Laman

Jumat, 01 Juli 2016

TT1 L 01 KEDUDUKAN ILMU DAN AHLI ILMU 2


KEDUDUKAN ILMU
TAFSIR QS AL-MUJADALAH AYAT 11

Oleh:
Wildan Aisa Arif
2021213029

Reguler Sore Kelas L

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
STAIN PEKALONGAN 2016



PENGANTAR
            Puji syukur atas kehadurat Allah S.W.T atas rahmat dan petunjukNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas tafsir tarbawi ini mengenai tafsir QS . Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyajian tugas ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca demi kesempurnaan tugas ini.
            Semoga makalah ini berguna dan dapat menambah pengetahuan pembaca. Demikian tugas ini penulis susun, apabila ada kesalahan dalam penulisan kata atau ada kata yang kurang berkenan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.



BAB I
PENDAHULUAN
Bagi umat islam, ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan keyakinan terhadap al-Quran yang diwayuhkan serta pemahaman mengenai kehidupan dan alam semesta yang diciptakan. Di dalam keduanya terdapat ketentuan-ketentuan Allah yang bersifat absolut, dimana yang satu dinamakan kebenaran Qur’ani (ayat Qur’aniyah). Dan ysng lsinya disebut kebenaran kauni (ayat Kauniyyah). Kebenaran tersebut hanya dapat didekati oleh manusia melalui proses pendidikan  dengan berbagai pendekatan dan dilakukan secara continue.
Al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, paling tidak mengemban fungsi utama, yaitu sebagai hudan, (petunjuk), bayyinah (penjelas) dan furqan (pembeda). Ketiga fungsi ini sangat relevan dan mampu menjawab berbagai macam permasalahan sejak al-Quran diturunkan sampai masa kini, bahkan mampu memberikan keyakinan bagi setiap orang yang bertanya kepadanya, hal ini tergambar dengan ayat pertama dengan perintah “iqra”(bacalah). Kata “iqra” ini mengandung berbagai ragam arti, antara lain, menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya, yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.
Di samping itu Al-Quran juga membawa setidak-tidaknya tiga wawasan yang perlu dikaji dan di alami. Ketiga wawasan tersebut adalah wawasan kesejahteraan (al-wa’y al-qashqash),wawasan keilmuan (al-awa’y al-ilmi) dan wawasan kesejahteraan (al-wa’y al falah).
Mebahas hubungan antara al-Quran dan ilmu pengetahuan bukan melihat, adakah teori relavitas atau bahasan tentang luar angkasa, misalnya; atau ilmu komputer tercantum dalam al-Quran akan tetapi yang lebih penting adakah satu ayat al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Quran yang bertentangan dengan hasil kemajuan ilmiah yang telah teruji kebenarannya? Dengan kata lain, meletakkannya pada sisi “social pdychoogy” (psikologi soial) bukan pada sisi “history of scientific progress” (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan).
Pandangan AL-Quran tentang ilmu teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad SAW. wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena al-Quran menghendaki apa saja yang dibaca umatnya untuk membaca apa saja selama bacaan itu didasarkan pada bismi Rabbik, yakni bermanfaat bagi kesejahteraan dan kehidupan manusia. Hal ini mengandung pengertian bahwa objek perintahiqra mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia.
Dari wahyu pertama tersebut diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yag telah diketahui oleh manusia sebelumnya., dan mengajar tanpa pena yang belum diketahui caranya. Artinya bahwa cara pertama, adalah belajar menggunakan media atau alat bantu atas dasar usaha manusia. Cara kedua, mengandung arti bahwa mengajar tanpa menggunakan media alat bantu atas dasar usaha manusia. Cara kedua, mengandung arti bahwa mengajar tanpa menggunakan alat dan usaha manusia. Walaupun demikian, keduanya berasal dari sumber utama, yaitu Allah SWT.
Eksistensi manusia baik posisinya sebagai makhluk sosial maupun individual tidak akan terlepas dari kebutuhannya akan ilmu pengetahuan. Bahkan tinggi rendahnya kedudukan manusia di muka bumi ini, salah satunya ditentukan oleh ilmu Bahkan tinggi rendahnya kedudukan manusia di muka bumi ini, salah satunya ditentukan oleh ilmu yang dimilikinya, disamping faktor lainya seperti nilai ketakwaan. Disamping itu juga, ilmu pengetahuan dapat menentukan kualitas keimanan seseorang, sekalipun manusia dilahirkan tidak mengetahui apa-apa (la ta’lamuna syaia). Namun demikian, dalam perkembangan berikutnya, manusia sebagai anak cucu Adam, mengetahui pengetahuan dengan berbagai cara dan pendekatan dengan mendayagunakan berbagai potensi yang dimilikinya baik fisik maupun fsikis





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Ayat dan Arti
 
Artinya :
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [1]
B.     Asbabun Nuzul
            Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, ia mengatakan; Dahulu ketika para sahabat melihat ada orang dating, maka mereka menyempitkan duduknya di sisi Rasulullah saw. Dan tidak memberi tempat kepada orang itu. Maka turunlah ayat, “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis.”
            Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bahwasanya ayat ini turun pada hari Jum’at. Pada saat itu orang-orang yang berperang di Badar berdatangan, sementara tempatnya sempit. Adapun orang-orang yang sudah disitu tidak melapangkan tempat sehingga mereka berdiri di ata kaki mereka. Rasulullah saw. Lalu mengajak berdiri beberapa orang dan mendudukkan mereka ke tempatnya. Orang-orang itu merasa enggan dengan hal itu, sehingga turunlah ayat tersebut.[2]
C.     Tafsir
1.      Tafsir Syaikh Imam Al Qurthubi
 Mengenai ayat diatas dibahas tujuh masalah:
Pertama: Firman allah SWT
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis"
      Setelah Allah SWT menjelaskan bahwa kaum Yahudi mengucapkan salam tidak seperti yang telah ditentukan oleh Allah SWT kepada Rasulullah, dan pelecehan mereka terhadap beliau, kemudian Allah SWT menyambungnya dengan perintah untuk memperbagus adab dalam majlis beliau, sehingga tidak membuat majlis beliau sempit, dan juga afar kaum muslimin bersimpati dan bertenggang rasa terhadap sesamanya, agar mereka dapat memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh beliau kepada mereka.[3]
Kedua: As-Sulami, Zirr bin Juyasy dan Ashim membacanya
”dalam majlis.”
     Sementara Qatadah, Daud bin Abu Hind dan Hasan mempunyai Qira’ah yang berbeda, yaitu إِذَاقِيْلَ لَكُمْ تَفَاسَحُوْا yakni dengan memanjangkan huruf fa’.
     Sedangkan yang lain membacanya تَفَسَّحُوْافِى الْمَجْلِسِ yakni kata majlis yang berbentuk mufrad (tunggal), dan barangsiapa yang membacanya dengan bentuk jama’ karena berdasarkan firman Allah SWT

     Mengisyaratkan bahwa setiap orang memiliki majlis, seperti itu juga apabila yang dimaksudkan adalah peperangan, dan juga seandainya yang dimaksudkan adalah majlis Nabi SAW.
     Menurut Al Qurthubi, “yakni benar dalam ayat tersebut adalah, majlis disini bermakna umum, yakni majlis yang kaum muslimin berkumpul didalamnya untuk meraih kebaikan dan pahala, baik itu majlis peperangan, dzikir, ataupun majlis pada hari jumat, dan setiap orang yang terlebih dahulu sampai kepada majlis tersebut, maka ia berhak untuk mendapatkannya.[4]
     Ketiga: Jika ada seseorang yang sedang duduk dalam salah satu sisi masjid, maka yang lain tidak boleh membangunkannya, kemudian ia menempati tempat orang tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Zubair, dari Jabir dari Nabi SAW, beliau bersabda “Janganlah salah seorang dari kalian membangunkan saudaranya (dari tempat duduknya) pada hari Jumat kemudian ia menggantikan tempat duduknya, tetapi hendaklah ia bekata:berikanlah keluasan!”
     Keempat: Seandainya seseorang memerintahkan orang lain agar pergi kemasjid terlebih dahulu supaya ia boking tempat untuknya (yang memerintahkan) duduk, maka hal itu diperbolehkan, sebagaimana yang diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Sirin mengutus pelayannya ke majlisnya pada hari Jum’at, kemudian ia dating menggantikan tempat pelayannya, dan ketika Ibnu Sirin tiba, pelayannya berdiri untuk memberikan tempat kepadanya.
     Kelima: Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda,
اِذَاقَامَ أَحَدُكُمْ-وَفِي حَدِيْثِ أَبِي عَوَانَةٍ مَنْ قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ-ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَهُوَأَحَقُّ بِهِ
Jika salah seorang dari kalian berdiri dari tempat duduknya – dalam hadits Abu Uwanah dengan redaksi barangsiapa berdiri dari tempat duduknya – kemudian kembali lagi kepada tempat duduknya, maka ia lebih berhak atas tempatnya.”[5]
     Keenam: Firman Allah SWT, يَفْسَحُ اللَّهُ لَكُمْ Allah akan memberi kelapangan untukmu”. Yakni di dalam kuburmu. Ada yang mengatakan di dalam hatimu. Ada yang mengatakan pula, maksudnya llah SWT melapangkan untukmu di dunia dan di akhirat.
     Ketujuh: Firman Allah SWT,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang beiman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Yakni dalam pahala di akhirat serta kemuliaan di dunia, maka Allah SWT meninggikan derajat orang mukmin daripada selainnya, dan meninggikan derajat orang alim daripada yang bodoh.[6]
2.      Tafsir M. Quraish Shihab
      Ayat diatas memberi tuntunan bagaimana menjalin hubungan harmonis dalam satu majlis. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu oleh siapapun: “Berlapang-lapanglah yakni berupayalah dengan sungguh-sungguh walau dengan memaksakan diri untuk memberi tempat orang lain dalam majlis-majlis yakni satu tempat, baik tempat duduk maupun bukan untuk duduk, apabila di minta kepada kamu agar melakukan itu maka lapangkanlah temnpat itu untuk orang lain itu dengan suka rela. Jika kamu melakukan hal tersebut, niscaya Allah akan melapangkan segala sesuatu buat kamu dalam hidup ini. Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu ke tempat yang lain, atau untuk diduduk ditempatmu buat orang yang lebih wajar, atau bangkitlah untuk melakukan sesuatu seperti untuk shakat dan berjihad, maka berdiri dan bangkitlah, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu wahai yang memperkenankan tuntunan ini dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat kemuliaan di dunia dan di akhirat dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan sekarang dan masa dating Maha Mengetahui.[7]
      Kata (تفسّحوا) tafassahu dan (افسحوا) ifsahu terambil dari kata (فسح) fasaha yakni lapang. Sedang kata (انشزوا) unsyuzu terambil dari kata (نشوز) nusyuz yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ketempat yang tinggi. Yang dimaksud di sini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu, atau bangkit melakukan satu aktivitas positif. Ada juga yang memahaminya berdirilah dari rumah Nabi SAW, jangan berlama-lama di sana, Karena boleh jadi ada kepentingan Nabi SAW yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.
      Kata (مجالس) majalis adalah bentuk jamak dari kata (مجلس) majlis. Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad SAW memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi yang dimaksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri atau bahkan tempat berbaring. Karena tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah tempat berbaring. Karena tujuan perintah atau tuntunan ayat adalah memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau lemah. Seorang tua non muslim sekalipun, jika Anda -wahai yang muda- duduk di bus, atau kereta, sedang dia tidak mendapat tempat duduk, maka adalah wajar dan beradab jika Anda berdiri untuk memberinya tempat duduk.
      Ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yakni yang lebih tinggi dari yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu, sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperanan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnyaa, bukan akibat dari factor di luar ilmu itu.
      Tentu saja yang dimaksud dengan (الذّين أوتواالعلم) alladzim ulu al-ilm yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh, dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain baik secara lisan, atau tulisan maupun dengan keteladanan. Ilmu yang dimaksud bukan saja ilmu agama tetapi ilmu apapun yang bermanfaat.[8]

3.      Tafsir Ibnu Katsir
      Allah Ta’ala berfirman guna mendidik hamba-hambaNya yang beriman dan memerintahkan kepada mereka agar satu sama lain saling bersikap baik di majelis, “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” Karena siapa yang menanam maka dia akan memanen. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits sahih,
مَنْ بَنَى اللّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Barang siapa yang membangun sebuah masjid untuk Allah maka llah akan membangun untuknya sebuah rumah di dalam surge.”
      Banyak sekail pemberian pahala dengan yang seperti ini. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” Qatadah mengatakan, “Ayat ini turun berkenaan dengan majelis-majelis dzikir. Yaitu, bahwa apabila mereka melihat salah seorang dating menuju tempat mereka, mereka mempersempit tempat duduk di samping Rasulullah saw., kemudian Allah memerintahkan kepada mereka untuk melapangkan tempat duduk satu sama lain.” Dan Muqatil mengatakan, “Telah sampai berita kepada kami bahwa Rasulullah saw. Bersabda,
رَحِمَ اللّهُ رَجٌلاً يَفْسَحُ لأَ خِيْهِ
“Allah akan menyayangi seseorang yang melapangkan tempat duduk untuk saudaranya.”
      Imam Ahmad dan Syafi’I telah meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa rasulullah saw. Bersabda,
لاَيُقِمِ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ فَيَجْلِسُ فِيْهِ وَلَكَنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْ
      “Tidak boleh seorang pun menyuruh berdiri orang lain dari tempat duduknya, kemudian dia duduk pada bekasnya, akan tetapi lapangkan dan luaskanlah.” (Hadis ini diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim.)[9]



BAB III
PENUTUP
            Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Q.S.Al-Mujadalah ayat 11 ini memberikan gambaran tentang perintah bagi setiap manusia untuk menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan dan adab sopan santun terhadap Rasulullah Saw. Al-Mujadalah merupakan salah satu surat dalam al-qur’an dengan jumlah 22 ayat. Surat ini turun di Madinah. Yang diturunkan sesudah surat Al-Munaafiqun.[21]Termaksud golongan surat madaniyah yang diturunkan sesudah surat al-Munafiqun.













DAFTAR PUSTAKA
Al Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. 2000. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press.
As-Suyuti, Imam. 2014. Asbabun An-Nuzul. Jakarta: Al-Kautsar.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an/M. Quraish Shihab. Jakarta: Lentera Hati.



PROFIL



Nama               : Wildan Aisa Arif
Alamat                        : sugihwaras pemalang
Tanggal Lahir  :pemalang 05 juni 1993
Pendidikan
SD                   : Sd tanjungsari 02 Pemalang
SMP                : smp 02 negeri pemalang
SMA               : MAN 01 Pemalang
Kuliah             : STAIN Pekalongan
Motto Hidup   :  semangat dalam menuntut ilmu


[1] Al-Qur’an Digital, QS.Al-Mujadallah ayat 11.
[2]Imam As-Suyuti, “Asbabun An-Nuzul”, (Jakarta: Al-Kautsar, 2014), hal.525
[3]Syaikh Imam Al Qurthubi, “Tafsir Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi”, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), hal. 173
[4] Ibid, hal. 174-175
[5] Ibid, hal. 176-177
[6] Ibid, hal. 178-179
[7]M. Quraish Shihab, “TAFSIR AL-MISHBAH”, (Jakarta: Lentera Hati, 2006) hal. 77-78
[8] Ibid, hal. 179-180
[9] Muhammad Nasib ar-Rifa’I, “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir / Muhammad Nasib ar-Rifa’I”, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 628-629

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar