeringan, sudah dapat bersambung nafasnya. Dari sebab adanya air di muka bumi terdapatlah kehidupan di atasnya, maka datanglah pertanyaan: “adakah kiranya kehidupan binatang-binatang yang lain? Atau terdapatkah air di bintang-bintang itu sebagai di bumi ini? Adakah kiranya mahluk yang lain di bintang lain yang tali pergantungan hidupnya bukan air?
Maka di penutup ayat ini tuhan berfirman:  “sesunggguhnya pada yang demikan. “yaiut pada kilat yang sambung- menyambung, laksana cemeti malaikat melecut syaitan yang gentayangan di udara layaknya, lalu diiringi petir atau petus yang dahsyat bunyinya, hingga menimbulkan ngeri dan takut, tetapi keinginan akan turunnya hujan masih  tetap ada pada manusia karena keduanya itu, takut dan ingin adalah naluri atau gharizah manusia belaka, yaitu instink ingin mempertahankan hidup. Maka ssemua itu: “adalah tanda-tanda bagi kaun yang berakal.”
3.      Tafsir Jalalain
(Dan di antara tanda-tanda kekuasaanya ialah Dia memperlihatkan pada kalian) Dia mempersaksikan pada kalian- (kilat untuk menimbulkan ketakutan) bagi orang-orang yang melakukan perjalanan karena takut di sambar petir- (dan harapan) bagi orang yang bermukim akan turunnya hujan-(dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesdah matinya) Dia mengembangkannya dengan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan padanya-(sesungguhnya pada yang demikian itu)  hal yang telah di sebutkan tadi (benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya) yaitu bagi mereka yang berpikir.[13]
4.      Tafsir Al-Lubab
Ayat 24 menunjuk kuasa-Nya memperlihatkan dari saat ke saat kilat, yakni cahaya yang berkelepat dengan kecepatan di langit. Itu berpotensi menimbulkan ketakutan jangan sampai ia menyambar dan juga untuk menimbulkan harapan bag turunnya hujan, lebih-lebih bagi yang berada di darat.[14] Di samping itu bukti kuasa-Nya itu, Allah Swt. Juga menurunkan hujan dari awan, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah kegersangan dan ketandusan tanahnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Bagi kaum yang berakal, yakni yang memikirkan dan merenungkan sehingga mengikat nafsunya agar tidak terjerumus dalam kedurhakaan. 
5.      Tafsir Al-Mishbah
Ayat yang lalu di akhiri dengan menyebut pendengaran. Disamping pendengaran, manusia memiliki penglihatan. Dari sini, ayat diatas berbicara tentang sebagian dari apa yang dapat di lihat di angkasa. Yakni potensi listrik pada awan. Allah berfirman: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, adalah Dia memperlihatkan kepada kamu dari saat ke saat kilat yakni cahaya yang berkelebat dengan cepat di langit untuk menimbulkan ketakutan dalam benak kamu- apalagi para pelaut, jangan sampai ia menyambar, dan juga untuk menimbulkan harapan bagi turunnya hujan, lebih-lebih bagi yang berada di darat, dan Dia menurunkan air hujan dari langit yakni awan, lalu menghidupkan bumi yakni tanah dengannya yakni air itu sesudah matinya yakni sesudah kegersangan dan ketandusan tanah di bumi itu. Sesungguhnya pada yang demikian hebat dan menakjubkan itu, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Swt antara lain menghidupkan kembali yang telah mati. Tanda-tanda itu diperoleh dan bermanfaat bagi kaum yang berakal yakni memikirkan dan merenungkannya.[15]
Penyebutan turunnya hujan setelah penyebutan kilat, karena biasanya hujan turun setelah atau berbarengan dengan kilat, disisi lain harapan yang dimaksud di atas adalah harapan turunnya hujan.
Kata (thama’an) digunakan untuk menggambarkan keinginan kepada sesuatu, yang biasanya tidak mudah diperoleh. Penggunaan kata itu disini, untuk mengisyaratkan bahwa hujan adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia atau sangat sulit di raihnya. Kini, walau ilmuan telah mengenal apa yang dinamai hujan buatan, yakni cara-cara menurunkan hujan, tetapi cara itu belum lumrah, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka tidak dapat membuat sekian bahan yang dapat di olah untuk terciptanya hujan.
Ayat di atas berbicara tentang turunnya hujan dan kilat yang menimbulkan harapan dan kecemasan. Ini dapat terjadi bagi siapapun, baik ia mengetahui tentang sebab-sebab kilat dan proses turunnya hujan maupun tidak. Dan rasa takut dan cemas serta harapan itu, dapat mengantar seseorang berhati-hati sehingga tidak terjerumus di dalam pelanggaran atau dalam bahasa ayat di atas (ya’qilun) yakni mengikat nafsunya sehingga tidak terjerumus dalam kedurhakaan dan kesalahan.[16]
F.     Aspek Tarbawi
1.      Semua yang di ciptakan oleh Allah itu mempunyai tujuan dan manfaat bagi semua ciptaan-Nya.
2.      Semua tanda-tanda kebesaran yang di perlihatkan kepada kita oleh Allah, semata-mata agar manusia bisa berfikir dan merenungi semua ciptaan-Nya.
3.      Manusia hendaknya bersyukur atas semua nikmat yang telah di berikan oleh Allah kepada kita.


                                              



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kita sebagai muslim tidak sepantasnya membeda-bedakan warna kulit. Allah membedakan-bedakan kita supaya kita saling mengenal dan lebih mempererat tali ukhuwah diantara sesama muslim. Karena sesungguhnya itu semua merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Kebesaran Allah tidak hanya terdapat pada penciptaan langit, bumi, dan warna kulit saja, tetapi kebesaran Allah juga dapat terlihat pada bahasa-bahasa yang dipergunakan makhluk ciptaanNya.















DAFTAR PUSTAKA
Al Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As Suyuthi. 2009. Tafsir Jalalain Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset.
Al Marighi, Ahmad Mushthafa. 1992. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Departemen Agama RI. 2009.  Al-Qur’an Bayan: Al-Qur’an dan terjemahannya disertai Tanda-tanda dengan Tafsir Singkat. Jakarta: Bayan Qur’an.
Hamka. 2002. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: PT. Citra Serumpun Padi.
Shihab, M. Quraish. 2002.  Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab. Tanggerang: Lentera hati.














PROFIL  PENULIS

Nama  : Amirul Mu’minin
NIM    : 2021114220
Alamat: Ds.Bulakan Kec.Belik Kab. Pemalang
Jurusan: Tarbiyah
Prodi   : PAI


[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Bayan: Al-Qur’an dan terjemahannya disertai Tanda-tanda dengan Tafsir Singkat, (Jakarta: Bayan Qur’an, 2009), hlm. 406. 
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 38 
[3] Ibid.,
[4] M. Quraish Shihab, Al-Lubab, (Tanggerang: Lentera hati, 2012), hlm. 141-142.
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: PT. Citra Serumpun Padi, 2002), hlm. 67.
[6] Ibid., hlm. 68.
[7] Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuthi, Tafsir Jalalain Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2009), hlm. 454-455. 
[8] Ahmad Mushthafa Al Marighi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1992), hlm. 70.
[9] Departemen Agama Ri, Op. Cit., hlm. 406.
[10] Ahmad Mushthafa Al Maraghi, Op. Cit., hlm. 72.
[11] Hamka, Op. Cit., hlm. 70.
[12] Ibid., hlm. 71.
[13] Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuthi, Op. Cit., hlm.  456.
[14] M. Quraish Shihab, Op. Cit., hlm.  142.
[15] M. Quraish Shihab, Op. Cit., hlm.  143.
[16] Ibid., hlm. 144.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar