Laman

Rabu, 07 September 2016

TT1 D 1c Hikmah: Anugrah Allah SWT

AHLI HIKMAH ANUGRAH BESAR DARI ALLAH SWT
( QS. AL-BAQARAH AYAT 269 )

Ulfa Nabila

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi I tentang Ahli Hikmah Anugrah Besar dari Allah SWT. dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 269 ini dengan baik, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang Ahli Hikmah Anugrah Besar dari Allah SWT. dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 269. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan .

Pekalongan, September 2016

 Penulis



 BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Islam memerintahkan untuk belajar, karena belajar adalah kewajiban utama dan sarana terbaik untuk mencerdaskan umat dan kebangkitan dunia ini, khususnya ilmu itu bila disertai dengan amal. Karena ilmu dan para ahli ilmu itu memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah SWT, dan orang-orang yang ahli dalam ilmu harus mengamalkan ilmunya tersebut agar bisa berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain, serta jadilah orang yang dermawan dengan apa yang dimilikinya, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 berikut:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَآءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”[1]
            Dalam Al- Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 ini penting untuk dikaji agar kita sebagai hamba Allah yang telah di beri akal olehNya, bisa mempergunakan akal yang kita miliki itu dengan baik dan dapat mengamalkan ilmu yang kita dapat dari hasil mempergunakan akal dengan baik tersebut, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang kita amalkan untuk diri kita sendiri dan orang lain.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
1.     Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah paham suatu subjek mengenai objek yang dihadapi. Subjek disini adalah manusia sebagai kesatuan berbagai macam kesanggupan (akal, pancaindra, dsb) yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Sebaliknya, objek disini adalah benda atau hal yang diselidiki, yang merupakan realitas bagi manusia yang menyelidiki.[2]
Perbuatan manusia yang bertentangan dengan perintah yang ia berikan kepada orang lain tidak akan timbul kecuali dari orang yang tidak lurus pemikirannnya serta tidak matang akalnya.[3]
2.     Pengertian Akal
Menurut ahli-ahli perkamusan, istilah “aql” mengandung pengertian, pengetahuan yang jelas atau verivikasi bukti-bukti. Dengan pengertian ini, maka “aql” bertentangan dengan kebodohan.[4]
3.     Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Pandangan Islam
a.      Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran.
b.     Ilmu pengetahuan sebagai prasyarat amal shaleh.
c.      Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengelola sumber-sumber alam guna mencapai ridha Allah SWT.
d.     Ilmu pengetahuan adalah alat pengembangan daya pikir.
e.      Ilmu pengetahuan sebagai hasil penembangan daya pikir.[5]

4.     Kedudukan Ahli Ilmu
Al-Qur’an memuji ahli ilmu pengetahuan dan menyebut mereka dengan ‘alladziina utul-‘ilma, dan Allah SWT menisbatkan kepada mereka beberapa keutamaan pemikiran, keimanan, serta akhlak. Mereka yang mendapakan ilmu tersebut adalah yang dibukakan kebenaran yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Sehingga mereka melihatnya dengan jelas dan menuntun kepada jalan Allah.[6]
Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik. Dalam Islam, orang yang beriman dan berilmu pengetahuan sangat luhur kedudukannnya di sisi Allah SWT. daripada yang lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT. : (QS.Al-Mujadilah: ayat 11)[7]

B.    Tafsir dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 269
1.     Allah SWT. menganugrahkan hikmah, yakni pengetahuan amaliah dan amal ilmiah, dan siapa yang di anugrahi oleh-Nya hikmah, maka ia telah memperoleh kebajikan yang banyak.[8]
2.     “Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya”
Allah memberikan ilmu yang berguna yang bisa membangkitkan kemauan kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, sehingga ia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, lalu dengan mudah dapat membedakan antara ilham yang datang dari Allah dan mana yang datang dari bisikan setan.
Penangkap ilmu ialah akal, yang menangkap pengertian berdasarkan dalil-dalil dan memahaminya dengan sebenarnya. Dan siapa yang diberi pengetahuan seperti ini, niscaya mampu membedakan antara janji Tuhan dan janji setan, mampu memegang teguh janji Allah dan melemparkan janji setan.
Abdullah bin Abbas menafsirkan kata “hikmah” dalam ayat ini dengan arti memahami Al-Qur’an. Jadi “hikmah” itu berarti mengetahui dan memahami ayat infak, faedahnya serta aturan mengeluarkannya seperti termaktub pada Al-Qur’an, tentu ia akan mengingkari janji setan yang menjanjikan kefakiran dan menyuruh kikir, sehingga dia tidak terpengaruh untuk berbuat tidak berderma dan berinfak.
Ayat ini memberikan pengertian “hikmah” lebih luas dari arti kata itu sendiri sehari-harinya dan memberrikan bimbingan untuk mempergunakan akal sebagai karunia yang paling mulia kepada manusia dengan cara yang benar.
“Dan barang siapa diberi hikmah, maka ia benar-benar telah diberi kebaikan yang banyak.”
Barang siapa yang diberi oleh Allah ilmu yang berguna dan diberi petunjuk cara menggunakan akal serta menempuh arah yang benar, maka orang ini berarti mendapatkan petunjuk dan kebaikan di dunia dan akhirat. Karena itu ia dapat menggunakan potensi-potensi yang ada dalam dirinya, seperti penglihatan, pendengaran, hati, dan pikirannya secara berdaya guna dan menyiapkan untuk kesenangannya yang benar, lalu berserah diri kapada Allah, karena Dialah asal segala sesuatu dan kepada-Nya lah semua akan berakhir. Dia tidak mau menerima bisikan-bisikan setan dan mengotori dirinya sendiri dengan berbuat dosa. Dia percaya segala sesuatunya berjalan menurut ketentuan dan takdir Allah. Dengan pikiran serta perasaan seperti ini hatinya lapang dan perasaaannya tenang serta penuh dengan kedamaian mengarungi malam dan siang.
“Dan tidak mau mengingat kecuali orang-orang yang berpikir.”
Tidak akan meresapkan, mempercayai nasehat ilmu dan menundukan kemajuannya kepada kehendak Allah, kecuali orang yang berpikir sehat dan senantiasa mengikti kebenaran, sehingga dapat mengetahui mana yang baik dan beruntung serta menyelamatkannya di dunia ini sampai ia mati dan hidup di akhirat dengan pahala yang baik.[9]

C.    Aplikasi dalam Kehidupan
1.     Menuntut ilmu.
2.     Membaca dan mengetahui makna yang terkandung di dalam al-Qur’an yang kemudian diamalkan didalam kehidupan sehari-hari.
3.     Menjadi pendidik di sekolahan yang membutuhkan seorang pendidik.
4.     Mendidik anak-anak yang ada di sekitar kita dengan cara memberi contoh perilaku yang santun.
5.     Membiasakan diri untuk berlaku santun dengan siapapun.
6.     Menggunakan akal yang disertai dengan ilmu didalam bermusyawarah atau berdebat

D.    Aspek Tarbawi
Nilai-nilai pendidikan yang terkandung didalam QS. Al-Baqarah Ayat 269 adalah sebagai berikut:
1.     Allah SWT memberi hikmah dan ilmu yang bermanfaat bagi setiap manusia, dan siapa saja yang telah di beri taufik (pertolongan Allah) akan mengerti mengenai ilmu yang bermanfaat ini. Ia juga akan dituntun oleh Allah untuk menggunakan akalnya secara sehat dan diarahkan ke jalan yang benar.
2.     Dengan ilmu pengetahuan, setiap manusia mampu memilih hakikat kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya, yang membuat dirinya bahagia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.[10]
3.     Sesungguhnya apa yang ada pada manusia berupa ilmu, petunjuk maka itu semua adalah keutamaan dari Allah ta’ala, maka jika Allah ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba berupa ilmu, petunjuk, kekuatan, kemampuan, pendengaran, penglihatan maka janganlah ia sombong, karena itu semua dari Allah ta’ala, jika Allah berkehendak maka bisa mencegahnya, atau ia bisa jadi ia mencabut nikmat itu setelah ia menganugrahnya kepada seseorang.
4.     Wajibnya bersyukur bagi orang yang Allah ta’ala berikan kepadanya Al-Hikmah, karna kebaikan yang sangat banyak ini mewajibkan mensyukurinya.
5.     Keutamaan akal, bahwa orang yang tidak dapat mengambil pelajaran, menunjukan akan adanya kekurangan pada akalnya, yaitu akal sehat, akal yang memberikan petunjuk pada dirinya.
6.     Tidaklah yang dapat mengambil pelajaran dari pelajaran yang terdapat di alam dan pada syari’at ini kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat, yang mana mereka menghayati dan mempelajari apa yang terjadi dari tanda-tanda yang telah lalu dan yang akan datang, sehingga mereka dapat, mengambil pelajaran darinya. Adapun seorang yang lalai, maka hal tersebut tidak memberikannya manfaat dan pelajaran (sedikitpun).[11]




BAB III
PENUTUP

Simpulan
Allah SWT. memerintahkan hambaNya untuk menuntut ilmu dan menggunakan akal sehatnya dalam menjalankan segala sesuatu, dan mengamalkan segala sesuatu yang dimilikinya, termasuk ilmu itu sendiri. Orang-orang ahli ilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT., dan ilmu pengetahuan pun memiliki kedudukan dalam agama Islam.
Dari Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 dapat dipetik pelajaran yang sangat berharga, yaitu : bahwa dengan ilmu pengetahuan, setiap manusia mampu memilih hakikat kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya, yang membuat dirinya bahagia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, serta keutamaan akal, bahwa orang yang tidak dapat mengambil pelajaran, menunjukan akan adanya kekurangan pada akalnya, yaitu akal sehat, akal yang memberikan petunjuk pada dirinya. Dari tafsiran Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 dapat di aplikasikan di dalam kehidupan yaitu salah satunya dengan menuntut ilmu dan menjadi pendidik untuk mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki agar menjadi ilmu yang bermanfaat.




[1] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjamahnya (Jakarta: CV Darus Sunnah, 2014), hlm.46
[2] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya (Bandung : PT Trigenda Karya, 1993), hlm.80
[3] Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan (Jakarta : gema insani press, 1999), hlm.20
[4]Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1994), hlm.97
[5] Muhaimin dan Abdul Mujib, Op.Cit., hlm.81-82
[6] Yusuf Qardhawi, Op.Cit., hlm.107
[7] Moh Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2012), hlm.142-143
[8] M. Quraish Shihab, Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur’an (Tangerang : Lentera Hati, 2012), hlm.88
[9] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi (Bandung : CV Rosda, 1987), hlm.49-50
[10] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi (Semarang : CV. Toha Putra, 1993), hlm.74-75





DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Abdurrahman Saleh. 1994.  Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1987. Tafsir Al-Maraghi. Bandung : CV Rosda.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang : CV. Toha Putra.
Kementrian Agama RI. 2014.  Al-Qur’an dan Terjamahnya. Jakarta: CV Darus Sunnah.
Muhaimin dan Abdul Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya. Bandung : PT Trigenda Karya.
Qardhawi, Yusuf. 1999. Al-Qur’an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan. Jakarta : gema insani press.
Salim, Moh Haitami dan Syamsul Kurniawan. 2012. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur’an. Tangerang : Lentera Hati.
Google. 2012. Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 269. Dalam :  http://www.alsofwa.com




BIOGRAFI PENULIS
Ulfa Nabila, Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Maret 1997. Anak ke-2 dari 3 bersaudara. Mahasiswi S.1 Tarbiah IAIN Pekalongan. Alamat : Ds. Wonorejo Rt.07 Rw.03 No.43, Kec. Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.
Pendidikan MI Salafiyah Wonorejo, 2003-2009. Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Wonopringgo, 2009-2012. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kedungwuni, 2012-2015. S.1 IAIN Pekalongan, 2015-sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar