Laman

Selasa, 13 September 2016

TT1 C 2c KEISTIMEWAAN ORANG BERILMU (QS. AL-‘ANKABUT Ayat 43)

KEISTIMEWAAN ORANG BERILMU
(QS. AL-‘ANKABUT Ayat 43)
Rizkina Ulfah  
NIM: 2021115056
Kelas C

JURUSAN TARBIYAH PRODI PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayahnya kepada kita semua sehingga masih merasakan nikmat dari–Nya.
Shalawat serta salam, semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan yang baik bagi kita semua dan yang telah menyelamatkan kita dari zaman yang gelap menuju zaman yangterang benderang. Semoga syafaat beliau sampai pada kita. InsyaAllah.
Alhamdulillah, Penulisan makalah Tafsir Tarbawi I mengenai “Keistimewaan Orang Berilmu” yang bersumber dari penafsiran Qs.Al-‘Ankabut ayat 43 ini sangat membantu untuk mengingat, menambah pengetahuan dan wawasan kita, khususnya bagi penulis sendiri. Dengan tulisan dan uraian topik yang sederhana sesuai format yang telah ditentukan telah selesai.
Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama Bapak Muhammad Hufron, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi 1 dan untuk orang tua yang telah memberi semangat dan dorongan dalam menyelesaikan tugas ini, tak lupa juga semua dosen dan Yayasan  IAIN Pekalongan , serta teman-teman yang telah mendukung, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan datang. Semoga Allah SWT selalu meridhoi segala usaha kita. Amin.

Pekalongan, September 2016

Penulis


DAFTAR ISI

COVER JUDUL ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I........ PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A.  Latar Belakang ................................................................................ 1
B.  Judul Makalah.................................................................................. 1
C.  Nash Al-Qur’an................................................................................ 1
D.  Arti Penting Pengkajian Materi ...................................................... 2
BAB II....... PEMBAHASAN .................................................................................. 3
A.  Pengertian Ilmu................................................................................ 3
B.  Tafsir Qs.Ak-‘Ankabut ayat 43....................................................... 3
1.   Tafsir Al-Azhar........................................................................... 3
2.   Tafsir Al-Maragi......................................................................... 5
3.   Tafsir Al-Qurthubi...................................................................... 5
4.   Tafsir Al-Mishbah...................................................................... 6
C.  Aplikasi Dalam Kehidupan ............................................................ 6
D.  Aspek Tarbawi (Nilai Pendidikan) ................................................. 7
BAB III..... PENUTUP ............................................................................................ 8
A.  Simpulan ......................................................................................... 8
B.  Daftar Pustaka ................................................................................. 8
PROFIL PENULIS .................................................................................................. 9


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia pada hakikatnya di ciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi untuk menjaga dan memeliharanya. Karena itu, Manusia wajib untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena Allah yang menciptakan segala sesuatunya.
Allah akan membinasakan orang yang mempersekutukan-Nya dengan siksaan di dunia dan mengazabnya dengan azab yang sangat keras kelak di akhirat. Dalam Qs. Al-‘Ankabut ini Allah membuat perumpamaan keadaan orang yang menjadikan sembahan selain Allah dengan keadaan laba-laba yang telah membuat rumahnya yang tidak memberikan kelapangan  baginya jika beristirahat, tidak pula melindunginya dari panas atau dingin jika ia berada di rumahnya. Hakikat Allah membuat perumpamaan itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang berakal dan berilmu yang mampu memahami lahir dan batin serta rahasia dan kenyataan pembicaraan.
Oleh karena itu, makalah ini membahas mengenai keistimewaan orang berilmu dengan tujuan supaya manusia memiliki ilmu dan pengetahuan yang banyak dan mendalam mengenai Firman-firman Allah SWT.
B.    Judul Makalah
Makalah ini berjudul “Keistimewaan Orang Berilmu”, karena menyesuaikan dengan tugas yang telah penulis terima, sesuai dengan penafsiran Qs.Al-‘Ankabut ayat 43 dan judul ini sesuai dengan kehidupan sekarang untuk selalu memenuhi perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya tanpa menyekutukan-Nya.
C.    Nash Al-Qur’an
QS. Al-‘Ankabut ayat:43
A.    šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $ygç/ÎŽôØnS Ĩ$¨Z=Ï9 ( $tBur !$ygè=É)÷ètƒ žwÎ) tbqßJÎ=»yèø9$# ÇÍÌÈ
Artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(QS. Al-‘Ankabut ayat:43).
D.    Arti penting pengkajian materi
Dalam penafsiran Qs. Al-‘Ankabut ayat 43 ini menjelaskan tentang perumpamaan bagi manusia yang menyembah selain Allah dengan keadaan seperti laba-laba yang membuat rumahnya tetapi tanpa kelapangan di dalamnya dan tidak dapat melindunginya dari panas atau dingin di dalam rumahnya. Materi ini sangat penting untuk di bahas karena dalam Al-Qur’an Allah SWT sangat banyak membahas mengenai perumpamaan manusia yang mempersekutukan-Nya dan pada dasarnya perumpamaan itu di buat guna manusia untuk memikirkannya sesuai dengan ilmu dan keimanannya, karena Allah SWT akan meninggikan derajat dan ilmu manusia bagi mereka yang berpengetahuan.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ilmu
“Ilmu” merupakan suatu istilah yang berasal dari bahasa arab, yaitu ‘alima yang terdiri dari huruf ‘ayn, lam, dan mim. Al-Qur’an sering menggunakan kata ini dalam berbagai sighat (pola), yaitu masdar, fi’il mudari’, fi’il madi, amr, isim fa’il, isim maf’ul, dan isim tafdil. Secara harfiah “ilmu” dapat diartikan kepada tahu atau mengetahui. Secara istilah ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memhami hukum yang berlaku atas sesuatu.[1]
Orang alim dan berilmu adalah orang yang memahami tentang Allah Ta’ala lalu mengamalkan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemurkaan-Nya. Sikap atau karakter seseorang merupakan gambaran pengetahuan yang dimilikinya. Dalam belajar, penguasaan ilmu bukanlah tujuan utama suatu pembelajaran melainkan sebagai jembatan atau alat yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran, keyakinan, dan perasaan atau sikap positif terhadap fenomena alam dan kehidupannya.
Al-Qur’an menafikkan persamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Penafikkan itu tentu saja tidak hanya mengenai persamaan sifat tetapi juga persamaan perilaku. Maka itulah sebabnya kitab suci tersebut memerintahkan umat ini agar banyak belajar, meneliti, dan mengamati fenomena alam guna mendapatkan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, pengetahuan itu dapat membentuk kesadaran dan sikap kemudian dapat pula melahirkan perilaku berdasarkan kesadaran atau sikap yang telah terbentuk itu.[2]
B.    Tafsir QS.Al-‘Ankabut ayat:43
1.     Tafsir Al-Azhar
“Dan beginilah perumpamaan-perumpamaan Kami perbuatkan untuk manusia.”maka banyaklah Allah membuat perumpamaan, sudah mendekatkan pemahamannya kepada fikiran manusia. Ada Tuhan mengambil perumpamaan dengan laba-laba atau lawah, sebagai yang tercantum disini. Pernah Tuhan mengambil perumpamaan dengan ba’uudhatan = بعو ضة , yaitu nyamuk. Pernah Tuhan mengambil perumpamaan dengan  dzubaab = ذبآب, yaitu lalat. Berkali-kali menyebut zarrah = ذرة , yaitu atom, zat yang paling kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Pernah mengambil perumpamaan dengan keledai membawa beban dan beberapa misal yang lain-lain. Tetapi ada tersebut bahwa orang-orang musyrikin di Makkah, yang menantang semata-mata hendak menantang, masih saja mencari-cari yang akan ditantangnya dalam perumpamaan-perumpamaan seperti ini. Perumpamaan seperti demikian masih mereka cemuhkan. Mereka katakan: “Tuhannya si Muhammad itu menurunkan apa yang dia sebut wahyu, tetapi yang dibicarakan hanya dari hal laba-laba dan lalat.” Oleh sebab itu maka ujung ayat ini dikutip dengan: “Dan tidaklah dapat memahaminya melainkan orang-orang yang berpengetahuan.”
Tegasnya, orang yang perasaannya kasar karena ilmunya memang tidak ada, perumpamaan itu tidaklah akan dapat difahaminya. Sebaliknya orang yang berpengetahuan, bertambah tinggi pengetahuannya itu, akan bertambah kagumlah dia memikirkan betapa Maha Besar dan Maha Agungnya Kekuasaan Allah itu meliputi yang besar dan yang kecil. Orang yang berpengetahuan tentu akan ta’jub melihat bagaimana Tuhan memberikan “instinct” atau naluri kepada segala yang diberi Allah hak hidup.
Mereka akan berpikir, meskipun Tuhan telah mengatakan bahwa rumah laba-laba atau dalam kata lain “jaring lawah” itu amat rapuh tidak dapat jadi pergantungan manusia, namun anugerah naluri yang diberikan Tuhan kepada laba-laba itu buat berusaha mencari makan memang ajaib sekali. Dia diberi kesanggupan membuat jaring dan jaring itu merangkap jadi tempat tinggalnya. Maka kalau ada binatang kecil, berbagai serangga halus terbang melewati jaring itu, dia benar-benar akan terjaring, tidak dapat membebaskan diri lagi. Sebab jaring itu ada pula getahnya. Di waktu dia terjaring itu si laba-laba dengan pelan-pelan menjalar ke tempat si mangsa terjaring, lalu memakannya.[3]     
2.     Tafsir Al-Maragi
Pada ayat ini Allah menyajikan perumpamaan keadaan orang yang menjadikan sembahan selain Allah dengan keadaan seperti laba-laba. Kemudian Allah menjelaskan faidah pembuatan perumpamaan bagi manusia, dan bahwa hakikat perumpamaan itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang berakal dan berilmu yang mampu memahami lahir dan batin serta rahasia dan kenyataan pembicaraan. Allah menjelaskan beberapa faedah dibuatnya perumpamaan-perumpamaan:
šù=Ï?ur) ã@»sVøBF{$# $ygç/ÎŽôØnS Ĩ$¨Z=Ï9 ( $tBur !$ygè=É)÷ètƒ žwÎ) tbqßJÎ=»yèø9$#  (
Perumpamaan ini dan sebangsanya, yang terkandung dalam Al-Kitab Al-‘Aziz dibuat bagi manusia untuk mendekatkan pemahaman mereka kepada apa yang sulit untuk mereka pahami, dan untuk memperjelas apa yang perkaranya terasa sulit oleh mereka, hikmahnya sulit digali, intisarinya sulit dipahami dan pengaruhnya sulit diketahui serta sulit diikuti, karena faidahnya yang terlalu banyak, kecuali oleh orang-orang yang ilmunya mendalam dan yang berpikir tentang akibat segala perkara.[4]
3.     Tafsir Al-Qurthubi
Firman Allah SWT, šã@»sVøBF{$#ù=Ï?ur “Dan perumpamaan-perumpamaan  ini,” maksudnya, semua contoh ini telah disebutkan dalam surah Al Baqarah dan surah Al Hajj serta surah lainnya. نَضْرِ بُهَا atau kami jelaskan, !$ygè=É)÷ètƒوَمَا ( لِلنَّا سِ”kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya,” maksudnya, mereka tidak memahaminya. tbqßJÎ=»yèø9$#žwÎ) atau kecuali oleh orang-orang yang mengenal Allah, sebagaimana jabir meriwayatkan dari nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Orang yang berilmu adalah orang yang bisa memahami Allah SWT kemudian taat menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dimurkainya.”[5]
4.     Tafsir Al-Mishbah
Thabathaba’i memahami dalam arti ayat ini adalah perumpamaan yang benar dan tepat. Dalam firman Allah SWT yang berbicara tentang amtsal al-Qur’an sebagai: “Tiada ada yang memahaminya kecuali orang-orang alim” mengisyaratkan bahwa perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an mempunyai makna-makna yang dalam, bukan terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing orang, sesuai kemampuan ilmiahnya, dapat menimba dari matsal itu pemahaman yang boleh jadi berbeda, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini juga berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan disini bukan sekadar perumpamaan yang bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas.[6] 
C.    Aplikasi dalam Kehidupan
Berdasarkan beberapa penjelasan tafsir-tafsir di atas, maka dapat diambil pelajaran untuk kehidupan sehari-hari, yaitu:
1.     Mentaati segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
2.     Mendekatkan diri dan selalu bertawakkal kepada Allah SWT.
3.     Mampu berpikir dengan baik tentang akibat segala perkara.
4.     Senantiasa istiqomah mencari ilmu, dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun dengan tujuan utama karena Allah. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam memahami ayat-ayat Allah diperlukan suatu ilmu yang mendalam mengenai agama.
D.    Aspek Tarbawi (Nilai Pendidikan)
Dari beberapa penjelasan mengenai tafsir Qs.Al-‘Ankabut ayat 43 ini, maka dapat diambil hikmah pendidikan yang ada di dalamnya, antara lain:
1.     Sembahlah Allah, karena tiada Tuhan selain-Nya.
Segala kekuasaan, kebesaran, kekayaan hanya ada pada Allah. Maka manusia yang menyembah kepada yang lain itu benar-benar rendah jiwanya.
2.     Hakikat perumpamaan bagi manusia itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang berilmu.
Orang yang perasaanya kasar karena ilmunya memang tidak ada, perumpamaan itu tidaklah akan dapat dipahaminya. Sebaliknya orang yang berilmu, akan bertambah tinggi pengetahuannya dan bertambah keimanannya kepada Allah SWT.
3.     Tujuan hidup hanya untuk Allah semata.
Semua yang kita perbuat dan lakukan itu semata-semata karena Allah. Karena semua apa yang kita miliki akan kembali kepada Allah.
4.     Orang berilmu akan ditinggikan derajatnya di hadapan Allah SWT.
Ilmu pengetahuan dalam perspektif islam sangat erat kaitannya dengan iman; iman dibangun atas dasar  ilmu pengetahuan, maka bertambahnya ilmu identik dengan bertambahnya iman.[7] Dengan hal tersebut seseorang akan menjadi insan yang mulia dan dihadapan Allah akan di tinggikan derajatnya.

BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari uraian penafsiran Qs.’Al-Ankabut diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mengenai surat al-ankabut ini yang berarti laba-laba dan  pada ayat 43 ini berisi mengenai perumpamaan-perumpamaan Allah bagi keadaan orang-orang yang menyekutukan-Nya seperti halnya, rumah laba-laba yang tidak memberikan kelapangan dan tidak bisa melindunginya dari cuaca panas maupun dingin ketika berada di dalam rumahnya. Pada hakikatnya perumpamaan itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berilmu.
Bagi orang-orang berilmu, Al-Qur’an merupakan anugerah terbesar Allah dimana isi Al-Qur’an tersebut menggunakan kata dan makna kiasan yang mendalam dan hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berilmu. Di harapkan melalui ilmu, manusia dapat memahami dan mengambil pelajaran atas apa yang di kehendaki Allah dan pada akhirnya dapat membuat diri menjadi insan yang shaleh dan bertakwa kepada Allah SWT.
B.    Daftar Pustaka
Al-Maragi, ahmad mustafa.1993.Tafsir Al-Maragi Juz XX.Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang.
Al-Qurthubi, Syaikh Imam.2009.Tafsir Al-Qurthubi,Jakarta: Pustaka Azzam.
Amrullah, Abdul Malik Abdul Karim (HAMKA).1982.Tafsir Al-Azhar Juz XX, Jakarta : PT pustaka Panjimas.
M.Yusuf, Kadar.2013.Tafsir Tarbawi:Pesan-pesan Al-Qur’an tentang pendidikan.Jakarta:AMZAH.
Shihab, M.Quraish.2002.TAFSIR ALMISHBAH:Pesan,Kesan dan Keserasian Al-Qur’an.Jakarta: Lentera Hati.
PROFIL PENULIS
Text Box: Nama   : Rizkina Ulfah
NIM  : 2021115056
TTL  : Pekalongan, 12 November 1997
Hobi  : Membaca
Alamat  : Jl.Kapten Pattimura  gang  SDN Gamer 01 Pekalongan Timur


[1] Dr. Kadar M. Yusuf, M.Ag., Tafsir Tarbawi, (Jakarta:AMZAH, 2013), hlm.16-17.
[2] Ibid,.hlm.18.
[3] Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA),Tafsir Al-Azhar Juz XX,( Jakarta : PT pustaka Panjimas,1982) hlm. 188-189.
[4] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maragi Juz XX,(Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang,1993). hlm.250.
[5] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi,(Jakarta: Pustaka Azzam, 2009).hlm.882.
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah:pesan,kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).hlm.87-88.
[7] Dr. Kadar M. Yusuf, M.Ag., Tafsir Tarbawi, (Jakarta:AMZAH, 2013), hlm.84.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar