Laman

Sabtu, 07 Mei 2016

TT H 11 C "SIFAT-SIFAT ULUL ALBAB"



Tafsir Tarbawi
Pendidikan Intelektual Transendental 
"SIFAT-SIFAT ULUL ALBAB"


Lilis Cahyaningsih
(2021114191)
Kelas     : H
 
JURUSAN TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN)  PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR
          Puji  syukur  kami  panjatkan  kehadirat  Allah  SWT.,  yang  telah  melimpahkan  taufiq,  hidayah  dan  inayah-Nya,  sehingga  kami  dapat  menyelesaikan  makalah  yang  berjudul “Sifat-sifat ulul albab”  Shalawat  dan  salam  senantiasa  tercurah  kepada  Nabi  Muhammad  SAW.,  sahabatnya,  keluarganya,  serta  segala  umatnya  hingga  yaumil  akhir.
Makalah  ini  disusun  guna  menambah  wawasan  pengetahuan  terkait  tidur  dalam  pandangan  sains  dan  Islam.  Makalah  ini  disajikan  sebagai  bahan  materi  dalam  diskusi  mata  kuliah  Tafsir Tarbawi  STAIN Pekalongan.
Penulis  menyadari  bahwa  kemampuan  dalam  penulisan  makalah  ini  jauh  dari  kata  sempurna.  Penulis  sudah  berusaha  dan  mencoba  mengembangkan  dari  beberapa  referensi  mengenai  sumber  materi  yang  saling  berkaitan.  Apabila  dalam  penulisan  makalah  ini  ada  kekurangan  dan kesalahan  baik  dalam  penulisan  dan  pembahasannya  maka  penulis  dengan  senang  hati  menerima  kritik  dan  saran  dari  pembaca.
Akhir  kata,  semoga  makalah  yang  sederhana  ini  dapat  bermanfaat  bagi  penulis  dan  pembaca  yang  budiman.  Amin  yaa  robbal  ‘alamin.

Pekalongan, 29  Maret 2016

Penulis









BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Maha Suci Allah yang telah memberikan manusia berbagai macam potensi yang menjadi pembeda dari makhluk-makhluk yang lainnya. Apalah jadinya manusia dikala tidak ada tawazun atau keseimbangan antara potensi-potensi yang sangat luar biasa ini. Dikala aspek manusia yang lebih ditonjolkan maka manusia tiada bedanya dengan hewan dan berlakulah hukum rimba, dikala aspek materi dan akalpun terpenuhi namun aspek fitrah diabaikan maka dunia ini tiada bedanya sebagai neraka karena amanah-amanah manusia yang diberikan Allah AWT, tidak terlaksana diantaranya adalah ibadah, sebagai khalifah, atau penanggung jawab kehidupan didunia dan sebagai Da’i yang beramarma’ruf nahi mungkar.
Oleh karena itu Allah dengan wahyu-Nya yang suci dan mulia mempresentasikan model manusia yang dapat menjalani hal itu sebagaimana yang dijalankan oleh qudwah kita Muhammad Rasulullah saw. model itu adalah model sebagai rausyan fikr yaitu Ulul albab.
Banyak tafsir yang menjelaskan tentang aplikasi model Ulul albab tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Tuliskan Qur’an surat Al-Imran : 190-191 beserta artinya?
2.      Apa tafisiran dari Qur’an surat Al-Imran : 190-191?
3.      Bagaiman aplikasi ulul albab dalam kehidupan?
4.      Sebutkan aspek tarbawi dari Qur’an surat Al-Imran : 190-191?

5.      Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui metode kajian pustaka,  yaitu dengan mengunakan  beberapa referensi buku. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran.

6.      Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I; bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah, Bab II, adalah pembahasan, Bab III; bagian penutup yang terdiri dari simpulan.





















20160110_142141.jpg
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surat Al Imran 190-191 (Sifat-sifat Ulul Albab)
1.      Definisi Judul
Ulul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit” yaitu kabut ide, yang dapat mnyebabkan keracunan dalam berpikir. Yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan Allah swt.[1]
Seseorang akan dikatakan sebagai ulul albab jika ia telah mampu melaksanakan kegiatan dzikir dalam artian selalu mengingat Allah dalam segala kondisi. Baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, bahkan pada saat sedang berpikir, dirinya tidak dapat terlepas dari dzikir.
2.     Terjemah
žcÎ)ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚöF{$#urÉ#»n=ÏF÷z$#urÈ@øŠ©9$#Í$pk¨]9$#ur;M»tƒUyÍ<'rT[{É=»t6ø9F{$#ÇÊÒÉÈ
tûïÏ%©!$#tbrãä.õtƒ©!$#$VJ»uŠÏ%#YŠqãèè%ur4n?tãuröNÎgÎ/qãZã_tbr㍤6xÿtGtƒurÎûÈ,ù=yzÏNºuq»uK¡¡9$#ÇÚöF{$#ur$uZ­/u$tB|Mø)n=yz#x»ydWxÏÜ»t/y7oY»ysö6ß$oYÉ)sùz>#xtãÍ$¨Z9$#ÇÊÒÊÈ

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Penjelasan Ayat
a.      Tafsir ayat ke 1
Sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengarunya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna dan sebagainya, merupakan tanda dan bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan, dan kekuasaan-Nya[2]
Imam ar-Razi dalam tafsirnya: ”Ketahuilah olehmu, bahwa yang dimaksud dalam kitab yang mulia ini ialah menjemput hati dan ruh yang sudah bising membicarakan soal-soal makhluk yang dijadikan, supaya mulai tenggelam memperhatikan ma’rifat terhadap al-Haq (Tuhan). Karena sejak tadi sudah banya pembicaraan tentang hukum-hukum dan menjawab beberapa keraguan yang dibawakan oleh orang yang tidak mau percaya, sekarang kembali membicarakan penerangan hati, dengan menyebut soal-soal Tauhid, keTuhanan, kebesaran dan kemuliaan Allah.Maka mulailah disebutkan ayat ini.”Demikian ar-Razi.[3]
Langit adalah yang diatas kita yang menaungi kita.Entah kenapa lapisannya, Tuhanlah yang tahu.Sedang yang dikatakan kepada kita hanya tujuh.Menakjubkan pada siang hari dengan berbagai warna awan-gemawan, mengharukan malam harinya dengan berbagai bintang-gemintang.
Bumi adalah tempat kita berdiam diri, penuh dengan aneka keganjilan, yang kian diselidiki kian mengandung rahasia ilmu yang belum terurai.langit dan bumi dijadikan oleh Khalik, dengan tersusun, terjangkau, dengan sangat tertib.Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat tanpa hidup semua, bergerak menurut aturan.Silih berganti perjalanan malam dengan siang, betapa besar pengaruhnya atas hidup kita ini ddan hidup segala yang bernyawa.
Kadang-kadang musim dingin, musim panas, musim gugur dan musim semi.Demikian pula teraturnya hujan, dan panas.Semua ini menjadi ayat-ayat, tanda-tanda bagi orang yang berfikir, bahwa tidaklah semua ini terjadi dengan sendirinya.Sempurna buatannya tandanya menjadikannya indah.Mulia belaka, tanda yang melindunginya mulia adanya.
Orang melihatnya dan mempergunakan pikiran meninjaunya, masing-masing menurut bakat pikirannya.Engah dia seorang ahli ilmu alam, atau ahli ilmu bintang (astronomi), atau ahli ilmu tumbuh-tumbuhan, atau ahli ilmu pertambangan, ataupundia seorang philosof ataupun penyair dan seniman. Semuanya akan dipesona oleh susunan tabir alam yang luar biasa itu.
Mengapa kita berkesimpulan sampai demikian, karena kita manusia, kita berpikir.Ulul al albab mempunyai intisari, mempunyai pikiran,. Mempunyai biji akal yang bisa ditanam akan tumbuh.
Orang yang berpikir itu: “(yaitu) orang-orang yang mengingati Allah sewaktu berdiri, duduk atau berbaring”. (pangkal ayat 191).
Artinya orang yang tidak pernah lepas akan Allah dari ingatannya. Disini disebut Yadzkuruuna, yang berarti ingat.Berpokok dari kalimat zikir (ingat).Dan disebutkan pula, bahwasannya zikir itu hendaklah bertali (hubuungan) dantara sebutan dengan ingatan. Kita sebut nama Allah  dengan mulut karena Dia telah terlebih dahulu teringat dalam hati. Maka teringatlah Dia sewaktu berdiri, dudduk termenung, atau tidur berbaring.Sesudah penglihatan atas kejadian langit dan bumu, atau pergantian siang dan malam, langsungkan ingatan kepada yang menciptakannya, karena jelaslah dengan sebab ilmu pengetahuan bahwa semuanya itu tidaklah ada yang terjadi dengan sia-sia atau secara kebetulan.Ingat atau zikir kepada Allah itu, sekali lagi bertali dengan demikian. Maka datanglah sambungan ayat: “Dan mereka pikirkan hal kejadian langit dan bumi.” Disini bertemulah dua hal yang tidak terpisahkan yaitu zikir dan fi’.Dipikirkan semua yang terjadi itu, maka karena dipikirkan timbulah ingatan sebagai kesimpulan dari berpikir, yaitu bahwa semua itu tidaklaherjadi sendiri, melainkan ada Tuhan yang Maha Pencipta, itulah Allah.Oleh karena memikirkan yang nyata, teringatlah kepada yang lebih nyata. Semata dipikirkan saja kejadian alam ini, yang akan bertemu hanyalah ilmu pengetahuan yang gersang dan tandus. Ilmu pengetahuan yang membawa kepada iman, adalah pengetahuan yang buntu.Dia mesti menimbulkan ingatan.Terutama ingatan atas kelemahan dan kekecilan diri ini di hadapan kebesaran Maha Penciptanya.[4]

b.      Tafsir ayat ke 2
ttûïÏ%©!$#tbrãä.õtƒ©!$#$VJ»uŠÏ%#YŠqãèè%ur4n?tãuröNÎgÎ/qãZã_
Ulul Albab adalah orang-orang yang menggunakan pikirannya, mengambil faedah dari-Nya, mengambil hidayah dari-Nya , menggambarkan keagungan Allah, dan mau mengingat hikmah akal dan keutamannya, disamping keagungan dan karunia-Nya dalam segala sikap dan perbuatan mereka, sehingga mereka bisa berdiri, duduk, berjalan, berbaring dan sebagainya.
Kesimpulannya, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak melalaikan Allah swt.Dalam sebagian besar waktunya.Mereka merasa tenang dengan mengingat Allah, dan tenggelam dalam kesibukan mengoreksi diri secara sadar bahwa Allah selalu mengawasi mereka.Dan hanya melakukan zikir kepada Allah, hal itu masih belum cukup untuk menjamin hadirnya hidayah.Tetapi harus pua dibarengi dengan memikrkan keindahan ciptaan dan rahasia-rahasia ciptaan-Nya.
Mereka mau memikirkan tentang kejadian langit dan bumi beserta rahasia-rahasia dan manfaat-manfaat yang terkandung didalamnya yang menunjukan ilmu yang sempurna, hikmah yang tinggi, dan kemampuan yang utuh.
Kesimpulannya, bahwakeberuntungan dan keselamatan hanya bisa dicapai melalui mengingat Allah dan memikirkan makhluk-makhluk-Nya dari segi yang menunjukkan adanya Sang pencipta yang Esa, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Al-Ashbahani dalam hal in telah meriwayatkan sebuah hadis dari abdu ‘I-lah bin Salam, bahwa Rasulullah saw, pernah pergi keluar bersama para sahabatnya, sedangkan waktu itu mereka sedang bertafakkur. Kemudian Rasulullah saw bersabda:
تَفَكّرُوْا فِى الْخَلْقِ وَلاَ تَتَفَكّرُوْا فِى ا لخَا لِقِ
“Pikirkanlah oleh kalian tentang makhluk , dan jangan sekali-kali kalian memikirkan Allah swt”.[5]
"Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”. Ucapan ini adalah lanjutan perasaan sebuah zikir dan pikir , yaitu tawakal dan ridha , menyerah dan mengakui kelemahan diri. Sebab itu bertambah tinggi ilmu seseorang .seyogyanya bertambah ingatlah dia kepada Allah. Sebagai tanda pengakuan atas kelemahan diri itu, dihadapan kebesaran Tuhan, timbulah bakti dan ibadat kepada-Nya.“Maha suci Engkau!Maka peliharlah kiranya kami dari azab neraka.” (ujung ayat 191).[6]
Sifat-sifat Ulul Albab yaitu: Mereka baik lelaki maupun perempuan yang mengingat Allah swt, dalam seluruh situasi dan kondisinya: berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Mereka memikirkn tentang penciptaan dan sistem kerja langit dan  bumi, dan setelah itu berkesimpulan bahwa: Tuhan tidak menciptakan alam raya dan segala isinya dengan sia-sia atau tanpa tujuan yang baik. Mereka juga menyucikan Allah swt, dari segala kekurangan dan keburukan yang mereka dengar atau terlintas sesekali dalam benak mereka.Disamping itu ereka selalu bermohon kiranya dilindungi dari azab neraka.[7]
1.      Aplikasi Tafsir dalam Kehidupan
Pada kisah Nabi Ibrahim, misalnya bagaimana mungkin Beliau tega untuk membawa dan kemudian meninggalkan istrinya Siti Hajar r.a yang baru melahirkan Ismaila as, dan Ismail as, itu sendiri masih seorang bayi merah, ditengah padang pasir Mekkah yang tandus , tanpa bekal dan tanpa air, selama sebelas tahun lamanya. Sementara Nabi Ibrahim  setelah itu justru pulang ke istrinya yang lain, Siti Sarah r.a, dan baru kembali menyusul mereka sebelas tahun kemudian. Tinakan Beliau seakan-akan sangan  tidak berperikemanusiaan dan jelas melanggar HAM. Walaupun pada akhirnya dalam kehausan yang amat sangat, Ismail kecil menendang-nendang pasir dan muncullah dari sana sumber airzamzam . Siti Hajar  yang berlari berbolak-balik kesana- kemari mencari air antara buit Shafa dan Marwa, hingga sekarang diabadikan dalam salah satu ritual ibadah Haji. Baru bertahun-tahun kemudian  Ibrahim a.s datang kembali ke tempat itu, untuk membangun Ka’bah bersama Ismail dan Hajar. Berabad-abad kemudian, tempat itu menjadi sebuah  kota Mekkah.
Berdasarkan keterangan diatas, jika kita manusia yang sudah memiliki akal, tapi masih bingung dengan takdir  kita yang mungkin tidak menyenangkan, dengan musibah, dengan makna hidup, dengan perilaku para nabi yang tidak sesuai dengan kehendak kita, bingung debgab kehidupan, bingung kenapa harus ada bencana atau tidak mampu memahami ayat-ayat mutasyabihaat dalam Al-Qur’an artinya kita memang berakal, tetapi belum termasuk kedalam golongan yang Ulul Albab.[8]
2.      Nilai Tarbawi
a.       Perlunya mempelajari dan merenungi ciptaan Allah swt, dan fenomena alam. Bukan hanya untuk mengetahui rahasi-rahasianya, tetapi juga dapat mengantar kepada kesadaran tentang keesaan Allah swt, dan tujuan hidup yakni mengabdi kepadan-Nya.
b.      Berfikir saja tidak cukup, tetapin harus disertai dengan zikir, yakni mengingat Allah swt, dengan mengaitkan segala sesuatu kepada-Nya. Itu dapat dilakukan dengan segala cara dan dalam semua situasi.
c.       Objek pikir yang merupakan kerja akal adalah alam raya dengan segala fenomenanya. Sedang objek zikir yang merupakan kerja hati adalah Allah swt.
d.      Berdoa menghindar dari mereka saja tidak akan cukup, kecuali jika diikuti oleh usaha berbuat baik disertai kesadaran bahwa betapapun kebaikan telah dilakukan. Namun kekurangan dan kesalahan masih tetap saja tidak dapat dihindari.
e.       Malu dihina dan dipermalukan adalah sifat Ulul Albab. Ini berarti budaya malu adalah sifat yang sangat terpuji.[9]
















BAB III
PENUTUP
Ulul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit” yaitu kabut ide, yang dapat mnyebabkan keracunan dalam berpikir. Yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan Allah swt.
Dalam uraian diatas dapat kita lihat bahwa sebelum melakukan aktivitas berpikir,  seseorang akan dikatakan sebagai Ulul  Albab jika ia telah mampu melaksanakan  kegiatan dzikir dalam artian  selalu mengingat Allah dalam segala kondisi. Kita telah mengetahui dengan jelas bahwa  manusia adalah  makhluk paling sempurna karena dikaruniaioleh Allah berupa akal pikiran, punya nalar untuk menentukan  mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi jika kata Ulul Albab dipahmi hanya sebagai orang-orang yanag berpikir seperti ayat diatas  sangatlah tidak tepat, karena tidak semua orang dari kita yang berakal ini  mampu mengambil pelajaran dari kisah para Nabi.













DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, Abdul Malik Karim.1983.Tafsir Al-Azhar. Jakarta:Pustaka Panjimas.
Musthafa, Ahmad. 1986.Tafsir Al-Maraghi IV. Semarang: Toha Putra.
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab (Makna, Tujuan dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur’an). Tanggerang: Lentera Hati.


















BIOGRAFI PENULIS
IMG_20160326_090140.jpg














Nama                                       : Lilis Cahyaningsih
NIM                                        : 2021114191
Tempat, Tanggal dan Lahir     : Pemalang, 23 November 1996
Alamat                                                : Jl Kh Samanhudhi Ds. Pelutan Kec. Pemalang Kab
                                                  Pemalang
Riwayat pendidikan                : TK Aisyah Kebondalem
SD Negeri 06 Kebondalem
                                                SMP Islam Pelutan
                                                MAN 1 Pemalang
STAIN PEKALONGAN




[1]Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an), (Tanggerang: Lentera Hati, 2005), hlm. 307.
[2]Ahmad Musthofa Al Maraghi IV, Terjemahan tafsir al maraghi, (Semarang: Toha Putra, 1986), cet. I, hlm 289
[3]Abdul Malik Karim Amrullah, Tafsir al-Azhar juz IV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm 248-249
[4]Ibid, hlm 249-251
[5]Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Op. Cit., 291-292
[6]Abdul Malik Karim Amrullah, Op. Cit., 251
[7]M. Quraish Shihab, Al Lubab (Makna, Tujuan dan Pelajaran dari surah-surah Al Qur’an), (Tanggerang: Lentera Hati, 2012), Cet. I, hlm. 157
[8]www.daruulilalbab.com, arti-ulil-albab-pengertian-makna-dan.html, 2013
[9]M Quraish Shihab, Al Lubab (Makna Tujuan dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur’an), (Tanggerang:Lentera Hati,2012), hlm.158.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar