Laman

Jumat, 23 September 2016

TT1 A 4c Kewajiban Belajar “Spesifik” Doa Tambahkan Ilmu (Q.S Thaaha {20}: 114)


Kewajiban Belajar “Spesifik”
Doa Tambahkan Ilmu (Q.S Thaaha {20}: 114)
Nurul Hikmah(2021115060)
Kelas: A (PAI)

JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016





KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi I dengan tema Do’a Tambahkan Ilmu dalam(QS. At-Thaha ayat 114) ini, dengan bimbingan dari Bapak M. Ghufron Dimyati, M.S.I selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Tafsir Tarbawi I. Dengan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1.      Ayah Ibunda tercinta atas doa dan dukungannya sejauh ini.
2.      kepada Bapak M. Ghufron Dimyati, M.S.I    atas bimbingannya dalam pembuatan makalah ini.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca.Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan.Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca, agar kami dapat memperbaiki kekurangan yang ada.




Pekalongan, 24 September 2016



Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Doa adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT.   Sebagai seorang mukmin, berdoa merupakan hal yang harus melekat dalam kehidupannya. Yang mana ketika seseorang berdoa dia merasa dekat dengan Allah, dan melalui doaseseorang dapat mengadukan segala keluh kesah, memohon kebaikan dalam segala hal dan sebagainya. Bukanlah seorang mukmin yang baik apabila ia enggan untuk berdoa kepada Allah, maka ia termasuk orang yang sombong, sehingga ia menganggap tidak perlu untuk berdoa kepada Allah.
Adapun ilmu, bahwa sebagai seorang muslim diwajibkan atas kita untuk menuntut ilmu tanpa batas usia. Baik itu ilmu agama maupun ilmu umum.Meskipun ilmu agama adalah hal yang paling penting tetapi kita juga memerlukan ilmu umum dalam kehidupan di dunia, untuk selanjutnya ilmu agama sebagai bekal di akhirat kelak.
Untuk itu kita harus senantiasa menuntut ilmu sebanyak-banyaknya tanpa mengenal lelah dengan disertai doa kepada sang Maha Kuasa, Allah SWT. agar senantiasa ditambahkan ilmu yang bermanfaat oleh-Nya.
B.     Doa Tambahkan Ilmu (QS. Thaaha{20}: 114)
n?»yètGsùª!$#à7Î=yJø9$#,ysø9$#3Ÿwurö@yf÷ès?Èb#uäöà)ø9$$Î/`ÏBÈ@ö6s%br&#Ó|Óø)ペøs9Î)¼çmãômur(@è%urÉb>§ÎT÷ŠÎ$VJù=ÏãÇÊÊÍÈ
Artinya: “Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
            Arti kata “Doa” banyak terkandung dalam al-Qur’an dan mengandung arti yang bermacam-macam, misalnya ada yang berarti: 1). Ibadah, penyembahan atau pengabdian yang berarti istighasah (minta tolong), 2). Ada yang berarti an-nidaa (panggilan atau seruan), dan lainnya. Sedangkan menurut istilah pengertian “Doa” yaitu: memohon kepada Allah SWT, suatu permintaan yang dirumuskan dalam serangkaian kalimat yang diucapkan seorang hamba dengan penuh harap dan akan mendapatkan kebaikan dari sisinya dan dengan merendahkan diri kepada-Nya untuk memperoleh apa yang diinginkan.[1]
     Adapun Ilmu, secara harfiah “ilmu” dapat diartikan kepada tahu atau
mengetahui. Secara istilah ilmu berarti memahami hakikat sesuatu atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu.Dalam pandangan al-Qur’an ilmu dapat membentuk sikap atau sifat-sifat manusia. Atau dengan kata lain, sikap atau karakter seseorang merupakan gambaran pengetahuan yang dimilikinya. Maka perbedaan sikap dan pola pikir antara seseorang dengan lainnya dilatarbelakangi oleh perbedaan pengetahuan mereka.Bahkan ilmu pengetahuan tidak hanya membentuk pola pikir, sifat dan karakter seseorang tetapi juga dapat membentuk perilaku.[2]
           Adapun arti penting dari Doa meminta tambahan ilmu ini, bahwa Doa merupakan hal yang penting dalam kehidupan setiap muslim. Karena melalui doa lah mereka merasa Allah ada didekatnya. Lewat doa kita bisa meminta segala hal, dari mulai meminta panjang umur, perlindungan, keselamatan dunia akhirat, ditambahkan ilmu yang bermanfaat, dan sebagainya. Yang mana Allah sendiri telah menjanjikan bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. namun lepas dari itu, jika doa yang kita panjatkan belum juga dikabulkan oleh Allah kita tetap harus optimis bahwa Allah mendengar doa kita dan Allah telah merencanakan hal yang lebih baik dari yang kita kira.
           Sebagai seorang yang masih dalam tahap belajar, hendaknya kita terus berjuang dalam menuntut ilmu dan disertai dengan berdoa kepada Allah, agar senantiasa diberi tambahan ilmu yang bermanfaat.
B.     Tafsir
1.      Tafsir Al Azhar
     “Maka Maha Tinggilah Allah, Raja yang Benar”. (pangkal ayat 114). Setelah merenungkan nikmat dan Rahmat Ilahi yang tiada terhitung banyaknya. Insaflah kita akan kelemahan kita sebagai insan dan sebagai makhluk, maka sampailah kita kepada pengakuan memang Maha Tinggilah Allah itu.
     Raja yang Benar itulah Allah, dan dari Dia turunlah al-Qur’an.Oleh karena hati Nabi Muhammad Saw.bertambah sehari, bertambah pula merasa tidak dapat terpisahkan lagi dari al-Qur’an itu. Sampailah selalu ia ingin segera datang wahyu. Sedih hatinya jika Jibril terlambat datang.Dan jika Jibril datang dan telah membacakan satu ayat, segera disambutnya dan diulangnya, walaupun kadang-kadang belum selesai turun. Maka datanglah teguran Allah: “Dan janganlah engkau tergesa-gesa dengan al-Qur’an itu sebelum selesai kepada engkau wahyunya.”
     Adapun dalam (ujung ayat 114),  “Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahlah bagiku ilmu.”Do’a Nabi ini penting sekali artinya, yaitu bahwasanya disamping wahyu yang dibawa oleh Jibril itu, Nabi Saw.pun disuruh selalu berdoa kepada Tuhan agar untuknya selalu diberi tambahan ilmu. Yaitu ilmu-ilmu yang timbul dari pengalaman, karena pergaulan dengan manusia, dari karena memegang pemerintahan, dan dari karena memimpin peperangan. Sehingga disamping wahyu datang juga petunjuk yang lain, seumpama mimpi atau ilham. Berkata Ibnu Uyainah: “Selalu bertambah ilmu beliau Nabi Saw, sampai datang ajal beliau. ”
     Memohon tambahan pengetahuan merupakan teladan Nabi yang seyogianya dituruti oleh tiap-tiap umat Muhammad yang beriman.Karena ilmu Allah Ta’ala itu amat banyak dan luas.Ilmu adalah pembawa manusia ke pintu iman.[3]
2.      Tafsir Ibnu Katsier
     Dalam ayat 114 ini, Allah berfirman: “janganlah engkau tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, hai Muhammad.”
     Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw. jika menerima wahyu mengalami kesukaran, menggerakkan lidahnya untuk mengikuti Jibril membacakan ayat-ayat yang dibawanya, maka oleh Allah diberi petunjuk agarjangan tergesa-gesa  membacanya sebelum Jibril selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad Saw, menghafal dan memahami betul ayat yang diturunkan.
     Selanjutnya Allah berfirman, mengajari Muhammad, “Ucapkanlah, hai Muhammad, Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Maka diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw, selalu berdoa:
اَللّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَاعَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعْنِى وَزِدْنِى عِلْمًاوَالحَمْدُلِلّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.
     Artinya: “Ya Allah berilah aku manfaat dari apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah ilmu pengetahuan kepadaku, dan segala puji bagi-Mu atas segala hal.”[4]
3.      Tafsir Al-Mishbah
     Bahwa QS. Thaha ayat 114 ini menampik segala kekurangan dan prasangka buruk terhadap Allah Swt, dengan menyatakan bahwa jika demikian itu sebagian yang dilakukan Allah Swt, maka Maha Tinggi Allah, ketinggian yang tidak terjangkau oleh nalar dan tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Dialah Maharajayang Haq dan sebenar-benarnya “Yang tidak dapat disentuh kerajaan-Nya”. Selanjutnya, kehebatan tuntunan al-Qur’an dan perintah Allah untuk selalu mengikutinya boleh jadi menjadikan beliau tergesa-gesa dan ingin memperolehnya sebanyak mungkin, maka Allah melanjutkan dengan menyatakan: Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan untukmu pewahyuannya oleh Malaikat Jibril yang membawanya turun. Namun demikian engkau sangat wajar jika selalu mengharap lagi berusaha untuk memperoleh pengetahuan, karena itu Allah memerintahkan beliau berusaha dan berdoa dengan firman-Nya: Dan katakanlah: “Tuhan Pemelihari dan Pembimbing-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu baik melalui wahyu-wahyu-Mu yang disampaikan oleh malaikat maupun melalui apa yang terbentang dari ciptaan-Mu di alam raya.
     Dan juga ayat 114 ini merupakan tuntunan kepada Nabi Muhammad Saw.untuk tidak membacakan, yakni menjelaskan makna pesan-pesan al-Qur’an kepada sahabat-sahabat beliau setelah jelas buat beliau maknanya, baik setelah merenungkannya sungguh-sungguh maupun sebelum datangnya Malaikat Jibril as. Mengajarkan beliau tentang maknanya.Pendapat ini sangat sejalan dengan lanjutan ayat tersebut yang memerintahkan beliau berdoa agar ditambah ilmunya.Jika makna ini diterima, maka hal tersebut menjadi peringatan buat semua orang yang melibatkan diri dalam penafsiran al-Qur’an agar berhati-hati dalam menafsirkannya.[5]
C.    Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
           Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap mukmin tanpa batas usia, untuk itu kita harus tetap semangat dalam menuntut ilmu sampai akhir hayat kita. Dan sebagai seorang mukmin hendaknya kita tidak pernah meninggalkan berdoa, karena pada hakikatnya sebagai seorang hamba haruslah menghambakan diri kepada Sang Maha Kuasa, yaitu Allah SWT.sebagai wujud ketakwaan kita kepada-Nya. dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti mendengar segala doa-doa kita, adapun tentang dikabulkan tidaknya serahkan semuanya kepada Allah, karena hanya Allah yang berhak menentukan. Kita sebagai seorang hamba hendaknya selalu berpikir optimis. Karena Allah selalu bersama dengan prasangka hamba-Nya, jika seorang hamba berpikir baik tentang Allah maka hal itu yang akan diberikan Allah kepadanya.  Untuk itu dalam menuntut ilmu haruslah disertai dengan terus memanjatkan doa kepada Allah agar senantiasa ditambahkan ilmunya dan semoga ilmunya bisa bermanfaat.
D.    Aspek Tarbawi
1.      Doa merupakan wujud penghambaan diri seorang hamba terhadap Sang Pencipta.
2.      Allah menyertai hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya.
3.      Dengan berdoa berarti mematuhi perintah Allah Swt, yakni firman-Nya: “Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya aku mengabulkan doamu.”
4.      Doa merupakan wujud pengakuan, bahwa hanya Allah SWT yang Maha Berkuasa dan Berkehendak, sehingga hanya Dialah yang dapat mengabulkan dan mewujudkan segala keinginan kita.
5.      Dengan doa akan mendatangkan keselamatan.
6.      Memanjatkan doa kepada Allah merupakan pertanda beriman kepada-Nya, oleh sebab itu doa dikatakan sebagai tiang agama.







BAB III
PENUTUP

Simpulan
           Dalam QS. Thaaha ayat 114 ini disebutkan tentang doa Nabi Saw:“Ya Tuhanku, tambahlah bagiku ilmu.”Do’a Nabi ini penting sekali artinya, yaitu bahwasanya disamping wahyu yang dibawa oleh Jibril itu, Nabi Saw.pun disuruh selalu berdoa kepada Tuhan agar untuknya selalu diberi tambahan ilmu. Yaitu ilmu-ilmu yang timbul dari pengalaman, karena pergaulan dengan manusia, dari karena memegang pemerintahan, dan dari karena memimpin peperangan. Adapun kita sebagai umat beliau hendaknya mengamalkan apa yang diamalkan oleh beliau, yang mana hakikat kita sebagai seorang mukmin yang berkewajiban untuk menuntut ilmu dimana pun dan kapan pun tanpa batas usia, dengan itu kita harus semangat dan penuh keikhlasan dalam menuntut ilmu. Disamping itu kita juga harus selalu berdoa kepada Allah agar senantiasa meridhoi langkah kita dengan selalu memberi tambahan ilmu yang bermanfaat untuk kita.










DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, Musfirotun. 2015. Manusia dan Kebudayaan Perspektif Islam. Pekalongan: CV. Duta Media Utama.
M. Yusuf, Kadar. 2013. Tafsir Tarbawi. Jakarta: AMZAH.
Hamka. 2003. Tafsir Al-Azhar Juz XVI. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Bahreisy, Salim dan Said Bahreisy. 1990. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, Jilid V. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.



PROFIL

Nama                           : Nurul Hikmah
Tempat, Tanggal Lahir: Pekalongan, 12 Oktober 1997
Alamat                                    : Medono, Jalan Sunan Ampel No. 56 Kec. Pekalongan
                                        Barat.
Riwayat  Pendidikan    : -    RAM JENGGOT 03
-          MIS JENGGOT 04
-          MTs.S Jenggot (YAPENSA JENGGOT)
-          MA. KH SYAFI’I BUARAN
-          Konsentrasi SI Jurusan Tarbiyah PAI (IAIN Pekalongan)                                          



[1] Musfirotun Yusuf, Manusia dan Kebudayaan Perspektif Islam, (Pekalongan: CV. Duta Media Utama, 2015), hlm. 174-175.
[2]Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi, (Jakarta: AMZAH, 2013), hlm. 17-18.
[3]Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XVI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003), hlm. 225-228.
[4]Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, Jilid V, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990), hlm. 279-280.
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 376-378.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar