Laman

Rabu, 07 September 2016

TT1 C 1d Kesempurnaan Akal

Hikmah dan Ilmu : “ Kesempurnaan Akal ”


Dian Ma’rifatul Qoidah
2021115050

Tarbiyah/PAI
Institut Agama Islam Negeri Pekalongan
Tahun 2016





KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW . Penulis bersyukur kepada Illahi Rabbi yang telah memberikan hidayah serta taufiq-Nya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul kesempurnaan akal guna memenuhi tugas tafsir tarbawi , telah terselesaikan.
Sehubungan dengan ditugasinya penulis untuk mengulas materi mengenai kesempurnaan akal , yang sumbernya berasal dari tafsir QS. Al-Qashash ayat 14 , maka penulis mencoba menghimpun dan mengulas buku-buku yang berhubungan dengan tafsir QS. Alqashash ayat 14 tersebut.
Tidak lupa ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik moriil maupun materiil, terutama untuk orang tua, dosen, Yayasan  IAIN Pekalongan , serta teman-teman yang telah mendukung, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Uraian topik dalam makalah ini disusun secara sederhana,praktis dan sistematis sesuai dengan format yang telah ditentukan. adapun untuk penelusuran yang lebih jauh dan mendalam pembaca dapat mengadakan kajian pada buku buku rujukan yang telah disebutkan, dan buku lain yang dianggap berhubungan dengan pembahasan dalam makalah ini.
Kemudian kritik pembaca terhadap kekurangan makalah ini sangat diharapkan. semuanya penulis terima sebagai bahan perbaikan pembuatan makalah setelahnya. Akhirnya saran dari semua pihak akan penulis terima dengan baik, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya , dan penulis pada khususnya.

Pekalongan, September 2016
Penulis                       


BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar belakang
Sejatinya telah banyak penyebutan mengenai penggunan akal di dalam alquran seperti Afala ta’qilun, afaala ya’lamun afala tafakkarun dan lain sebagainya. Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna karena dianugerahi oleh akal fikiran.
Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa Arab, berasal dari kata “ nasiya” yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar “al-uns” yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia yang memiliki sifat lupa dan jinak artinya: manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna , karena manusia di anugerahi akal yang dapat digunakan untuk berfikir , dan kemampuan befikir itulah yang membedakan manusia berbeda dari makhluk lainnya.[1]
Akal berfungsi untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk selain itu akal juga dapat menuntun kita menuju Allah SWT.
oleh karena itu , makalah ini membahas mengenai kesempurnaan akal   dengan tujuan agar orang yang membaca dapat kembali memfungsikan akalnya sebagaimana mestinya.
B.    Judul Makalah
Makalah ini penulis beri judul “Kesempurnaan Akal” , karena menyesuaikan dengan tugas yang telah penulis terima dan sesuai dengan konteks penulis saat ini sebagai seorang mahasiswa yang dituntut untuk mengfungsikan akalnya supaya menghasilkan suatu tindakan yang sesuai dengan peratuan Agama dan pemerintah sehingga nantinya mampu mewujudkan tindakan yang bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa.


C.          Nash dan Arti Qs. Al-qashash ayat 14
وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَاسْتَوَى اَتَيْنهُ حكما وعلما وكذلك نجزى المحسنين
      Artinya : “ Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, kami berikan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik.”[2]
D.    Arti penting pengkajian materi
Penulis membuat makalah mengenai penafsiran Qs. Al-Qashash ayat 14, karena di dalam Qs. Al-Qashash ayat 14 ini berisi mengenai cerita Nabi Musa di dalam menghadapi raja Fir’aun , dimana untuk menghadapi raja fir’aun tersebut nabi Musa dianugerahi oleh Allah sebuah akal (pengetahuan) , akal tersebut digunakan untuk memikirkan mengenai mana kebatilan dan mana kebenaran , sehingga dapat membedakan mana yang harus diyakini maupun ditinggalkan.
Selain itu mempelajari makna dari Qs.Al-Qashash ayat 14 ini , diharapkan :
1.     Agar mahasiswa mengerti makna ( kandungan ) dari Qs. Al-Qashash ayat 14
2.     Agar mahasiswa dapat mengambil pelajaran dari kisah didalam Qs.Al-Qashash ayat 14
3.     Menjadikan mahasiswa mengerti akan kebesaran Allah melalui akal yang telah di anugerahkan kepada manusia
4.     Menjadikan mahasiswa yang selalu menyukuri nikmat yang di anugerahkan , dengan selalu berfikir, bertafakkur terhadap ciptaan Allah.
5.     Menjadikan mahasiswa mampu menghadapi tantangan di zaman modern ini dengan berfikir positif yakni menyeimbangkan antara agama dengan rasional.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akal
Kata akal berasal dari bahasa arab, yaitu : al-Aql yang berarti al-hijr yang artinya menahan , juga berarti al-nuha (cerdas/pandai). lafadz ‘aqala-ya’qilu-aqlan yang berarti menahan atau mengikat. Disebut Aql karena akal itu mengikat pemiliknya dari kehancuran, akal itu sebagai pembeda karena dialah yang membedakan dari semua hewan.[3]
Menurut Harun nasution, kata Aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. sedangkan menurut Widodo Supriyono mengatakan bahwa akal adalah potensi rohaniah manusia yang berkaitan dengan kemampuan untuk memperoleh berbagai kemahiran, oengertian inderawi, gambaran angan angan yang mealambung dan berkaitan dengan pemaknaan dan pemahaman atau dalm hal penemuan keterkaitan antar sesuatu.[4]
Dalam pandangan islam akal ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Hal ini dapat diketahui baik dalam Alquran maupun Al-hadits sebagai sumber pokok ajaran islam dan sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. kemuliaan akal itu tidak lain karena kemampuannya mengerti, memahami dan berfikir tentang hakikat sesuatu sehingga dapat menghasilkan pemikiran inovatif yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.[5]
B.    Keutamaan Tafakkur
Allah SWT menyuruh untuk berfikir dan memahami kitab-Nya yang mulia pada tempat – tempat yang tidak terhitung dan Dia memuji kepada orang- orang yang berfikir. Asy-Syafi’i RA. berkata : “ Perbuatan- perbuatan utama itu ada empat , yaitu :
1.   Hikmah , tiangnya adalah pikiran
2.   Iffah, tiangnya adalah menjaga Nafsu dan Syahwat
3.   Kekuatan, tiangnya adalah Kemarahan
4.     Adil, tiangnya adalah pada kelurusan kekuatan diri[6]
C.    Penafsiran Qs. Al-Qashash ayat 14
1.     Tafsir Al-Mishbah
وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَاسْتَوَى اتينه حكما وعلما وكذلك نجزى المحسنين
            Artinya : “ Dan setelah dia cukup umurnya dan sempurna, kami anugerahkan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik.”
Ayat diatas merupakan jawaban dari ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa janji Allah adalah benar. ayat diatas menegaskan bahwa: “ Dan setelah cukup umurnya dan sempurna jasmani dan ruhaninya, kami berikanlah hikmah, yakni kenabian atau kearifan, atau amal ilmiyah dan pengetahuan, yakni ilmu.”  
Kata ( اشده ) terambil dari kata ( الاشد) yang oleh sementara pakar dinilai sebagai bentuk jamak dari kata ( شد) kata tersebut dipahami dalam arti kesempurnaan kekuatan. Ulama dalam hal ini berbeda pendapat dalam usia kesempurnaan manusia. ada yang menyatakan 20 tahun , tetapi kebanyakan menilai dimulai dari usia 33 tahun. Thabatthaba’i menafsirkan ayat ini bahwa pada gholibnya kesempurnaan itu terjadi sekitar usia 18 tahun.[7]
Kata ( استوى ) kata ini ada yang memahaminya berfungsi menguatkan kata “Asyuddahu”, tetapi pendapat yang lebih tepat adalah usia puncak kesempurnaan kekuatan. Thabathaba’i memahaminya dalam arti ketenangan hidup, dan ini berbeda antara seseoranag dengan seseorang lain , walaupun menurtnya pada umumnya terjadi setelah seseorang mencapai umur asyudd.[8]
Tabathtabai memahami kata (حكما) dalam arti” ketepatan pandangan menyangkut substansi satu persoalan dan kebenaran penerapannya yang pada akhirnya berarti keputusan yang benar menyangkut baik buruknya satu pekerjaan serta penerapan keputusan itu.
Kata (المحسنين) adalah jamak dari kata محسن . Kata ihsan menurut al-Harrali sebagaimana dikutip dari al-Biqa’i adalah puncak kebaikan amalperbuatan.
Ar-Raghib al-Asfahani berpendapat bahwa kata ihsan digunakan untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua perbuatan baik. Karena itu, kata tersebut lebih luas dari sekadar “memberi nikmat atau nafkah”. maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna kata Adil.[9]
2.     Tafsir Al-Maragi
ولما بلغ اشده  واستوى اتينه حكما وعلما وكذا لك نجزى المحسنين
Artinya : “ Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, kami berikan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah kami memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik.”[10]
الاشد  Al-asyuddu : bentuk jamak شدة berarti kekuatan dan kekerasan.    الاشد بلوغ : sempurnanya kekuatan jasmani dan habisnya pertumbuhan yang dipandang.
الاستوى : kesempurnaan akal. Hal ini berbeda sesuai dengan perbedaan iklim,zaman dan keadaan.
الحكم : hukum
Pengertian secara umum , ayat ini menjelaskan betapa nikmat Allah telah diberikan kepada Nabi Musa As  tatkala dewasa, seperti memberinya ilmu dan hikmah, kemudian mengutusnya sebagai rasul dan Nabi kepada Bani Israil dan Bangsa mesir.
Penjelasan
ولما بلغ اشده  واستوى اتينه حكما وعلما وكذا لك نجزى المحسنين)
Setelah tubuhnya kuat dan akalnya sempurna, maka kami memberinya pemahaman agama dan pengetahuan tentang syari’at. Sebagaimana Kami telah memberi balasan kepada Musa atas ketaatannya kepada Kami dan Kami memberinya kebaikan atas kesabarannya terhadap perintah kami, maka demikian pula kami membalas setiap hamba yang berbuat kebajikan, mentaati perintah dan laarangan kami.[11]
D.    Penerapan atau aplikasi Qs. Alqashash ayat 14 dalam kehidupan sehari-hari.
 Qs. Al-Qashash , menunjukkan bahwa Allah SWT membuktikan kebenaran janji-janjinya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kisah Nabi musa yang di hanyutkan di sungai untuk menghindari dibunuhnya oleh Fir’aun, namun pada akhirnya ditemukan oleh Fir’aun dan diangkat menjadi anak. sebenarnya banyak indikator yang menunjukkan bahwa itu adalah bayi dari Bani Isra’il , selain itu juga telah dapat dikira kirakan bahwa kurang lebih 30 tahun dia ( Nabi Musa AS) menjadi anak angkat fir’aun, dari kecil dibesarkan dalam istana fir’aun.
Tetapi sejak kecil itu pula ibunya telah membiasakan membawanya pulang dari istana, bahkan dia diasuh , dibimbing di rumah ibunya sendiri dan di saat-saat yang perlu dibawa ke istana. Petunjuk-petunjuk itu tidak disadari oleh fir’aun dan semua stafnya. Dan ini membuktikan bahwa Allah melakukan apa yang di kehendakinya tanpa disadari oleh Fir’aun.[12]
Dari kisah diatas kita dapat menerapkan atau mengaplikasikan Qs.Al-Qashash ayat 14 dengan cara sebagai berikut :
1.    senantiasa beriman kepada Allah , dan mempercayai segala firman-Nya
2.      senantiasa percaya bahwa Allah mampu mewujudkan apa yang tidak mungkin menurut manusia
3.     Senantiasa menjadi seseorang yang baik dan sesuai dengan syari’at kerena semua itu akan ada balasannya.
4.     Senantiasa berusaha dan tawakkal terhadap apa saja yang terjadi di dalam hidup kita.
5.     Kita sebagai manusia hendaknya selalu menggunakan akal kita untuk menjawab semua masalah kehidupan yang ada.
E.     Nilai-nilai yang terkandung dalam QS. Al-qashash ayat 14
1.       Allah SWT akan selalu menepati janjinya
Hal ini dibuktikan melalui QS Al-Qashash ayat 14 bahwa Allah Swt turun tangan untuk membuktikan kebanaran janjinya. kendati sekian banyak indikator yang menunjukkan bahwa bayi yang dibuang di sungai adalah bayi dari bani Israil yang sangat dibenci oleh raja Firaun tetapi masih saja bayi itu diselamatkan dan diasuh dalam istana raja Fir’aun tanpa ada yang menyadari bahwa itu adalah bayi keturunan bani Israil
2.   Allah Swt akan memberikan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.
Hal ini dibuktikan dari ibu nabi Musa yang selalu taat kepada Allah bertakwa kepada Allah dan selalu berbuat baik, maka Aallah membalasnya dengan mengembalikan Musa kepada ibunya setelah Musa dewasa dan diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.[13]
3.     Selalu bertawakkal kepada Allah
Ketidakberdayaan, kehati-hatian menghadapi ketetapan Allah SWT dengan tetap berusaha dan menyerahkan semuanya kepada Allah.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian penafsiran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa QS, Al-Qashash berisi mengenai kisah Nabi Musa As dari beliau lahir sampai dengan diangkatnya menjadi rasul. Qs.Alqashash ayat 14 ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada manusia akal yang sempurna ketika seseorang tersebut telah menginjak usia sekitar asyuddu sekitar 20 – 40 tahun, dalam usia tersebut manusia telah mampu berfikir mana yang baik dan mana yang buruk.
Selain itu Allah juga akan memberikan balasan kepada orang-orang yang telah berbuat baik sesuai dengan syari’at agama islam. dan perintah untuk percaya kepada janji-janji Allah serta selalu bertawakkal kepada-Nya
B.    Daftar pustaka
1.   Yusuf, musfirotun.2015.Manusia & Kebudayaan Perspektif Islam.Pekalongan:CV Media Utama
2.   Zuhri,Saifudin.2011. USHUL FIQIH.Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
3.   Al-Maragi, ahmad mustafa.1993.Tafsir Al-Maragi.Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang
4.    Shihab, M.Quraish.TAFSIR ALMISHBAH:Pesan,Kesan dan Keserasian Al-Qur’an.Jakarta: Lentera Hati
5.     Zuhri, moh. 2003.Ihya ‘ulumiddin jilid ix.Semarang: CV ASY SYIFA’ Semarang.
6.     Shihab ,M.Quraish. 2012. Al-Lubab. Jakarta:Lentera Hati.





Biodata Pemakalah
Nama : Dian Ma’rifatul qoidah                           
TTL : Pekalongan, 13 april 1997
Alamat : Jajarwayang Bojong Pekalongan
Lulus dari MI YMI 02 Surabayan Wonopringgo , MTS Gondang Wonopringgo, MA Dr. Ibnu Mas’ud Wiradesa , dan sekarang masih menempuh  S1 Pendidikan Agama Islam di IAIN PEKALONGAN.












[1] Musfirotun Yusuf, Manusia dan kebudayaan perspektif islam, (pekalongan:CV.Duta Media, 2015) hlm.1
[2] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi,(Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang, 1993) hlm. 74-75
[3] Saifudin Zuhri, USHUL FIQIH,(Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR,2011) hlm. 29
[4] ibid.,30
[5] ibid.,31
[6] Moh. Zuhri, Ihya ‘ulumiddin jilid ix,(Semarang: CV ASY SYIFA’ Semarang,2003) hlm.238
[7] M. Quraish shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan,kesan dan keserasian Alqur’an,(Jakarta: Lentera Hati,2002) hlm. 561-562
[8] ibid.,hlm.562
[9] ibid., hlm. 562-563
[10] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,(Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang,1993). hlm.75
[11] ibid.,hlm.76
[12] Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA),Tafsir Al-Azhar,( Jakarta : PT pustaka Panjimas,1982) hlm. 61
[13] M.Quraish Shihab, Al-Lubab,( Jakarta:Lentera Hati.2012) hlm.49


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar