KESEMPURNAAN AKAL
Disusun oleh:
Ahmad
Sadad (
2021113250 )
Kelas B
PAI
JURUSAN
TARBIYAH
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR
Assalamualakum Wr.Wb
Alhamdulilahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala
puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat,
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga kami
dapat menyelsaikan makalah dengan judul “KESEMPURNAAN
AKAL DALAM Q.S AL-QOSHOSH”. Dalam penyusunannya, kami memperoleh bantuan
dari berbagai pihak, oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya. Dari sanalah kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa
memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan
keritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir
kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Waalaikumusalam Wr.Wb
Pekalongan, 31 Agustus 2016
Penyusun
BAB
I
PENDAHULAN
A.
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an
adalah pedoman hidup bagi umat manusia hingga hari kiamat datang, dan al-Qur’an
sendiri dijaga kemurniannya Oleh Allah SWT dan Alloh sendiri yang menjanjikan
itu, isi dalam Al-Qur’an banyak menjadikan kita tahu dan membuat kita paham atas dasar Al qur’an,
dalam Al-Qur’an terdapat berbagai macam salah satunya adalah sejarah.
Pada Q.S
Al-Qoshosh terdapat kisah tentang nabi Musa yang menjadikan puncak kesempurnaan
akal, dimana ada beberapa banyak penafsiran tentang ayat tersebut serta sampai
tahap-tahapan usia kesemprnaan akal.
B.
Materi Tafsir
Q.S
Al-Qoshosh Ayat 14:
وَلَمَّا بَلَغَ
أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي
الْمُحْسِنِينَ (١٤)-
Artinya:
“Dan setelah
Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian)
dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.”
C. Rumusan Masalah
1.
Apa isi Kandungan Q.S Al-Qoshosh
?
2.
Apa Sebab Turunnya Ayat tersebut
?
3.
Bagaimana penafsiran menurut para
Tokoh ?
4.
Bagaimana cara mengaplikasikan
dalam kehidupan ?
5.
Apa hubungannya dengan Pendidikan
?
BAB
II
SURAT
AL – QOSHOSH AYAT 14 TENTANG KESEMPURNAAN AKAL
A.
Materi
1. Ayat dan terjemahan Q.S Al-Qoshosh Ayat 14
Firman Allah SWT:
وَلَمَّا بَلَغَ
أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي
الْمُحْسِنِينَ (١٤)-
Artinya:
“Dan setelah Musa cukup umur dan
sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
2. Mufrodat ayat
a. وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ “Dan setelah Musa cukup umur”
b. وَاسْتَوَى “Dan sempurna akalnya”
c. آتَيْنَاهُ حُكْمًا “Kami berikan kepada-Nya hikmah”
d. وَعِلْمًا “Dan ilmu”
e. وَكَذَلِكَ “Dan demikianlah”
f. نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ “Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.”
3. Asbabul nuzul
Sebab-sebab
diturunkan ayat ini pada saat itu terdapat sebuah raja yang kuat dan zalim pada
saat itu. Dan pada saat itu juga Musa lahir
dalam golongan Bani Israil yaitu golongan yang hina oleh karena itu Musa
dihanyutkan oleh ibunya ke sungai nil, dan ketika itu ditemukan ia oleh istri
raja fira’un dan Musa dibawa ke istana . Disana Musa
dididik di bawah bimbingan dan penjagaan Allah SWT. Pendidikan Musa
dimulai di rumah Fir'aun di mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para
pengajar. secara sederhana Fir'aun rnampu mengumpulkan para pakar
pendidikan dan para cendekiawan. Demikianlah hikmah Allah SWT berkehendak agar
Musa terdidik di bawah pendidikan yang besar dan ditangani pakar-pakar
pendidikan yang terlatih. ironisnya,
hal ini terjadi di rumah musuhnya yang pada suatu hari nanti akan hancur di
tangannya, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah Allah SWT.
Musa tumbuh
di rumah Fir'aun. Beliau mempelajari ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia, dan
bahasa. Beliau tidur di bawah bimbingan agama. Oleh karena itu, Musa tidak
mendengar omongan kosong yang dikatakan oleh pendidik tentang ketuhanan
Fir'aun. Jarang sekali ia mendengar bahwa Fir'aun adalah tuhan. Beliau pun
menepis pernyataan dan anggapan ini. Beliau tinggal bersama Fir'aun di satu
rumah. Beliau mengetahui lebih daripada orang lain bahwa Fir'aun hanya sekedar manusia biasa tetapi ia orang yang alim. Musa
mengetahui bahwa ia bukanlah anak dari Fir'aun. Beliau adalah salah seorang
dari Bani Israil. Beliau menyaksikan bagaimana pengawal-pengawal Fir'aun dan
para pengikutnya menindas Bani Israil. Akhirnya, Musa tumbuh besar dan mencapai
kekuatannya.[1]
B.
Tafsir
Ada beberapa tafsiran tentang
Q.S Al-Qoshosh ayat 14, diantaranya:
1. Dalam Tafsir Ibn Katsir
Ketika Allah SWT menceritakan awal pertama peristiwa Musa A.S, dia pun
mengabarkan bahwa tatkala ia telah mencapai masa dewasa Allah memberikan hikmah
dan ilmu. Mujahid berkata “Yaitu kenabian”.[2]
“Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik”. Kemudian Allah menceritakan tentang sebab Musa mencapai ketinggian
derajatnya, dengan kenabian dan diajak bicara oleh-Nya, pada saat adanya upaya
dirinya membunuh seorang laki-laki Qibthi yang menjadi sebab keluarnya ia dari
Mesir menuju ke Madyan maka Allah berfirman: “Dan Musa masuk ke Kota ketika
penduduknya sedang lengah”.
2. Dalam Tafsir al-Azhar
“Dan setelah cukup umurnya dan dewasa, kami berikan kepadanya hukum dan
ilmu.” (awal ayat 14). Telah dapat dikira-kirakan bahwa kurang lebih 30 tahun
dia menjadi anak angkat Fir’aun. Dari kecil dibesarkan di istana. Tetapi sejak
itu pula ibunya sudah bisa membawa pulang dari istana. Keluarga Musa adalah
sebagai keluarga Bani Israil yaitu golongan yang tertindas dan dipandang hina.[3]
Lantaran itu, meskipun ia dianggap sebagai orang istana dia tidak terpisah
dari kaumnya. Dia selalu melihat perlakuan yang tidak adil yang dilakukan oleh
kekuasaan fir’aun. Sebab itu maka pengalaman-pengalaman yang pahit, yang
dilihat, yang didengar, menambah pengetahuannya tentang mana yang adil dan
dzalim. Bahwa kalau dia memegang hukum maka dia tidak akan memutuskan begitu
melainkan ia akan memutuskan dengan yang baik.
“Dan demikianlah kami mengajari orang-orang yang berbuat baik.” (akhir ayat
14). Pada akhir ayat ini dapat kita menggali suatu kenyataan bahwa disamping
apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT bahwa Musa kelak kemudian hari akan
dijadikan Nabi, dengan kehendak Tuhan yang telah ada orang-orang yang berbuat
baik, yang telah berhasil usahanya yang menjadi seorang mengerti ilmu dan
hukum.[4]
3.
Dalam Tafsir
al-Maraghi
Dalam ayat-ayat terdahulu Allah menceritakan bahwa dia telah melimpahkan
nikmat-Nya kepada Musa di waktu kecil, seperti menyelamatkannya dari kebiasaan
setelah diletakkan didalam peti dan dilemparkan ke sungai, serta menyelamatkan
dari penyembelihan yang melanda anak-anak Bani Israil. Dalam ayat-ayat ini
Allah menceritakan bahwa Dia melimpahkan nikmat kepadanya ketika dewasa,
seperti memberinya ilmu dan Hhikmah, kemudian mengutusnya sebagai Rasul dan
Nabi kepada Bani Israil dan Banbgsa Mesir. Selanjutnya Allah menceritakan bahwa
Musa membunuh seorang bangsa Mesir yang berkelahi dengan orang Yahudi dengan
tinju yang mengakibatkan kematiannya. Lalu Musa memohon ampun kepada Tuhan atas
perbuatannya tersebut dan bertekad untuk tidak menolong seorang yang sesat dan
berdosa. Tetapi, manakala melihat perkelahian lain antara orang Yahudi dengan
orang Qibthi yang lain, Musa terdorong untuk menolong kembali orang Yahudi
tersebut, sehingga orang Mesir itu berkata, “apakah kamu hendak mengadakan
perdamaian dimuka bumi, ataukah hendak menjadi orang berbuat sesuatu tanpa
memikirkan akibatnya dan menjadi orang yang mengadakan kerusakan”.[5]
4.
Dalam Tafsir
Al-Mishbah
Kata asyuddahu terambil dari kata
al-asyudd yang oleh sementara pakar
dinilai sebagai bentuk jamak dari kata syiddah
(keras) atau syadd. Kata tersebut
dipahami dalam arti kesempurnaan akal.
Ayat tersebut menambah kata istawa setelah kata asyuddahu, kata ini ada yang memahaminya berfungsi menguatkan kata asyuddahu, tetapi pendapat yang lebih
tepat adalah usia puncak kesempurnaan kekuatan.
Thabathaba’i memahami kata hukman
dalam arti “ketepatan pandangan menyangkut subtansi satu persoalan dan
kebenaran penerapannya. Dan ini pada akhirnya berarti keputusan yang benar
menyangkut baik buruknya satu pekerjaan serta penerapan keputusan itu”. Kata muhsinin adalah jama’ dari kata al-muhsin, kata ihsan menurut al-Harrali sebagaimana dikutip al-Biqa’i adalah
puncak kebaikan amal perbuatan.[6]
C.
Aplikasi Dalam Kehidupan
Didalam Al-Qur’an banyak beberapa ayat yang menerangkan kisah-kisah dan
gambaran berupa kenabian, orang-orang baik, dan lain-lain. Dalam Q.S Al Qoshoh
Ayat 14 menceritakan nabi Musa yang dianugrahkan oleh Allah tentang hikmah dan
pengetahuannya karena Musa telah mencapai cukup umur dan sempurna akalnya.
Dalam kesempurnaan akal terdapat awal kesempurnaan dan puncak kesumpurnaan,
ada beberapa tahapan dimana mulai kesempurnaan akal awalnya berumur 20 tahun
dan puncak kesempurnaan akal berumur 40 tahun, sesudah itu sedikit demi sedikit
kekuatan semakin menurun.[7]
Kalau kita melihat kisah nabi Musa dari kecil yang dibesarkan dalam istana
fir’aun maka kita bisa mengambil intisari dari kisah tersebut dan
mengamalkannya dalam kehidupan sekarang ini. Nabi Musa pada waktu kecil ia
terpisah dengan kaumnya karena nabi Musa diasuh dan dibesarkan dalam istana
fir’aun dan pada waktu itu raja fir’aun memperlakukan bani israil dengan
perlakuan yang tidak adil dari situlah nabi Musa mendapatkan
pengalaman-pengalaman tentang pengetahuan mana yang adil dan mana yang zalim,
dia merasa didalam hatinya serta berandai-andai seandainya kalau aku bisa
memegang hukum maka aku tidak akan seperti fir’aun.
Setelah nabi Musa dewasa pengalaman demi pengalaman terus bertambah
sehingga dalam puncak kesempurnaan akalnya dia bisa melihat kekuasaan fir’aun
yang sangat mencolok antara kaum Qibthi dan kaum bani Israil, seandainya kaum
Qibthi (kaum fir’aun) yang bersalah maka kesalahan tersubut akan ditutup-tutupi
sebaliknya kaum bani Israil yang bersalah maka akan dihukum dengan hukuman yang
sangat kejam yang tidak sepadan dengan kesalahan yang diperbuatnya.
Melihat kisah diatas kita harus bisa memahami dengan akal kita dalam
mengetahui mana itu perkara yang adil dan mana itu perkara yang zalim. Kalau
kita melihat realita dalam kehidupan ini, maka banyak perlakuan-perlakuan yang
tidak adil, seperti pemimpin yang zalim, hukum yang bisa dibeli dan
lain-lainnya. Oleh karena itu kita selaku mahasiswa harus bisa memahami mana
yang adil dan mana yang buruk sehingga kelak kita menjadi pemimpin baik itu di
masyarakat atau Negara maka kita bisa berlaku adil.
D.
Aspek Tarbawi
Dalam tafsir Al-Qur’an Surat Al Qoshosh ayat 14 tentang kesempurnaan akal
yang bisa diambil dalam kisah tersebut. Bahwa kesempurnaan akal manusia dalam
mencapainya melalui tahap demi tahap. Awal kesempurnaan dan puncak kesempurnaan
akal pendapat Ulama ada yang mengatakan 20 tahun tetapi kebanyakan para ulama
menilai dari usia 33 - 40 tahun.[8]
Kecerdasan seseorang adalah kesempurnaan perkembangan akal budi, seperti
kepandaian ketajaman berfikir dan sebagainya.[9]
Untuk mencapai kesempurnaan akal manusia, maka dalam awal kesempurnaan sampai
puncak kesempurnaan perlu diberikan asupan ilmu sebanyak-banyaknya untuk
mematangkan ilmunya, supaya jika kelak puncak kesempurnaan dapat tersimpan
dalam memori akal.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
penafsiran Q.S Al Qoshosh mengenai pendidikan yang diuraikan diatas, bahwa
dalam surat Al Qoshosh ayat 14 tersebut tentang sejarah nabi Musa as dengan
kesempurnaan akal dapat dianalisis dalam kesempurnaan akal yang dimaksud adalah
dimana nabi Musa memukul seorang dari golongan Qibthi sampai mati dan menyadari
bahwa dia telah membunuh seorang Qibthi pada waktu subuh, ia menyadari bahwa
ini adalah amalan setan dan aku telah menganiaya diriku sendiri dan dia berdoa
bahwa ia mengakui bahwa dia hina serta mohon ampun kepada Allah SWT. Dari hal
tersebut dapat dianalisis pada kehidupan sekarang bahwa kesempurnaan akal
terletak pada hati bukan di otak, pada tanggungjawab seseorang atas apa yang
diamanati harus dikerjakan atas apa yang menjadi tanggungjawabnya tersebut dan
Musa melakukan apa yang ia harus lakukan adalah bentuk suatu kesempurnaan
akalnya karena melihat perkelahian antara Bani Israil dan golongan Qibthi.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamka. 2003, Tafsir Al- Azhar, Singapore:
Kerjaya Printing Indrustries Pte Ltd.
Ibn Katsir, Imaduddin Abi al-Fida Ismail.
1970, Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar
al-fakr. jilid 5.
Al-Maraghi Ahmad Musthafa. 1974. Tafsir Al-Maraghi, Juz XX. (Mesir :
Musthafa Al-Babi Al-Halabi,). Terj. Drs.
Hery Noer Aly, K. Anshori Umar Sitanggal, Bahrun AbuBakar. Lc. Semarang:
CV. Toha Putra.
M. Quraish shihab. 2002. Tafsir Al- Mishbah, Jakarta: Lentera
Hati. 15 vol.
A.
Busyairi Haris. 2005. Ilmu Ladunni dalam
perspektif teori belajar moder. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. II.
PROFIL
DAN FOTO
Nama : Ahmad Sadad
Tempat,
Tgl Lahir : Pekalongan, 15 November
1995
[1]
Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar ,
(Singapore: Kerjaya printing indrustries Pte Ltd, 2003), hlm. 5202.
[2]
Imaduddin Abi al-Fida Ismail Ibn Katsir, Tafsir
Ibn Katsir, (Beirut: Dar al-fakr, 1970), jilid 5, Cet. 2, hlm. 268.
[3]
Prof. Dr. Hamka, Opcit,. 5309.
[4] Ibid,. hlm
5310.
[5]
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir
Al-Maraghi, (Mesir: Musthafa Al-Babi Al-Halabi, 1394 H/ 1974 M) Juz
XX. Terj. Drs. Hery Noer Aly, K. Anshori Umar
Sitanggal, Bahrun AbuBakar, Lc. (Semarang: CV. Toha Putra,1989), hlm. 69
[6]
M. Quraish shihab, Tafsir Al- Mishbah,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002) 15 vol,; 24 cm, hlm.317-318
[7]
Ibid,. hlm 318.
[8]
Ibid,. hlm 317.
[9]
WJS. Poewadarminta, Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1986, Cet. 9, hlm. 201. Dalam Buku A.
Busyairi Haris, Ilmu Ladunni dalam
perspektif teori belajar moder, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), Cet.
II, hlm. 108.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar