Laman

Sabtu, 03 September 2016

SBM G 1 Strategi Belajar Mengajar



 STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Disusun oleh :

1.         M. Syarif Hidayatullah               (2021114002)
2.         Febryan Bachtiar Hidayat          (2021114024)
3.         Fina Mardhotul Maula               (2021114027)
4.         Ririn Kartinaningsih                   (2021114029)
                            Kelas : G

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016


Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang karena anugrahnya dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “STRATEGI BELAJAR MENGAJAR”. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan nabi besar kita, yaitu Nabi Muhammad Saw. Yang telah menunjukan kepada jalan kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugrah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Pemakalah sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar dengan judul STRATEGI BELAJAR MENGAJAR. Disamping itu, kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Muhammad Hufron, M.S.I. selaku dosen pengampu mata kuliah, serta kami ucapkan  semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat dan kami harapkan  kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya bisa kami diperbaiki.

                                                                                  Pekalongan, 2 September 2016

                                                                                 

                                                                                    Pemakalah



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Strategi secara umum bias diartikan sebagai pola umum kegiatan guru murid dalam perwujudan kegiatan mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Istilah Strategi pada mulanya digunakan dalam dunia kemiliteran. Pengertian strategi tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan, yang dapat diartikan sebgaia suatuseni dan ilmu untuk membawa pengajaran dikelas demikian rupa sehingga tujuan yang ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Belajar dan mengajar sendiri ham5per sama akan tetapi berbeda pengertian . Sedangkan belajar merupakan perkembangan hidup manusia yang dimulai sejak lahir dan berlangsung seumur hidup. Mengajar merupakan suatu perubahan atau pekerjaaan yang bersifat unik tetapi sederhana.
Mengajar bukan tugas yang ringan bagi seorang guru. Dalam prosesmengajar guru berhadapan dengan siswa, mereka bukan hanya individu dengan segala hal dan masalahnya. Masalah mengajar banyak ditimpa seorang guru khususnhya dalam proses pembelajaran dan pengelolaan kelas. 
Strategi belajar mengajar banyak digunakan guru sebagai acuan dalam proses pembelajaran di kelas. Banyaknya guru yang kurang paham dan tidak mengetahui akan strategi dalam mengajar, dan strategi belajar mengajar di gunakan sebagai sarana peserta didik untuk belajar efektif. Adanya stategi belajar mengajar hendaknya digunakan oleh guru agar tujuan pembelajaran dan mengajar berjalan sesuai yang diharapkan.







BAB II
PEMBAHASAN

I. Teori
A. Hakekat Strategi Belajar Mengajar
1. Pengertian Strategi
Strategi secara umum bias diartikan sebagai pola umum kegiatan guru murid dalam perwujudan kegiatan mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan [1]. Istilah Strategi pada mulanya digunakan dalam dunia kemiliteran. Pengertian strategi tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan, yang dapat diartikan sebgaia suatu seni dan ilmu untuk membawa pengajaran dikelas demikian rupa sehingga tujuan yang ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Strategi dapat diartikan “ a plan of operation  achieving something “  rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu.
2. Belajar
Belajar merupakan hal sangat penting bagi setiap orang karena dengan belajar sesorang memahami dan menguasai sesuatu sehingga orang tersebut dapat meningkatkan kemampuannya. Belajar merupakan perkembangan hidup manusia yang dimulai sejak lahir dan berlangsung seumur hidup.
Menurut Nana Sudjana, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.


3. Mengajar
Mengajar merupakan suatu perubahan atau pekerjaaan yang bersifat unik tetapi sederhana. Sedangkan menurut Moh. Uzer Usman mengajar adalah suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pembelajaran sehingga menimbulkan proses belajar mengajar pada diri siswa.
4.      Hakekat Belajar Mengajar
                        Belajar Mengajar adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek maupun sebagai objek pembelajaran, sedangkan mengajar merupakan apa yang harus dilakukan oleh guuru sebagai pengajar
                        Dua konsep tersebut menjadi terpadu menjadi suatu kegiatan manakalah terjadi interaksi  guru dan siswa, pada saat pembelajaranberlangsung. Inilah hakekat belajar mengajar sebagai suatu proses. [2] Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptkan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ketujuan. Disini tentu saja tugas guru berusaha menciptakan suasana belajara yang mengairahkan dan menyenangkan bagin semua anak didik. [3]

B. Ciri-ciri Strategi Belajar Mengajar
Kegiatan belajar-mengajar sebagai suatu proses pengaturan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Belajar-mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk peserta didik dalam suatu perkembangan tertentu.
2.      Kegiatan belajar-mengajar ditandai dengan suatu penggarapan materi yang khusus.
3.      Dalam belajar-mengajar terdapat suatu strategi yang direncanakan, dan di desain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4.      Belajar-mengajar ditandai dengan aktivitas peserta didik. Aktivitas peserta didik dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental aktif.
5.      Dalam kegiatan belajar-mengajar guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
6.      Dalam kegiatan belajar-mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam kegiatan belajar-mengajar diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh guru dan peserta didik dengan sadar.
7.      Dalam kegiatan belajar-mengajar ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam system kelas, batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bias ditinggalkan.
8.      Dalam kegiatan belajar-mengajar ada evaluasi. Dari seluruh kegiatan belajar-belajar,  evaluasi menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.[4]
      C. Komponen Strategi Belajar Mengajar
Sebagai suatu sistem tentu saja interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber, dan evaluasi.  Lebih jelas mengenai hal ini ikutilah uraian berikut.
1.      Tujuan
      Kegiatan yang tidak pernah absen dari agenda kegiatan guru dalam memprogramkan kegiatan pengajaran adalah pembuatan tujuan pembelajaran. Tujuan mempunyai arti penting dalam kehiatan belajar mengajar. Tujuan dsapat memberikan arah yang jelas dan pasti ke mana kegiatan pembelajaran akan dibawa oleh guru. Dengan berpedoman pada tujuan guru dapat menyeleksi tindakan mana yang harus dilakukan dan tindakan mana yang harus ditinggalkan.



      Didalam tujuan pembelajaran terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama kegiatan belajar berlangsung. Oleh karena di dalam tujuan terpatri sejumlah norma, maka tujuan dimasukkan ke dalam salah satu komponen belajar mengajar.
2.      Bahan Pelajaran
      Bahan adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajara mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti mempelajari dan mempersiapkan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada anak didik.
      Bahan pelajaran mutlak harus dikuasai guru dengan baik. Ada dua permasalahan dalam penguasaan bahan pengajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran adalah unsur inti dalam kegiatan belajar mengajar. Karenanya harus diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik.
3.      Kegiatan Belajar Mengajar
      Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan kegiatan belajar mengajar. Suatu komponen pelajaran akan berproses di dalamnya. Komponan inti yakni manusiawi, guru dan, anak didik melakukan kegiatan dengan tugas dan tanggung jawab dalam kebersamaan berlandaskan interaksi normatif untuk bersama-sama mencapai tujuan pembelajaran.
4.      Metode
      Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang tel;ah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru guna kepentingan pembelajaran. Dalam melaksanakan tugas guru sangat jarang mempergunakan satu metode, tetapi selalu memakai lebih dari satu metode. Karena karakteristik metode yang memiliki kelebihan dan kelemahan menuntut guru untuk menggunakan metode yang bervariasi.


      Sebagai seorang guru tentu saja tidak boleh lengah bahwa ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam penggunaan metode. Perhatian diarahkan pada pemahaman bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan metode mengajar yaitu tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai keadaannya, fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya, serta pribadi buruk dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
5.      Alat
      Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan, alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan.
      Dalam kegiatan belajar mengajar biasanya dipergunakan alat nonmaterial dan alat material. Alat nonmaterial berupa suruhan, perintah, larangan, nasehat, dan sebagainya. Sedangkan alat material atau alat bantu pengajaran berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide, video, dan sebagainya.
      Alat material termasuk alat bantu audiovisual didalamnya. Penggunaan alat bantu audiovisual dalam proses belajar mengajar sangat didukung oleh Dwyer (1967) salah seorang tokoh aliran realisme. Aliran realisme berasumsi bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika digunakan bahan-bahan audiovisual yang mendekati realitas. Menurut Miller dan kawan-kawan (1957) lebih banyak sifat bahan audiovisual yang menyerupai realitas, makin mudah terjadi belajar. Karenanya, ada kecenderungan dari pihak guru untuk memberikan bahan pelajaran sebanyak mungkin dengan memberikan penjelasan yang mendekati realitas kehidupan dan pengalaman anak didik.
6.      Sumber Pelajaran
      Belajar mengajar tidaklah berproses dalam kehampaan, tetapi ia berproses dalam kemaknaan. Di dalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna diapakai dalam proses belajar mengajar.
      Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali, ada di mana-mana, di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya. Segala sesuatu dapat dipergunakan sebagai sumber belajar sesuai kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
7.      Evaluasi
      Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Pelaksanaan evaluasi dilakukan dengan guru memakai seperangkat instrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis, dan tes lisan. Oleh karenanya, menurut Edwind Wand dan W. Brown, bahwa evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
      Baik evaluasi produk yang di arahkan pada keberhasilan belajar anak didik maupun evaluasi proses yang diarahkan pada keberhasilan guru dalam mengajar, keduanya adalah kegiatan untuk mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya (bukan sebanyak-banyaknya), yang berkenaan dengan kemampuan anak didik atau kualitas kegiatan guru, guna mengetahui sebab akibat dari suatu aktivitas pengajaran dan hasil belajar anak didik yang mendorong serta mengembangkan kemampuan belajar.
      Dari konsepsi tersebut, maka tujuan evaluasi adalah untuk mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam menvapai tujuan yang diharapkan, memungkinkan guru menilai aktivitas atau pengalaman yang didapat, dan menilai metode mengajar yang dipergunakan.[5]





II. Aplikasi
                        Proses belajar strategi belajar-mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisir. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta mencapai tujuan yang diharapkan.
                        Aplikasi proses strategi belajar-mengajar melalui beberapa tahap pengelolaan dan pelaksanaan sebagai berikut yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Selanjutnya untuk meningkatkan hasil belajar dalam bentuk pengaruh instruksional dan untuk mengarahkan pengaruh pengiring terhadap hal-hal yang positif dan berguna bagi siswa. Guru harus pandai memilih apa isi pembelajaran serta bagaimana proses belajar itu harus dikelola dan dilaksanakan di kelas. Ada juga jenis belajar yang perlu dibedakan, yakni “belajar konsep” dan “belajar proses.”
                        Ada dua hal yang turut menentukan keberhasilan dalam kegiatan belajar-mengajar, yakni pengaturan proses belajar-mengajar dan pengajaran itu sendiri, dan keduanya saling tergantung satu sama lain. Kemampuan mengatur proses belajar-mengajar yang baik, akan menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar siswa memerlukan sesuatu yang memungkinkan untuk berkomunikasi secara baik dengan guru, teman maupun lingkungannya. Kebutuhan akan perhatian, bimbingan dan bantuan guru yang berbeda untuk setiap individu siswa.
                        Untuk menciptakan suasana yang menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, memerlukan pengorganisasian proses belajar-mengajar dengan baik. Proses belajar mengajar merupakan suatu rentetan kegiatan guru menumbuhkan organisasi belajar-mengajar yang efektif, meliputi tujuan, bahan, metode, media, pengaturan waktu serta pengelompokan siswa dalam belajar.[6]


BAB III
PENUTUP
Simpulan
Strategi secara umum biasa diartikan sebagai pola umum kegiatan guru murid dalam perwujudan kegiatan mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Menurut Nana Sudjana, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Mengajar adalah suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pembelajaran sehingga menimbulkan proses belajar mengajar pada diri siswa.
Ada beberapa komponen  yang ada dalam strategi belajar mengajar yang sudah di jabarkan makalah ini yang diantaranya, tujuan, bahan pengajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber ajaran, dan evaluasi. Selain itu ada beberapa ciri-ciri yang telah disebutkan dalam isi makalah.











Nama                             : M. Syarif Hidayatullah      
Tempat, Tanggal Lahir : Pekalongan, 9 Oktober 1996
Alamat                         : Ds. Wiroditan 09/02 Kec. Bojong Kab. Pekalongan
No. Hp                                    :

Nama                            : Febryan Bachtiar Hidayat
Tempat, Tanggal Lahir : Pekalongan, 10 Februari 1996
Alamat                           : Krapyak lor Gg 5/11 Kota Pekalongan
No. Hp                                      : 085731596475
Nama                            : Fina Mardhotul Maula
Tempat, Tanggal Lahir : Pemalang, 27 April 1996
Alamat                           : Jl. Gatot Subroto 1 Kenanga 3 Kab. Pemalang
No. Hp                                      : 087733384292

Nama                             : Ririn Kartinaningsih
Tempat, Tanggal Lahir : Pemalang, 24 September 1996
No. Hp                          : 082313946598

DAFTAR PUSTAKA

Abu, Ahmadi., dkk. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djamarah, Syaifudin Bahri. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
_____________________. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta: Gama Media.
Suryani, Nunuk., dkk. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Penerbit Ombak.


[1] Ahmadi Abu, dkk., Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997),  hal. 11.
                [2] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran (Yogyakarta : Gama Media, 2009), hal. 48.
                [3] Syaifudin Bahri Djamarah, dkk., Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1997), hal. 43.
[4] Nunuk Suryani, Strategi Belajar Mengajar (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2012), hal. 37-39.
[5] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif  (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hal. 16-21.
                [6] Nunuk Suryani, Ibid., hal. 11-17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar