Laman

Selasa, 27 September 2016

TT1 C 4b ( Pengembaraan Menuntut Ilmu )

KEWAJIBAN BELAJAR “ SPESIFIK “
( Pengembaraan Menuntut Ilmu )
Defi Yuliyanti ( 2021115075 )
KELAS C

 FAKULTAS TARBIYAH/PAI
Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Pekalongan
2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan rahmat dan ridhoNya kepada kita semua terutama memberikan kelancaran kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Tafsir Tarbawi yang berjudul “ KEWAJIBAN BELAJAR “SPESIFIK “( Pengembaraan Menuntut Ilmu )”.
Teriring sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. Yang senantiasa kami harapkan syafaatnya kelak diyaumul qiyamah.
            Diucapkan terimakasih kepada orang tua yang selalu memberikan semangat untuk saya dan selalu mensupport saya dalam proses belajar. Terimakasih kepada Allah yang selalu memberi rahmat dan anugrah serta memberikan kelancaran dalam melangkah menuntut ilmu –Nya. Tidak lupa kepada sahabat-sahabati dan teman-teman semua yang mendampingi saya.









Pekalongan, 26 Semptember 2016

                                                                                                Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat bahwa Allah menciptakan manusia dengan mudah. Dengan harapan agar manusia beribadah kepadaNya dan menyuruhnya untuk selalu menuntut ilmu. Dan semua perbuatan manusia akan ditanggungjawabkan diakhirat kelak, apa yang kita kerjakan ? apa yang kita lakukan ? semua itu akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu dalam hal ini kita dituntt untuk mengembara dengan tujuan menuntut ilmu Allah yang nantinya akan kita jadikan sebagai pedoman dalam hidup agar semasa hidup kita selalu berada dalam jalan Allah.
B.    Judul
Hal atau judul yang dibahas dan dikaji pada makalah ini sesuai tugas dari dosen yakni KEWAJIBAN BELAJAR “SPESIFIK “ ( Pengembaraan Menuntut Ilmu ). Semoga mudah dipahami dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
C.    Quran surat Al Ankabuut (29) ayat 19-20
öNs9urr&(#÷rttƒy#øŸ2äÏö7リ!$#t,ù=yø9$#¢OèOÿ¼çnßÏèãƒ4¨bÎ)šÏ9ºsŒn?tã«!$#׎Å¡oÇÊÒÈö@è%(#r玍ÅÎûÇÚöF{$#(#rãÝàR$$sùy#øŸ2r&yt/t,ù=yÜø9$#4¢OèOª!$#à×Å´Yãƒnor'ô±¨Y9$#notÅzFy$#4¨bÎ)©!$#4n?tãÈe@à2&äóÓx«ÖƒÏs%ÇËÉÈ
19. dan Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
20. Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi[1147]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[1147] Maksudnya: Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat
Penafsiran Kata Sulit :
·       or'ô±¨Y9$#         : Penciptaan dan Pengadaan

Arti penting ayat :
Dengan memahami Q.S Al Ankabuut kita bisa mengerti asal mula manusia dari Allah menciptakan, kemudian Allah mengambilnya lagi sampai Allah membangkitkan manusia lagi.
Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu beribadah dan mempelajari ilmu-ilmu Allah. Mulai dari kita lahir didunia sampai nanti kita bangkit diakhirat, semua amal dan perbuatan kita dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu semoga kita senantiasa menuntut ilmu untuk penuntun kehidupan agar tidak salah dalam menjalaninya.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori
1.     Pengertian Ilmu
Ilmu menurut etimologi berasal dari kata Alima artinya mengetahui. Sedangkan menurut istilah ialah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dituntut bisa terungkap dengan sempurna. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyelesaikan dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam kehidupan manusia.
2.     Hukum Menuntut Ilmu
Karena ilmu menjadi sarana bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraan dunia maupun akhirat maka mencarinya hukumnya WAJIB.
Mencari ilmu berarti melaksanakan perintah agama yang memerlukan perjuangan, ketabahan, keuletan, kerja keras, dan kesabaran, karena itu Nabi pernah menyampaikan bahwa orang yang keluar untuk menuntut ilmu adalah dijalan Allah sampai menemui ajalnya.[1]
B.    Penafsiran Q.S. Al Ankabuut (29) ayat 19-20
1.     Al Maraghi
öNs9urr&(#÷rttƒy#øŸ2äÏö7リ!$#t,ù=yø9$#¢OèOÿ¼çnßÏèãƒ4¨bÎ)šÏ9ºsŒn?tã«!$#׎Å¡oÇÊÒÈ
Ibrahim kekasih Ar Rahman mengisyaratkan kaumnya kepada penetapan pembangkitan kembali yang mereka ingkari dengan apa yang mereka saksikan pada diri mereka sendiri, seperti penciptaan mereka sebelumnya tidak ada sama sekali, pemberian pendengaran, penglihatan dan hati kepada mereka, berbuatnya mereka didalam kehidupan hingga waktu tertentu, kemudian kematian mereka sesudah itu. Tuhan yang memulai semua ini kuasa untuk mengembalikannya, bahkan pengembalian itu lebih mudah bagiNya, sebagaimana ditegaskan didalam firmanNya :
uqèdurÏ%©!$#(#ätyö7tƒt,ù=yÜø9$#¢OèO¼çnßÏèãƒuqèdurÜcuq÷dr&Ïmøn=tã4ã&s!urã@sVyJø9$#4n?ôãF{$#ÎûÏNºuq»uK¡¡9$#ÇÚöF{$#ur4uqèdurâƒÍyèø9$#ÞOÅ3ysø9$#ÇËÐÈ
“ dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Setelah menyajikan dalil yang dapat disaksikan didalam diri, selanjutnya Allah membimbing untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang dapat disaksikan diufuk.
ö@è%(#r玍ÅÎûÇÚöF{$#(#rãÝàR$$sùy#øŸ2r&yt/t,ù=yÜø9$#4¢OèOª!$#à×Å´Yãƒnor'ô±¨Y9$#notÅzFy$#4¨bÎ)©!$#4n?tãÈe@à2&äóÓx«ÖƒÏs%ÇËÉÈ
20. Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi[1147]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[1147] Maksudnya: Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat.
Berjalanlah dimuka bumi dan saksikanlah langit-langit dengan segala bintangnya yang terang, baik bintang yang tetap maupun bintang yang beredar, saksikanlah pula bumi dengan segala isinya, seperti gunung, tanah rata, sungai dan lautan. Semua itu menjadi saksi atas kebaruannya sendiri dan atas adanya Pembuat yang apabila berkata kepada sesuatu, “ jadilah” maka terjadilah ia.

            Serupa dengan firman Allah tersebut ialah firmanNya dalam ayat berikut :
óOÎgƒÎŽã\y$uZÏF»tƒ#uäÎûÉ-$sùFy$#þÎûuröNÍkŦàÿRr&4Ó®Lymtû¨üt7oKtƒöNßgs9çm¯Rr&,ptø:$#3öNs9urr&É#õ3tƒy7În/tÎ/¼çm¯Rr&4n?tãÈe@ä.&äóÓx«îÍky­ÇÎÌÈ
“ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”[2]
                     





2.      Tafsir Jalalain
(#÷rttƒNs9urr&( dan apakah mereka tidak memperhatikan ) dapat diabaca yarou atau tarau, artinya memikirkan - ªt,ù=yø9$#!$#yäÏö7ãƒ#øŸ2( bagaimana Allah menciptakan manusia dari permualaanya ) lafadz yubdi’u menurut suatu qiraat dibaca yabda’u berasal dari bada’a, makna yang dimaksud bagaimana Allah menciptakan mereka dari permulaan- OèO( kemudian ) Dia - çnßÏèãƒ( mengulanginya kembali ) maksudnya mengulangi penciptaan-Nya kembalisebagaimana permulaan Dia menciptakan mereka - šÏ9ºsŒ¨bÎ)( sesungguhnya yang demikian itu ) yaitu hal yang telah disebutkan mengenai penciptaan pertama dan penciptaan kedua -׎Å¡o«!$#n?tã (adalah mudah bagi Allah ) dan mengapa meraka mengingkari adanya penciptaan yang kedua itu; yang dimaksud adalah hari pembangkit.
ö@è%(#r玍ÅÎûÇÚöF{$#(#rãÝàR$$sùy#øŸ2r&yt/t,ù=yÜø9$#4
( katakanlah : “ berjalanlah kalian dimuka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaanNya) yakni menciptakan orang-orang yang sebelum kalian, kemudian Dia mematikan meraka.
¢OèOª!$#à×Å´Yãƒnor'ô±¨Y9$#notÅzFy$#
( lalu Allah menjadikannya sekali lagi )                  
¨bÎ)©!$#4n?tãÈe@à2&äóÓx«ÖƒÏs%
( sesungguhnya Allah maha kuasa atas sagala sesuatu ) antara lain ialah memulai dan mengulanginya.[3]

C.    Aplikasi dalam kehidupan
1.     Selalu bersyukur kepada Allah Swt.
2.     Mencari ilmu dengan ikhlas karena Allah
3.     Mengamalkan ilmu dengan baik
4.     Bertawakal dan taat kepada Allah Swt.

D.    Aspek Tarbawi
1.     Kejadian manusia dan kematiannya atau munculnya tumbuhan dapat dipikirkan dan direnungkan, semua itu harus dicamkan dan dijadikan pelajaran.
2.     Allah Swt. Yang pertama kali meciptakan sesuatu.
3.     Menciptakan pertama kali sama saja bagi Allah dengan menghdupkan kembali. Keduanya adalah memberi wujud terhadap sesuatu
4.     Al Quran menganjurkan perjalan wisata karena dengan itu dapat diperoleh aneka manfaat yang mengasah jiwa dan mempertajam pikiran serta  memperluas wawasan.[4]




                       
                                                                       





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Hal yang baik adalah ketika kita berusaha berfikir, salah satunya adalah berfikir tentang bagaimana Allah menciptakan kita dan Allah akan mengambil kita dan membangunkan kita lagi dalam suasana yang berbeda.
Berfikir bagaimana kita akan melampaui hidup didunia. Untuk itu cara yang tepat adalah dengan menuntut ilmu Allah. Karena dengan hal tersebutlah hidup kita akan indah jika kita tahu ilmu dan hukum-hukum yang telah diciptakan oleh Allah untuk kita pelajari.
Namun, jika ilmu hanya dipelajari saja tanpa diamalkan, maka lambat laut ilmu itu akan luntur dengan sendirinya. Oleh sebab itu, mari menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu agar kita senantiasa tafakkur dan istiqomah dengan apa yang kita peroleh dari ilmu.













Daftar Pustaka
Ahmad Mustofa Al Maragi. 1986.  Tafsir Al-Maragi. Semarang : PT. Karya Toha Putra.
Dr. Juwariyah, M.Ag. 2010. Hadits Tarbawi. Yogyakarta : Teras.
Imam Jalaluddin. 2010. Tafsir Jalalain. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
M. Quraish Shihab. 2012. Al Lubab. Tangerang : Lentera Hati, 2012.









Profil Penulis




Nama                          : Defi Yuliyanti
TTL                             : PEMALANG , 29 Juli 1996
Alamat                                    : Ds. Wiyorowetan, Kec.Ulujami, Kab. Pemalang

Riwayat Pendidikan   :
1.     SD N 02 Wiyorowetan
2.     SMP N 04 Ulujami
3.     SMA N 01 Wiradesa
4.     Menempuh S1 di IAIN Pekalongan





[1] Dr. Juwariyah, M.Ag. Hadits Tarbawi.( Yogyakarta : Teras, 2010 ), hlm. 139-142
[2]Ahmad Mustofa Al Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, 1986 ), hlm. 220-223
[3] Imam Jalaluddin,Tafsir Jalalain,( Bandung : Sinar Baru Algensindo,2010 ), hlm 426
[4] M. Quraish Shihab, Al Lubab, ( Tangerang : Lentera Hati, 2012 ), hlm. 100-101

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar